Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Posesif
Dua hari kemudian Anne sudah membaik, luka yang dia alami di pundaknya mengalami peningkatan kesembuhan yang signifikan, meski masih menyisakan rasa sakit namun ia sudah terbiasa dengannya.
Selama beberapa hari ini, Anne sangat merindukan anak-anaknya, dia ingin cepat pulang untuk memeluk mereka, hati nuraninya sebagai seorang ibu yang berpisah dengan anaknya benar-benar teriris, hingga membuat ia takut membayangkan jika kelak ayah dari anaknya tahu tentangnya lalu membawa mereka bertiga pergi darinya.
Setelah Anne merengek pada dokter Stella dengan alasan lukanya yang sudah
sembuh pada akhirnya dokter Stella menyampaikannya pada Viktor sehingga Anne diizinkan pulang.
Pagi itu juga dokter Stella dan pengawal
mengantar Anne pulang, dia juga membekali Anne dengan obat-obatan untuk mempercepat penyembuhan luka itu, berbagai vitamin untuk menjaga kesehatan Anne.
Mobil yang mengantar Anne berhenti di
persimpangan jalan yang tak jauh dari tempat tinggal Anne.
Tentu saja ia tak ingin mereka tahu tempat tinggal Anne yang sesungguhnya dan mereka menyelidiki kehidupan Anne.
"Nona yakin hanya sampai sini saja?" Tanya dokter Stella.
"Ya, sekali lagi saya minta maaf tidak bisa mengajak kalian bertamu di rumahku, karena apartemen yang ku tinggali tidak mengizinkan orang di luar penghuni flat untuk masuk," ujar Anne membuat alasan berharap mereka akan mengerti.
Dokter Stella pun akhirnya mengangguk berusaha menerima alasan yang di berikan Anne.
"Kalau begitu besok sore aku akan menjemputmu disini," ucap dokter Stella.
Anne mengerutkan keningnya, "ada apa
menjemputku? Dokter tidak usah khawatirkan luka ku, hanya dengan minum obat yang dokter beri aku pasti bisa sembuh dengan cepat, bahkan dengan perawatan dokter kemarin kini aku sudah bisa menggerakan lenganku lagi." ujar Anne berusaha terlihat kuat.
"Tuan Viktor mengundang nona ke acara Amal besok malam, jadi aku akan menyiapkan gaun untuk mu juga perawatan khusus untuk penampilanmu besok," jelasnya.
Anne tercengang mendengarnya, degup
jantungnya langsung berpacu cepat, apakah dia tidak salah dengar pria itu mengajaknya pergi bersama?
Anne tercengang mendengarnya, degup
jantungnya langsung berpacu cepat, apakah dia tidak salah dengar pria itu mengajaknya pergi bersama? pergi ke sebuah acara, yang bahkan di saksikan banyak orang, jadi apakah benar pria itu menyukainya?
Anne menggelengkan kepalanya, lalu membuyarkan lamunannya, ia tak boleh terlalu percaya diri barang kali semua karyawan kantornya di undang kesana.
Tapi sekali lagi ia terpikirkan, apa seluruh karyawannya juga akan di jemput dan di siapkan gaun olehnya seperti saat pria itu menyuruh dokter Stella untuknya?
Anne tertegun sepertinya tidak semua karyawan di perlakukan dengan istimewa
seperti itu.
Sehingga ia berfikir bahwa hanya ia yang di perlakukan berbeda. 'Mampuslah kamu Anne, sepertinya tuan Viktor akan terus mengejarmu/ batin gadis itu.
"Apakah ada yang ingin di tanyakan lagi?"
tanya dokter Stella membuyarkan pikiran Anne.
Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya, "tidak!"
Anne tersenyum lantas permisi dari hadapan dokter Stella, dokter Stella pun
segera masuk ke dalam mobil, begitu juga Anne yang berjalan menjauh dari sana, setelah mobil mereka menderu menjauh dari tempat itu.
Sambil berjalan ia juga kepikiran dengan bosnya, bagaimana jika bosnya tahu jika ia punya anak, apakah pria itu akan merasa terbohongi nanti? Sehingga Anne kepikiran untuk memberi tahu pria itu sebelum semuanya terlanjur.
la memikirkan semua itu sampai kepalanya pusing dan tidak ia sadari sudah tiba di depan pintu kamarnya.
