NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Bahkan aura kampungan yang tadi melekat padanya kini lenyap tidak berbekas.

Arif melihat Shinta mematung di tangga dan menyeringai tipis.

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Terpesona melihat ketampananku?" goda Arif percaya diri.

Shinta langsung tersadar dari lamunannya dan wajahnya seketika merona merah.

"M-mimpimu terlalu tinggi! Siapa juga yang terpesona denganmu!" bantah Shinta gelagapan.

"Kau cuma beruntung baju pilihanku bisa menutupi tampang udikmu itu."

Arif terus berjalan menuruni tangga dan berhenti tepat satu anak tangga di atas Shinta.

"Terima kasih atas bajunya, setidaknya selera berpakaianmu lumayan juga," ucap Arif santai.

"Tentu saja! Aku ini punya selera fashion kelas atas!" sombong Shinta membusungkan dadanya sedikit.

Arif tertawa kecil melihat tingkah laku gadis judes di depannya ini.

Tiba-tiba, rasa panas kembali merambat dari ulu hati Arif menuju ke dadanya.

Wajah Arif sedikit meringis menahan sakit yang datang tiba-tiba.

"Sial, Racun Api ini sangat tidak stabil sejak aku turun gunung," batin Arif kesal.

Dia menatap Shinta yang masih memegang buku dengan wajah cemberut.

"Energi Yin murni gadis ini adalah satu-satunya cara untuk menekan racunnya," pikir Arif cepat.

Tapi dia tidak mungkin terang-terangan minta dipegang oleh Shinta, gadis itu pasti akan mengamuk.

Arif harus mencari alasan yang masuk akal untuk melakukan kontak fisik dengannya.

"Kenapa kau diam saja? Minggir, aku mau lewat!" ketus Shinta karena Arif menghalangi jalannya.

"Tunggu sebentar," ucap Arif menahan langkah Shinta.

Arif menatap lekat-lekat ke arah wajah Shinta membuat gadis itu salah tingkah.

"K-kenapa kau menatapku begitu?" tanya Shinta memundurkan kepalanya sedikit.

"Wajahmu pucat, apa kau sering merasa kram di perut bagian bawah saat udara dingin?" tanya Arif mengarang gejala.

Shinta mengerutkan keningnya kebingungan.

"Dari mana kau tahu? Aku memang sering kram kalau AC kelasku terlalu dingin," jawab Shinta jujur.

"Itu karena aliran darah di meridian perutmu tidak lancar," balas Arif dengan raut wajah dokter profesional.

"Sini tanganmu, biar aku periksa nadimu sebentar."

Tanpa menunggu persetujuan Shinta, Arif langsung mengulurkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

Grep!

Saat kulit mereka bersentuhan, sensasi dingin yang luar biasa nyaman langsung mengalir masuk ke tubuh Arif.

Itu seperti meminum air es di tengah gurun pasir yang sangat panas.

Arif memejamkan matanya sesaat untuk menikmati aliran energi Yin murni tersebut.

Racun Api di dadanya langsung mundur ketakutan dan kembali tertidur pulas.

Namun bagi Shinta, genggaman Arif yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan.

Apalagi melihat Arif memejamkan mata dengan wajah yang terlihat sangat menikmati sentuhan itu.

"Dasar mesum!" teriak Shinta panik dan jijik.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Arif dengan suara yang sangat nyaring.

Buku-buku di tangan Shinta jatuh berserakan ke anak tangga karena dia menghempaskan tangannya.

Arif membuka matanya perlahan dan memegang pipinya yang memanas.

"Apa-apaan kau ini? Aku sedang memeriksa nadimu!" protes Arif dengan wajah datar.

"Memeriksa nadi kepalamu! Kau cuma mencari kesempatan untuk memegang tanganku kan?!" bentak Shinta marah besar.

"Jangan pikir karena kau menyelamatkan ayahku, kau bisa berbuat seenaknya padaku!"

Mata Shinta berkaca-kaca karena dia merasa dilecehkan di rumahnya sendiri.

"Aku benci padamu! Dasar cowok kampung mesum!" jerit Shinta sambil berlari naik ke lantai dua.

Arif hanya berdiri diam di tangga menatap punggung Shinta yang menghilang di balik pintu kamarnya.

Dia mengelus pipinya yang sedikit merah akibat tamparan yang cukup bertenaga itu.

"Tenaganya lumayan juga untuk ukuran gadis manja," gumam Arif tidak marah sama sekali.

Dia malah menyeringai tipis karena misinya untuk meredakan Racun Api telah berhasil.

Hanya butuh sentuhan lima detik, dan racun itu bisa ditekan untuk dua puluh empat jam ke depan.

"Satu tamparan untuk menukar nyawaku hari ini, anggap saja ini bisnis yang impas," batin Arif terkekeh pelan.

"Ada apa ini ribut-ribut?" suara Nana terdengar dari lantai bawah.

Nana berjalan mendekati tangga dan melihat buku-buku adiknya berserakan di sana.

