Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Senandung Kematian
Musim gugur datang ke Sichuan lebih cepat dari biasanya tahun ini, dan angin dingin yang bertiup dari Pegunungan Qingcheng membawa serta bau daun kering dan juga bau samar darah yang sudah terlalu sering tercium di Klan Tang, sebuah bau yang tidak pernah hilang meskipun para pelayan sudah mengepel lantai batu setiap hari dan membakar dupa di setiap sudut paviliun, karena di tempat ini kematian bukanlah akhir, melainkan cara lain untuk naik pangkat, dan sejak kematian Tetua Kelima sebulan lalu, suasana di dalam Klan Tang menjadi lebih tegang daripada tali busur yang ditarik penuh, karena semua orang tahu bahwa kekosongan kekuasaan tidak akan dibiarkan kosong terlalu lama, dan semua orang juga tahu siapa yang paling diuntungkan dari kematian itu.
Tang Hyun duduk di ruang bawah tanah Paviliun Racun Dalam, di depan meja kayu hitam yang di atasnya terhampar dua puluh botol kecil berisi cairan dengan warna yang berbeda-beda, dan di tangannya ada sebuah buku tipis dengan kulit berwarna ungu tua, Catatan Racun Darah Sembilan Bunga, yang setiap halamannya dia baca berulang kali sampai tinta di sudutnya mulai memudar karena keringat tangannya, karena dia tahu bahwa jika dia ingin bertahan hidup di tempat ini, maka dia harus menjadi lebih dari sekadar murid inti yang beruntung, dia harus menjadi seseorang yang bahkan Tetua pun takut untuk disentuh.
Sudah tiga hari dia tidak keluar, makan hanya sekali sehari, dan tidur hanya dua jam, karena Tetua Ketiga memberinya tugas untuk menciptakan racun baru dalam waktu satu bulan, racun yang tidak bisa dideteksi oleh tabib biasa, tidak meninggalkan jejak di tubuh korban, dan bisa membunuh dalam waktu tujuh hari, sebuah permintaan yang mustahil bagi kebanyakan orang tetapi menjadi tantangan yang membuat darah Tang Hyun mendidih.
"Senandung Kematian," gumam Tang Hyun sambil mencampur dua tetes cairan merah ke dalam bubuk putih, dan asap tipis langsung naik dan membuat ruangan menjadi berbau manis yang memuakkan, "racun yang bekerja seperti lagu, lambat, indah, dan ketika orang sadar, semuanya sudah terlambat."
Pintu terbuka tanpa suara, dan Tang So-yeon masuk dengan langkah ringan, mengenakan jubah ungu gelapnya seperti biasa, dan di tangannya ada nampan berisi teh dan beberapa pil penyembuh.
"Kau belum tidur lagi," katanya, bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
"Aku hampir selesai," jawab Tang Hyun tanpa menoleh, "tiga hari lagi."
Tang So-yeon meletakkan nampan itu dan duduk di seberangnya, memperhatikan cara Tang Hyun bekerja dengan jarinya yang stabil meskipun sudah berhari-hari tidak istirahat, "Tetua Kelima mati karena racun yang sama seperti yang kau buat sekarang."
Tang Hyun berhenti sejenak, lalu dia mengaduk cairan itu lagi, "Aku tahu."
"Kau tidak menyesal?"
Tang Hyun akhirnya menoleh, dan matanya lelah tetapi jernih, "Aku menyesal karena aku harus melakukannya. Tapi aku tidak menyesal karena dia mati."
Tang So-yeon mengangguk pelan, "Itu jawaban seorang anggota Klan Tang sejati."
Tiga hari kemudian, Tang Hyun menyerahkan botol kecil berisi cairan bening kepada Tetua Ketiga, dan di dalamnya ada racun yang dia beri nama "Senandung Kematian", karena ketika diminum, korban akan merasa hangat di dada selama tiga hari, lalu mulai batuk darah di hari keempat, lumpuh di hari kelima, dan mati di hari ketujuh dengan senyum di wajahnya.
