NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kekuatan Sejati dan Hutan yang Mengintai

Ketiga sahabat itu duduk bersandar pada batu yang hangat, tersembunyi di balik bayangan tebing. Riu Han mengeluarkan Kristal Roh yang baru saja mereka peroleh, lalu memejamkan mata dan menyerap energi di dalamnya. Genbu dan Bai Wing melakukan hal yang sama. Di tempat yang sunyi dan terlindung itu, mereka merasakan keagungan energi yang memancar dari benda itu — murni, padat, dan jernih bagai air mata langit.

Energi ini jauh lebih murni daripada Qi yang ada di Alam Empat Wilayah. Rasanya seperti sumber dari segala sumber kekuatan, hanya kalah sedikit dibandingkan energi dari Pohon Sumber yang legendaris. Satu butir Kristal Roh saja mengandung energi yang luar biasa banyaknya. Dua atau tiga butir saja mungkin sudah cukup untuk menaikkan seseorang satu tingkat penuh di ranah Dewa Kecil. Dengan ratusan butir yang kini mereka miliki, teoretisnya ketiganya bisa langsung melompat hingga ke tingkat sembilan Dewa Kecil, bahkan melangkah lebih jauh lagi.

Namun Riu Han menahan diri. Ia menaikkan kekuatannya perlahan, setahap demi setahap.

Kenaikan tingkat yang terlalu cepat, ia paham, kerap kali justru merusak fondasi kultivasi. Pondasi yang dibangun terburu-buru akan retak di kemudian hari. Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi angka di atas kepala, melainkan seberapa sempurna kekuatan yang dikuasai di setiap tingkatan. Berkat teknik abadi yang ia miliki, Riu Han memahami rahasia yang tak disadari banyak orang: ia selalu lebih kuat dari rekan seangkatannya bukan semata karena bakat, melainkan karena setiap tetes energi yang ia serap disempurnakan hingga tak ada sisa yang terbuang.

Sementara orang lain berpuas diri memenuhi wadah mereka, Riu Han membekukan, memadatkan, dan mengeratkan isinya ribuan kali lipat. Inilah sebabnya — meski kini ia hanya berada di Dewa Kecil Tingkat Satu — tubuh dan jiwanya setara dengan Dewa Menengah Tingkat Satu. Cadangan energinya pun sama. Ditambah penguasaan atas konsep ruang dan teknik gerakan yang tak tertandingi, seorang Dewa Menengah Tingkat Sembilan pun bisa ia kalahkan.

Inilah keunggulan klan-klan besar. Teknik tingkat tinggi yang diwariskan dari leluhur memungkinkan mereka membangun fondasi yang kokoh, sehingga setiap lompatan kekuatan menjadi mantap dan dahsyat.

Riu Han berhenti ketika mencapai Dewa Kecil Tingkat Tiga — puncak tingkatan itu. Tujuh butir Kristal Roh telah diserap sepenuhnya, dan ia merasa tak perlu lebih banyak lagi. Genbu dan Bai Wing menyusul tak lama kemudian. Mereka memilih jalur yang sama, mempercayai sepenuhnya arah yang ditunjukkan sahabat mereka. Di Cincin Ruang Riu Han tersimpan harta yang tak ternilai, namun ia tak tergoda untuk melompat terlalu cepat. Hasilnya nyata: di setiap tingkatan, ia berdiri di puncak yang tak bisa disentuh siapa pun di bawahnya, bahkan di atasnya pun banyak yang tak berani meremehkan. Padahal ia hanyalah manusia — bukan keturunan binatang roh suci yang secara alami lahir lebih kuat.

"Kalian sudah selesai," ucap Riu Han lembut saat keduanya membuka mata. "Baiklah, mari kita lanjutkan perburuan."

Ia berdiri, menatap langit yang dipenuhi cahaya bintang, lalu melesat naik. Tujuan mereka adalah pulau yang terlihat seperti hamparan hutan hijau pekat dari kejauhan — luasnya beberapa kali lipat Kerajaan Jiang. Saat mendarat, mereka disambut oleh pemandangan yang asing namun memukau: pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, rumput berwarna-warni tumbuh lebat, dan bunga-bunga yang bentuknya tak pernah dilihat di dunia mana pun mekar di sela-sela akar kayu yang besar.

