Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kala yang tidak suka kesendirian
Dua minggu sudah Kalandra menjalani hari-harinya sebagai siswa SMA Orion.Tanpa nama besar,tanpa pengawalan khusus.Atau tanpa satu pun teman sekelas yang tahu bahwa dirinya adalah putra Ages Sabiru, pemilik Sabiru Cyber Tech kecuali Raka dan Jevan.
Dan ternyata Kalandra menikmatinya.Setiap pagi ia datang dengan seragam yang rapi, tas hitam sederhana, dan bekal buatan Tamara yang hampir selalu terlalu banyak.
Ia mulai hafal letak kelas, kantin, perpustakaan, lapangan basket, bahkan tempat favorit untuk duduk saat jam kosong.
Hari-harinya terasa normal.Persis seperti yang ia inginkan.
"Kala!"
Seseorang memanggil dari belakang.Kalandra menoleh.
Fikri berlari kecil menghampirinya. "Lo mau ke kantin?"
"Iya."
"Bareng."
Kalandra mengangguk.Di belakang Fikri ada Dito dan Arvin.Mereka berjalan bersama menuju kantin.Meskipun baru seminggu, Kalandra sudah mulai mengenal beberapa teman baru.
Ada Fikri yang paling sering mengajaknya ke kantin.Dito yang selalu punya bahan lelucon.Arvin yang cukup pendiam tetapi sering ikut mengobrol.
Hubungan mereka memang belum sedekat Kalandra dengan Raka dan Jevan.
Tetapi Kalandra tidak keberatan.Setidaknya sekarang ia mulai memiliki lingkaran pertemanan sendiri.
Saat sampai di kantin, Raka dan Jevan sudah duduk di meja langganan mereka.
Raka langsung melambaikan tangan."Sini!"
Kalandra duduk.Fikri dan dua teman lainnya ikut bergabung.
Raka melihat mereka."Lo pada ngikut juga?"
Kalandra,Fikri dan yang lainnya. mengangguk.
"Iya."
Raka tersenyum. "Bagus deh,biar tambah rame"
Dito langsung menatap Raka."Lo berdua ninggalin Kala,jadi ya udah kita ngikut takutnya dia sendirian."
"Gak mungkin lah,tadi gue ke toilet dulu"
"Lo bertiga teman SMP ya?" Tanya salah satu temannya.
"Iya." jawab Raka.
"Berarti udah deket banget dong."
"Pasti lah,Kala itu adek bungsu kita yang paling manja." Jawab Raka dengan usilnya
Kalandra langsung menatap kesal. "Ngaco."
Semua tertawa,mereka begitu menikmati waktu istirahat di jam pertama itu.Hingga tak terasa waktu sudah habis dan mereka kembali ke kelas.
Setelah istirahat kini jadwalnya jam olahraga, Kalandra duduk di pinggir lapangan karena belum diperbolehkan mengikuti aktivitas berat.
Walaupun sudah beberapa kali saat jam olahraga dirinya selalu diam di pinggir lapangan.Namun teman-temannya tidak mempermasalahkan.Bahkan ketika guru meminta mereka membentuk kelompok, Kalandra selalu mendapat ajakan.
"Kala, satu kelompok sama gue."
"Jangan, sama gue aja."
"Besok kelompok kita ya."
Hal sederhana seperti itu membuat Kalandra tersenyum.Ia tidak pernah menyangka kehidupan sebagai murid biasa ternyata terasa sangat menyenangkan.
Kalandra memperhatikan teman-temannya yang sedang berolahraga dan beberapa sedang beristirahat.Kalandra berjalan menuju pinggir lapang menghampiri Raka dan Jevan yang sedang minum.
"Dua minggu." Ucap Raka tiba-tiba.
"Dua minggu apaan?"
"Lo udah bertahan dua minggu di sini."
Kalandra tertawa."Memangnya gue mau kabur?"
Jevan ikut tertawa."Awalnya lo takut enggak punya teman."
"Sekarang?"
Kalandra melihat beberapa teman barunya yang berjalan tidak jauh di depan."Kayaknya gue punya cukup banyak teman."
Raka tersenyum."Walaupun belum sedekat kita?"
Kalandra menatapnya."Enggak ada yang bisa ngalahin kalian."
Raka langsung tersenyum bangga."Tuh dengar.Raka the only one.")
