Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kesiapan Hati
Raden Daksa membelai lembut kepala Astri yang terlelap di pelukannya. Ia kemudian merapikan anak rambut yang menutupi wajah Astri.
Andai istrinya itu tak mengeluh sakit di area kewanitaannya, sudah pasti ia akan memulai lagi permainan panas yang sudah lama tak ia nikmati itu. Raden Daksa tersenyum, membayangkan permainan panas yang mereka lakukan tadi.
"Siapa sangka kalau kamu benar-benar jadi milikku, Dek Ayu. Rencana Gusti Allah memang gak pernah disangka-sangka." Lirih Raden Daksa yang masih saja terpesona dengan kecantikan istrinya.
Raden Daksa menaikkan selimut yang membalut tubuh polosnya dan tubuh polos istrinya. Ia kembali mendekap erat dan mengecupi puncak kepala istrinya.
Sementara itu, Astri menggeliat di pelukan Raden Daksa saat pria itu mengecupi puncak kepalanya. Pelukan Raden Daksa yang terasa hangat dan nyaman, membuat Astri rasanya enggan membuka mata.
"Mas sampun wungu? (Mas sudah bangun?)" Tanya Astri dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa.
"Tidurlah lagi kalau masih mengantuk." Imbuhnya.
"Lelah sekali ya, hm?" Tanya Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.
Astri kemudian menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Raden Daksa. Bayangan pergulatan semalam, masih begitu segar diingatan. Suara desa han dan lengu han mereka berdua pun masih terngiang di telinga Astri.
"Maaf njih, Dek Ayu. Kamu terlalu nikmat sampai buat Mas hilang kendali." Kata Raden Daksa yang membuat Astri tersenyum malu.
"Mas bukannya mau ke Perusahaan?" Tanya Astri.
"Iya. Hanya sebentar." Jawab Raden Daksa.
"Mau ikut?" Tawar Raden Daksa.
"Memangnya boleh?" Tanya Astri.
"Boleh, setelah itu kita langsung ke Rumah Utama." Jawab Raden Daksa.
Sejujurnya, Astri pun penasaran bagaimana Perusahaan milik suaminya itu. Anak Perusahaan properti yang namanya cukup menggaung indah, hampir menyetarai Perusahaan Induknya yang dikelola oleh Raden Dwipa dan Raden Broto.
"Mas mandi dulu. Setelah itu, Mas siapkan air untukmu berendam, Dek Ayu." Ujar Raden Daksa.
"Matur suwun, Mas." Ucap Astri sambil tersenyum.
"Duh Ya Allah, Raden Mas..." Lirih Astri yang refleks menaikkan selimut hingga sebatas netranya karena melihat tubuh polos suaminya yang beranjak dari ranjang.
"Semalam juga sudah kamu lihat to, Dek Ayu. Kenapa sekarang masih malu?" Goda Raden Daksa sambil terkekeh.
Raden Daksa segera menuju ke kamar mandi. Ia segera membersihkan diri, kemudian menyiapkan air hangat untuk istrinya berendam.
Astri meringis ketika beranjak dari ranjang. Bagian kewanitaannya masih terasa sedikit ngilu dan perih saat dipakai untuk berjalan.
"Biar Mas bantu." Ujar Raden Daksa yang kemudian membopong tubuh Astri menuju ke kamar mandi.
Astri tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Raden Daksa. Ia merasa begitu di cintai oleh pria yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya.
"Semoga suamiku ndak akan pernah berubah." Doa Astri dalam hati sambil memandangi wajah Raden Daksa.
Setelah selesai mandi, Raden Daksa yang sudah rapi kemudian membantu Astri mengeringkan rambutnya. Meskipun Astri sempat menolak, namun Raden Daksa tetap bersikukuh untuk mengeringkan rambut panjang Astri.
"Mas mau bawa pakaian ganti? Biar aku siapkan." Tanya Astri.
