Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan Sang penyelamat
Alana pebalasan istri nt ## Bab 2: Perkenalan Sang Penyelamat
Alunan musik klasik dari grup orkestra di sudut aula Hotel Grand Luminary terus mengalir, mencoba membungkus atmosfer ketegangan yang mulai merayap di antara beberapa orang.
Elena Van Doren berdiri dengan keanggunan seorang ratu di dekat pilar marmer besar, memegang segelas sampanye yang tidak benar-benar ia minum. Matanya yang tajam di balik riasan mata smokey yang pekat terus mengunci pergerakan Rendy Pratama di seberang ruangan.
Rendy tampak tidak tenang. Meskipun ia berusaha tertawa mendengar lelucon salah satu investor bank di hadapannya, matanya terus melirik ke arah Elena.
Rasa penasaran campur rasa takut yang tak beralasan terus mengusik dadanya. Akhirnya, setelah membisikkan sesuatu kepada Lisa yang tampak cemberut, Rendy melangkah memisahkan diri dari kerumunan. Ia memanggil salah satu panitia penyelenggara dari Adiguna Group, bertanya dengan nada mendesak mengenai identitas wanita misterius tersebut.
Dari kejauhan, Elena melihat Budi,asisten setia Arka bergerak dengan sangat rapi.
Budi, yang malam itu mengenakan setelan jas formal, sengaja berjalan mendekati Rendy seolah-olah tanpa sengaja. Budi adalah sosok yang dikenal di kalangan pebisnis sebagai tangan kanan dari konsorsium keuangan rahasia yang mengelola dana-dana raksasa dari Eropa.
"Ah, Tuan Rendy Pratama," sapa Budi dengan senyum profesional yang ramah. "Selamat atas peluncuran Adiguna City. Proyek yang sangat ambisius."
Rendy langsung berbalik, wajahnya yang tegang seketika berubah menjadi penuh senyum penghormatan. "Tuan Budi! Sebuah kehormatan Anda bisa hadir malam ini. Saya berharap bos Anda, Tuan Arka, juga bisa melihat potensi besar dari proyek ini."
Budi terkekeh pelan, melirik ke arah VIP lounge tempat Arka sedang duduk bersama beberapa petinggi bursa efek. "Tuan Arka tentu sangat tertarik dengan pergerakan properti di kota ini, Tuan Rendy. Namun, malam ini, fokus kami sebenarnya terbagi. Kami sedang mendampingi salah satu investor utama dari Eropa yang baru saja tiba di Indonesia."
Mata Rendy langsung berbinar. Di tengah krisis likuiditas yang diam-diam sedang mencekik leher Adiguna Group akibat penolakan pinjaman dari Bank National, frasa "investor utama dari Eropa" terdengar seperti malaikat penolong bagi Rendy.
"Benarkah? Siapa beliau, Tuan Budi? Jika tidak keberatan, saya sangat ingin menyapanya. Siapa tahu Adiguna City bisa menjadi pelabuhan investasinya."
Budi menoleh, pandangannya terarah tepat ke arah Elena yang sedang berdiri menyendiri. "Beliau adalah Madam Elena Van Doren. Pewaris tunggal dari Van Doren Group. Mereka sedang mencari mitra lokal untuk mengalokasikan dana segar sekitar dua triliun rupiah dalam sektor properti siber dan kota mandiri."
Jantung Rendy berdegup kencang. Dua triliun rupiah. Itu lebih dari cukup untuk melunasi seluruh utang jangka pendeknya kepada para kontraktor baja dan semen yang sudah mulai mengancam akan membongkar tiang pancang Adiguna City. Dan yang lebih mengejutkan, wanita investor raksasa itu adalah wanita bergaun hitam backless yang sejak tadi mengacaukan pikirannya.
"Madam Elena?" Rendy memastikan, matanya menatap sosok Elena dari kejauhan. "Apakah Anda bisa memperkenalkan saya kepada beliau, Tuan Budi?"
"Tentu saja, Tuan Rendy. Mari, kebetulan beliau sedang tidak dikerumuni," jawab Budi dengan nada yang sangat meyakinkan, tanpa sedikit pun menunjukkan bahwa ini semua adalah bagian dari skenario yang telah disusun matang di rumah mewah Arka seminggu yang lalu.
