NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 Observasi Wanita Hamil

Perlahan, Xavier membuka kedua matanya, lalu mengerjap--menyesuaikan cahaya lampu ruangan bernuansa putih dan menguarkan aroma khas antiseptik.

Dahinya mengernyit tipis saat menyadari bahwa ia berada di kamar rawat inap, bukan di kamar tempat ia seharusnya menginap.

"Kenapa gue ada di sini? Dan kenapa, tangan gue dikasih selang kayak gini?" cecar Xavier sembari melirik selang infus di punggung tangannya. Suaranya terdengar serak dan berat.

Ryuga menghela napas, menatap lekat wajah pucat kakak iparnya itu. "Lo pingsan lagi."

Xavier menautkan kedua pangkal alisnya, mencoba mengingat kejadian semalam. Tepatnya sebelum ia tak sadarkan diri.

"Semalam... gue nyamperin Kinan, maksud gue... Sukma. Tapi dia nutup jendela dan nyuruh gue pergi. Dia bilang, dia cuma butuh tenang." Xavier menarik napas panjang, coba mengusir sesak yang kembali hadir memenuhi rongga dada.

"Gue pikir, gue lebih baik mati biar Sukma bisa hidup tenang dan bisa ngelanjutin hidupnya bersama Reinan, laki-laki sempurna yang pantas buat dia."

Ryuga masih diam. Namun diamnya bukan mengabaikan, melainkan mempersilakan Xavier mengeluarkan semua riak, agar tidak hanya mengendap di dalam benak.

"Apa gue... gantung diri aja ya? Ngikutin cara Hamdan mengakhiri hidup. Biar impas dan bikin Sukma puas."

"That’s a stupid thought!" Ryuga memotong, suaranya datar dan tenang, namun menghunjam telak. "Pikiran lo itu, bukannya bikin Sukma puas, tapi malah bikin dia lebih menderita," imbuhnya.

Ingin rasanya menyentil otak dan ginjal Xavier, agar kakak iparnya itu bisa berpikir waras, namun rasa tak tega menahannya.

Xavier bergeming. Perkataan Ryuga barusan seakan menamparnya dengan sangat keras, membuatnya seketika tersadar bahwa kematian bukan jalan pintas untuk mengakhiri permasalahan, apalagi menebus dosa besar.

"Lo mesti berjuang lagi, Vier. Jangan menyerah sampai lo berhasil ngeluluhin hati Sukma dan dapetin maaf dari dia," lanjut Ryuga.

Matanya menatap tajam ke arah Xavier, memastikan pesan itu benar-benar masuk ke dalam kepala kakak iparnya yang sedang kacau balau.

"Kalau lo berpikiran kolot kayak gitu, lo bukan laki sejati, tapi pecundang yang lebih pantas pakai rok mini. Lo bakal ngecewain Aluna. Adik lo yang berharap banget kakaknya jadi lelaki gentle dan bertanggung jawab, bukan pengecut yang demen lari dari masalah."

Xavier menelan ludah. Tenggorokannya terasa tercekat, sehingga tak kuasa membalas ucapan sarkas yang mengalir dari bibir Ryuga.

Pecundang.

Pengecut.

Lari dari masalah.

Tiga kata itu berputar-putar di kepalanya.

Xavier ingin membantah, ingin berteriak bahwa ia sudah berusaha, bahwa ia sudah lelah. Tapi mulutnya benar-benar seperti terkunci.

Namun menit berikutnya, ia memaksa lisannya untuk mengutarakan isi hati.

"Apa gunanya gue berjuang kalau hati Sukma udah tertutup rapat buat nerima maaf dari gue?" suara Xavier keluar pelan, hampir tak terdengar. Ada getaran putus asa di sana.

Ryuga tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati jendela kamar rawat, menarik sedikit tirai putih agar sinar matahari pagi bisa masuk lebih banyak.

"Hati manusia itu nggak punya kunci permanen, Vier," ucap Ryuga akhirnya, masih membelakangi Xavier. "Jadi, lo bisa ngebukanya pakai ketulusan dan kesungguhan. Lo pikir Reinan itu sempurna? Mungkin. Tapi kesempurnaan itu relatif. Sukma butuh seseorang yang bisa memberinya rasa nyaman. Bukan seseorang yang terlihat sempurna."