Tetua Ketiga mencium botol itu, meneteskan sedikit ke lidah ular di kandang, dan melihat ular itu mati dalam waktu tujuh detik tanpa mengeluarkan suara, lalu dia menatap Tang Hyun dengan mata yang bersinar.
"Sempurna," katanya pelan, "mulai hari ini, kau adalah kepala divisi racun baru di bawah pengawasan langsungku."
Berita itu menyebar seperti api, dan dalam semalam Tang Hyun naik dari murid inti biasa menjadi seseorang yang memiliki dua puluh bawahan dan akses ke gudang racun terlarang, sebuah kenaikan yang membuat banyak orang marah, iri, dan takut, terutama faksi yang dulu mengikuti Tetua Kelima.
Malam itu, ketika Tang Hyun kembali ke kamarnya, dia menemukan seekor burung mati di depan pintu, lehernya dipatahkan dan di kakinya ada selembar kertas dengan tulisan: "Berhenti, atau kau berikutnya."
Tang Hyun membakar kertas itu dan membuang burung itu ke sumur, karena dia sudah terlalu sering menerima ancaman seperti ini untuk takut.
Namun ancaman itu bukan hanya kata-kata, karena seminggu kemudian, dua dari anak buahnya ditemukan mati di gudang, mulut mereka berbusa dan mata mereka terbuka lebar, tanda-tanda keracunan "Jari Hantu", racun yang hanya bisa dibuat oleh tiga orang di Klan Tang, dan salah satunya adalah Tetua Keempat, adik kandung dari Tetua Kelima.
Pertemuan darurat diadakan, dan di aula, Tetua Keempat menunjuk langsung ke arah Tang Hyun, "Kau! Kau yang membunuh kakakku, dan sekarang kau ingin membunuh kami semua!"
"Aku tidak membunuh siapa-siapa," jawab Tang Hyun dengan tenang, "dan kalau aku mau membunuh, aku tidak akan sebodoh itu meninggalkan jejak."
"Kau pikir kami percaya padamu?" teriak Tetua Keempat, "Kau anak luar! Kau tidak pantas berada di sini!"
Aula menjadi kacau, beberapa Tetua berteriak, beberapa murid inti saling berbisik, dan hanya Tetua Ketiga yang duduk diam sambil meminum teh, seolah semua keributan ini tidak ada hubungannya dengan dia.
"Cukup," kata Tetua Ketiga akhirnya, dan suaranya membuat semua orang terdiam, "jika ada yang punya bukti, tunjukkan. Jika tidak, maka tutup mulut. Tang Hyun sekarang berada di bawah perlindunganku. Siapa pun yang menyentuhnya, sama saja menyentuhku."
Setelah rapat itu, Tang Hyun tahu bahwa perang terbuka sudah dimulai, dan dia tidak bisa menunggu lagi.
Malam itu, dia menyusup ke gudang pribadi Tetua Keempat, bukan untuk mencuri, melainkan untuk menaruh, dia menaruh satu tetes "Senandung Kematian" di dalam kendi anggur favorit Tetua Keempat, kendi yang selalu dibawa ke kamarnya setiap malam.
Tujuh hari kemudian, berita datang bahwa Tetua Keempat meninggal dalam tidurnya, wajahnya tenang dan di sudut mulutnya ada sedikit darah, dan tidak ada seorang pun yang mencurigai apa pun, karena semua orang tahu bahwa Tetua Keempat sudah lama sakit-sakitan.
Pemakaman diadakan dengan sederhana, dan Tang Hyun berdiri di baris paling belakang, wajahnya datar, sementara di dalam hatinya ada sesuatu yang dingin dan kosong, karena dia baru menyadari bahwa dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi ketika membunuh.