Ia melepas sepatunya lalu membuka pintu unitnya.
"Nona, nona sudah pulang?" bibi Nora menyambutnya dengan perasaan girang.
"Apa luka nona masih terasa sakit?" tanya
bibi Nora dengan penuh perhatian kala melihat wajah Anne yang masih pucat.
Anne seketika saja langsung menggeleng, tentu saja ia tak mau membuat orang lain khawatir.
"Dimana anak-anak bi?" Anne sambil celingukan.
"Mereka baru saja pulang sekolah dan
sedang makan," jawabnya sambil mengambil berbagai obat-obatan dan vitamin di tangan Anne.
Gadis itu pun merasa lega, dia menghela nafasnya begitu panjang.
Anak-anak pun langsung berlari dari kamar saat mendengar suara bibi Nora, mereka meninggalkan makan siangnya begitu saja dan menemui Anne.
"Mami!" teriak Matteo, Marco juga Marcella.
Anne menatap mereka dengan mata berkaca-kaca penuh rasa haru, tidak melihat mereka selama tiga hari rasanya seperti tidak bertemu tiga tahun, rasanya amat rindu.
Anne langsung membungkuk dan merentangkan tangannya ke arah mereka, meski kedua lengannya tidak cukup menangkup mereka bertiga, sehingga Anne harus merenggang.
"Sayangnya mami, mami sangat merindukan kalian." ujar Anne menciumi
mereka satu persatu, aroma harum anaknya kembali dia rasakan, membuat hati Anne kembali tenang dan di liputi kebahagiaan.
"Aku juga sangat merindukan mami," jawab Marcella sambil memeluk Anne erat, bahkan tanpa dia sadari tangan mungilnya menekan bahu Anne yang terluka, sehingga membuat Anne meringis menahan nyeri, namun sebisa mungkin Anne meredam rasa sakit itu, dia mendesis lalu menggigit bibir bawahnya.
Bibi Nora yang melihat itu pun mendekat hendak memindah tangan Marcella, namun Anne menggeleng memberi isyarat padanya bahwa ia tak apa-apa.
"Aku merindukan mami!" imbuh Matteo dengan tatapannya yang meredup, jiwa
kekanakannya muncul meski biasanya ia
terlihat dewasa dari yang lainnya.
"Aku juga merindukan mami!" Marco juga
menyahut.
Anne tidak dapat menahan perasaan
bungah ini, anak-anaknya sangat menggemaskan.
Mereka melerai pelukan itu, dan melihat
sisa ringisan di bibir Anne.
"Mami sakit ya?" tanya Marcella dengan penuh perhatian.
"Tidak, mami tidak sakit." jawab Anne kemudian tersenyum, karena memang ia telah membohongi anak-anaknya bahwa beberapa hari ini ia pergi bekerja.
"Selama mami pergi bekerja, apakah kalian belajar dengan baik?" tanya Anne.
"Ya, kita belajar dengan baik," jawab Matteo.
"Bagus, kalian tidak nakal kan dengan bibi?"
"Tidak!" ketiganya menggeleng serempak.
"Bagaimana dengan teman di sekolah kalian?" Anne ingin memastikan setelah kejadian tempo lalu anaknya masih memiliki teman.
"Anak itu tidak mengganggu Marcella lagi, teman-teman yang lain juga segan dengan kita ma," jawab Matteo.
"Mereka bilang mami kita cantik," tambah Marco.
Anne tersenyum senang, "syukurlah, jika tidak ada yang mengganggu kalian lagi."
"Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan makannya lagi ya, biarkan mami istirahat dulu. Mami dari perjalanan jauh pasti dia lelah." ujar bibi Nora.
"Baiklah!" ketiga anak itu pun patuh, mereka langsung berbalik ke kamar untuk melanjutkan makan.
Anne memerhatikan ketiganya sambil berdiri lagi.
"Nona silakan istirahat, anak-anak biar saya saja yang mengatur."
"Baiklah bi," Anne melihat bibi Nora dengan perasaan penuh syukur, karena wanita yang sudah merawatnya sejak kecil itu begitu baik.