Ryuga berbalik, menatap Xavier dengan ekspresi yang kali ini sedikit lebih lunak, meski tetap tegas. "Lo pernah nyakitin dia, iya. Lo pernah bikin dia ngerasa nggak berharga, iya. Itu karena lo termakan hasutan Edo--balas dendam ke Hamdan lewat Sukma. Tapi ingat, semalam, sebelum lo masuk kamar, lo sempet cerita ke gue... lo satu-satunya orang yang pernah bikin dia merasa aman waktu SMP dulu. Waktu lo jadi Ketua OSIS yang selalu ngelindungi dia dari anak-anak nakal. Lo punya memori itu. Gunain itu. Jangan jadiin dosa di masa lalu sebagai alasan buat menyerah, tapi jadiin itu bahan bakar buat berubah."

Xavier menatap telapak tangannya sendiri.

Tangan yang tadi gemetar kini mulai tenang, meski masih ada sisa nyeri dari jarum infus. Ia teringat wajah Sukma saat mereka pertama kali berkenalan. Tepatnya ketika ia menolong Sukma dari kepungan Raka dan teman-temannya.

"Gue... gue takut, Ryu," aku Xavier jujur. Air matanya menggenang, namun ia tahan agar tidak jatuh. "Gue takut kalau gue mendekat lagi, gue malah makin ngerusak hidupnya. Gue takut kalau keberadaan gue jadi racun buat dia."

"Keberadaan lo nggak bakal jadi racun kalau dibarengi dengan perubahan nyata," potong Ryuga cepat. "Yang jadi racun itu ego, sifat keras kepala lo, dan otak dangkal lo."

Ryuga menarik kursi di samping tempat tidur, lalu duduk. "Dengerin gue baik-baik. Oma Kirana bilang kondisi lo stabil secara fisik. Tapi secara mental? Lo masih babak belur. Jadi, tugas lo sekarang bukan mikirin cara mati, tapi mikirin cara hidup. Hidup yang bener-bener hidup. Bukan sekadar napas doang," tuturnya.

Xavier menghela napas, lantas mengalihkan atensinya pada Ryuga.

"Jadi... apa yang harus gue lakuin?" tanya Xavier, suaranya masih serak, tapi ada nada keteguhan baru yang mulai tumbuh.

Ryuga tersenyum tipis, melipat kedua tangannya di dada dan menegakkan posisi duduk. "Pertama, minum obat lo. Kedua, istirahat. Ketiga, pas lo keluar dari sini, jangan langsung nyamperin Sukma kayak orang kesetanan. Lo harus jadi versi terbaik dari diri lo dulu. Versi yang nggak bikin Sukma takut, apalagi ilfil."

Xavier mengangguk pelan, mengamini masukkan yang dituturkan oleh Ryuga.

Hening.

Namun segera terpecahkan oleh suara nada dering telepon.

Ryuga bergegas merogoh saku kemeja, mengambil gawai yang tersimpan di sana, lalu membaca nama yang tertera di layar.

'Mama Raina'.

Kedua mata Ryuga membulat sempurna. Ia baru teringat amanah sekaligus perintah mama mertuanya: langsung mengabarinya begitu tiba di Desa W.

"Ck, Kanjeng Mami telepon," gumam Ryuga pelan, namun terdengar oleh Xavier.

"Siapa?" Xavier melayangkan tatapan penuh tanya, menuntut Ryuga untuk segera membalas.

"Mama Raina."

Xavier terdiam sejenak. Ia tampak berpikir dan menimbang. "Jangan bilang kalau gue tumbang," ujarnya akhirnya.

Ryuga mengangguk samar, lalu menekan tombol terima dan menyalakan speaker telepon.

"Assalamu'alaikum, Ma?" sapanya.

"Wa'alaikumsalam, Ryu. Xavier ada?" balas Raina di seberang sana.

Ryuga bergeming, lantas melirik Xavier. "Ada. Cuma, dia lagi rebahan di kamar, Ma. Semalam kecapekan observasi."

"Loh, kenapa observasinya malam, Ryu?"

"Dia udah nggak sabar bawa pulang hasil, Ma."

"Bilang ke Xavier, jangan terlalu memaksakan diri kalau masih kurang fit. Jaga kesehatan dan cepat pulang."

"Siap, Ma."