Setelah kematian Tetua Keempat, faksinya langsung runtuh, dan dalam waktu dua minggu, semua posisi penting diisi oleh orang-orang dari faksi Tetua Ketiga, dan Tang Hyun secara resmi menjadi tangan kanan Tetua Ketiga, orang termuda dalam sejarah Klan Tang yang memegang posisi setinggi itu.
Suatu malam, Tang So-yeon menemuinya di atap paviliun, "Kau berubah," katanya.
"Berubah menjadi apa?" tanya Tang Hyun.
"Menjadi seperti kami," jawab Tang So-yeon, "dingin, kejam, dan tidak punya hati."
Tang Hyun menatap bulan, "Bukankah itu yang Nona inginkan?"
"Aku tidak tahu," kata Tang So-yeon jujur, "dulu aku pikir aku menginginkan itu. Tapi sekarang... aku tidak yakin."
Mereka terdiam lama, sampai Tang Hyun bertanya, "Nona pernah membunuh?"
"Lebih dari yang bisa kau hitung," jawab Tang So-yeon, "dan setiap kali aku membunuh, aku merasa sedikit lebih mati di dalam."
Tang Hyun mengangguk, "Aku mengerti."
Dua hari kemudian, undangan kedua datang, kali ini dari Sekte Emei, undangan resmi untuk menghadiri diskusi tentang "Perdamaian dan Penggunaan Racun di Jianghu", sebuah pertemuan yang jelas-jelas adalah jebakan, karena tidak ada sekte ortodoks yang benar-benar ingin berdamai dengan Klan Tang.
Tetua Ketiga menatap Tang Hyun, "Kau yang akan pergi. Sebagai perwakilan Klan Tang."
"Sendiri?" tanya Tang Hyun.
"Tidak," jawab Tetua Ketiga, "bersama Nona So-yeon. Dia akan mengawasimu."
Perjalanan ke Gunung Emei memakan waktu sepuluh hari, dan sepanjang jalan Tang Hyun dan Tang So-yeon hampir tidak berbicara, karena keduanya tahu bahwa pertemuan ini bisa berakhir dengan pertumpahan darah.
Setibanya di gerbang Emei, mereka disambut oleh puluhan murid perempuan dengan pedang di tangan dan wajah dingin, dan di tengah mereka berdiri Baek Seolhwa, masih dengan perban di lengan, tetapi auranya lebih tajam dari sebelumnya.
"Selamat datang, tamu dari Klan Tang," kata Baek Seolhwa dengan suara yang sopan tetapi menusuk, "kami sudah lama menunggu."
Pertemuan itu diadakan di aula besar, dan di sana hadir perwakilan dari Gunung Hua, Shaolin, Wudang, dan bahkan Klan Nangong, semua duduk melingkar dengan jarak yang cukup jauh dari Tang Hyun dan Tang So-yeon, seolah mereka takut terkena racun hanya dengan duduk terlalu dekat.
Diskusi berlangsung selama tiga jam, penuh dengan tuduhan, pembelaan, dan kata-kata yang manis tetapi beracun, dan di akhir, Ketua Sekte Emei berdiri dan berkata, "Klan Tang harus setuju untuk tidak menggunakan racun yang bisa membunuh dalam waktu tujuh hari, atau kami akan menganggap itu sebagai deklarasi perang."
Semua mata tertuju pada Tang Hyun, karena dia adalah pembuat racun baru itu.
Tang Hyun berdiri perlahan, "Klan Tang tidak akan pernah menyerahkan cara kami bertahan hidup. Jika kalian ingin perang, maka kami siap."
Keheningan, lalu Baek Seolhwa mengangkat tangan untuk menenangkan, "Tidak perlu sampai sejauh itu. Bagaimana kalau kita adakan pertandingan persahabatan? Jika Klan Tang menang, maka aturan tetap seperti sekarang. Jika kami menang, maka Klan Tang harus berjanji."
Tang So-yeon tertawa kecil, "Menarik. Siapa yang akan bertarung?"