Dia sudah tidak memiliki keluarga sehingga menganggap Anne seperti anaknya sendiri, bahkan menyerahkan hidupnya untuk mengabdi membantu Anne, betapa Anne merasa sangat berhutang budi dengannya, ia pun bercita-cita jika kelak ia mengalami perubahan nasib ia ingin bibi Nora tidak bersusah payah membantunya, ia ingin bibi Nora menikmati masa tuanya dengan tenang.
Anne kemudian berjalan memasuki kamarnya, dan merebahkan tubuhnya.
Sementara itu di luar sana, pintu baru saja terketuk membuat bibi Nora bergegas membuka dan di kejutkan dengan kedatangan Evelyn.
"Ada apa nyonya datang kesini lagi?" tanya bibi Nora.
Evelyn melihat wanita di depannya dengan tatapan tajam wajahnya di penuhi kedengkian.
"Kenapa memangnya?" Evelyn menyahut dengan nada sinis.
"Dimana Anne?! Suruh dia keluar!" Bentaknya keras.
"Nyonya silakan pergi dari sini, nona Anne tidak bisa di ganggu, dia sedang istirahat." Jawab bibi Nora, dia khawatir jika wanita ini akan mengganggu keluarganya, ia tahu bagaiman sikap Evelyn selama ini terhadap Anne, jadi ia juga tahu bahwa ia harus melindungi Anne dari wanita licik ini.
"Kamu mengusirku?! Memangnya kamu
siapa?" Evelyn berbicara dengan nada tinggi.
"Kamu yang siapa? Kenapa kamu membentak bibi? Dan berteriak tidak sopan di rumahku!" sahut Matteo tiba-tiba.
Dia datang dengan wajah marah setelah
mendengar keributan yang terjadi.
Kedua adiknya pun berjalan mengikutinya di belakang.
Seketika Evelyn menolehkan wajahnya kesana, melihat tiga anak itu dan terkejut, sebab ini kali pertama ia bertemu langsung dengan anak-anak Anne.
Kenapa mereka sangat tampan dan cantik? padahal gigolo di malam itu sangat jelek, mereka tidak memiliki kemiripan yang banyak dengan Anne tapi juga tidak mirip dengan pria di malam itu!'batinnya.
"Jadi ini tiga makhluk liar yang sudah di
lahirkan Anne?" ejek wanita itu menatap ketiga anak itu.
"kalian memang tampan tapi aku tidak tahu pria bajingan mana yang menjadi ayah kalian!"
"Hei dasar nenek tua tidak sopan! Jangan
berbicara sembarangan!" Matteo lanjut berseru, ia merasa murka dengan wanita yang sudah membuat keributan ini.
"Ya, keluarlah kamu! Dasar orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun ya!" sahut Marco yang ikut berang, dia kemudian mengambil sapu dan mengusir wanita itu.
"Keluar!" Marcella ikut berseru.
"Keluar kau! Orang tua yang tidak punya
sopan santun, percuma punya baju bagus, tas mewah dan perhiasan jika perilakumu tak sopan, mending kamu jual semuanya untuk sekolah sopan santun lagi!" Matteo berseru dengan tegas.
Bibi Nora terpukau dengan mereka yang berani.
Kini wajah Evelyn di penuhi emosi mendengar seruan mereka, dia mengepalkan tangannya, "berani ya kalian denganku?"
"Kami tidak takut dengan penjahat!"
sembur Marcella.
"Hei, Anne keluarlah! Jangan diam di dalam kamu jalang!" teriak Evelyn kencang.
"Kenapa kamu masih berani berteriak, kamu tidak takut kita memanggil polisi karena kamu sudah berbuat tidak menyenangkan disini!" ancam Matteo.
"Aku seperti kenal dengannya kak, dia mirip dengan neneknya Justin." ucap Marcella setelah memperhatikan lebih dalam Evelyn.
Matteo manggut-manggut, "kemarin
cucumu yang tidak sopan dengan membuka rok adikku, sekarang kamu! Tidak jauh antara nenek dan cucu, ternyata benar, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." ucap Matteo dengan kesal saat wanita itu tidak mau pergi juga.
"Halo pak satpam, di rumah kami ada seseorang nenek tua yang keriputan dan jelek sudah berbuat keributan di rumah kami!" ujar Marco dalam sambungan yang dia buat secara diam-diam pada penjaga keamanan hunian itu menggunakan telepon rumah.