"Ya sudah, Mama tutup dulu ya teleponnya. Nitip salam untuk Xavier. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam..."

Usai Ryuga membalas salam, Raina mengakhiri sambungan teleponnya.

"Tadi udah denger kan pesan Mama Raina?" Atensi Ryuga kembali fokus pada Xavier.

Xavier mengangguk tipis. "Udah."

"Mendingan lo istirahat dulu di sini, sampai pulih."

"Tapi gimana observasinya?"

"Udah dikerjain Tara, Nofi, sama Dimas. Semalam gue nyuruh mereka buat nyusul kita. Dan tadi pagi, ba'dha subuh, mereka cus ke Desa W," terang Ryuga, lantas menarik sudut bibirnya. "Kerjaan lo di sini cuma satu. Observasi wanita hamil yang lo tanamin benih."

Seusai mengucap kalimat itu, ia melepaskan tawa khas. Tidak terbahak, juga tidak berlebihan.

Baik Xavier maupun Ryuga tidak menyadari, jika obrolan mereka barusan tertangkap indera pendengaran wanita yang sejak lima belas menit lalu berdiri di balik pintu.

Dia... Sukma.

Rasa iba dan setitik rasa bersalah memaksanya untuk datang menjenguk Xavier, mengetahui keadaannya, serta mengantar bubur ayam untuk lelaki yang dulu selalu disebutnya dalam doa.

Sukma dilanda ragu. Inginnya mengikuti kata hati. Namun, ego kembali membelenggu, seakan menjerat kedua tangannya yang sudah terulur untuk membuka pintu.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Najwa Aini
sini..aku peluk..mbak Raina...
Najwa Aini
Dan putranya mengulang dosa yg sama. Tapi untungnya..sapir punya inisiatif utk bertanggung jawab lbh awal
Najwa Aini
Jangan sampai Sukma nanti seperti Larasati..
Najwa Aini
Sukma kekeuh ingin melupakan. ia juga bertahan agar tdak merasa iba, apalagi tersentuh dengn ketulusan sapir..

intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..

pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
Najwa Aini
Yahh..aku mikir gimana cara nyampein salamnya ya...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Ayuwidia: Sebelum ngomong, mampir dulu ke warung soto Pak Muh, Kak. Habis itu baru nyampein salamnya si comel
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh...👍👍👍...
Aku suka ini Sapirr
Nofi Kahza
Woah..teges banget Lo, Pir. tapi gpp. gue dukung. semakin cepat semakin bagus😌😌
Nofi Kahza
omelete plus mayones. Ya Ampun laper aku jadinua/Hunger//Hunger/
Ayuwidia: Gassss bikin 😀
total 1 replies
Nofi Kahza
ish! si Nofi, Lo usil banget jadi cewek. Anak siapa sih?🫣🫣
Ayuwidia: Anak mami 😆
total 1 replies
Queen tie
namanya jg novel,,, kalau direal kehdpnan, sdh pasti Suksma mau dinikahi, lagian jg semua dr awal kesalahan dr kakaknya berimbas keadik, kita ikuti terus pantenginnnnn, semangat2 buat vier sj dah,, si Nyai mah bnrnya nau, cuma trs inget diperkaos,, lagian si ustaz kyk nda ada wanita baik saliha lain🤭😄
Ayuwidia: Woah, makasih Kak 😄
total 1 replies
Nofi Kahza
jaga hati agar tak berpaling dari Sapir kan maksudnya??🤭🤭
Nofi Kahza
kayak nggak rela kalau Xavier harus pulang. kan jadi jauh dengan Sukma..🥹
Najwa Aini
loh..kok disuruh baca istighfar.
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
Nofi Kahza
ini mah paling kesukaan Kirana, atau kesukaan othornya juga🤣🤣
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Nofi Kahza
ciee.. cieee.... udah sayang sayang ajanih si Sapir🤭
Najwa Aini
Udah paten nih ya, Sukma dipanggil Nyai
Najwa Aini
Lumayan lah. dari pada gak sama sekali...🤣
Nofi Kahza
aku baru aja ke Gugel, tanya arti hamba yang papa. Baru tau aku🫣
Nofi Kahza
nah, bentar lagi habis ini jadi imam sholat Sukma ya, Pir...
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭
Najwa Aini
Aku semangatin dari jauh ya Pirr...🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!