NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Naga Perak

​Pancaran sinar laser berwarna biru pekat menembus awan dari kapal induk terbang raksasa, mengunci posisi perahu tempat Adrian, Anindya, dan kedua bayi kembar mereka berdiri...

​"Adrian! Lasernya mengunci kita!" jerit Anindya menembus deru angin kencang yang dihasilkan oleh ribuan baling-baling drone di atas mereka.

​"Pegang erat anak-anak, Anindya!" balik berteriak Adrian seraya memasang posisi siaga di depan istrinya, dua pistol taktis teracung lurus ke arah langit yang tertutup bayangan baja.

​BZZZZZT!

​Pancaran sinar laser biru itu mendadak melebar, membentuk tabung radiasi bertenaga tinggi yang menyelimuti seluruh badan perahu cepat. Udara di sekeliling mereka berubah menjadi amat berat, membekukan pergerakan ombak laut dan menghentikan seluruh mesin perahu seketika.

​"Tekanan ini..." desis Adrian, urat lehernya menegang saat ia berusaha mempertahankan pijakannya di atas geladak perahu yang kaku. "Sistem kurungan gravitasi mekanis!"

​Dari lambung kapal terbang terbesar di tengah, sebuah platform pengangkut berukuran raksasa turun perlahan menembus tabung sinar laser. Di atas platform tersebut, berdiri puluhan prajurit berzirah putih mengkilap dengan lambang naga perak bercabang dua di dada mereka.

​"Subjek Induk Adrian Vane dan Anindya Vane," suara wanita mekanis yang anggun namun tanpa emosi bergema melintasi tabung radiasi. "Kalian diperintahkan untuk menjatuhkan senjata dan meletakkan kedua spesimen di atas platform penyerahan."

​"Siapa kalian?!" bentak Adrian dengan mata menyala amarah. "Konsorsium sudah hancur! Siapa yang memerintahkan kalian kemari?!"

​Seorang wanita bertubuh jangkung dengan seragam komando serba putih melangkah maju ke depan barisan prajurit. Helm taktisnya terbuka secara otomatis, memperlihatkan wajah tegas beriris mata keperakan yang dingin.

​"Konsorsium hanyalah anak perusahaan kecil dari Sektor Delapan," ucap wanita berambut perak itu datar. "Nama saya Komandan Lyra dari Organisasi Ordo Naga Perak. Dan kalian, beserta dua bayi itu, adalah aset biologis milik pangkalan pusat."

​"Aset biologis?!" Anindya membelalakkan matanya seraya memeluk erat Leo dan Reza di dadanya. "Mereka anak-anakku! Bukan barang milik organisasi gila kalian!"

​"Hak kepemilikan kalian telah dicabut sejak awal eksperimen Proyek Genesis dimulai dua dekade lalu, Nyonya Anindya," cibir Komandan Lyra. "Serahkan kedua bayi itu secara sukarela, atau kami akan mengekstraksi mereka secara paksa dari jasad kalian."

​"Cobalah jika kau berani, Wanita Sialan!" meraung Adrian seraya melepaskan tembakan ke arah Komandan Lyra!

​DOR! DOR! DOR!

​Namun peluru-peluru berkaliber berat itu mendadak berhenti di udara, membeku tepat sepuluh sentimeter di depan wajah Komandan Lyra sebelum jatuh tak berdaya ke lantai platform akibat dinding pelindung kinetik.

​"Usaha yang sangat primitif," ujar Komandan Lyra dingin. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi komando singkat. "Pasukan Penunduk, lumpuhkan subjek pria."

​BZZZZZT!

​Empat prajurit berzirah putih melompat turun dari platform, meluncur di atas sinar laser dan mendarat presisi di atas geladak perahu cepat. Tongkat kejutan magnetik di tangan mereka menyala memancarkan aliran listrik keperakan!

​"Adrian! Awas!" jerit Anindya.

​Adrian menerjang prajurit pertama, menghantamkan gagang pistolnya ke helm pelindung lawan. BUK!