"Hei, kalian! Benar-benar bajingan kecil
yang sangat berani!" Evelyn menatap Marco pekat seolah mengintai bocah itu ingin memberinya perhitungan.
"Bibi Evelyn! Kamu benar-benar tidak kapok ya berbuat masalah denganku? Kamu fikir aku akan diam saja setelah kamu berbuat kacau disini!"' Anne berseru dari arah pintu di tangannya dia membawa pisau dapur untuk menakuti wanita itu.
"Ah, akhirnya kamu keluar juga." Evelyn menatap sinis Anne.
"Apa yang kamu mau?" Anne bertanya dengan mata menajam.
"Kamu harus membayar kekacaun malam itu!" murkanya.
Anne melihat tangan wanita itu berbalut
perban, sepertinya karena percikan kaca malam itu.
"Berapa aku harus membayar luka yang tidak seberapa itu?" balas Anne dengan
tatapan mengejek, dia berseru seolah ada luka yang jauh lebih hebat dari itu, namun ia tak pernah protes padanya.
"Kamu berbicara seakan kamu bisa membayar seluruh biaya kekacauan kemarin malam? Lihatlah rumah jelekmu ini, kamu bahkan hanya mampu menyewa rumah kumuh ini, untuk makan dan membeli pakaian saja kamu kesulitan tapi kamu berlagak seperti nyonya!" cerca Evelyn.
Anne sangat murka, dia lantas mengeluarkan uang yang sempat di berikan dokter Stella sebagai kompensasi atas kecelakaan kerja itu dari dalam saku dan melemparnya ke arah Evelyn, "ambil itu dan jangan ganggu rumah ku lagi!"
Evelyn melihat uang-uang yang bertebaran itu dan menangkap seluruhnya lalu merobeknya satu persatu di hadapan Anne hingga kecil-kecil.
"Kamu ya berani melempar uang yang
jumlahnya hanya sedikit ini di hadapanku
seakan aku adalah pengemis," Evelyn
menatap Anne dengan senyum sinis sambil merobek uang-uang itu.
Hati Anne tercengang karena uangi akan berakhir sia-sia dengan cara seperti ini, ia benar-benar menangis dalam hati ketika Evelyn tak bisa menghargai orang lain.
Dia tahu tujuan wanita itu kemari bukan untuk meminta uang ini tapi untuk melihat ketiga anaknya.
Anne mengepalkan tangannya lalu mengacungkan pisau itu ke depan ke ara Evelyn ,"bibi bawa anak-anak ke dalam!"
"Baik nona!"
"Ayo kita ke dalam, biarkan mami mengusir orang jahat itu." bibi Nora sambil menggiring anak-anak.
"kenapa dia sangat jahat dengan mami?" tanya Marcella yang merinding, dia sangat ketakutan saat ini.
"Dia adalah penjahat, maka jika melihatnya lagi jauhi mereka atau panggil pak satpam." ujar bibi Nora, "Baik, bi."
Ketiganya masuk ke dalam, dan Anne terus melangkah maju dengan pisau yang tertodong di depan Evelyn, wanita itu sedikit ketakutan dengan wajah Anne yang terlihat begitu murka, hingga membuat Evelyn terus melangkah mundur menghindari pisau dengan mata yang sangat tajam itu.
"Anne kamu tidak akan melakukannya kan?" Evelyn berucap pelan.
Anne langsung menyodorkan pisau itu hingga membuat Evelyn panik ketakutan, pisau itu tiba di depan dada Evelyn hampir menusuknya, "Ah!" wanita itu memejamkan matanya sambil berteriak histeris.
Namun segera Anne belokan ke dinding
dan menancap di sana.
"Pergilah dari rumah ini!"
Wanita itu membuka matanya dan menghela panjang nafasnya, dia merasa lega, degup jantungnya pun berangsur pelan.
"Kamu berani menakut-nakutiku ya?" Evelyn mencibir.
"Tenang saja bibi, aku tidak akan mungkin membunuh orang secara terang-terangan. Aku tidak sebodoh itu!" ucap Anne.
Tidak lama penjaga ke amanan datang lalu menatap Anne, dan Anne menunjuk wanita di depannya, penjaga ke amanan itu lalu menarik tubuh Evelyn.
Wanita pun begitu kesal saat ini dia meronta di sepanjang jalan.
