Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 02
SEBUAH PILIHAN
Keadaan ruangan begitu hening. Hanya terdengar suara gemericik dari air pancur yang ada di halaman. Dan Myra tak tahu di mana letaknya, dan kini dia berada di tempat apa.
Ia tak berkutik selain diam menatap penuh kekesalan ke mata cokelat itu. Mata yang selalu merendahkan, devil, dan kini penuh dengan rahasia.
“Aku tidak membutuhkannya. Dan jika yang kau maksud adalah tubuhku, maka aku tidak menjual tubuhku.” ucap Myra.
Tatapan Silas masih sama. Ia diam, rahangnya yang tegas itu berdenyut. “Kalau begitu bunuh diri lah, itu bisa meringankan bebannya.”
Kedua tangan Myra mengepal kuat, kedua matanya mulai berkilat, berkaca-kaca namun ia sebisa mungkin menahannya.
“Kau memiliki kesempatan untuk memilih, dan aku membuka kesempatan itu.”
Suaranya begitu pelan, menusuk dan berat sehingga nyaring seperti sebuah godaan di telinga Myra yang masih menatap mata itu cukup dalam dan dekat.
Bibirnya gemetar, pikirannya kacau. Ingatan akan masa lalunya kembali muncul— bagaimana pria di depannya itu dulu selalu bersikap menyebalkan, keterlaluan dan suka menindas. Namun satu hal yang Myra tidak tahu tentang isi hati Silas.
“Why me? (Kenapa aku)?”
Tak ada senyuman. Silas mendekatkan wajahnya lebih dekat hingga hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan hidung Myra.
“Karena kau gadis pertama yang membenciku.”
Seketika tubuh Myra merinding dari kaki ke wajahnya. Ia tak pernah berpikir sampai ke situ, tapi Silas ternyata menanggapinya lain.
Dan Myra benar-benar marah karena pria itu menghilangkan cincin peninggalan mendiang ibunya.
Tangan kiri Silas bergerak menelusup ke rambut hingga menyentuh leher Myra. “Jika pun kau berpikir ingin berubah menjadi gadis penggoda untuk menghindari ku. Maka kau salah besar.”
Kedua alis Myra mengernyit.
“Karena aku akan semakin mengejar mu.”
Myra langsung mendorongnya dan menjaga jarak. Nafasnya tersengal, ia begitu gerah namun rasa kesalnya lebih besar. “Keluarkan aku dari tempat ini.”
Silas menatapnya diam dan tegas. Hingga dia berjalan ke arah pintu dan mengetuk dua kali.
Tanpa menunggu lama, pintu dibuka dari luar oleh seorang pria botak yang merupakan anak buahnya. Tentu saja Myra tertegun, menatap Silas lalu ke arah pintu yang dibuka dengan mudah.
“Pergilah.” ucap pria itu dengan santai. Seolah-olah pembicaraan mereka hanyalah angin lewat.
Myra yang masih tegang, dia mengangguk-anggukkan kepalanya kecil lalu bergegas keluar melewati pintu itu dengan perasaan kesal.
Halaman yang begitu luas dan asri, namun nuansanya begitu mencengkram hingga langkah Myra perlahan mulai berhenti saat hampir sampai di arah gerbang besi.
Ia terdiam beberapa detik saat ponselnya bergetar di dalam tas jinjingnya. Myra segera mengeluarkan ponsel itu dan melihat sebuah panggilan dari pihak yang menagih hutang hingga panggilan berganti dengan telepon dari Tantenya.
(“Besok itu terakhir, Myra. Kalau kamu tidak segera mencarikan uangnya, rumah Tante sama paman mu yang menjadi jaminan. Ayolah bantu Tante, apa semua ini balasanmu setelah kami memberimu tumpangan di rumah kami?”)
Wanita itu diam untuk sesaat, memejamkan matanya begitu rapat. Ia menunduk dan tangannya terkepal kuat, kedua matanya berkaca-kaca. Kepalanya benar-benar kacau. Hingga Myra akhirnya berputar arah dan berjalan dengan langkah panjang ke arah pintu yang sama.
Sejenak Myra terdiam menatap penjaga di sana, sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
Mendengar pintu terbuka. Sila yang tadinya membelakangi arah pintu sambil meletakkan sebotol beer yang baru ia tuang ke gelas. Ia menoleh sekilas saat melihat Myra kembali lagi.
“Aku harap keputusan mu tidak membuatmu menyesal.” ucap Silas menyeringai licik lalu meneguk habis beer itu.
“Berikan aku 500 juta, hari ini juga. Setelah itu... ” Ia tak bisa melanjutkan perkataan yang menjijikan itu.