Jevan menggeleng. "Mulai sombong."
"Bukan sombong,tapi fakta!"
Kalandra tertawa,memang benar Raka,Jevan dan Kiano..sahabat yang tidak akan pernah tergantikan.
Mereka yang menemani Kala sejak kecil,melewati berbagai keadaan dirinya.
.
.
.
Sore menjelang, mobil Ages sudah menunggu di luar gerbang.Kalandra masuk dan langsung duduk di kursi depan.
Ages menoleh."Gimana sekolah hari ini?"
Kalandra tersenyum."Seru."
"Teman-teman udah pada kenal kan?"
"Ada beberapa sih,pap."
"Bagus.Teman dekat?"
Kalandra berpikir sebentar."Raka sama Jevan."
Ages tersenyum."Selain mereka?"
"Fikri, Dito, Arvin..." Kalandra menyebut beberapa nama. "Tapi gak sedekat Raka dan Jevan,aku lebih nyaman sama mereka berdua sama Bang Ki juga.Kalau untuk yang baru,aku belum siap."
Ages hanya mendengarkan.Tidak bertanya tentang latar belakang mereka.Tidak meminta Kalandra memilih teman berdasarkan status.Karena ia tahu itulah alasan Kalandra meminta identitasnya disembunyikan.
Kala ingin mengenal orang lain tanpa label.Dan sejauh ini, semuanya berjalan sesuai harapan.Namun ada satu hal yang tidak pernah Kalandra ceritakan kepada siapa pun.
Setiap kali melewati lorong menuju toilet ia masih sesekali teringat pada seorang gadis yang pernah ditabraknya seminggu lalu.Ia bahkan belum mengetahui namanya.Tapi entah mengapa senyum kecil gadis itu masih tersimpan di pikirannya.
...
Keesok harinya..
Bel istirahat berbunyi.Seperti biasa, suasana kelas X-4 langsung ramai.Raka sudah berdiri di samping meja Kalandra.
"Kal, kantin."
Jevan ikut mengambil tas kecilnya."Gas."
Kalandra memasukkan ponselnya ke saku."Cabut."
Mereka bertiga hampir keluar kelas ketika Kalandra tiba-tiba berhenti.Pandangan matanya tertuju pada salah satu sudut kelas.
Nayara.
Gadis itu masih duduk sendirian di bangkunya.Tidak seperti teman-teman yang lain, Nayara tidak pernah terlihat terburu-buru menuju kantin.
Selama dua minggu terakhir, Kalandra tanpa sengaja memperhatikan hal itu.Setiap istirahat Nayara selalu sendirian.Tidak pernah ikut mengobrol.Tidak pernah terlihat membeli makanan.
Bahkan ketika teman-teman sekelas mulai berkumpul, Nayara tetap memilih duduk di tempatnya.
Kalandra akhirnya berbalik. "Lo berdua duluan."
Raka mengernyit."Kenapa?"
"Mau ngajak orang dulu."
"Siapa?"
Kalandra menunjuk ke arah Nayara.Raka dan Jevan saling pandang.
Kalandra berjalan mendekati meja Nayara. "Nay."
Nayara mengangkat kepala. "Iya?"
"Kantin yuk."
Nayara menggeleng."Enggak."
"Kenapa?"
"Aku enggak lapar."
Kalandra melihat meja Nayara.Tidak ada makanan ataupun minuman.
Ia menghela napas. "Yuk."
"Enggak usah."
"Nay."
"Aku benar-benar enggak mau."
Kalandra menarik kursi di depan meja Nayara lalu duduk.
"Kalau lo enggak mau ke kantin, gue tungguin di sini."
Nayara terdiam."Kamu kenapa sih?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Terus?"
"Gue cuma mau ngajak lo makan."
Nayara masih menggeleng.
Kalandra akhirnya berdiri."Ya udah."
Nayara terlihat lega.Namun Kalandra justru mengambil tasnya."Gue yang beli."
"Hah?"
"Lo mau makan apa?"
"Enggak usah."
"Jawab." Ucap Kala penuh penekanan.
Nayara terlihat bingung."Kamu enggak perlu..."
"Nayara." Nada suara Kalandra sedikit tegas. "Bilang mau makan apa."
Nayara akhirnya menyerah."Terserah."
Kalandra tersenyum."Ya udah."
Ia langsung pergi.