Percikan api terpancar, namun zirah putih itu terlalu tebal untuk ditembus serangan fisik biasa. Prajurit kedua menghantamkan tongkat magnetik tepat ke rusuk Adrian yang terluka!

​"AAAGHHH!" Adrian melolong kesakitan saat gelombang listrik bertegangan tinggi kembali membakar jaringan otot dan saraf bahunya.

Tubuhnya terlempar menabrak pembatas perahu!

​"Adrian!" Anindya meraung menangis, berusaha merangkak mendekati suaminya, namun dua prajurit lain berdiri menghalangi jalannya seraya mengarahkan senjata kelumpuhan saraf.

​"Jangan sentuh istri dan anak-anakku..." desis Adrian seraya merangkak bangun dari genangan darahnya sendiri. Urat-urat di dahinya menegang hebat, dan cahaya merah dari sisa mutasi Serum Phoenix di dalam darahnya mulai menyala liar di matanya.

​"Oh? Reaksi genetik dari spesimen kegagalan Julian Vane?" gumam Komandan Lyra dari atas platform seraya menyipitkan matanya. "Menarik. Tapi tidak cukup kuat untuk menembus teknologi Ordo."

​"Adrian, jangan!" jerit Anindya menyadari apa yang hendak dilakukan suaminya. "Jika kau memicu mutasi itu lagi, jantungmu akan meledak!"

​"Aku tidak punya pilihan lain, Anindya!" raung Adrian penuh keputusasaan mutlak.

​ROAAARRR!

​Adrian melepaskan raungan dahsyat saat racun panas keperakan meledak di dalam pembuluh darahnya. Tubuhnya menerjang maju bagaikan kilat, menghantam dada dua prajurit berzirah putih hingga barikade pelindung mereka retak!

​Brak! DUAAAR!

​Dua prajurit itu terlempar ke laut lepas. Adrian berbalik cepat, mengarahkan pandangan merah membara ke arah Komandan Lyra di atas platform!

​"Amankan bayi-bayi itu sekarang!" perintah Komandan Lyra cepat, sedikit terkejut oleh lonjakan energi Adrian.

​Seorang prajurit wanita merenggut Leo dari dekapan Anindya!

​"LEO!" jerit Anindya melengking seraya mencengkeram kaki prajurit tersebut, namun sebuah pukulan mentah menghantam bahu Anindya hingga ia tersungkur lemas di lantai baja perahu.

​"Kembalikan anakku!" jerit Adrian seraya melompat tinggi menembus tabung sinar gravitasi menuju platform Komandan Lyra!

​BZZZZZT!

​Namun sebelum tinju Adrian menghantam Komandan Lyra, sebuah ledakan energi dari arah belakang armada kapal terbang mendadak menghantam lambung kapal induk utama!

​BOOOOOOMMMM!

​Guncangan dahsyat membuyarkan konsentrasi tabung gravitasi. Platform meliuk liar di udara, melempar Adrian jatuh kembali ke atas geladak perahu!

​"Apa yang terjadi?!" bentak Komandan Lyra seraya berpegangan pada pembatas platform. "Siapa yang menyerang kita?!"

​"Komandan! Radar melacak gangguan frekuensi tak dikenal dari arah barat!" seru operator kapal terbang melalui radio komunikasi. "Tiga kapal perang siluman tanpa identitas menerobos perimeter udara kita!"

​Dari balik kepulan asap hitam di horizon barat, tiga buah kapal perang siluman berwarna hitam kelam bergaris merah menyala terbang membelah awan dengan kecepatan supersonik!

​"Armada Pemberontak Red Eclipse..." desis Komandan Lyra dengan waut wajah yang untuk pertama kalinya menyinarkan kemarahan dan ketakutan. "Bagaimana mereka bisa tahu lokasi evakuasi ini?!"

​TRRRRRRR! BOOM! BOOM!

​Rudal-rudal berdaya ledak kinetik dari kapal perang siluman hitam itu menghantam barisan drone pelindung Ordo Naga Perak, menciptakan hujan api di atas langit laut lepas!

