"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 -Make Over
Setelah kelas pagi berakhir, Damian melangkah keluar dari gedung fakultas ekonomi. Wajahnya masih menyiratkan kebingungan. Sepanjang jam kuliah tadi, otaknya tidak berhenti memikirkan kejadian di koridor—bagaimana Lilian dengan beraninya menyiram Gavin dan gengnya pakai es kopi demi membelanya.
"Tuan Muda!"
Panggilan bernada riang itu mengejutkan Damian. Di area parkir bawah pohon yang agak sepi, Lilian sudah melambaikan tangannya sambil duduk di atas motor matic. Baju kasual hitam yang dikenakannya membuat pelayan muda itu terlihat jauh berbeda dari penampilannya sehari-hari di mansion.
"Lilian? Kamu... belum pulang dari tadi?" tanya Damian heran sambil mendekat.
"Belum dong! Kan aku udah janji mau nemenin kamu," Lilian tersenyum lebar sambil menyerahkan helm ke arah Damian. "Ayo naik! Kita punya misi penting siang ini."
"Misi? Misi apa?" Damian mengerutkan keningnya ragu.
"Udah, ikut aja! Nggak usah banyak tanya, Tuan Muda!" paksa Lilian sambil menarik gas pelan.
Damian yang tak punya pilihan akhirnya kembali mengalah dan naik ke jok belakang. Motor matic itu melaju keluar dari area kampus Universitas Lunaria menuju pusat kota, hingga akhirnya berhenti di basemen salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di Kota Lunaria:Grand Lunaria Mall.
Damian mendadak kaku saat turun dari motor. Ia menatap bangunan megah berlantai tujuh di depannya dengan cemas.
"Lilian, kita ngapain ke sini? Ini mall mahal... Pakaian kita bahkan nggak layak masuk ke dalam," bisik Damian ragu, menatap kemeja pudarnya yang agak kotor kena noda kopi tadi pagi.
Lilian menepuk bahu Damian mantap. "Tenang aja, Tuan Muda. Hari ini kamu menyerahkan diri sepenuhnya sama aku. Ayo!"
Dengan percaya diri, Lilian menarik tangan Damian masuk ke dalam mall. Tujuan pertamanya adalah sebuah butik pakaian pria ternama dari merek internasional.
Saat mereka melangkah masuk, dua pelayan toko wanita yang mengenakan seragam rapi langsung menatap mereka dengan tatapan meremehkan.
"Maaf, Tuan, Nona... tempat ini cuma menjual pakaian brand ternama. Pakaian termurah di sini harganya puluhan juta dollar," ucap salah satu pelayan toko dengan nada dingin dan enggan melayani.
Lilian hanya tersenyum miring. 'Trik klasik antagonis figuran di mall mewah cih,' batin Lilian gemas.
Tanpa banyak bicara, Lilian mengeluarkan kartu debit dari dalam dompetnya lalu mengetukkannya ke meja kasir.
"Saya cari setelan pakaian kasual elegan, dua stel jas pas badan, dan sepatu kulit terbaik ukuran 42 buat Tuan ini. Tolong carikan yang paling cocok dan layani kami dengan benar. Kalau melayani dengan bagus, kembaliannya ambil aja," ucap Lilian santai tapi penuh penekanan.
Pelayan toko itu sempat melongo kaget, namun saat melihat tulisan Black Card dan saldo yang cukup di mesin EDC, wajahnya langsung berubah 180 derajat menjadi sangat ramah dan membungkuk hormat.
"B-baik, Nona! Mari sebelah sini, Mas! Kami pilihkan koleksi limited edition terbaru kami!" seru pelayan itu panik dan bersemangat.
Damian ditarik masuk ke ruang ganti. Lilian dengan jeli memilihkan kemeja oversized berwarna krem premium, celana kain hitam dengan potongan sempurna, serta jaket leather hitam minimalis.
Dua puluh menit kemudian...
Pintu ruang ganti terbuka.
Cklek...
Lilian yang sedang duduk santai menunggu di sofa seketika menghentikan seruputan minumannya. Matanya membelalak sempurna, tak berkedip menatap sosok yang keluar dari ruang ganti.