"Awas kamu ya jangan berbuat kacau disini!" ucap pria itu.
"Hei, lepaskan kamu tidak tahu siapa saya! Kamu bisa di pecat dari pekerjaan ini!" ancam Evelyn.
Anne yang melihat dari kejauhan sedikit merasa lega kemudian menutup pintu rumahnya, dan menyimpan pisau itu kembali ke dapur.
Dia hampir menjatuhkan air matanya ketika teringat dengan ucapan bibinya tadi, tapi ketika masuk ke kamar melihat anak-anaknya makan dengan kenyang membuat dia merasa senang.
Kemudian hinaan Evelyn terhempas oleh senyum di wajah anak-anaknya.
"Nona, kamu sangat hebat." puji bibi Nora.
Anne tertunduk, ia tak pernah membayangkan akan seperti ini, dulu ia
sangat lembut tidak pernah memegang benda tajam, tapi sekarang di kehidupannya yang keras ia harus berbuat sedikit berani, bahkan menakut-nakuti orang untuk melindungi anak-anak juga keluarganya.
"Mami, mami istirahat saja, orang jahat
tidak akan datang lagi, kita akan memastikan dahulu siapa tamu yang akan masuk nanti." ucap Matteo.
"Ya benar nona," tambah bibi.
Anne kemudian mengangguk dan kembali ke kamar.
Dia membaringkan tubuhnya dan meratapi nasib uang itu.
la belum sempat menghitungnya tapi
pasti jumlahnya tidak sedikit, dan sangat di sayangkan, mengingat betapa sulitnya ia mencari uang apalagi biaya hidup dan pajak di kota sangat tinggi.
Di saat itu tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia menoleh kesana dan melihat sebuah nominal uang masuk.
Anne melebarkan matanya, di saat ia tengah meratapi nasibnya tiba-tiba ia mendapat transferan.
Dia bagaikan mendapat durian runtuh.
Uang itu ia anggap sebagai ganti rugi dari uang yang baru di robek Evelyn.
"Sudah masuk," ucap Anne mengirim
pesan untuk pria itu.
"Kamu senang?" balasan muncul dan Anne tersenyum, "tentu saja, kamu mengerti saja."
Pria itu tidak membalas lagi, Viktor berdiri dari duduknya sambil mengepulkan asap rokoknya. Dia lalu bersandar di meja dengan kaki yang tertekuk sebelah menatap dokter Stella.
"Kamu sudah bilang jika akan menjemputnya besok?"
"Ya tuan,"
"Bagus." senyum tipis di wajah Viktor mengembang.
Semua orang yang melihat tidak berani berspekulasi lebih mereka hanya menerka-nerka di dalam kepala.
***
Keesokan harinya,
Sore ini Anne datang ke persimpangan tempat ia berpisah dengan dokter Stella
kemarin, ia benar-benar melihat mobil Viktor telah berhenti di sana menunggunya.
Anne segera masuk kesana.
Mobil tak lama melaju menuju ke sebuah butik ternama yang ada di pusat kota.
Setelah tiba, mobil berhenti mencari tempat parkir.
Anne menatap tak percaya bahwa Viktor akan membelikannya gaun dari butik ini.
"Dokter Stella, apa kamu tidak salah, kita
datang ke sini?" tanya Anne menatap ke arah wanita itu dengan tatapan tak percaya.
"Tentu saja tidak, tuan Viktor yang sudah menyiapkan semuanya jadi tidak usah khawatir" balasnya.
"Tapi aku merasa ini sedikit berlebihan," Anne merasa tak enak hati.
"Tidak apa, tuan Viktor memiliki banyak uang," bisik dokter Stella sambil mengedipkan matanya, seolah apa yang pria itu lakukan bukanlah hal besar yang
menguras kantongnya.
Anne hanya terdiam, beberapa pelayan
butik itu menghampirinya mengajak berkeliling untuk melihat gaun yang cocok untuknya, semua gaun yang di tawarkan sangat bagus dan pasti harganya juga mahal, perasaan Anne kembali menghangat, butik ini memiliki jam terbang yang tinggi, biasanya melayani artis dan juga konglomerat, sangat sulit di booking oleh orang biasa, dan kini Anne merasakannya melalui Viktor, sehingga ia berfikir bahwa kekuasaan Viktor jauh lebih besar dari apa yang dia lihat.
