Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Seroja Ningsih
"Kalian angkat kaki sekarang! Bawa barang kalian, dan jangan pernah menginjak tanah desa lagi! Rumah ini tertutup untuk perempuan buangan!"
Suara parau Carik desa membelah derit roda dokar yang beradu dengan jalan berbatu. Kainara Seroja Putri membuka mata perlahan, menahan pusing yang menghantam pelipis akibat guncangan keras.
Lembur berhari-hari dan tekanan pekerjaan telah menguras tubuhnya. Serangan jantung mendadak merenggut hidupnya di usia tiga puluh tahun.
Namun, bukannya menemukan akhir, ia justru terbangun di tempat asing.
Debu jalanan dan bau keringat kuda langsung memenuhi hidungnya. Seroja menunduk menatap kedua tangannya. Jari-jari kecil itu kasar, dipenuhi bekas luka goresan. Tubuhnya terbalut kebaya kusam dan kain lurik yang warnanya telah memudar.
Lalu ingatan lain mengalir masuk.
Kehidupannya sebagai Kainara menyatu dengan kenangan Seroja Ningsih, gadis desa berusia delapan belas tahun pada tahun 1972. Perpaduan dua ingatan itu membuat kepalanya berdenyut hebat.
Di sampingnya, Siti duduk membungkuk di atas dokar. Perempuan tiga puluh delapan tahun itu memeluk selendang batiknya erat, berusaha menahan tubuhnya yang bergetar mengikuti guncangan roda. Ia tidak menangis keras, hanya menyimpan isak kecil yang sesekali lolos.
Siti adalah ibunya sekarang. Seorang perempuan lembut yang dibuang oleh suaminya sendiri.
Seroja menelan ludah. Sisa kesedihan pemilik tubuh ini masih terasa menyesakkan dadanya. Hardiman, ayah kandungnya, mengusir mereka dari rumah utama demi istri barunya. Tubuh ini bahkan sempat menangis hingga pingsan saat diseret keluar halaman setengah jam lalu.
Mungkin saat tubuh ini kehilangan kesadaran, jiwa Seroja benar-benar telah pergi, lalu takdir mempertemukan raga itu dengan jiwa Kainara. Jika memang begitu, ia akan menjalani hidup sebagai Seroja dan menjaga orang-orang yang ditinggalkan gadis itu.
Namun, meratapi Hardiman tidak akan mengubah apa pun. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana agar mereka bisa bertahan hidup dan makan esok pagi.
Dokar terus berguncang menyusuri jalan menanjak. Debu putih beterbangan hingga membuat Seroja terbatuk. Perutnya kembali melilit, kosong sejak pagi.
Di kursi depan, Carik desa memangku radio transistor. Lagu "Angin Laut" dari Koes Plus mengalun lirih, kontras dengan suasana muram di atas dokar.
"Dengar ini, Ti," ujar Carik sambil menoleh dengan senyum merendahkan. "Pak Hardiman sudah berbaik hati mencarikan tempat buat kalian. Gubuk di pinggir Hutan Jati itu masih bisa ditempati. Daripada luntang-lantung di pasar jadi pengemis, ya to?"
Siti hanya menunduk semakin dalam. Jemarinya mencengkeram selendang batik hingga memutih.
"Nggih, Pak Carik. Saya terima."
Hati Seroja terasa sesak. Bagi perempuan pada masa ini, diusir suami adalah aib yang nyaris tak tertanggungkan. Ia menggeser duduknya, lalu menggenggam erat tangan ibunya yang kasar.
"Ibu jangan menangis lagi," bisiknya pelan. "Kita masih punya tangan untuk bekerja. Selama kita mau berusaha, kita tidak akan kelaparan."
Siti menoleh. Air matanya menetes membasahi punggung tangan Seroja. Dengan jemari gemetar, ia mengusap pipi putrinya.
"Seroja... maafkan Ibu. Ibu gagal mempertahankan rumah kita. Besok pagi Ibu akan memohon supaya kamu boleh kembali tinggal di rumah utama. Biar Ibu saja yang tinggal di Hutan Jati."
Seroja menggeleng tegas sambil menggenggam tangan Siti lebih erat.
"Tidak ada yang akan memohon pada Hardiman. Selama kita masih bersama, kita masih punya rumah. Seroja tidak akan meninggalkan Ibu."
Carik desa di depan terkekeh sinis.
"Gampang sekali bicaramu, Nduk. Tanah di Hutan Jati itu tandus. Singkong saja susah hidup, apalagi padi. Memangnya kalian mau makan batu?"
Tanpa melepaskan tangan ibunya, Seroja menatap punggung pria itu.
"Selama masih punya dua tangan, kami tidak akan membiarkan diri kami kelaparan, Pak."
Carik desa mendengus.
"Kita lihat saja sebulan lagi. Paling ibumu balik ke rumah Pak Hardiman, minta sisa nasi basi."
Seroja membalas tatapannya tanpa gentar.
Entah mengapa, Carik desa yang semula menyeringai justru kehilangan kata-kata. Ia berdeham canggung, memalingkan wajah, lalu kembali mengarahkan kudanya.
Seroja memejamkan mata, membiarkan suara roda kayu membawa mereka semakin jauh dari desa. Perlahan, rencana bertahan hidup mulai tersusun di kepalanya.