"Tolong siapkan saja batik dan celana panjang, Dek Ayu. Sekalian pakaian gantimu. Setelah itu, biar Simbok dan Sus yang membawanya ke Rumah Utama." Titah Raden Daksa yang dijawab anggukan mengerti oleh Astri.
Raden Daksa tersenyum saat melihat cara berjalan Astri yang sedikit berbeda. Ia mengamati istrinya itu sambil duduk di kursi meja rias.
"Untung saja aku bisa mengendalikan diri, semalam. Kalau tidak, sudah pasti Astri tidak bisa jalan hari ini." Batin Raden Daksa.
"Apa ada yang aneh dariku, Mas, kenapa seperti itu melihatnya?" Tanya Astri.
"Jalanku aneh, ya?" Tanyanya lagi.
"Tidak. Kamu cantik sekali." Jawab Raden Daksa yang membuat Astri geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Setelah menyiapkan semua keperluannya, Astri dan Raden Daksa kemudian berpamitan pada Sasmaya sebelum pergi ke Perusahaan.
"Bunda kakinya sakit? Kenapa kerja?" Tanya Sasmaya dengan wajah khawatir.
"Ndak. Kaki Bunda ndak sakit kok, Nduk." Jawab Astri dengan wajah yang memerah.
"Tapi, Bunda jalannya-"
"Bunda gak apa-apa, Nduk. Cuma sedikit keseleo saja. Nanti sehabis bekerja, biar Ayah bawa ke tukang pijat." Ujar Raden Daksa yang memotong ucapan putrinya.
"Jangan lupa ajak Bunda obati kakinya ya, Ayah. Kasihan kalau Bunda kesakitan." Pesan Sasmaya yang membuat hati Astri meleleh.
Tak hanya suaminya, tetapi putrinya juga begitu menyayanginya. Ia seperti mendapatkan paket komplit setelah dinikahi oleh Raden Daksa.
"Njih, Cah Ayu." Jawab Raden Daksa yang kemudian mengusap kepala Sasmaya.
Selama di Perusahaan, Astri banyak menemani kegiatan suaminya. Sedikit banyak ia belajar mengenai seluk-beluk Perusahaan milik Suaminya.
"Mas, sudah hampir jam makan siang." Astri mengingatkan suaminya yang sedang sibuk bekerja. Mereka harus berada di Rumah Utama untuk makan siang bersama hari ini.
"Sebentar lagi, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Astri hanya bisa mengangguk, meskipun merasa sedikit resah. Tentu saja karena ia takut keluarga suaminya menunggu kedatangan mereka berdua.
Terlebih, Astri adalah anggota baru yang tak disukai oleh beberapa anggota keluarga Raden Daksa. Ia takut keterlambatannya akan menjadi gunjingan di keluarga suaminya.
Astri menatap ke arah Raden Daksa yang masih terlihat sibuk. Ia menatap lamat-lamat wajah tampan suaminya yang terlihat jauh lebih tampan saat sedang serius seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan kalau Mas Daksa ternyata ndak berpihak padaku? Apa yang harus aku lakukan jika Mas Daksa ndak mampu membelaku saat keluarganya menyudutkanku?" Batin Astri.
Sebagai wanita yang selama ini didik untuk menjadi wanita tangguh, Astri sama sekali tak pernah takut akan penilaian atau sikap orang lain yang tak suka dengannya.
Namun, rasanya tentu berbeda jika keluarga sendiri yang melakukan hal itu. Astri pasti butuh waktu untuk menyiapkan hati dan mental untuk menghadapinya, apa lagi, jika ternyata suaminya tak berpihak padanya.
"Semoga Mas Daksa benar-benar menepati janjinya untuk menjagaku. Aku ndak sanggup kalau harus patah hati lagi." Batin Astri yang masih menatap dengan tatapan risau.
🤔🤔
othor kie...🤣😄