Beberapa menit kemudian, Kalandra kembali membawa dua bungkus makanan dan minuman.
Ia meletakkannya di meja Nayara."Nih."
Nayara menatap makanan itu.Naya bingung berapa harga yang harus ia bayar,sedangkan dirinya harus berhemat."Aku bayar."
"Enggak usah."
"Tapi..."
"Udah." Kalandra menarik kursi. "Makan."
Nayara masih terlihat ragu. "Kenapa kamu baik banget sama aku?"
Kalandra mengangkat bahu. "Karena gue lihat lo selalu sendirian."
"Terus?"
"Enggak tahu." Kalandra tersenyum kecil. "Kayaknya enggak enak kalau makan sendirian terus."
Nayara terdiam.Kemudian perlahan membuka bungkus makanannya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Raka dan Jevan yang sejak tadi menunggu di kantin akhirnya kembali ke kelas.
Begitu masuk, mereka melihat Kalandra sedang duduk bersama Nayara.
Raka langsung melongo. "Lah si bangke?"
Jevan ikut heran."Katanya ke kantin?"
Kalandra menunjuk makanan di meja. "Ini juga dari kantin."
Raka melihat Nayara. "Oh..."
Ia kemudian tersenyum. "Ada yang baru,kita di lupain."
Kalandra hanya acuh."Anggap aja mereka gak ada Nay."
Nayara merasa tak enak kemudian tersenyum malu."Hai."
Raka dan Jevan menarik kursi dan ikut duduk. "Gue gak di beliin sekalian,Kal."
"Gak."
"Emang kampret lo ya,gue juga lapar." pekik Raka.
"Gue cuma beli dua bungkus.Lo berdua beli aja lagi."
Raka dan Jevan menyandarkan punggungnya."Gak akan keburu,bentar lagi bel masuk."
"Ya terus gue harus gimana?" Tanya Kala menaikan satu alisnya.
"Gue makan punya lo aja." seru Jevan.
"Lah,terus gue makan apa?"
"Bekal Tante Mami masih ada kalo lo lupa." Cibir Raka kemudian mengambil makanan milik Kala.
Naya tidak enak sebenarnya dengan Kala dan juga teman-temannya.Ia ingin memberikan makannya tapi makanannya sudah ia makan sebagian takutnya mereka merasa jijik.
"Udah Nay,lo makan aja.Biarin si Kala mah masih punya bekal mami nya." Ucap Jevan melihat Naya yang hanya diam.
Naya mengangguk,ia kembali makan saat melihat Kala yang juga mulai memakan bekalnya.
Tidak lama kemudian, beberapa teman kelas lainnya ikut datang.Mereka juga heran melihat Kalandra dan dua sahabatnya tiba-tiba duduk bersama Nayara.
Namun Kalandra tidak memedulikannya.Ia hanya memastikan Nayara menghabiskan makanannya.
Sedangkan di lain tempat,Sean sedang mendengarkan cerita dari Kiano.
"Kala ngajak cewe ke kantin?"
Kiano mengangguk."Namanya Naya"
"Terus?"
"Katanya Nayara selalu sendirian."
Sean tersenyum kecil. "Itulah Kala."
Kiano tertawa."Lo enggak heran?"
"Enggak."
"Kenapa?"
Sean bersandar santai."Kala emang gitu.Kalau dia merasa seseorang butuh bantuan, dia bakal bantu.Enggak peduli orang itu siapa."
Kiano mengangguk."Berarti dari kecil memang begitu?"
"Iya."
Sean tersenyum."Dia enggak suka melihat orang diperlakukan sendirian."
"Pantesan.."
"Kala pernah ngerasa gimana sakitnya sendirian,makanya dia pasti kaya gitu."
Kembali ke kelas Kalandra.
Nayara masih duduk sambil melihat Kalandra yang sedang bercanda bersama Raka dan Jevan.
Setelah sekian lama ia tidak merasa sendirian saat jam istirahat.Ia tersenyum kecil.
Mungkin bagi Kalandra, apa yang dilakukannya hanyalah hal sederhana.Namun bagi Nayara ajakan ke kantin itu terasa seperti sebuah pintu kecil menuju pertemanan yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Baik Kalandra maupun Nayara,merasakan hal yang sama bahwa kepedulian seseorang ternyata mampu membuat hati menjadi tenang.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