Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: DURI SANG RATU
Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah dengan awan-awan putih yang menaungi pelataran TK Nusa Bangsa—sekolah baru yang dipilih Ranti untuk Bima. Jauh dari bayang-bayang TK Cendekia yang tercemar oleh skandal perzinahan Sony dan Raya, sekolah baru ini berdiri megah dengan fasilitas modern dan penjagaan ketat.
Mobil SUV hitam milik Ranti berhenti mulus di depan gerbang utama. Ranti turun dari pintu pengemudi, tampak begitu menawan dengan setelan kemeja sutra berwarna krem yang dipadukan dengan celana kulot hitam berpotongan tegas. Rambutnya disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini bersih—tanpa kalung berinisial SR yang dulu tak pernah lepas dari tubuhnya.
Ia membukakan pintu belakang, menyambut Bima yang sudah berseragam rapi dengan senyum merekah.
"Sudah siap belajar dan main sama teman-teman baru, Sayang?" tanya Ranti lembut seraya merapikan kerah baju putranya.
"Siap, Mama!" jawab Bima ceria. Tangan kecilnya menggenggam erat jemari Ranti saat mereka mulai melangkah menyusuri area pelataran sekolah menuju ruang kelas.
Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik saat langkah Ranti melewati area gazebo tempat berkumpulnya para wali murid. Di sana, sekitar lima orang ibu-ibu berpenampilan elegan dengan perhiasan mencolok sedang duduk melingkar sambil menikmati kopi pagi.
Saat Ranti melintas, gelak tawa kelompok itu mendadak terhenti. Mata mereka serentak tertuju pada Ranti, diikuti dengan aksi saling sikut dan bisik-bisik yang disengaja.
"Eh, itu kan ibunya Bima yang murid baru itu, kan?" bisik seorang wanita berambut keriting gantung dengan lipstik merah menyala, Bu Sandra, seraya menutup mulutnya dengan kipas tangan.
"Iya, benar! Kamu sudah dengar belum ceritanya dari grup komite sekolah sebelah?" timpal wanita di sebelahnya yang mengenakan kacamata hitam, Bu Yuni. "Katanya dia itu wanita yang siram air mendidih ke suaminya sendiri sama guru TK anaknya! Seram banget, brutal!"
"Aduh, ngeri ya..." sahut wanita ketiga, Bu Melly, dengan nada bergidik yang dibuat-buat. "Gila kali ya? Sampai kulit selingkuhannya melepuh 60 persen, suaminya masuk rumah sakit. Kok bisa-bisanya orang psikopat dan emosional begitu dibiarkan bebas berkeliaran di sekolah anak kita? Apa tidak bahaya buat ibu-ibu di sini?"
Suara bisikan mereka memang diatur rendah, tetapi di lorong sekolah yang cukup tenang itu, setiap kata yang terucap dapat terdengar begitu jelas.
Beberapa wali murid lain yang berdiri di dekat sana mulai melirik ke arah Ranti dengan pandangan curiga dan sedikit menjauh, seolah-olah Ranti adalah monster berbahaya yang bisa mengamuk kapan saja.
Ranti menghentikan langkahnya. Bima yang berada di genggamannya sempat menoleh bingung.
"Mama... kenapa berhenti?" tanya Bima polos.
Ranti menunduk, tersenyum sangat manis pada Bima. "Bima masuk kelas duluan ya? Itu Bu Guru sudah menunggu di depan pintu. Nanti Mama jemput pas jam pulang."
"Okee, Mama! Daaah Mama!" Bima melambaikan tangannya gembira, lalu berlari kecil menuju gurunya yang sudah menyambut di ambang pintu kelas.
Setelah memastikan Bima masuk ke dalam kelas dengan aman, senyum lembut di wajah Ranti seketika memudar. Ia berbalik perlahan. Matanya yang tajam dan dingin mengunci kelompok ibu-ibu di gazebo yang masih asyik berbisik-bisik.
Ranti bukan lagi Ranti yang dulu—Ranti yang selalu mengalah, menjaga perasaan orang lain, atau menundukkan kepala demi menghindari konflik. Ranti yang sekarang adalah wanita yang telah membakar habis kelemahannya bersama air panas malam itu.
Dengan langkah yang tenang, teratur, dan penuh wibawa, Ranti berjalan menghampiri gazebo tersebut. Hak tinggi sepatu pumps-nya mengetuk lantai keramik dengan bunyi yang mantap dan mengintimidasi.
Tuk. Tuk. Tuk.
Kelompok ibu-ibu itu mendadak bungkam begitu menyadari Ranti melangkah lurus ke arah mereka. Wajah Bu Sandra dan Bu Yuni mendadak tegang, jari-jari mereka gemetar memegang cangkir kopi.