Ngung... Ngung...

Dengungan berat terdengar dari arah samping. Ketiganya menoleh serentak. Belasan ekor lebah raksasa — sebesar bayi — melesat ke arah mereka dengan sayap yang bergetar cepat.

Siut! Ting!

Salah satu jarum sengat meluncur ke arah Riu Han. Ia menyentilnya begitu saja, mengubah arahnya di udara, lalu melayangkan kepalan tangan. Brak! Bam! Kepala lebah itu terhantam, dan makhluk itu jatuh tak bergerak. Makhluk-makhluk ini bergerak lincah dan semuanya berada di tingkat sepuluh — setara Dewa Kecil — namun bagi ketiganya, mengalahkan mereka hanyalah perkara sekejap mata. Tak lama kemudian, semua lebah itu tewas. Mereka mengumpulkan Kristal Roh, lalu melangkah masuk ke dalam hutan yang lebih dalam.

Belum berjalan jauh, lima orang muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. Salah satunya bertepuk tangan pelan sambil tersenyum licik.

"Hebat, hebat... masih muda namun mampu membunuh Binatang Hunshuan semudah itu," ucapnya.

Kekuatan kelima orang itu terlihat jelas: yang terkuat berada di Dewa Menengah Tingkat Sembilan, dua orang di Dewa Kecil Tingkat Sembilan, dan sisanya di antara keduanya.

"Mohon maaf, Tuan. Kami permisi," ucap Riu Han dengan sopan sambil memberi hormat.

"Eh, hehehe... jangan terburu-buru, anak muda," orang itu tertawa. "Kalian boleh pergi... tinggalkan dulu Kristal Roh yang kalian dapat."

Riu Han menatapnya tenang. "Kristal ini milik siapa yang mendapatkannya. Sesuai hukum yang berlaku."

"Hahaha... kau benar," pria itu tertawa lebih keras. "Namun hukum yang sesungguhnya di sini adalah: siapa yang kuat, dialah yang menetapkan aturannya. Kau paham, bukan?"

Riu Han menghela napas pelan, lalu menoleh ke samping. "Bai Wing, kau saja."

"Baik, Kakak."

Bai Wing melangkah maju. Tak ada ledakan dahsyat, tak ada kata-kata seru. Hanya beberapa gerakan cepat bagai bayangan yang melintas. Saat ia kembali berdiri di samping Riu Han, kelima orang itu sudah tergeletak diam di tanah, tak bernyawa lagi. Di tempat yang bebas ini, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Siapa yang lemah, akan tertindas; siapa yang kalah, akan mati.

Mereka mengambil Cincin Ruang milik kelima orang itu, lalu melanjutkan perjalanan. Riu Han tetap berjalan tenang. Sifatnya yang lembut bukan berarti tak mampu bertindak tegas — ia hanya lebih memilih kedamaian. Namun di dunia ini, kelembutan kadang disalahartikan sebagai kelemahan.

Kini mereka berjalan lebih hati-hati. Bai Wing, dengan naluri pemburu yang diwarisi dari leluhurnya, berjalan di depan. Tiba-tiba ia memberi isyarat berhenti. Ketiganya diam, menyatu dengan bayangan pohon. Di kejauhan, di antara dahan yang lebat, terlihat sekelompok makhluk yang menyerupai kera — setinggi manusia dewasa, bertaring tajam, bermain dan melompat-lompat di atas pohon raksasa. Mereka adalah Binatang Hunshuan jenis kera.

Namun bukan hanya mereka yang mengintai. Di sisi hutan yang berlawanan, tersembunyi di balik semak belukar, ada sekelompok orang lain yang juga menatap makhluk-makhluk itu dengan tatapan serakah. Kelompok itu belum menyadari kehadiran Riu Han dan kawan-kawan. Dua kelompok, tersembunyi di tempat berbeda, menunggu momen yang sama — siap untuk berburu, atau diburu.

Riu Han menatap Genbu dan Bai Wing, lalu berkomunikasi lewat batin. Mereka mengangguk paham. Di hutan ini, tak ada yang bisa dipastikan. Makhluk di depan mereka belum tentu yang paling berbahaya, dan orang-orang yang mengintai dari kejauhan mungkin justru ancaman yang lebih nyata.

1
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!