NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:144.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersembunyikan

Suasana di lantai atas gedung Arghantara Group terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di dalam ruang kerja bernuansa modern minimalis itu, Senja berdiri mengamati pemandangan ibu kota dari balik dinding kaca yang menjulang tinggi.

Gumpalan awan abu-abu pekat mulai berkumpul di langit sore, menandakan hujan deras akan segera turun membungkus kota.

Senja menghela napas panjang, mengembungkannya perlahan hingga memudarkan bayangan dirinya sendiri di permukaan kaca.

Hari ini, Alfa kembali menghilang dari kantor sejak jam makan siang. Tidak ada rapat di luar gedung, tidak ada jadwal penandatanganan kontrak, dan sekretaris Alfa hanya memberikan jawaban samar saat Senja bertanya. Senja tahu pasti ke mana pria itu pergi. Alfa menemui Dila. Wanita yang statusnya masih menjadi pemilik sah hati suaminya.

Secara bertahap, hubungan Senja dan Alfa di rumah memang telah mengalami perubahan yang cukup berarti. Mereka tak lagi kaku.

Mereka bisa berbagi tawa di dapur pada jam satu dini hari, berargumen santai tentang jenis kopi, hingga mendiskusikan strategi bisnis di ruang tengah.

Mereka makin dekat, namun Senja sangat sadar, kedekatan itu berada dalam ranah kemitraan yang aman, sebuah rasa nyaman antar dua manusia yang terikat nasib yang sama, bukan atas dasar cinta. Keadaan itu membuat dada Senja berdenyut halus.

Senja kembali melangkah menuju meja kerjanya yang luas, meraih ponsel pintar yang tergeletak di samping laptop.

Jemari lentiknya bergerak lincah menelusuri layar, membuka beberapa tab peramban yang sebenarnya sudah ia buka berkali-kali sejak beberapa hari yang lalu.

Rasa penasaran itu makin tidak bisa ditahan. Siapa sebenarnya Dila? Seperti apa paras wanita itu? Bagaimana kepribadiannya sampai bisa membuat sosok Alfa Arghantara, pria dingin, rasional, dan berprinsip teguh, begitu mencintai dan memperjuangkannya dengan cara yang amat sunyi?

Beberapa hari lalu, Senja pernah mencoba mencari nama Dila di mesin pencari dan berbagai platform media sosial. Namun, hasilnya nihil. Berita mengenai Alfa Arghantara hanya dipenuhi oleh pencapaian bisnis, ekspansi perusahaan, dan silsilah keluarga besar Arghantara. Nama Dila sama sekali tidak pernah muncul di artikel berita mana pun.

Senja yang paham betul cara kerja dunia konglomerasi langsung menyadari satu hal, media telah dibungkam secara menyeluruh.

Keluarga Arghantara pasti telah mengerahkan pengaruh dan uang mereka untuk memusnahkan seluruh jejak Dila dari konsumsi publik, memastikan nama wanita itu tak pernah dikaitkan dengan sang putra mahkota.

Dila diciptakan menjadi sosok yang tak terlihat oleh dunia luar. Dan hal itu justru membuat eksistensinya terasa makin besar, membayangi kehidupan rumah tangga Senja dan Alfa seperti sesosok hantu yang tak berwujud.

"Siapa sebenarnya kamu..." Gumam Senja lirih pada layar ponselnya yang hanya menampilkan halaman pencarian kosong.

Senja membuang napas kasar. Ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali dengan ketukan pelan di atas meja kayu mahogany, lalu kembali melempar pandangannya pada gumpalan awan di luar sana yang kini mulai menumpahkan titik-titik air hujan.

Sementara itu, di sudut lain kota yang tenang, aroma antiseptik dan cairan pembersih berpadu samar dengan wangi lavender di dalam sebuah unit apartemen eksklusif.

Ruang tamu bernuansa krem itu begitu hening. Alfa duduk di tepi sofa, menggulung kemeja putihnya hingga sebatas siku. Di hadapannya, seorang wanita berparas pucat dengan tubuh yang tampak agak kurus sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Dila. Wanita itu mengenakan kardigan rajut tebal berwarna pastel, matanya yang redup mencoba mengulas senyum terbaik saat menyambut kehadiran Alfa.

