Satu jebakan di pesta sang adik tiri merenggut kesucian Aline.
Satu fitnah kejam membuat ayahnya tega mengusirnya dalam keadaan hamil.
Diusir, dikhianati, dan tidak punya arah, Aline berada di ambang keputusasaan. Namun, tepat sebelum dia menyerah pada takdir, pria asing yang tidur bersamanya malam itu kembali datang dan mengajaknya pergi.
Demi bayinya, Aline nekat ikut dengan pria yang bahkan tidak ia kenali itu. Akankah pria tersebut menjadi pelindung barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 35 KEHILANGAN HAL YANG SAMA DENGAN CARA YANG BERBEDA 21+
Malam hari pun tiba...
Kini Nana berada di dalam kamar utama yang ia inginkan. "Setelah sekian lama... akhirnya aku bisa merasakan kewahan seperti ini." Nana sangat terlihat bahagia.
Saat ia hendak menutup pintu, tanpa suara tanpa aba-aba. Baskoro menahan pintu itu, Nana bingung kenapa tiba-tiba calon ayah tirinya menahan pintu yang hendak ia tutup.
"Ada apa, Papih?" tanya Nana, ia berpura-pura bersikap sopan karena laki-laki itu akan menjadi suami ibunya.
Baskoro tidak menjawab. Namun, tatapan matanya sangat terlihat jelas bahwa laki-laki itu sedang berhasrat terhadap calon anak tirinya sendiri. Ia menyentak dengan kasar pintu itu hingga Nana terhuyung ke belakang yang membuat Nana sampai terjatuh ke atas lantai.
Baskoro langsung menutup pintu itu, lalu mendekat ke arah Nana yang membuat wanita itu beringsut ke belakang.
"Apa yang mau Papih lakukan?!" Nana mulai waspada saat laki-laki paruh baya itu menunjukkan sisi lain dirinya.
"Malam ini saya ingin bersenang-senang denganmu, Nana." Suaranya terdengar dingin dan penuh niat tersembunyi.
Nana perlahan mendongak, menatap laki-laki itu dengan senyum sinis yang mengejek. Ia tidak percaya ibunya bisa menemukan laki-laki seperti ini untuk menjadi ayah tirinya selanjutnya.
"Ternyata kamu hanya berpura-pura baik di depan Ibu saya. Dasar tua bangka sialan! Saya tidak mau disentuh laki-laki tua sepertimu!"
Mata Baskoro berkilat tajam saat mendengar kalimat itu. Tanpa peringatan, laki-laki itu langsung menarik Nana dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
Sebelum Nana berhasil bangun dan melarikan diri, tiba-tiba laki-laki itu langsung mengukungnya, mengunci kedua tangan Nanan di atas kepalannya dengan cengkraman yang sangat kuat.
Nana meringis saat merasakan perlakuan kasar itu, seumur hidupnya ini pertama kalinya ada orang yang menyakitinya ibunya saja bahkan tidak pernah.
"Lepaskan saya, dasar tua bangka sialan?!" maki Nana, saat ia mencoba melepaskan dirinya dari laki-laki itu.
Baskoro tidak mendengar makian atau ocehan calon anak tirinya. Ia dengan lancang dan berani mulai menyingkap gaun Nana yang memperlihatkan paha yang putih dan mulus.
"Saya sudah tidak sabar ingin menyentuh kamu, Nana. Sekarang saya bebas menikmati kamu malam ini."
Suara laki-laki itu bagaikan petir yang menyambarnya saat itu juga. Teriakan dan isak tangisnya tidak ada yang mendengar kamar itu sudah dilapisi peredam suara.
"Jangan sentuh! Saya akan teriak agar Ibu mengetahui kelakuanmu!"
Baskoro tertawa jahat. "Hahaha... teriaklah Nana!Ibumu tidak akan mendengarnya karena sekarang dia sedang tertidur." Tangan Baskoro mulai lancang membuka kain penutup kehormatan Nana yang selama ini wanita itu jaga karena ingin memberikannya untuk laki-laki tampan dan kaya raya.
Namun, sekarang kenyataannya seolah berbalik ia yang dilecehkan laki-laki tua dan jelek dan gendut meski laki-laki itu kaya. Nana tidak mau keperawanannya direnggut laki-laki paruh baya itu.
Nana berusaha memberontak sekuat tenaga disela-sela isak tangisnya. Ia tidak terima dilecehkan seperti ini. Namun, cengkraman tangan laki-laki itu semakin kuat membuat ia kehabisan tenaga karena tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki itu.
