NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jiwa yang Terkunci dan Air Mata dari Dua Benua

Tujuh hari telah berlalu semenjak malam jahanam yang hampir meratakan Akademi Langit Biru dengan tanah. Meskipun tiga anomali tingkat 7 dari era kuno telah musnah menjadi abu, luka yang ditinggalkan di dataran fana ini teramat dalam.

Pagi itu, langit di atas kota akademi tampak kelabu, diselimuti oleh kabut tipis dan kepulan asap dari sisa-sisa pembakaran yang belum sepenuhnya padam. Di sepanjang jalanan kota hingga area luar akademi, suasana duka terasa begitu pekat. Suara dentingan palu bertalu-talu, beradu dengan riuh rendah para pekerja dan kultivator yang bergotong-royong membersihkan puing-puing bangunan, paviliun, serta menara yang runtuh dibelah oleh tebasan pedang iblis malam itu. Banyak keluarga yang menangis di sudut-sudut jalan, meratapi hilangnya sanak saudara akibat kegilaan kutukan formasi massal seminggu yang lalu. Akademi Langit Biru memang menang, namun itu adalah kemenangan yang dibayar dengan lautan darah dan air mata.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pembangunan kembali kota yang hancur, sebuah kamar di paviliun medis inti akademi justru dilingkupi oleh keheningan yang mencekam. Kamar itu beraroma antiseptik dan tumbuhan obat herbal yang pekat.

Di atas ranjang kayu yang besar, Yu Fan masih tergeletak kaku, tidak sadarkan diri.

Warna rambutnya yang malam itu memutih bagai salju kini telah merayap kembali menjadi hitam normal, kelopak matanya terpejam rapat, dan napasnya berembus sangat tipis, terlalu tipis untuk ukuran seorang master yang memiliki denyut batin kuat. Dia seperti sebuah patung giok hitam yang kehilangan ruhnya, terjebak dalam tidur abadi yang entah kapan akan berakhir.

Di sisi sebelah kiri ranjang, duduk Chen Yang kecil. Bocah delapan tahun itu tampak sangat kurus. Matanya sembap, dikelilingi lingkaran hitam karena selama seminggu penuh dia menolak untuk tidur dengan layak, bersikeras untuk tetap duduk di sebuah kursi kayu kecil di samping Yu Fan sembari memeluk boneka jerami sutra perak pemberian sang kakak.

Sret...

Pintu kamar medis tiba-tiba terbuka dengan kasar, menampilkan sesosok gadis berpakaian kuning-merah khas kekaisaran. Jin Yuexin melangkah masuk membawa sebuah mangkuk berisi ramuan obat baru. Perutnya yang seminggu lalu bolong akibat tusukan tangan master tingkat 7 kini telah tertutup rapat berkat mukjizat energi emas Chen Yang, namun wajahnya masih tampak pucat dan guratan kecemasan tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.

"Dia masih belum membuka matanya, Chen Yang?" tanya Yuexin dengan suara yang terdengar serak dan lelah. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil.

Chen Yang hanya menggelengkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah kaku Yu Fan. "Belum, Kak Yuexin... Kakak Yu Fan masih sangat dingin. Detak jantungnya terasa sangat jauh di dalam."

Yuexin mengembuskan napas panjang, berjalan mendekat dan mengusap rambut Chen Yang sejenak sebelum tatapannya turun menatap Yu Fan. Rasa bersalah yang teramat besar menghujam dadanya. “Jika saja hari itu aku tidak egois memintanya menemaniku ke kota... jika saja aku cukup kuat untuk tidak menjadi sandera... kau tidak akan berakhir seperti ini, Yu Fan,” batin Yuexin menjerit pedih.

BRAK!

Belum sempat Yuexin duduk, pintu kamar medis kembali didorong terbuka, namun kali ini dengan hantaman batin yang cukup keras hingga membuat engsel pintunya bergetar.

Sesosok wanita dengan gaun sutra putih bersinar yang mengembang indah, dihiasi ornamen perak berbentuk bulan sabit di sepanjang pinggiran kainnya, melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Wajah cantiknya dipenuhi peluh, rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena dia telah melakukan perjalanan gila tanpa henti menyeberangi lautan luas.

Yan Er.

