Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3 — Kontrakan Sempit dan Liontin Naga
Ketika gerbang besi menutup di belakangnya, Raka tidak menoleh lagi.
Delapan menit kemudian, sebuah motor tua berhenti di tepi jalan. Pengemudinya memandang koper kain dan kotak alat gambar di kaki Raka, lalu memandang kembali motor yang hanya memiliki ruang sempit.
"Pindahan, Mas?"
"Seluruh hidup saya muat di dua benda ini, Pak."
Pengemudi itu tertawa karena mengira Raka sedang bercanda. Ia mengikat koper di jok belakang dengan tali karet, sementara kotak alat dipegang Raka di dada. Mereka meninggalkan jalan rindang Pondok Indah, masuk ke arus kendaraan yang makin padat, lalu bergerak ke arah Jakarta Timur.
Rumah besar keluarga Prawira mengecil di kaca spion sampai akhirnya hilang ditelan tikungan.
Tujuan Raka adalah sebuah gang sempit di Duren Sawit. Ia menemukan iklan kontrakan itu dua hari lalu, ketika untuk pertama kalinya mengakui pada diri sendiri bahwa pernikahannya mungkin tidak akan bertahan. Bangunannya berdempetan dengan bengkel motor dan warung kelontong. Cat dinding luarnya mengelupas. Kabel listrik melintang seperti jaring di atas gang.
Namun tempat itu punya satu pintu yang bisa ia kunci sendiri.
Pemilik kontrakan, Bu Yati, sudah menunggu di teras sambil membawa buku kuitansi.
"Kamarnya di belakang, Mas Raka. Air berbagi meter, listrik token sendiri. Tidak boleh bawa orang bikin ribut."
"Saya tinggal sendiri."
Mata perempuan paruh baya itu turun ke koper. "Istri tidak ikut?"
"Tidak."
Bu Yati cukup bijak untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia membuka pintu kamar berukuran tiga kali empat meter. Di dalam hanya ada kasur tipis, kipas angin berdiri, rak plastik, dan meja lipat yang salah satu kakinya diganjal batu bata. Kamar mandi berada di belakang tirai, cukup sempit hingga lutut hampir menyentuh pintu ketika seseorang duduk.
"Dua juta empat ratus untuk sewa pertama dan deposit," kata Bu Yati. "Kalau keluar sebelum tiga bulan, deposit tidak kembali."
Raka membuka aplikasi bank. Setelah membayar, angka yang tersisa di layar hanya tujuh ratus delapan puluh enam ribu rupiah.
Jumlah itu harus cukup untuk makan, transportasi, kuota internet, biaya mendaftarkan perkara, dan memulai hidup baru.
"Sudah masuk, Bu."
Ponsel Bu Yati berbunyi. Ia memeriksa mutasi lalu menyerahkan kunci. "Sudah. Kalau perlu sapu, pinjam di depan."
"Terima kasih."
Pintu tertutup.
Untuk pertama kalinya sejak fajar, Raka benar-benar sendirian.
Panas kamar memeluk tubuhnya. Bau cat lembap bercampur oli dari bengkel sebelah. Kipas tua berderit tiap kali kepalanya berputar ke kiri. Dari balik dinding terdengar suara anak kecil menghafal angka, disusul seorang ibu yang menawarkan gorengan kepada tetangga.
Raka meletakkan koper di lantai.
Kamar itu bahkan lebih kecil daripada ruang penyimpanan sepatu Larasati. Namun ketika ia memutar kunci dari dalam, dadanya terasa sedikit lebih lapang.
Tidak ada yang bisa memerintahnya membuat teh.
Tidak ada yang akan memeriksa isi kopernya.
Dan tidak ada yang berhak menyebut atap ini sebagai alasan untuk merendahkannya.
Ia membersihkan lantai, menjemur seprai tipis, lalu menata barang. Empat kemeja masuk ke rak. Ijazah dan sertifikat lomba ia simpan dalam map plastik agar tidak terkena lembap. Kotak alat gambar diletakkan di meja lipat. Liontin giok tetap berada di lehernya.
Pukul sebelas siang, ponselnya bergetar.
Bukan Larasati.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal dengan foto profil logo Balet Larasati.
Hebat, Mas. Baru sekali keluarga tidak makan masakanmu, langsung kabur. Jangan bikin drama di media sosial. Nama Mbak Laras sedang naik.