"Aku," jawab Baek Seolhwa, "melawan Tang Hyun. Sekali lagi."
Tang Hyun menatapnya, dan di mata Baek Seolhwa dia melihat sesuatu yang berbeda, bukan kebencian, melainkan keinginan untuk membuktikan sesuatu.
"Baiklah," kata Tang Hyun, "aku terima."
Pertandingan diadakan keesokan harinya di halaman Emei, dan tidak ada wasit, tidak ada aturan, hanya dua orang dan pedang serta racun.
Pertarungan itu berlangsung lebih lama dari pertarungan mereka di Gunung Hua, karena Baek Seolhwa sudah mempelajari cara melawan racun Tang Hyun, dan Tang Hyun sudah mempelajari cara menahan Qi dingin Baek Seolhwa, sehingga mereka berdua bertarung selama satu jam penuh sampai akhirnya keduanya jatuh berlutut, terluka dan kehabisan tenaga.
"Berhenti," kata Ketua Emei, "pertandingan ini seri."
Baek Seolhwa menatap Tang Hyun, "Kau lebih kuat dari sebelumnya."
"Kau juga," jawab Tang Hyun.
Sebelum pergi, Baek Seolhwa mendekati Tang Hyun dan berbisik, "Hati-hati. Ada orang di dalam Klan mu yang bekerja sama dengan Sekte Iblis. Aku tidak tahu siapa, tapi aku mencium bau mereka di tubuh salah satu pelayanmu."
Tang Hyun terkejut, "Kenapa kau memberitahuku ini?"
"Karena aku tidak ingin melihatmu mati di tangan pengkhianat," jawab Baek Seolhwa, "setidaknya belum."
Perjalanan pulang terasa lebih berat, karena sekarang Tang Hyun tahu bahwa musuhnya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam.
Setibanya di Klan Tang, dia langsung memeriksa semua pelayan di Paviliunnya, dan dia menemukan seorang pelayan tua yang sudah bekerja selama sepuluh tahun memiliki bekas luka di pergelangan tangan, bekas yang hanya dimiliki oleh anggota Sekte Iblis.
Tanpa ragu, Tang Hyun memberinya secangkir teh, teh yang berisi setetes "Senandung Kematian".
Tujuh hari kemudian, pelayan itu mati, dan tidak ada yang bertanya.
Malam itu, Tang Hyun duduk di kamarnya dan menulis di buku catatannya: "Di Klan Tang, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kita beli. Dan aku sudah terlalu miskin untuk membelinya."
Tang So-yeon masuk tanpa mengetuk, "Kau menemukannya?"
"Ya," jawab Tang Hyun, "dan aku sudah mengatasinya."
Tang So-yeon menatapnya lama, "Kau semakin mirip kami."
"Atau mungkin," kata Tang Hyun pelan, "aku memang selalu seperti ini. Aku hanya baru menyadarinya sekarang."
Tang So-yeon duduk di sampingnya, "Besok, Tetua Ketiga ingin bertemu denganmu. Dia punya tugas baru untukmu."
"Tugas apa?"
"Membunuh seseorang di Kota Chengdu. Seseorang yang menghalangi bisnis Klan Tang."
Tang Hyun mengangguk, "Aku mengerti."
Setelah Tang So-yeon pergi, Tang Hyun mengeluarkan botol kecil "Senandung Kematian" dan mengguncangnya, mendengarkan suara cairan di dalamnya seperti mendengarkan sebuah lagu.
Sebuah lagu yang hanya dia yang bisa dengar, lagu tentang kematian, tentang pengkhianatan, dan tentang seorang anak yang dulunya bernama Gu Cheol dan sekarang harus menjadi monster agar bisa hidup.
Dia menutup matanya, dan di dalam kegelapan, dia tersenyum.
Karena akhirnya, dia sudah menemukan tempatnya di dunia ini.
Dan tempat itu adalah di puncak, di atas semua orang, di atas semua racun.