NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Sinar matahari Selasa pagi menembus celah ventilasi koridor lantai dua, memantulkan bayangan persegi panjang di atas ubin putih yang masih licin sisa sapuan pembersih lantai. 

Jam dinding bulat di atas pintu ruang piket menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit. 

Suasana koridor masih relatif lengang, hanya ada satu dua siswa yang melintas sambil menyeret sepatu mereka.

​Regina berdiri bersandar pada pembatas pembatas koridor dekat persimpangan blok IPA dan IPS. 

Ransel abu-abunya ditaruh di atas pembatas beton, sementara kedua tangannya dilipat di depan dada. 

Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang bersih, dengan kerah tercuci rapi tanpa lipatan miring.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Ujung sepatu hitamnya mengetuk lantai semen dengan ritme teratur. 

Matanya sesekali melirik ke arah lorong tangga, menanti sosok yang berjanji menemuinya sebelum pukul tujuh pagi.

​"Eh, anak IPA 2 udah nungguin siapa nih pagi-pagi?"

​Suara tawa berat memotong ketenangan koridor.

Andreas berjalan menyusuri koridor dari arah ruang IPS, didampingi Varen yang sedang memutar-mutar gantungan kunci di jarinya. 

Andreas menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di hadapan Regina, memiringkan kepalanya dengan cengiran yang simetris.

​"Nungguin Helga ya?" tanya Andreas, suaranya sedikit sengau. 

Ia menyandarkan sebelah bahunya ke dinding koridor, menghalangi pandangan Regina ke arah lorong tangga.

​Regina tidak bergeser. "Bukan urusan kamu."

​"Galak amat, Mbak," Varen menyahut dari belakang Andreas, terkekeh pelan. 

"Helga mah jam segini paling masih di jalan, atau malah baru bangun tidur. Dia kan kalau bawa motor kayak kesetanan tapi kalau jalan santai banget."

​"Mana tempat pensil saya?" tanya Regina lurus, matanya menatap Andreas tanpa kedipan.

​"Lah, kok tanya ke gua?" Andreas mengangkat kedua tangannya terbuka. 

"Yang nemuin kan si Helga. Gua cuma penonton setia aja kemarin di taman."

Regina menurunkan lipatan tangannya. Jemarinya mencengkram pinggiran ranselnya di atas pembatas beton, lalu melangkah setengah tindak ke kanan untuk melewati Andreas.

​Namun Andreas ikut menggeser tumpuan kakinya ke kanan, tetap menutup jalur jalan Regina menuju koridor IPA.

​"Sebentar dulu dong, Regina," ujar Andreas sambil menunduk sedikit, sejajar dengan mata Regina. 

"Anak IPS tuh ramah-ramah, gak usah buru-buru balik ke kelas IPA yang sepi itu."

​"Geser," kata Regina pendek. Suaranya rendah, tanpa nada melengking.

​"Kalau gua gak mau gimana?"

​Plok.

​Sebuah buket gulungan koran bekas yang diikat karet gelang menepuk pelan bahu kanan Andreas dari belakang.

​"Singkirin badan lu, Ndra. Menghalangi jalan aja."

Andreas berkedip, memutar badannya pelan. 

Helga berdiri di sana, mengenakan seragam putih abu-abu dengan jaket jins belel yang kancing depannya dibiarkan terbuka. 

Rambutnya masih sedikit basah di bagian ujung, dan di tangan kirinya—ia memegang tempat pensil kain berwarna biru tua milik Regina.

​Varen melangkah mundur satu pijakan. "Nah, yang punya hajat datang."

​"Lu ganggu orang aja dari tadi pagi," kata Helga datar pada Andreas. 

Ia mendorong bahu Andreas pelan menggunakan ujung gulungan koran di tangan kanannya hingga Andreas tergeser ke samping.

​"Gua cuma menyapa tetangga, Hel," Andreas tertawa pelan, lalu menepuk dada Helga sekali. 