Elena melihat mereka berdua berjalan mendekat. Setiap jengkal jarak yang terkikis antara dirinya dan Rendy membuat darahnya berdesir panas. ("Mendekatlah, Rendy,") batinnya berbisik kejam. ("Mendekatlah ke arah lubang kuburmu sendiri.")
Ketika Rendy sudah berdiri tepat di hadapannya, Elena memutar tubuhnya dengan perlahan. Tatapan mereka bertemu kembali dalam jarak kurang dari satu meter. Dari jarak sedekat ini, Rendy bisa mencium aroma parfum Elena,aroma black orchid yang pekat, dingin, dan mahal.
Berbeda jauh dengan Alana dulu yang selalu beraroma melati segar atau minyak lavender yang menenangkan.
"Madam Elena," Budi membuka suara, memecah keheningan yang sempat tercipta selama beberapa detik. "Perkenalkan, ini adalah Tuan Rendy Pratama, Direktur Utama sekaligus pemilik dari Adiguna Group, tuan rumah dari pesta malam ini."
Rendy segera mengulurkan tangannya. Senyum paling menawan, paling karismatik, dan paling meyakinkan yang biasa ia gunakan untuk menipu para pemegang saham kini ia pamerkan di hadapan Elena. "Sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan Anda, Madam Elena Van Doren. Selamat datang di Jakarta. Saya mendengar banyak hal luar biasa tentang Van Doren Group di Eropa."
Elena tidak langsung menyambut tangan itu. Ia sengaja membiarkan tangan Rendy menggantung di udara selama tiga detik yang terasa seperti keabadian bagi pria itu.
Elena menatap telapak tangan Rendy. Tangan itulah yang enam tahun lalu menyematkan cincin pernikahan di jarinya, tangan yang selalu ia genggam saat mereka masih merangkak dari bawah, dan tangan yang sama yang tanpa belas kasihan melepaskan genggamannya di tepi tebing malam itu, mendorongnya ke dalam kegelapan sungai yang dingin.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan lambat, Elena akhirnya mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan renda hitam. Genggaman Elena terasa sangat dingin di kulit Rendy.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Rendy Pratama," ucap Elena. Suaranya terdengar berat, serak-serak basah, didesain khusus melalui latihan vokal intensif selama masa pemulihannya agar tidak menyisakan nada tinggi khas Alana.
"Saya sudah membaca ringkasan proyek Adiguna City di meja kerja saya pagi ini. Ambisi Anda ... cukup menarik."
"Terima kasih, Madam Elena," Rendy merasa egonya melambung mendengar pujian dari wanita berkelas seperti Elena. "Proyek ini bukan sekadar bisnis bagi saya, ini adalah pembuktian. Kami membangun sebuah kota masa depan. Namun, proyek besar tentu membutuhkan kemitraan yang kuat dari institusi global seperti milik Anda."
Sebelum Elena sempat membalas, sebuah suara berdeham dengan nada tinggi terdengar dari arah belakang Rendy. Lisa tiba-tiba muncul, menyusupkan tangannya kembali ke lengan Rendy dengan posesif. Matanya memandang Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penilaian dan kecemburuan yang tidak disembunyikan.
"Rendy, sayang, kau meninggalkan aku terlalu lama dengan para pria tua itu," keluh Lisa dengan nada manja yang dibuat-buat, lalu menatap Elena dengan senyum palsu. "Oh, siapa wanita cantik ini?"
Rendy tampak sedikit risi dengan kemunculan Lisa yang tiba-tiba, namun ia tetap mencoba menjaga profesionalismenya. "Lisa, perkenalkan, ini Madam Elena Van Doren dari Van Doren Group. Madam Elena, ini Lisa, Direktur Pemasaran baru untuk Adiguna City ... sekaligus tunangan saya."
Kata "tunangan" yang keluar dari mulut Rendy bagaikan sembilu yang mengiris hati Alana di dalam tubuh Elena. ("Tunangan,")batin Elena mencemooh. ("Satu bulan setelah mengumumkan istrinya hilang dan diduga mati di sungai, dia sudah berani memperkenalkan selingkuhannya sebagai tunangan di depan publik.")
Namun, wajah Elena tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Ia menatap Lisa dengan pandangan datar yang sangat merendahkan, seolah-olah Lisa hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja menempel di jas mahal Rendy. Elena sengaja tidak mengulurkan tangannya kepada Lisa.