Gadis timur dari Benua Barat, perwakilan Akademi Saint-Aurelius itu, akhirnya tiba. Begitu mendapatkan kabar burung spiritual bahwa Yu Fan berada di ambang kematian setelah pertempuran anomali seminggu lalu, Yan Er langsung meninggalkan seluruh urusan faksinya, menggunakan teknik transmisi ruang tercepat yang dia pelajari, dan memacu energinya melintasi sekat benua hanya untuk sampai ke tempat ini.

"Suamiku!!!" pekik Yan Er, suaranya bergetar hebat penuh kepanikan. Dia mengabaikan keberadaan Yuexin dan Chen Yang, langsung berlari menerjang ke sisi kanan ranjang Yu Fan.

Melihat kedatangan Yan Er yang tiba-tiba dan langsung menerobos masuk dengan panggilan intim tersebut, alis Jin Yuexin seketika menukik tajam. Rasa cemburu dan gengsi kerajaannya yang sempat padam seminggu ini mendadak tersulut kembali.

"Kau?! Bagaimana bisa kau berada di sini, Yan Er?! Dan jaga mulutmu! Siapa yang kau sebut suami di dalam wilayah akademi kami, hah?!" ketus Yuexin, langsung berdiri tegak menghadap Yan Er di seberang ranjang.

Yan Er yang sedang memeriksa nadi Yu Fan menoleh, sepasang matanya berkilat tajam dengan aura bulan yang dingin. "Jin Yuexin... menyingkir lah! Aku tidak punya waktu untuk melayani kecemburuan anak manja mu itu! Aku datang jauh-jauh dari Benua Barat karena mendengar suamiku sekarat! Dan dari apa yang kulihat sekarang, ini semua pasti karena ketidakberdayaan mu yang membuatnya harus melampaui batas kultivasinya untuk melindungi mu!"

"Apa kau bilang?!" Wajah Yuexin memerah karena amarah yang bercampur rasa bersalah yang terpancing. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi malam itu! Jangan berani-berani menuduhku di depan tubuh Yu Fan yang sedang terluka!"

"Aku tahu lebih dari cukup!" balas Yan Er tak kalah sengit, suaranya melengking tajam di dalam kamar yang sempit. "Jika kau becus menjaganya sebagai rekan di akademi ini, dia tidak akan tergeletak kaku seperti mayat sekarang! Lihat bentuk tubuhnya, energi spiritualnya terkunci total dari dalam! Di mana Lin Xueru?! Di mana para tetua agung kalian yang katanya hebat itu?! Kenapa kalian membiarkan suamiku bertarung sendirian melawan monster-monster kuno?!"

Perdebatan dan adu mulut antara kedua gadis itu semakin memanas, memecah keheningan kamar batin Yu Fan dengan atmosfer ketegangan yang pekat. Mereka saling melempar tatapan cemburu dan kemarahan, masing-masing merasa memiliki hak paling besar atas pemuda yang sedang tidak sadarkan diri itu. Lin Xueru sendiri sengaja tidak terlihat di sekitar paviliun medis; gadis teratai itu memilih mengurung diri di menara suci sektenya sejak malam itu, terlalu syok dan ngeri melihat esensi tersembunyi Yu Fan.

"Hentikan... mohon hentikan, Kak Yan Er, Kak Yuexin..."

Sebuah suara cicitan kecil yang bergetar tiba-tiba memotong perdebatan mereka. Chen Yang berdiri dari kursi kecilnya, tubuh mungilnya bergetar hebat dengan air mata yang kembali mengalir deras membasahi pipinya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas boneka jerami di tangannya hingga jemarinya memutih.

"Jangan bertengkar... ini semua... ini semua sebenarnya adalah kesalahan Chen Yang..." ucap bocah itu parau, dadanya kembang kempis menahan tangis. "Malam itu... Kakak Yu Fan sudah berhasil menahan mereka. Tapi Chen Yang bodoh... Chen Yang berlari ke tengah lapangan karena ketakutan... Chen Yang tertangkap dan menjadi sandera. Kakak Yu Fan menjatuhkan pedangnya dan membiarkan dirinya dipukuli ribuan kali oleh orang tua jahat itu hanya demi melindungi Chen Yang... Jika saja Chen Yang tidak keluar dari tempat persembunyian, Kakak Yu Fan tidak akan terluka parah seperti ini... Hiks... Kakak Yu Fan, maafkan Chen Yang..."