"Kamu datang lagi jam segini Mas?" Suara Dila terdengar halus, agak serak dan tak bertenaga.

"Harusnya kamu tidak usah repot-repot keluar kantor. Pekerjaanmu kan banyak."

"Pekerjaanku bisa diatur" Balas Alfa pelan namun penuh kepastian.

Pria itu meraih sebuah cangkir berisi air hangat dari atas meja, lalu pandangannya tertuju pada kotak obat berbentuk sekat-sekat hari yang tergeletak di samping cangkir tersebut.

Alfa mengernyitkan dahi ketika melihat beberapa kapsul penting untuk siang hari masih utuh di dalam sekatnya. Pria itu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.

"Dila, kamu belum minum obat siangmu?" Tanya Alfa. Nadanya tidak membentak, namun ada nada teguran yang sangat jelas di sana.

Dila mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menolak menatap mata Alfa.

"Aku... aku lupa Mas"

"Kamu tidak lupa. Kamu sengaja membiarkannya" Potong Alfa tegas seraya meraih kotak obat tersebut dan mengeluarkan dua butir kapsul penahan rasa sakit dan penguat imunitas. Ia menyodorkan obat itu bersama dengan cangkir air hangat ke hadapan Dila.

"Minum sekarang!"

Dila menatap dua butir obat di tangan Alfa dengan helaan napas berat. Raut wajahnya memancarkan kelelahan yang amat sangat, bukan hanya lelah secara fisik, melainkan lelah jiwa yang telah menggrogotinya bertahun-tahun.

"Sampai kapan Mas?" Bisik Dila lirih, matanya mulai berkaca-kaca saat menerima obat itu dari tangan Alfa.

"Tiap hari aku harus menelan puluhan kimia ini hanya untuk menyambung hidup sehari lagi. Untuk apa?"

"Dila, minum obatmu dulu!" Desak Alfa sabar.

Dila menelan kedua kapsul itu dengan meminum air hangat sedikit demi sedikit. Setelah meletakkan kembali cangkir itu ke meja, air mata yang ditahannya akhirnya lolos menetes di atas pipinya yang tirus.

"Aku capek!" Aku Dila dengan suara bergetar.

"Sudah berapa bulan kita menunggu panggilan dari rumah sakit? Tidak ada donor ginjal yang cocok untukku Mas. Pencarian kita tidak membuahkan hasil sama sekali. Semua dokter bilang kesempatanku makin tipis."

Dila menatap Alfa dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan.

"Kadang aku berpikir... mungkin memang ini jalannya. Mungkin aku harus menyerah saja. Kamu sudah mengorbankan banyak hal demi aku Mas. Kamu bahkan harus menikah dengan wanita lain karena tuntutan keluargamu demi membiayai dan melindungi pengobatanku. Aku merasa seperti benalu yang menyiksa hidupmu."

"Dila!"

Alfa memotong kalimat itu dengan nada suara yang meninggi, membuat Dila terdiam seketika. Pria itu meremas pelan kedua bahu Dila, memaksanya untuk menatap lurus ke dalam matanya.

"Jangan pernah bicara seperti itu lagi di depanku!" Tegas Alfa, matanya memancarkan rasa frustrasi sekaligus perlindungan yang teramat kuat.

"Jangan pernah katakan kamu ingin menyerah. Aku tidak melakukan semua pengorbanan ini hanya untuk melihatmu berhenti berjuang di tengah jalan."

"Tapi kenyataannya berat Mas..." Tangis Dila pecah secara perlahan.

"Aku takut."

Alfa menghela napas panjang, meredam emosinya yang sempat memuncak. Sikap tegasnya melunak, berganti menjadi sebuah usapan lembut di kepala Dila. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukan singkat yang hangat, sebuah pelukan perlindungan dari seorang pria yang telah berjanji untuk menjaganya hingga akhir.

"Tim dokter di Singapura dan Jakarta masih terus mencari, Dila. Kita punya akses, kita punya sumber daya. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah begitu saja" Bisik Alfa di dekat telinga Dila, suaranya kembali tenang dan penuh wibawa.

"Tugasmu hanya satu: bertahan, minum obatmu tepat waktu, dan jangan biarkan pikiran-pikiran buruk itu menang."