Damian berdiri di sana. Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini dirapikan sedikit, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas dan tajam. Kemeja krem dan jaket kulit itu melekat sangat pas di tubuh jangkungnya yang atletis. Aura gembel dan lesu yang biasanya melekat pada Damian menguap tanpa bekas, berganti menjadi aura pangeran kaya raya yang sangat karismatik!
'Gila... visual pemeran utama cowok buatan gue ternyata gantengnya gak ngotak pas dandannya bener!' jerit Lilian dalam hati, rasanya ingin pingsan melihat ketampanan Damian.
Damian yang ditatap seperti itu merasa canggung. Tangannya mengusap belakang lehernya yang agak memerah. "G-gimana, Lilian? Aneh ya?"
"Nggak aneh sama sekali! Ini... sempurna banget, Tuan Muda!" puji Lilian tulus dengan mata berbinar.
TRING!
Layar transparan Sistem 303 mendadak melayang di depan Lilian.
[Misi Rahasia Berhasil: Berikan Makeover Pertama pada Damian Laurent!]
[Bonus Misi: Rp 25.000.000 cair ke rekening Host! + Poin Kesukaan Damian +20%]
Lilian tersenyum puas membaca notifikasi itu.
"Kamu, bungkus semua baju tadi beserta sepatu dan aksesori pilihanku! Bayar pakai kartu ini," perintah Lilian mantap.
Saat mereka keluar dari butik membawa beberapa kantong belanjaan mahal, dari arah eskalator tampak dua sosok yang sangat tidak asing berjalan mendekat—Clara Vance dan Gavin Laurent yang bajunya sudah diganti seragam baru.
Langkah Gavin dan Clara mendadak terhenti saat melihat Lilian berdiri di samping seorang pria tinggi nan tampan berbusana mewah.
"Itu... Damian?" gumam Clara terperangah, matanya tak bisa berpaling dari sosok Damian yang mendadak terlihat sangat menawan.
"Kalian... ngapain di sini?! Dan dari mana kamu dapat uang buat beli pakaian mahal begitu?!" bentak Gavin langsung menghampiri Damian dan Lilian dengan tatapan curiga meluap-luap.
"Apaan sih? Gak usah kepo, deh! Sana minggir, kami mau lewat... mau makan, lapar!" ujar Lilian santai. Tanpa ragu, ia menggeser bahu Gavin ke samping lalu menarik lembut tangan Damian.
Saat berbalik melangkah pergi, Lilian sempat menoleh sebentar dan menjulurkan lidahnya ke arah Clara dengan gaya mengejek, membuat Clara mengepalkan tangannya rapat-rapat karena kesal setengah mati.
'Gak mungkin... kenapa Damian bisa jadi tampan dan sekeren itu?!' gumam Clara dalam hati, matanya masih tak bisa lepas menatap punggung Damian yang sudah berubah total.
"Ayo, Sayang... kita cari makan juga," ajak Gavin menarik tangan Clara, berusaha menutupi rasa malunya.
"A-ah... iya, ayo," balas Clara terbata-bata, pikirannya masih buyar.
Sementara itu, Lilian membawa Damian memasuki sebuah restoran bintang empat yang berada di dalam mall. Tanpa ragu-ragu, Lilian langsung memesan semua menu best seller yang ada di restoran tersebut.
"Lilian, apa gak kebanyakan? Nanti... uang kamu habis," bisik Damian cemas saat melihat pelayan restoran mencatat pesanan mereka yang melimpah.
Lilian menopang dagunya dengan kedua tangan lalu tersenyum manis. "Tenang aja, Tuan Muda! Uangku unlimited, gak akan habis-habis kok," balas Lilian percaya diri.
Lilian lalu menatap wajah Damian tanpa berkedip. Dalam hatinya, ia merasa betah banget memperhatikan Damian dari dekat—ketampanan Damian benar-benar mirip seperti karakter fiksi versi AI yang sering ia tonton di dunia nyata dulu.
Damian yang merasa ditatap secara intens seperti itu mendadak salah tingkah. Wajahnya merona halus, lalu dengan canggung ia memalingkan wajah ke arah lain demi menyembunyikan rasa debar di dadanya.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