Mendengar pengakuan jujur yang sarat dengan kepedihan dari mulut bocah yatim piatu itu, perdebatan sengit antara Yan Er dan Jin Yuexin seketika terhenti total. Kamar kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekik.

Yan Er menatap Chen Yang sejenak, lalu pandangannya turun ke arah boneka jerami yang didekap erat oleh anak itu. Dia mengenali jalinan benang sutra perak kebiruan tersebut, itu adalah boneka jerami yang dia berikan sendiri kepada Yu Fan saat mereka berpisah di perbatasan lima bulan lalu. “Dia... Yu Fan benar-benar memberikan benda sepenting ini kepada anak ini...” batin Yan Er, menyadari betapa berharganya Chen Yang bagi Yu Fan.

Rasa amarah di dada Yan Er perlahan mencair, berganti menjadi keheningan yang dalam. Jin Yuexin pun perlahan kembali duduk di kursinya, menatap jemari Yu Fan yang kaku dengan pandangan kosong yang semenit lalu penuh emosi. Kedua gadis itu sama-sama termenung, menyadari bahwa saling menyalahkan dan memelihara api cemburu tidak akan pernah bisa membangunkan pemuda yang mereka cintai dari tidur panjangnya.

Secara tidak sadar, dalam momen keheningan yang murung itu, tangan kanan Yan Er terulur, menggenggam telapak tangan kiri Yu Fan yang dingin. Di seberang ranjang, Jin Yuexin melakukan hal yang sama; tangan halusnya bergerak menggenggam telapak tangan kanan Yu Fan. Meskipun sepasang mata mereka sempat bertemu dan kembali memercikkan rasa cemburu yang samar, kali ini mereka berdua memilih untuk menepis ego tersebut terlebih dahulu. Fokus mereka berdua menyatu pada satu doa yang sama agar Yu Fan segera bangun.

Di dimensi yang sama sekali berbeda, jauh di dalam lubuk jiwa terdalam yang tersembunyi di balik kegelapan batinnya...

Kesadaran Yu Fan saat ini sedang duduk bersila di atas permukaan air hitam yang tenang tak berujung. Kondisi jiwanya dipenuhi oleh retakan-retakan energi spiritual berwarna merah yang terus berfluktuasi tidak stabil. Dia sedang fokus memulihkan diri, menjalin kembali meridian spiritualnya yang sempat terkoyak akibat memaksakan kekuatan melampaui batas ranahnya fana.

"Hahaha... menyerahlah, Yu Fan. Kau tidak akan bisa memulihkan wadah ini sendirian."

Sebuah suara tawa yang sangat maskulin, berat, dan sarat dengan nada intimidasi yang pekat kembali menggema dari kegelapan di belakangnya. Sosok bayangan hitam yang memiliki postur tubuh yang persis sama dengan Yu Fan, namun diselimuti aura merah menyala yang membara bagai api neraka, perlahan berjalan mendekat. Sosok itu terus mengitari tubuh kesadaran Yu Fan, mencoba menggoda dan memprovokasi pertahanannya.

"Kau lihat apa yang terjadi seminggu lalu? Kau hampir mati menjadi tumpukan daging hancur hanya karena kau menolak memberikan kendali penuh wadah fisik ini kepadaku," goda sosok batin tersebut, wajah bayangannya menyeringai kejam. "Dunia fana ini terlalu rapuh untukmu. Berikan jiwamu kepadaku, biarkan aku yang mengambil alih kesadaran ini secara permanen, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun semut di luar sana yang bisa menyentuh gadis-gadis atau anak kecil itu lagi. Kau hanya perlu tidur di dalam sini selamanya."

Yu Fan tidak membuka matanya. Wajah kagonya tetap datar, seolah godaan batin yang bisa membuat kultivator biasa jatuh ke dalam kegilaan itu hanyalah embusan angin lalu.

Dia menarik napas batinnya dalam-dalam, lalu melepaskan seberkas hentakan energi spiritual hitam murni dari pusat Dantian jiwanya.

BOOM!