Ranti berhenti tepat di depan meja mereka. Ia menyandarkan sebelah tangannya di tepi meja, membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu menatap ketiga wanita itu satu per satu dengan pandangan meremehkan.
"Selamat pagi, Ibu-ibu yang terhormat," sela Ranti, suaranya jernih, merdu, tetapi begitu dingin sampai-sampai mampu membekukan udara di sekitarnya.
Bu Sandra berdehem canggung, mencoba menegakkan punggungnya untuk menutupi rasa gugup. "Eeh... selamat pagi, Mbak. Ada apa ya?"
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan seru kalian tentang saya," ujar Ranti dengan senyum tipis di sudut bibirnya. "Tentang betapa 'brutal' dan 'psikopat'-nya saya karena menyiramkan air mendidih satu liter ke tubuh suami dan selingkuhannya."
Wajah Bu Yuni dan Bu Melly seketika memucat. Mereka saling bertukar pandang dengan panik, tidak menyangka Ranti akan mendatangi mereka secara langsung tanpa rasa takut sedikit pun.
"Mbak... kami cuma... cuma cerita apa yang beredar di berita kok," kilih Bu Yuni terbata-bata.
Ranti terkekeh pelan, tawa yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
"Bagus kalau begitu," tutur Ranti, memajukan wajahnya beberapa sentimeter ke arah Bu Sandra. "Tapi mari saya perjelas satu hal, supaya gosip di antara kalian lebih akurat dan tidak kurang bahan."
Ranti merapikan kemejanya, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan sikap berkuasa.
"Semua perempuan yang punya harga diri... semua istri sah yang waras di dunia ini... akan berubah jadi gila dan brutal kalau melihat suaminya sedang having sex di atas ranjangnya sendiri, di depan mata kepalanya sendiri, dengan wanita murahan yang dia bayar menggunakan uang rumah tangga."
Kata-kata Ranti meluncur begitu tajam, lugas, dan tanpa ampun. Beberapa wali murid lain yang berdiri agak jauh kini ikut berhenti dan menyimak konfrontasi tersebut dengan mata membelalak.
Bu Sandra menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seketika. "Tapi... tapi kan tidak harus pakai kekerasan fisik sampai melepuh begitu..."
"Oh ya?" potong Ranti cepat dengan alis terangkat. "Lalu saya harus bagaimana? Menyeduh teh hangat untuk mereka? Menyelimuti mereka berdua di atas ranjang saya? Begitu maksud Anda, Bu?"
Bu Sandra bungkam seribu bahasa. Bibirnya terkunci rapat.
Ranti tersenyum sinis, menatap Bu Sandra, Bu Yuni, dan Bu Melly bergantian dengan tatapan yang sangat menohok.
"Air panas itu adalah balasan paling kecil untuk pengkhianatan paling busuk," bisik Ranti penuh penekanan. "Dan kalau Anda sekalian menganggap saya berbahaya... bagus. Artinya kalian tahu diri untuk tidak macam-macam dengan saya dan anak saya."
Ranti mendekatkan tubuhnya lagi ke arah Bu Sandra, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat halus namun sarat akan kegetiran yang mendoakan.
"Semoga..." Ranti menghentikan kalimatnya sejenak, mengulas senyum paling manis yang pernah mereka lihat, "...semoga suami-suami kalian yang tampak setia itu tidak pernah melakukan hal yang sama di belakang kalian ya. Karena kalau sampai terjadi... mari kita lihat, apakah kalian bisa tetap anggun dan 'sopan' seperti yang kalian khotbahkan hari ini."
DEG!
Kata-kata terakhir Ranti menghantam ulu hati ketiga wanita itu bagai petir. Wajah Bu Yuni dan Bu Melly seketika berubah kusam, terbayang kecemasan yang mendadak merayapi pikiran mereka sendiri tentang suami mereka masing-masing.
Tanpa menunggu balasan dari kelompok penakut itu, Ranti membetulkan posisi tas bahunya. Ia menegakkan tubuhnya kembali, berbalik dengan anggun, dan melangkah pergi meninggalkan gazebo dengan kepala terangkat tinggi.
Di belakangnya, suasana gazebo mendadak hening mencekam. Tidak ada lagi bisik-bisik, tidak ada lagi cemoohan. Yang tersisa hanyalah rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan mendalam terhadap sosok Ranti—seorang wanita yang tak lagi bisa ditindas oleh norma kepalsuan masyarakat.
Ranti melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan rasa puas yang membuncah di dadanya. Ia menyerap sinar matahari pagi yang hangat, meresapi setiap detik kebebasannya.
Ia telah menetapkan batas. Siapa pun yang berani mengusik ketenangannya dan Bima, akan ia hadapi dengan ketegasan yang tak tertandingi. Ranti tidak hanya bertahan hidup dari badai, tetapi kini ia telah menjelma menjadi badai itu sendiri.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.