Pesan kedua menyusul.
Katanya kacung naik kelas kalau berani meninggalkan rumah majikan. Mau tinggal di mana sekarang?
Raka mengambil tangkapan layar, menyimpan nomor, lalu memblokirnya. Ia tidak menjawab. Orang yang mengirim pesan itu berharap mendapat kemarahan untuk dipotong dan disebarkan. Lima tahun menghadapi keluarga Prawira telah mengajarinya satu hal: bukti harus disimpan sebelum emosi diberi ruang.
Ia membuka buku tabungan dan menghitung lagi.
Saldo tetap sama.
Tujuh ratus delapan puluh enam ribu.
Angka itu menyeretnya pada malam lima tahun lalu.
Saat itu, saldo rekeningnya bahkan lebih kecil.
Raka baru keluar dari rumah keluarga Wijaya dengan satu tas ransel. Marlina berdiri di balik pagar sambil mengatakan bahwa mereka telah terlalu lama memberi makan anak yang bukan darah daging mereka. Sujarwo mencoba bicara, tetapi suaranya tenggelam oleh tuduhan. Reno, pemuda yang tiba-tiba diberi kamar Raka dan diperkenalkan sebagai orang yang lebih pantas meneruskan keluarga, hanya berdiri sambil tersenyum tipis.
Tak ada penjelasan yang masuk akal.
Raka hanya menerima sebuah amplop dari mantan petugas rumah sakit yang sudah tua. Di dalamnya terdapat liontin giok yang, menurut perempuan itu, sudah bersama Raka sejak bayi.
Malam itu ia minum terlalu banyak di sebuah acara reuni seni. Larasati juga datang dalam keadaan hancur setelah Sebastian memilih pergi ke luar negeri dan meninggalkannya tanpa kepastian. Dua orang dewasa yang sama-sama terluka saling berpegangan pada keputusan yang buruk.
Beberapa minggu kemudian, Larasati menunjukkan hasil pemeriksaan kehamilan.
Dokter menilai tindakan untuk mengakhiri kehamilan membawa risiko tinggi bagi kondisi rahimnya. Keluarga Prawira takut pada skandal. Keluarga Wijaya ingin memutus sisa hubungan dengan Raka. Pernikahan pun diatur seperti penutupan sebuah masalah.
Raka menerimanya.
Ketika Keisha lahir dan jari kecilnya menggenggam telunjuk Raka, ia berjanji akan mengubah kesalahan awal itu menjadi keluarga yang sungguh-sungguh.
Ia berhenti mengejar proyek seni yang mengharuskannya bepergian. Ia memasak, membersihkan rumah, mengantar Larasati latihan, dan menjaga Keisha saat demam. Sedikit demi sedikit, namanya sebagai seniman menghilang. Orang-orang tak lagi memanggilnya Raka si pelukis. Mereka memanggilnya suami Larasati, lalu menantu Prawira, lalu kacung.
Lima tahun pengabdian tidak mengubah awal yang rapuh menjadi cinta.
Ia hanya membuat penghinaan terasa normal bagi semua orang.
Derit kipas membawa Raka kembali ke kamar sempit.
Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini pesan dari Bambang.
Keisha baik-baik saja. Tidak ada gejala. Kalau butuh bantuan, kabari saya.
Raka membalas singkat.
Terima kasih, Pak. Tolong tetap pantau dua puluh empat jam. Saya akan mengabari alamat korespondensi setelah pasti.
Tak lama kemudian, Larasati mengirim satu kalimat.
Berapa hari kamu mau melakukan ini?
Raka menatapnya, lalu mengetik balasan.
Saya akan mengirim nomor perkara setelah pendaftaran.
Tanda sedang mengetik muncul di layar, menghilang, lalu muncul lagi. Tidak ada pesan lanjutan.
Raka meletakkan ponsel.
Perutnya berbunyi. Ia belum makan sejak mencicipi kuah lodeh kemarin sore. Dari sisa uang tunai, ia membeli nasi, telur balado, dan teh tawar di warung depan. Ia duduk di bangku plastik bersama dua mekanik bengkel.
Salah satu dari mereka melihat kotak alat gambar di tangan Raka. "Tukang servis juga, Mas?"
"Bukan. Saya menggambar. Kadang mengukir."
"Bisa bikin papan nama?"