Kain pelindung kehormatannya kini sudah terlepas dari tempatnya. Nana semakin terisak mendapatkan perlakuan tidak senonoh itu. "Hiks... Hiks... Hiks... jangan bajingan!"
"Hahaha... menangis lah sekeras mungkin, karena suara tangis kamu akan menjadi melodi paling indah untuk saya sambil menikmati tubuhmu." Baskoro tertawa mengejek terhadap calon anak tirinya itu.
Nana sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya sudah mati rasa menahan sakit saat laki-laki tua bangka itu memasukkan miliknya kedalam area kewanitaannya dengan secara paksa sampai merasakan sakit pada perutnya karena hentakkan keras dan kasar
"Aaakhh... Hiks... I-ibu ... tolong aku!" rintih Nana sambil berteriak berharap Sinta datang untuk menolongnya.
Baskoro seolah tuli mendengar rintihan Nana, ia tetap melakukan hubungan itu berulang-ulang sampai Nana terkulai lemas tidak berdaya.
1 Jam berlalu, suasana kamar tampak kacau balau akibat pertempuran Baskoro dan Nana.
Kini Nana masih terisak sambil menenggelamkan setengah wajahnya ke dalam selimut. Ia benar-benar sudah hancur. Harga diri yang dulu ia banggakan kini hilang ditangan laki-laki yang akan menjadi ayah tiri selanjutnya.
Baskoro menatap Nana sejenak tanpa rasa iba sedikit pun. "Hahaha... saya tidak menyangka, Nana. Ternyata kau masih menjaga keperawananmu, terima kasih untuk malam ini." Suara Baskoro terdengar dingin dan menusuk.
Pikiran Nana melayang kekejauhan. Ia seperti tengah melihat seseorang yang sedang memberinya karma atas apa yang sudah pernah ia lakukan terhadap kakak tirinya.
Saat Nana sibuk dengan pikirannya. Baskoro mulai melancarkan aksinya kembali, laki-laki itu menyibak selimut yang menutupi tubuh Nana dengan kasar. Lalu mengukung wanita itu dibawah kuasanya.
Tanpa aba-aba dengan gerakkan kasar Baskoro kembali menjelajahi area pribadi Nana.
Meski Nana berusaha menolak tetap saja tubuhnya berdusta ia menikmati sentuhan laki-laki itu. Terkadang disela-sela hujaman Baskoro, Nana mencoba memohon agar laki-laki itu segera menghentikannya.
"Hentikan! Jangan sentuh aku lagi... aku mohon." Kali ini suara Nana terdengar penuh permohon tanpa ada nada angkuh dan wajah sombong yang biasa ia tampilkan.
"Tidak untuk malam ini, sebelum saya benar-benar puas!"
DEGH!
Jantung Nana seolah berhenti berdetak, mendengar kalimat yang laki-laki paruh baya itu lontarkan. Apakah ia akan menjadi pemuas nafsu tua bangka itu? Air matanya luruh begitu saja saat bayanganan itu melintas dalam benaknya.
*
*
*
Sementara di dalam kamar lain, Sinta tengah tertidur lelap tanpa menyadari kehancuran putrinya sedang terjadi dan itu dilakukan oleh laki-laki yang akan menikahinya setelah gugatan cerai ia selesai dengan Dimas.
Tiba-tiba, tangan Sinta meraba-raba sisi tempat tidur yang seharusnya di tempati Baskoro. Saat kedua matanya terbuka Sinta tidak mendapati laki-laki itu berada di sampingnya.
"Kemana, Mas Baskoro?" gumamnya pandanganya menyapu ke seluruh arah ruangan itu.
"Mungkin sedang di kamar mandi." ucapnya sambil menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Lebih baik aku tidur lagi, supaya besok aku punya banyak tenaga untuk menguras uang laki-laki itu." Sinta tersenyum merekah saat membayangkan bisa membeli barang-barang branded seperti teman-teman sosialitanya.
Ia tidak menyadari bahwa rencananya dulu bersama putrinya yang ingin menghancurkan hidup Aline kini malah berbalik ke putri kandungnya sendiri dengan cara yang paling hina.
Malam di mana Aline kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya, kini isak tangis itu. Seolah terbayar dengan kehancuran kedua wanita yang dulu begitu ia sayangi seperti ibu dan saudara kandungnya sendiri.
yah gantung🤭🤭🤭
semangat kak💪💪💪💪💪
lumpuh nya sebentar saja woke🤭🤭🤭