"Yang ini sepertinya cocok untuk nona,"
ucap dokter Stella.
"Ah iya," Anne setuju dengan gaun berwarna silver itu.
Kemudian pelayan membawanya meminta Anne untuk pergi ke ruang ganti dan mengenakannya.
Setelah itu Anne di giring ke ruang rias, penata rias akan memoles wajah Anne.
Anne duduk di sebuah sofa dengan kaca besar di depannya.
Menikmati sentuhan di wajahnya, ia memejamkan kelopak matanya kala matanya di beri perona, namun tanpa ia sadari hal itu malah membuat ia tertidur.
Para perias terus melakukan tugasnya
meski Anne tidur, hingga beberapa waktu berlalu.
"Tuan, Viktor!" seru salah satu perias terkejut.
Dokter Stella dan juga karyawan lain disini menoleh ke sana, pria itu baru saja masuk dari pintu mengenakan setelan jas berwarna hitam elegan, menonjolkan
sosoknya yang tegap tinggi dan menawan, wajahnya yang tampan tersorot oleh cahaya membius semua, dua manik matanya yang hitam terlihat jauh lebih terang dari cahaya.
Saat itu dia berjalan sambil menatap ke
arah Anne yang wajahnya terpantul ke cermin.
'orang-orang bekerja untukmu kau malah asyik tidur 'batin pria itu.
"Selamat datang tuan Viktor!" suara sambutan terucap dari karyawan yang ada di sana, pria itu mengangguk sebagai jawabannya.
Viktor lalu mendekat ke sebuah sofa yang ada di dekat Anne, kemudian duduk dan menyilangkan kakinya, sebelah tangannya bertumpu ke sandaran tangan dan meletakkan dagunya di atasnya sambil memerhatikan Anne.
Ini terlihat aneh, selama ini banyak sekali
wanita yang mendekati Viktor, artis maupun keluarga kerajaan, tapi ia tak pernah sekalipun merasakan getaran di hatinya sama seperti ketika ia berdekatan dengan Anne.
Yang selalu tak suka ketika ada orang yang mengganggunya, saat Evelyn berusaha mencelakainya ia begitu marah, saat ia tahu Anne di hina oleh keluarganya ia juga sangat tak suka.
Hingga di dalam benaknya berfikir untuk membalas perbuatan mereka berkali-kali
lipat, maka dari itu Viktor mengatur rencana malam ini dengan matang.
"Jangan bangunkan dia biarkan saja!" Cegah Viktor saat seorang perias berniat
membangunkan Anne dengan menepuk-nepuk pipinya.
Namun karena suara Viktor, Anne terbangung, dia mengerjapkan matanya, dan menggeliat.
"Apa kalian bertiga sudah mandi?" seru Anne di luar kesadarannya, tadi ia bermimpi tiga anaknya, hingga tak sadar bibirnya malah menanyakan itu saat berfikir ia sedang bersama anaknya.
Seluruh orang yang ada di sana menahan
tawa, kebetulan sekali ada tiga perias yang melayaninya.
"Nona Anne, nona tadi ketiduran," kata
dokter Stella.
"Ah.."Anne mendesah setelah kesadarannya pulih, ia pun menatap dirinya di cermin, lalu tersenyum sendiri saat melihat penampilannya begitu berbeda.
Namun saat ia tersenyum dengan begitu
manisnya, ia melihat sosok Viktor sedang
duduk sambil menatapnya, seketika senyumnya pun ia pudarkan karena merasa gugup, jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
Viktor termenung, ia masih di posisi seperti tadi, memerhatikan Anne dengan dagu bertumpu, wajahnya terlihat datar, tidak ada ekspresi apapun namun bola matanya tak bergoyang sama sekali dari sana, di dalam hatinya ada perasaan yang membuatnya terusik bahwa Anne sangat cantik.
Di rias maupun tidak gadis itu mendifinisikan bidadari di dunia.
"Kapan tuan ada disini?" tanya Anne sambil mengusap dadanya yang tak berhenti berdegup dengan kencang karena terkejut dengan kedatangannya.
Hingga pandangan Viktor tertuju k dada itu, ia terpaku gaun yang di kenakan Anne terbuka hingga dadanya menyembul terlihat penuh dan menggoda, sungguh pemandangan yang indah.