Mereka membutuhkan air bersih, makanan, dan kayu bakar sebelum malam tiba. Setelah sampai, ia harus memeriksa kondisi gubuk, mencari sumber air, lalu menentukan apa yang masih bisa ditanam di tanah itu.
Matahari sore menyengat kulit ketika dokar akhirnya berhenti dengan hentakan kasar di sebuah tanah lapang.
"Turun," perintah Carik sambil mematikan radio transistor.
Siti turun dengan susah payah sambil memanggul buntalan pakaian usang. Di hadapan mereka berdiri sebuah gubuk yang nyaris roboh. Atap rumbianya berlubang, dinding bambunya lapuk dimakan rayap, dan pekarangannya kering berbatu tanpa tanda adanya sumber air.
Carik desa berdiri sambil berkacak pinggang, memandang tempat itu dengan jijik. Ia merogoh saku celananya, lalu melempar dua lembar uang lusuh ke tanah berdebu di dekat kaki Seroja.
"Itu dari Pak Hardiman untuk membeli beras. Pesannya jelas."
Ia mengarahkan telunjuk ke arah Seroja.
"Jangan kembali ke desa. Kalau kalian terlihat berkeliaran di sekitar sana, saya sendiri yang akan menyeret kalian ke polisi dengan tuduhan mengganggu ketertiban."
Seroja menunduk menatap dua lembar uang lima rupiah di tanah. Jemarinya mengepal.
Sepuluh rupiah di masa ini bahkan hanya cukup membeli sedikit beras.
Ia menarik napas perlahan, memaksa tubuhnya berhenti gemetar. Ketakutan yang tersisa ia tekan dalam-dalam, lalu berdiri tegak.
Seroja mengangkat wajah.
"Ambil kembali uang itu, Pak Carik."
Suaranya pelan, tetapi ketegasannya terdengar jelas di tengah pekarangan yang sunyi.
Carik mengernyit. "Jangan sombong, Nduk. Tanpa uang itu, kalian tidak akan punya makanan malam ini."
"Saya bilang, pungut uang itu."
Seroja melangkah maju dan menatap lurus pria di hadapannya.
"Sampaikan kepada Hardiman, hidup kami bukan urusannya lagi. Kami tidak membutuhkan belas kasihan dari orang yang merampas hak keluarga kami."
Wajah Carik memerah menahan amarah. Tangannya mengepal, lalu terangkat hendak melayangkan tamparan.
"Seroja!" jerit Siti panik.
Namun, Seroja tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap mata Carik dengan tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Rahang Carik mengeras menahan amarah. Ia menghitung risiko dalam kepalanya. Jika ia benar-benar memukul gadis itu dan warga sekitar mengetahui masalah ini, perkara tanah warisan bisa kembali terbuka.
Kepuasan sesaat tidak sebanding dengan masalah yang mungkin muncul.
Dengan dengusan kesal, ia menurunkan tangannya.
"Anda bisa pergi sekarang, Pak," ujar Seroja tetap tenang.
Carik menghentakkan kaki ke tanah berdebu, menahan malu karena harus mundur.
"Kita lihat berapa lama mulut besarmu bisa memberi makan perutmu. Nanti kalian sendiri yang akan merangkak memohon untuk kembali!"
Ia berbalik, lalu naik ke dokar. Tali kendali ditarik, kuda bergerak meninggalkan batas hutan.
Dari atas dokar yang terus bergerak menjauh, Carik menoleh ke belakang. Ia meludah ke batas pekarangan.
"Ingat! Jangan berani mengemis ke desa!" teriaknya, suaranya bercampur dengan derit roda yang semakin jauh.
Angin sore menyibakkan rambut Seroja. Gadis itu tetap berdiri tegak di depan gubuk, menatap dokar yang perlahan menghilang di balik kepulan debu.
Ketika suara roda akhirnya lenyap, Seroja mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi menegang perlahan mengendur.
Di belakangnya, Siti masih berlutut memunguti buntalan pakaian yang berserakan. Tangannya gemetar begitu hebat hingga beberapa helai kain kembali terjatuh.
Seroja menghampiri tanpa tergesa. Ia melepas alas kaki, lalu menjejakkan kaki telanjang ke tanah halaman yang keras dan kering.
Saat telapak kaki telanjangnya menyentuh tanah gersang itu, sensasi aneh menjalar dari tumit hingga ke kepala. Pelipisnya berdenyut ringan. Pandangannya sempat berkunang-kunang.
Lalu, sebuah layar transparan biru muda muncul di hadapannya.
LADANGKU — Level 1
XP: 0/100
Coin: 100
SELAMAT DATANG, PETANI!
Anda berada di Level 1. Enam Petak Riset telah terbuka. Mulailah riset pertamamu!
Langkah Seroja terhenti. Ia berkedip beberapa kali, memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi.
Layar itu tetap ada. Menu sederhana muncul di dalamnya: Gudang, Toko, dan Petak Riset.
Tidak ada penjelasan lain.
Seroja mengenal tampilan itu.
Ini adalah game yang sering dimainkan Kainara untuk mengisi waktu di sela rutinitasnya yang padat. Game pertanian yang seharusnya hanya ada di ponsel, kini ikut terbawa bersamanya ke tahun 1972.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Tanah tandus ini bukan akhir. Ini adalah awal.