Raka menatap papan tripleks warung yang hurufnya telah pudar. "Bisa."
Pemilik warung, Bu Nani, menyahut dari balik etalase. "Kalau nanti ada uang, saya mau gambar menu baru. Yang sekarang salah harga terus."
"Saya bisa buat rancangan dulu. Bayar kalau cocok."
Itu bukan pesanan besar. Bahkan mungkin tidak jadi pesanan. Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang bertanya apa yang bisa dibuat oleh tangannya, bukan seberapa banyak ia bisa melayani keluarga.
Sepulang dari warung, Raka membuka kotak kayu di atas meja.
Pensil arang tersusun menurut tingkat kekerasan. Pisau ukir kecil mengilap karena rutin diasah meski jarang digunakan. Ada kuas yang bulunya mulai menipis, penggaris logam, palet cat kering, dan buku sketsa yang tinggal dua belas halaman.
Jarinya mengambil pensil tanpa ragu.
Dalam tiga puluh menit, papan menu baru untuk warung terbentuk di atas kertas. Susunan hurufnya kuat dan mudah dibaca. Di sudut bawah, ia menggambar uap yang berubah menjadi motif daun. Tangannya masih mengingat setiap garis.
Raka menatap hasil itu lama.
Mereka boleh menyebut pekerjaan ilustrasinya receh. Mereka boleh mengira ia hanya tahu cara mengaduk santan. Namun tangan ini pernah memenangkan lomba, membangun relief, dan menghidupkan tembok kosong. Sebelum lima tahun hidupnya terkubur di rumah Prawira, tangannya pernah menjadi alasan para dosen memperdebatkan masa depannya.
Ia belum kehilangan kemampuan itu.
Ia hanya berhenti menggunakannya untuk dirinya sendiri.
Malam turun cepat. Lampu tunggal di kamar memancarkan warna kuning kusam. Raka duduk di lantai, membuka aplikasi pencarian kerja, mencatat harga material, dan menghitung berapa hari ia bisa bertahan jika makan dua kali sehari.
Tiga minggu, paling lama.
Ia membutuhkan uang sebelum perkara cerai memasuki tahap mediasi. Ia juga harus mulai menyisihkan nafkah Keisha, meski belum ada putusan. Pekerjaan ilustrasi kecil saja tidak cukup. Ia perlu sesuatu yang memperlihatkan keahliannya langsung kepada banyak orang.
Saat hendak menutup map, liontin di dadanya tersangkut pada ujung kertas.
Raka melepaskannya dari balik kaus.
Di bawah cahaya lampu, warna hijau tua giok itu tampak lebih dalam. Ukiran naga melingkari permukaan depan dengan garis yang begitu halus hingga tiap sisik hanya terlihat ketika benda dimiringkan. Raka mengambil kaca pembesar kecil dari kotak alatnya.
Ia pernah memeriksa liontin itu, tetapi tak pernah dengan kesabaran seorang pengukir.
Pada sisi dalam bingkai, di balik lengkung ekor naga, terdapat jejak huruf yang hampir tertutup goresan usia.
Raka membersihkannya memakai ujung kain lembut.
Satu demi satu kata muncul.
Semoga putraku...
Kalimat itu terputus pada bagian giok yang aus.
Napas Raka melambat.
Siapa yang menulisnya? Mengapa benda untuk seorang putra berada bersamanya sejak bayi? Mengapa petugas rumah sakit menyimpannya selama puluhan tahun? Dan mengapa Marlina baru mengusirnya setelah melakukan pemeriksaan DNA diam-diam?
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.
Raka menggenggam liontin hingga dinginnya menekan telapak tangan. Di cermin kecil dekat pintu, ia melihat seorang pria dengan kaus murah, kamar kontrakan lembap, dan saldo tak sampai satu juta rupiah.
Beginilah semua orang melihatnya sekarang.
Baik.
Ia akan memulai dari sini.
"Aku tidak perlu nama keluarga siapa pun untuk berdiri," katanya kepada bayangannya. "Sebelum mencari tahu aku anak siapa, aku akan membuktikan siapa diriku sendiri."
Raka meletakkan liontin di samping kotak alat, membuka halaman baru buku sketsa, dan menulis dua kata besar di bagian atas.
Mulai lagi.
Di bawah lampu kuning kontrakan, ukiran naga itu memantulkan cahaya seperti mata yang baru terbangun.