Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Terungkap
"Shen Changge, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan hingga kau salah mengenali bahwa gadis kecil yang menyelamatkanmu sepuluh tahun lalu adalah istrimu sendiri," ucapku dingin sambil duduk tenang dan menyesap teh hangat yang disajikan pelayan.
"Aku akan menceraikanmu. Jika kau mau, Putra Mahkota juga akan menggantikan posisimu. Bagaimana, apa kau ingin menjadi suami yang diceraikan oleh istrinya sendiri karena tidak setia?" godaku, sengaja membawa-bawa nama Putra Mahkota untuk semakin memojokkannya.
"Ning'er, berikan aku satu kesempatan lagi untuk menyelidiki Yu Rou!" mohon Shen Changge dengan putus asa.
Namun, sebelum aku sempat menanggapi permintaannya, langkah kaki tegas terdengar mendekat. Hou Juntian muncul di aula dengan mengenakan zirah perangnya yang tampak gagah dan mengintimidasi.
"Jangan beri kesempatan lagi, Ning'er," suara Hou Juntian menggelegar, penuh ketegasan. "Dia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhmu dan meracunimu di malam pernikahan karena dia tidak ingin menikah denganmu."
Mendengar pengakuan itu, ingatanku tersentak kembali. Oh... jadi ini alasanku bertransmigrasi ke novelku sendiri. Tang Anning dibunuh dengan racun oleh Shen Changge. Aku yang menulis sendiri sebab dan akibat kematian Tang Anning yang asli, kenapa aku bisa melupakan fakta sepenting ini? batinku, menyadari kebenaran pahit yang selama ini terkubur dalam ingatanku sebagai jiwa Anna.
"Tian-ge, kau kembali! Apakah kau terluka?" tanyaku cemas. Aku segera mendekat ke arah Hou Juntian, memeriksa seluruh tubuhnya dengan saksama untuk memastikan tidak ada goresan sedikit pun.
"Aku baik-baik saja," jawabnya dengan tatapan tajam yang beralih ke arah Shen Changge. "Tapi aku rasa kau harus menjelaskan sesuatu kepadaku, ikut aku. Oh... hampir lupa, Shen Changge, kau dilarang menyentuh Ning'er lagi karena Yang Mulia Kaisar sudah menyetujui permohonan perceraian kalian."
Tanpa menunggu bantahan, Hou Juntian menggenggam tanganku erat dan membawaku pergi menuju kediamannya.
Sepertinya si bungsu akan menginterogasiku. Baru saja lepas dari sangkar Iblis Utara, sekarang si bom waktu ini diseret lagi oleh si bungsu yang pencemburu, batinku histeris.
Setibanya di Kediaman Xiangfu, kediaman pribadi Hou Juntian di Zianwu, ia memojokkanku hingga aku tidak bisa menghindar lagi darinya.
"Tian-ge, kau kenapa?" tanyaku berusaha tenang.
"Ning'er, aku baru saja kembali dari barak militer. Tubuhku bau keringat, mesiu, dan darah, tapi kau... kau justru memperlihatkan tanda merah di lehermu di depanku! Ini benar-benar keterlaluan!" ocehnya dengan nada frustrasi.
Mendengar kecemburuannya yang blak-blakan, aku tidak bisa lagi menahan geli. Tawa yang sedari tadi kutahan akhirnya pecah.
"Hahaha... jadi kau cemburu? Bukankah kau sendiri yang sudah mengambil ciuman pertamaku? Dan soal tanda ini, bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk melayani suamiku?" godaku sambil menatap matanya dengan berani.
Hou Juntian menghela napas panjang, bahunya yang tegap perlahan merosot seolah tengah menahan beban emosi yang berat. Ia terdiam cukup lama, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku tidak terima," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar berat dan menuntut. "Kau tidak adil, Ning'er. Kakak pertama sudah mendapatkan haknya, lalu bagaimana denganku?"
Pertanyaannya yang blak-blakan membuatku tertegun sejenak. Aku menyadari bahwa pria di depanku ini, meski terlihat keras di luar, sebenarnya sangat mendambakan pengakuan dan kasih sayang yang setara.
"Tian-ge, berhentilah cemburu tanpa alasan. Aku sudah menyiapkan hadiah khusus untukmu," ucapku lembut. Aku melangkah mendekat ke arahnya, lalu menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang kubawa.
"Maaf jika selama ini aku belum bisa adil dalam membagi kasih sayang, tapi aku berjanji untuk selalu adil dalam hal lainnya. Baiklah, Tian-ge, berhentilah marah," rayuku dengan senyum termanis yang kubisa.
Hou Juntian menatap kotak itu sebentar sebelum menerimanya. "Baiklah. Tapi ada syaratnya, malam ini kau harus menemaniku. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan memaksamu," ucapnya dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri, namun tangannya dengan sigap membuka kotak pemberianku.
Begitu kotak itu terbuka, matanya membelalak lebar. "Ning'er, liontin giok ini...?"
Ia tampak sangat terkejut melihat isi di dalamnya. Itu adalah liontin giok langka berbentuk Pi Yao—sosok mistis dengan ukiran badan singa, bersayap, dan bertanduk. Dalam kepercayaan kami, Pi Yao adalah simbol keberuntungan, kemakmuran, dan perlindungan yang sangat kuat dari energi jahat.
"Tian-ge, apa kau menyukainya? Aku tidak terlalu paham seleramu, tapi sebagai seorang jenderal yang selalu berada di garis depan, aku rasa kau membutuhkan sesuatu yang melambangkan perlindungan abadi," ucapku tulus.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hou Juntian menarikku ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu erat, seolah ia takut jika ia melepaskannya, aku akan menghilang begitu saja. Aku membalas pelukannya dengan lembut, merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai kembali tenang.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Ning'er. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sebaik dirimu yang selalu berusaha bersikap adil," bisiknya dengan nada yang dalam dan penuh ketulusan.
Aku tersenyum tipis, lalu perlahan melonggarkan pelukan kami. "Baiklah, karena kau sudah tidak marah lagi, sekarang waktunya kita makan. Aku sudah menyuruh pelayan dapur menyiapkan makanan kesukaanmu dan juga Mo Jiu," ucapku sambil melepaskan diri dari rengkuhannya.
Namun, sebelum aku sempat melangkah pergi menuju aula utama, Hou Juntian justru menahan tanganku. Ia memberi isyarat kepada para pelayan untuk segera keluar dari ruangan dan menutup pintu rapat-rapat.
"Tian-ge, apa yang kau lakukan? Apa kau mau apa?" tanyaku dengan nada yang mulai gugup.
"Aku merindukanmu, Ning'er. Jadi biarkan hari ini menjadi hadiah untukku," jawabnya singkat. Ia mulai melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku terpojok.
Sialan, kenapa si bungsu ini tiba-tiba bertingkah seperti predator yang sedang kelaparan, dan aku adalah mangsa utamanya? batinku panik.
"Ini masih siang, Tian-ge! Nanti Mo Jiu akan mencariku jika aku tidak muncul," alibiku dengan cepat, berharap ia melepaskanku.
Hou Juntian hanya tersenyum miring, senyum yang sangat berbahaya. "Tenang saja, sayang. Aku sudah menyuruh pelayan untuk memberi tahu Mo Jiu bahwa Nona Muda sedang berjalan-jalan bersamaku, dan dia sudah memberikan izinnya," ucapnya penuh kemenangan, tak memberiku celah untuk melarikan diri lagi.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