“Setelah itu apa?” tanya Silas yang masih berdiri membelakanginya.
Myra menarik nafas dalam-dalam. “Aku milikmu malam ini, Tuan Al.”
Pria itu meletakkan gelasnya, lalu berbalik menatapnya dingin. “Aku sudah melupakan nama itu.” ucapnya datar. “Panggil aku Silas. Agar kau bisa menyebut namaku dalam desahan indah mu.” ucapnya yang masih dingin dan menatap tajam sembari berbalik ke arah lain.
“Come here.” pintanya sambil berjalan masuk ke sebuah lorong.
Myra mencoba untuk tetap tenang. Ia benar-benar merasa jijik mendengar ucapan tadi. Namun bagaimanapun, malam ini dia harus mendapatkan uang itu.
Sampai di sebuah kamar yang begitu dominan bertema dark yang lebih elegan serta mencengkram daripada ruang utama dan halamannya.
Ranjang warna hitam berbentuk lingkaran dengan selimut merah terlihat elegan.
“Kau suka beer?”
“Aku membencinya.” Jawab ketus Myra yang terlihat pasrah.
Pria itu seketika menuangkan segelas air putih dan membiarkannya di atas meja disaat dia duduk di sofa singel warna hitam yang menghadap langsung ke arah Myra berdiri.
“Minumlah.” pintanya.
Mata Myra melirik ke gelas berisi air putih. Lalu dia kembali menatap tegas ke Silas. “Aku tidak yakin kau tidak mencampurkan sesuatu di dalam sana.”
Kepala Silas mengangguk kecil.
Cukup lama pria itu memperhatikannya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sehingga Myra merasa risih, mencoba berpaling.
Tak lama seorang anak buah mengetuk pintu lalu masuk. Namun tatapan Silas masih mengarah ke arah Myra.
“Tuan, Silas. Yang Anda minta sudah selesai.” ucapnya.
“Good.” balas Silas singkat namun anak buah itu langsung pergi.
Myra tak tahu urusan apa yang dimaksud, sampai pria berkemeja hitam itu membuka suara. “Bebanmu sudah lunas, Nona.”
Tentu saja Myra berkerut alis dan langsung memeriksa ponselnya saat itu juga. Ia mengecek sendiri hingga bertanya langsung lewat pesan. Dan detik itu juga jawaban ia dapatkan— sebuah pesan yang mengatakan kalau hutang itu sudah selesai.
-‘Syukurlah.’ batin Myra begitu lega, namun saat dia melihat ke arah pria yang duduk di sofa. Kelegaan itu hilang seketika, karena dia harus membayar dengan hal lain.
Myra memasukkan kembali ponselnya, ia menatap ke Silas yang masih memperhatikannya begitu detail. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana pria itu bisa mengetahui tentang hutang nya.
Namun malam ini... Myra harus menurunkan ego dan harga dirinya.
“Kau bisa menari?”
“Aku bukan penari.”
“Kalau begitu lakukan dan buat aku tergoda oleh mu.”
Rasanya begitu sulit menelan ludahnya. Myra merasa sesak mendengar permintaan itu. Dia bahkan tidak pernah memiliki seorang pria yang pernah dia goda, karena hubungan percintaannya selalu kandas lebih cepat karena mereka bosan dengan Myra yang tak bisa menggoda seperti wanita lain.
“Aku tidak bisa.”
“Lakukan saja. Dan biarkan aku melihatnya.”
Tak bisa lagi mengelak setelah pria itu melunasi hutangnya. Myra menggigit bibir bawahnya.
Dengan penuh keberanian ia meletakan tasnya di atas meja panjang. Tatapan matanya tak luput dari mata Silas yang masih memperhatikannya.
Wanita itu berjalan tenang ke arah Gramofon. Tangannya bergerak menyalakan musik hingga mengalun lembut mengisi ruangan itu. Sementara Silas masih memperhatikannya.
Saat musik klasik mengalun lembut, Myra berbalik menatap Silas sembari menurunkan resleting jaketnya sampai benar-benar terbuka. Ia menanggalkan jaket putih itu dan melepas celana panjangnya sehingga kini Myra hanya mengenakan tanktop hitam serta celana pendek ketat warna hitam.
Rahang tegas Silas mulai mengeras. Jari telunjuknya berhenti mengetuk lengan sofa ketika wanita di depannya itu mulai bergerak mengikuti musik. Menari lembut sembari membuka tanktop hitamnya yang kini menunjukkan bra hitamnya hingga rambut panjangnya ikut bergerak, menari.