"Yaudah, gua ke kelas dulu sama Varen. Jangan lupa tugas Sosiologi dikumpul jam kedua."

​Andreas dan Varen berjalan menjauh menyusuri koridor IPS, suara tawa mereka perlahan mengecil dihantam dengung ramai siswa yang mulai berdatangan.

Regina langsung mengulurkan tangan kanannya ke depan, telapak tangannya terbuka di udara tepat di hadapan Helga.

​"Kembalikan," kata Regina.

​Helga menatap telapak tangan Regina yang bersih, lalu menatap wajah Regina. 

Ia tidak langsung menyerahkan tempat pensil biru itu. 

Alih-alih mengulurkannya, Helga justru menarik kembali tangan kirinya dan memasukkan tempat pensil tersebut ke dalam saku dalam jaket jeansnya.

​Sssrt.

Regina menarik napas pendek lewat hidung. 

Tangannya tetap bertahan di udara selama satu detik sebelum akhirnya ia turunkan kembali ke samping pinggangnya.

​"Gua udah simpan barang lu semalaman," ujar Helga santai. Tangannya masuk ke saku celana abu-abunya. 

"Isinya gak ada yang hilang. Pulpen dua, pensil mekanik, penghapus Jepang, sama pembatas buku."

​"Terima kasih. Sekarang berikan," balas Regina.

​"Ada syaratnya."

​Regina menaikkan alis kirinya tipis. "Syarat?"

​"Nanti sore pas pulang sekolah, lu pulang bareng gua pakai motor," kata Helga. Suaranya tenang, tanpa gurauan, matanya menatap lurus ke arah Regina.

Regina diam membisu. Ia menatap saku jaket jeans Helga tempat pensil birunya tersembunyi, lalu menatap wajah Helga yang berdiri rileks di hadapannya.

​"Mobil Mama jemput jam tiga," kata Regina datar.

​"Macet di Cihampelas bakal ulang lagi kayak kemarin," sahut Helga cepat. 

"Lagian gua cuma minta anterin balik bareng sekali. Tempat pensil ini baru gua kasih pas lu udah duduk di jok belakang."

​"Itu barang saya."

​"Memang," Helga mengangguk pelan. "Dan gua yang nemuin di taman pas hujan. Fair, kan?"

​Regina mencengkeram tali ranselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih tipis. 

Pikirannya mendadak berputar pada isi tempat pensil itu—penghapus stik pembagian dari ayahnya dan catatan target semester yang terselip di dalam kain biru tersebut.

Regina sempat memajukan langkahnya setengah senti, tangannya hampir terangkat lagi untuk merebut tempat pensil itu dari saku jaket Helga, tetapi ia membatalkan gerakannya dan kembali berdiri tegak.

​Teeeet!

​Bel tanda masuk jam pertama berbunyi nyaring dari arah pengeras suara koridor, mengguncang ketenangan pagi itu.

 Beberapa siswa IPA 2 mulai berlarian melewati mereka menuju pintu kelas.

​Regina menatap Helga selama tiga detik penuh tanpa berkedip.

​"Jam tiga sore di parkiran belakang," ujar Regina dingin. 

"Kalau tempat pensil itu rusak atau ada yang kurang satu milimeter pun, saya laporkan kamu ke guru piket."

Helga tidak terkejut oleh ancaman itu. Ia justru tersenyum tipis lalu menepuk saku jaketnya pelan.

​"Deal. Jangan telat," kata Helga.

​Regina membalikkan badannya tanpa menyahut lagi, menyambar ranselnya dari atas pembatas beton, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kelas 12 IPA 2.

​Dari balik jendela kaca kelas, Shinta yang baru saja duduk di mejanya menatap Regina dengan mata membelalak heran, sementara Helga masih berdiri di luar koridor, memperhatikan langkah Regina hingga pintu kelas IPA 2 tertutup rapat.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!