Dila menyandarkan kepalanya di dada Alfa beberapa saat, mendengarkan detak jantung pria yang selalu menjadi pelindungnya sejak dulu. Kehadiran Alfa selalu berhasil memberikan rasa aman yang semu di tengah badai penyakit yang menggerogotinya.

Sore itu berlalu di dalam apartemen yang sunyi. Alfa tetap berada di sana hingga hujan di luar mulai mereda. Pria itu membantu perawat menyiapkan makan malam Dila, memastikan wanita itu menyantap makanannya hingga habis, dan memastikan seluruh sisa obat malamnya dikonsumsi tanpa ada yang terlewat.

Namun, ketika waktu menunjukkan pukul tujuh malam dan Alfa pamit untuk pulang, ada sebuah beban tak kasat mata yang menggelayuti pundaknya.

Saat melangkah keluar dari unit apartemen Dila dan berdiri di dalam lift yang berdinding cermin, Alfa menatap bayangan dirinya sendiri.

1
Ari Atik
akhirnya....
lurus semua permasalahan
🌹
Biasanya panggil Mas kan 🤔
Cahaya
pnasaran alpamart senja
Cahaya
harus ny up berapa yh hari ini 🙏
Cahaya: ohh iya thor moga lekas sembuh yh anak nyuthor sehat selalu yh thor.aamiin
total 2 replies
Cahaya
jangan lama dong thor up ny.menunggu itu ngga enakkkkk🙏
Rina Wati.S
lanjut kak
Nadja 🎀
Ares hanya di anggap adik bagi senja... makanya senja menolak ares cuma di anggap adik. jgn khawatir Alfa.. senja gak suka laki-laki melimpah duit kyk ares hanya ingin hidup sederhana gk peduli miskin.
Silvia
ayo berjuang bersama💪💪 semangat
Hanima
👍👍
Agnezz
Alfa dan Senja sudah sama2 berkorban satu sama lain. Senja mengorbankan ginjalnya demi kesembuhan Dila yg menurut pikirannya saat itu sumber kebahagiaan Alfa.
Alfa mengorbankan harta dan jabatannya di perusahaan ayahnya demi membayar kebebasan Senja. Memilih bekerja keras tak kenal sebagai operasional kurir demi mencari keberadaan Senja sehingga kondisi fisiknya menurun.
Sedangkan Ares hanya membantu Senja keluar dari Alfa dan keluarganya. Ares tidak kekurangan apapun, dia membantu dari kelimpahannya dan kemampuannya. Jadi nothing to lose buat Ares. Cuma soal ditolak cintanya oleh Senja.
Hanima
Bodxx..
Agnezz
jadi 3 alasan Senja mendonorkan ginjal dan memilih pergi :
1. karena tidak tahan dan tidak tega melihat Alfa yg sedih dan terpuruk saat Dila drop.
2. karena ingin bebas dari tuntutan orang tuanya
3. karena tidak ingin dari duri dalam hubungan Alfa dan Dila. Sebelum Alfa menceraikannya lebih baik Senja yg pergi lebih dulu.
Agnezz: ya sama2 kak, terima kasih sudah up banyak dan tetap semangat👍
total 2 replies
Nurminah
keterbukaan dengan pasangan komunikasi yg bagus amat sangat penting dalam rumah tangga berhubung dua duanya punya luka masa lalu jadi ya walaupun pintar terlihat bodoh dalam menyikapi keadaan terkadang seseorang yg tidak marah diam lebih mengerikan dibandingkan orang yg melampiaskan amarahnya dengan bercerita
Maharani Rani
lanjuttt😍
Maharani Rani
lanjutt kak😍
Cahaya
lanjutt
Cahaya
lanjuttt
Cahaya
ko spi ini yh pada kmana ini redssss
Cahaya
emm emmm akir ny tuntas sudah salah paham ny tinggal buka lmbaran baru
Nar Sih
kejujuran dan saling terbuka kini tdk ada lgi rahasia antara kalian senja juga alfa ,makasih kak santi udh up lgi sampai q bca nya tgh mlm🙏🥰🥰
Agnezz: iya kubaca sambil ngantuk tengah malam, baru koment pagi🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!