"Direktur Pemasaran?" Elena mengulang jabatan Lisa dengan nada sangsi yang sangat kentara. Ia menatap gaun merah menyala Lisa yang terlalu terbuka untuk ukuran pesta bisnis formal. "Menarik. Saya selalu berpikir bahwa proyek bernilai triliunan rupiah akan dipasarkan oleh seseorang dengan portofolio internasional, bukan seseorang yang ... tampak lebih cocok berdiri di atas panggung pameran otomotif."
Wajah Lisa seketika merah padam mendengar penghinaan verbal yang begitu halus namun menohok dari Elena. Ia hendak membalas dengan sengit, namun Rendy dengan cepat mencengkeram lengan Lisa dengan kuat, memberi kode keras agar wanita itu diam. Rendy tahu betul, satu kata salah dari mulut Lisa bisa menghancurkan peluang emasnya mendapatkan dana dua triliun rupiah.
"Maafkan Lisa, Madam Elena," potong Rendy cepat, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Dia masih muda dan kadang terlalu bersemangat. Kami di Adiguna Group selalu mengutamakan hasil kerja."
"Saya tidak peduli dengan semangat, Tuan Rendy. Saya hanya peduli pada angka, profesionalisme, dan efisiensi," balas Elena dingin, matanya beralih kembali sepenuhnya kepada Rendy, mengabaikan eksistensi Lisa secara total. "Saya berada di kota ini hanya untuk beberapa minggu. Jika Anda benar-benar membutuhkan suntikan dana dari Van Doren Group, saya sarankan Anda menyiapkan draf presentasi yang jauh lebih serius daripada sekadar pesta perayaan seperti ini."
"Tentu, tentu saja, Madam Elena! Kapan pun Anda memiliki waktu luang, saya dan tim saya akan datang ke kantor Anda," ujar Rendy dengan nada yang hampir terdengar seperti memohon.
"Asisten saya, Tuan Budi, akan mengatur jadwalnya jika draf awal Anda lolos kurasi kami," ucap Elena ketus. Ia kemudian berbalik badan tanpa mengucapkan salam perpisahan formal, meninggalkan Rendy yang terpaku menatap punggung indahnya, dan Lisa yang gemetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
Dari lantai mezanin yang menghadap langsung ke arah aula, Arka berdiri bersandar pada pagar pembatas besi tempa. Di tangannya terdapat segelas wiski tanpa es. Matanya yang tajam tidak pernah lepas dari interaksi ketiganya di bawah sana. Ia melihat bagaimana Elena dengan tenang menguliti harga diri Lisa dan bagaimana Rendy mulai bertekuk lutut di bawah pesona uang fiktif yang mereka ciptakan.
Budi berjalan naik ke lantai mezanin, berdiri satu langkah di belakang Arka. "Semua berjalan sesuai rencana, Tuan Arka. Rendy Pratama benar-benar memakan umpan itu tanpa ragu. Dia sudah meminta jadwal pertemuan resmi dengan Madam Elena."
Arka menyesap wiskinya sedikit, merasakan kehangatan alkohol yang membakar tenggorokannya. "Rendy adalah pria yang rakus, Budi. Dan orang yang rakus selalu mudah buta jika disodorkan tumpukan emas di depan matanya. Berikan dia jadwal terdekat. Jangan biarkan dia berpikir terlalu lama."
"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan Nona Lisa?" tanya Budi lagi.
"Biarkan wanita itu menjadi bensin dalam hubungan mereka. Kecemburuannya akan membuat Rendy membuat keputusan-keputusan bodoh. Terus awasi mereka, dan pastikan identitas Elena di seluruh sistem perbankan tetap tidak bercelah," perintah Arka dengan nada suara yang berwibawa.
Di bawah sana, Elena berjalan kembali ke arah luar aula, menuju balkon hotel yang sepi untuk menghirup udara malam. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya, mendinginkan kulitnya yang terasa panas oleh adrenalin balas dendam.
Ia memejamkan matanya sejenak.
Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan Rendy yang tersenyum saat mendorongnya kembali terlintas.
Namun kali ini, Alana tidak lagi menangis. Ia membuka matanya kembali, menatap hamparan lampu kota yang berkilauan.
"Tahap pertama selesai, Rendy," bisik Elena pada malam. "Kau baru saja menyambut iblis yang akan meruntuhkan seluruh istanamu, dan kau melakukannya dengan senyuman."