Lalu dia mendongak dan melihat Arif sedang berdiri memegang pipinya.

"Tuan Arif? Apa yang terjadi? Kenapa buku Shinta berantakan begini?" tanya Nana kebingungan.

Arif menuruni sisa anak tangga dan memungut buku-buku tebal itu satu per satu.

"Tidak ada apa-apa, adikmu hanya tersandung dan bukunya jatuh," bohong Arif dengan wajah tanpa dosa.

Nana mengerutkan keningnya melihat bercak merah berbentuk telapak tangan di pipi Arif.

"Lalu pipi Anda kenapa memerah begitu Tuan?" selidik Nana curiga.

"Oh ini? Tadi ada nyamuk besar yang menempel di pipiku, jadi aku menamparnya sedikit keras," kilah Arif santai.

Nana menghela nafas panjang, dia tahu pasti adik cerewetnya itu baru saja membuat masalah lagi.

"Maafkan kelakuan Shinta Tuan Arif, dia memang mudah sekali terpancing emosinya," ucap Nana mengambil buku-buku itu dari tangan Arif.

"Tidak masalah, aku sudah biasa menghadapi harimau betina di gunung," balas Arif santai berjalan menuju dapur.

Nana hanya bisa tersenyum masam melihat sikap Arif yang sangat unik itu.

Meski penampilannya sudah berubah menjadi sangat mewah, gaya bicaranya tetap saja ceplas-ceplos.

Di dapur, Arif mengambil segelas air dingin dan meneguknya habis.

Dia menatap keluar jendela yang menampilkan kebun belakang Keluarga Liem yang luas.

"Besok adalah hari kedua dari lima hari umur Baskoro," batin Arif memutar gelas kosongnya.

"Aku penasaran bagaimana reaksi dokter spesialis luar negeri yang akan mereka datangkan besok."

Biro Akasa yang dipimpinnya bukanlah sekadar organisasi medis biasa.

Mereka menguasai jaringan informasi gelap dan teknik pembunuhan tanpa jejak di seluruh dunia.

Hanya dengan satu panggilan dari medali naga di sakunya, dia bisa meratakan Grup Baskoro dalam semalam.

Tapi Arif tidak ingin melakukan itu.

"Kematian yang terlalu cepat adalah sebuah rahmat bagi pengkhianat janji," gumam Arif tersenyum kejam.

"Aku akan membuat mereka merasakan keputusasaan perlahan-lahan hingga mereka merangkak di kakiku."

Di lantai dua, Shinta sedang menangis kesal di atas kasurnya.

Dia memukul-mukul bantal gulingnya dengan brutal membayangkan wajah menyebalkan Arif.

"Beraninya dia memegang tanganku! Memangnya dia pikir dia siapa?!" rutuk Shinta marah.

Gadis itu bangkit duduk dan menatap pantulan dirinya di cermin meja rias.

Entah kenapa, saat tangan Arif memegang pergelangannya tadi, dia merasakan aliran listrik yang aneh.

Bukan sengatan yang menyakitkan, melainkan rasa hangat yang membuat jantungnya berdebar kencang sedetik.

"Ah tidak tidak! Aku pasti sudah gila karena kecapekan!" teriak Shinta mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Aku, Shinta Liem, tidak akan pernah sudi jatuh cinta pada gembel mesum itu!"

Shinta bersumpah dalam hati akan membuat kehidupan Arif di rumah ini menjadi neraka.

Dia akan mengerjai pemuda itu setiap hari sampai Arif tidak betah dan angkat kaki dari rumahnya.

Sayangnya, Shinta tidak tahu bahwa Arif Wicaksono bukanlah pemuda sembarangan yang mudah diganggu.

Arif justru menikmati setiap keributan kecil yang dibuat oleh calon tunangannya yang bodoh itu.

Pertarungan gengsi antara dua orang keras kepala ini baru saja dimulai.

Dan di sisi lain kota Jakarta, dewa kematian mulai mendekat ke rumah megah Keluarga Baskoro.

1
Was pray
Shinta itu tipe wanita keras kepala tapi ceroboh dan agak lambat berpikir
Was pray
pemimpin naga hitam jenis biji-bijian kah Thor?
Was pray
gak apa2 Shinta.. anggap aja rekreasi ke pelabuhan tanjung Priok , kamu kan wanita hebat yg gak butuh nasehat orang lain.. 🤭
Was pray
emang Arif dan Shinta kuliahnya di rumah sakit? waduh .. ambil fakultas apaan Arif nanti?
Was pray
kenapa bos preman kalau gak plontos ya botak? gak ada yg ganteng kah si bos preman Thor? 🤭🤭
Was pray
cek cek.... 👎 MC nya kuat sih... tapi mulutnya perlu dipemak ulang
Was pray
kurang didikan Budi pekerti kah Arif?
kayra lubna
Cerita yang sangat unik,ada percintaan,pengobatan,seni bela diri,sangat memuaskan hati untuk dibaca...mantaaaap👍
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!