Hanya saja ini mengusik hatinya, di sana akan ada banyak pria dan pasti akan melihatnya juga.
"Ganti gaunnya dengan yang lain!" Perintahnya kemudian.
"Ah, kenapa?" tanya Anne kikuk, ia menatap Viktor dengan pandangan tak rela, gaun ini sangat bagus, dan menawan kala ia kenakan.
"Baik tuan," jawab penata busana.
"Tidak usah di ganti, tidak ada yang salah
dengan gaun ini... ini sangat bagus, aku suka, hanya saja, meski sedikit terbuka tapi itu tidak ..." Anne menyadari nya namun ia tak ingin melanjutkan ucapannya.
Viktor mengibaskan tangannya meminta
semua yang ada di ruangan ini menjauh.
Tidak lama kemudian semua orang pergi menyisakan dua orang itu di dalam ruangan ini.
Anne tak bersuara apapun ia hanya duduk sambil menatap dirinya di cermin, di saat itu juga ia melihat Viktor membangkitkan tubuhnya, tatapannya terlihat ingin mendekatinya, hingga membuat ia merasa di ruangan yang sangat luas ini tiba-tiba terasa pengab membuat ia serasa sesak nafas.
Viktor belum melakukan apapun namun
aura agresif nya yang memancar membuat Anne merasa panik.
Viktor mendekati Anne dari belakang sofa.
Tubuh gadis itu terasa gemetar dan merapatkan tubuhnya di sofa, kedua
tangannya sekuat tenaga menutup bongkahan dadanya.
Viktor sudah tiba di belakang Anne, dia membungkuk lalu mengulurkan tangannya menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya, sedang tangannya yang lain meremas tangan Anne yang menutup dadanya, dengan posisi ini tanpa pria itu sadari ia sama saja dengan menangkup dada gadis itu.
"Apa yang akan tuan lakukan?" Anne sangat gugup.
Viktor mendekatkan bibirnya ke pipi gadis itu, lalu bersuara dengan sangat lirih, "ingat! Hanya aku yang boleh melihat tubuhmu!"
Anne terkesiap mendengarnya, degup
jantungnya langsung terpompa dengan cepat, kini ia benar-benar merasa bahwa bosnya benar-benar menyukainya ketika ia berbuat posesif seperti ini.
"Tapi.." bibir Anne bergetar, kata-kata yang ingin ia ucapkan tercekat tertahan di ujung bibir.
Pria itu mengelus bibir Anne dengan jemarinya, perlahan dan tatapan pria itu di penuhi sebuah keinginan.
Anne melihat tatapan buas itu sedang mengintainya.
Membuat dadanya berdegup kencang.
Bibir pria itu terlihat semakin dekat, aroma wine yang dia isap dapat tercium.
Anne telah memejamkan matanya, tak ingin melihat pria itu dengan dekat.
"Tuan bagaimana dengan gaun ini?"
"Ah.. maaf!"' pelayan itu kikuk begitu melihat keduanya sangat dekat.
Viktor berhenti, dia menaikan pandangannya ke cermin tanpa menggerakan dagunya dan melihat pelayan menunjukan gaun berwarna gold yang terlihat lebih tertutup di bagian kerahnya.
Anne menghela nafasnya merasa lega, ia
berharap momen ini akan segera terlewati.
"Ya, letakkan saja di sana!" Viktor berbicara.
"Baik, tuan!" sahutnya tidak lama wanita itu pergi meninggalkan keduanya lagi.
Baru saja Anne merasa lega kini tatapan penuh penikaman itu kembali Anne lihat, ia kembali merasakan embusan nafas pria itu mendekat menyapu wajahnya.
Degup jantung Anne kembali terpacu, rasa lega yang baru ia rasakan tak bertahan lama, kini ia kembali merasa gugup.
"Tu.."
"Emhh!" belum selesai kata-katanya terucap bibir pria itu sudah mendarat
mengecup bibirnya, membasahinya lalu melumatnya sebentar.
Betapa jantung gadis itu kini berpacu kencang seakan ingin melompat dari dadanya, perasaannya tidak menentu, bos besar yang tidak tersentuh ini telah mengecupnya.
Ia seperti sedang terbang di luar angkasa.