​Di tengah kekacauan ledakan udara tersebut, sebuah helikopter tempur kecil tak bertuan meluncur turun cepat ke arah perahu Adrian. Pintu samping helikopter terbuka lebar, dan sesosok pria berzirah taktis hitam dengan topeng baja bermata satu melompat turun tepat di antara Adrian dan Anindya!

​"Siapa kau lagi?!" bentak Adrian seraya mengacungkan pistolnya yang tersisa satu peluru.

​Pria bertopeng bermata satu itu menepis pistol Adrian dengan gerakan amat cepat, lalu menembakkan kait kabel baja ke arah prajurit yang memegang bayi Leo!

​Ctek! PYAAAR!

​Kait kabel itu merenggut kembali bayi Leo dari genggaman prajurit Ordo Naga Perak, menariknya kembali secara presisi ke dalam pelukan pria bertopeng bermata satu tersebut!

​"Anak ini aman," ucap pria bertopeng bermata satu itu dengan suara bass yang berat dan tenang. Ia melemparkan bayi Leo kembali ke pelukan Anindya yang terperangah tak percaya.

​"Siapa kau... kenapa kau menolong kami?!" tanya Anindya terbatuk-batuk seraya mendekap kedua bayinya yang kini kembali berkumpul di pelukannya.

​Pria bertopeng bermata satu itu berbalik, menatap Adrian dan Anindya. Ia menjangkau tepi topeng besinya, membuka pengunci mekanis dan menaikkan topengnya sedikit ke atas.

​Adrian membelalakkan matanya lebar-lebar saat melihat separuh wajah di balik topeng besi tersebut—wajah tegas pria separuh baya dengan bekas luka bakar di pipi kirinya.

​"Rendra?!" jerit Adrian tak percaya. "Kau... kau Rendra?! Agen yang seharusnya mati bersama Rencana Genesis?!"

​Rendra tersenyum tipis seraya menyarungkan kembali senjatanya. "Kematianku di markas lama hanyalah tiket masukku ke dalam pimpinan Red Eclipse, Adrian."

​"Komandan Lyra! Tembak helikopter penyusup itu!" jerit suara dari kapal terbang Ordo Naga Perak yang terbakar.

​"Tidak ada waktu untuk penjelasan," tegas Rendra seraya mengaitkan tali penarik helikopter ke rompi taktis Adrian dan Anindya. "Ordo Naga Perak akan meledakkan seluruh perairan ini untuk memusnahkan bukti! Kita harus naik ke kapal induk Red Eclipse sekarang juga!"

​"Tunggu, Rendra!" seru Adrian seraya menahan tali penarik. "Apakah Red Eclipse juga menginginkan anak-anakku?!"

​Rendra menatap mata Adrian yang membara merah dengan pandangan yang amat serius. "Pemimpin Red Eclipse... adalah seseorang yang sangat kau kenal, Adrian. Seseorang yang telah menunggumu selama sepuluh tahun."

​BZZZZZT!

​Tali pendorong otomatis menarik tubuh Adrian, Anindya, Rendra, dan kedua bayi kembar mereka melayang naik menuju helikopter tempur di tengah hujan api dan peluru yang berkecamuk di angkasa.

​Saat mereka berhasil ditarik masuk ke dalam kabin helikopter yang tertutup rapat, helikopter itu melesat cepat memasuki pintu pukat kapal perang siluman Red Eclipse yang langsung menutup sekat bajanya.

​Lampu indikator kabin kapal perang siluman menyala kebiruan. Di ujung lorong baja kapal perang tersebut, sebuah pintu geser tebal terbuka perlahan.

​Dari balik pintu geser itu, melangkah keluar sesosok wanita bergaun taktis serba hitam dengan perban melilit lengan kirinya. Saat wanita itu mengangkat wajahnya menatap Adrian dan Anindya, Adrian merasa jantungnya berhenti berdetak seketika.

​"Selamat datang di bahtera sesungguhnya... Adikku, Adrian..." bisik wanita itu dengan suara yang amat familiar namun dingin.

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!