Hentakan energi itu membuat sosok bayangan di sekitarnya terpaksa mundur beberapa langkah karena tekanan yang kuat. Yu Fan perlahan membuka sepasang matanya yang berwarna hitam normal, menatap lurus ke arah manifestasi kekuatannya sendiri dengan tatapan yang sangat dingin dan absolut.

"Kau salah menilai posisi, wahai entitas batin," ucap Yu Fan dengan suara datar namun sarat dengan otoritas mutlak seorang master. "Tegaskan ini di dalam ingatanmu: Akulah pemilik sah dari wadah tubuh ini. Akulah tuanmu yang sesungguhnya. Kau... tidak lebih dari sekadar instrumen kekuatan yang bersemayam di dalam garis darahku. Kau adalah milikku, dan kau tidak akan pernah memiliki hak, kemampuan, atau otoritas sedikit pun untuk mengendalikan kesadaranku. Tetaplah berada di tempatmu, atau aku akan menyegel mu kembali ke dalam ruang hampa terdalam."

Sosok bayangan merah itu mendengus kesal, senyuman miringnya memudar digantikan oleh tatapan dingin yang enggan. Namun, dia tahu bahwa tekad batin Yu Fan terlalu kokoh untuk dihancurkan oleh provokasi biasa. Sosok itu perlahan-lahan mundur, larut kembali ke dalam kegelapan batin, membiarkan Yu Fan melanjutkan proses meditasi pemulihan jiwanya secara mandiri.

Kembali ke realitas kamar medis, Yan Er melepaskan genggaman tangannya dari Yu Fan sejenak. Wajah cantiknya mengeras penuh tekad.

"Aku tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu seperti ini," ucap Yan Er tegas.

Dia berdiri, merentangkan kedua tangannya di atas dada Yu Fan. Dari telapak tangan Yan Er, memancar keluar seberkas cahaya perak transparan yang sangat lembut, memancarkan esensi sihir pemulihan bulan tingkat tinggi yang dia pelajari secara khusus di bawah bimbingan para tetua suci Akademi Saint-Aurelius di Benua Barat. Cahaya perak itu turun bergelombang, mencoba merembes masuk ke dalam pori-pori kulit Yu Fan untuk merangsang sirkulasi batinnya yang membeku.

Namun, begitu cahaya sihir barat itu menyentuh permukaan kulit Yu Fan, sebuah reaksi penolakan spiritual langsung terjadi.

BZZZT! Riak sihir perak itu mendadak terpental kembali ke udara, buyar menjadi partikel kecil tanpa bisa masuk bahkan satu milimeter pun ke dalam pembuluh darah Yu Fan.

Yan Er terhuyung mundur satu langkah, wajahnya dipenuhi keterkejutan yang mendalam. "T-Tidak mungkin... Struktur energi di dalam tubuhnya menolak seluruh stimulasi eksternal dari luar faksi... ini seperti sebuah benteng baja yang mengunci diri dari dalam!"

Krieeet...

Pintu kamar kembali terbuka, dan kali ini dua sosok tetua tertinggi akademi melangkah masuk dengan jubah yang masih menyisakan bekas noda debu pembangunan rekonstruksi. Dekan Akademi dan Wakil Dekan berjalan mendekati ranjang dengan wajah yang dipenuhi oleh sisa-sisa kelelahan akibat luka dalam yang belum sepenuhnya sembuh dari pertempuran seminggu lalu.

"Percuma, Nona Muda dari Barat," ucap Dekan Akademi dengan suara beratnya yang berwibawa, menatap Yan Er dengan tatapan lembut. "Sihir pemulihan dari Benua Barat atau obat herbal terbaik dari timur tidak akan mampu menembus pertahanan batin muridku saat ini."

"Kakek Dekan! Wakil Dekan!" Yuexin langsung berdiri, membungkuk hormat sejenak sebelum mendekat panik. "Apakah tidak ada cara lain? Ayahanda kekaisaran bahkan sudah menawarkan untuk mengirimkan tabib istana terbaik, tapi aku menolaknya karena tahu kemampuan medis akademi lebih tinggi."

Wakil Dekan menghela napas panjang, janggut putihnya bergerak saat dia melambaikan tangan kanan ke udara. "Kami sudah memprediksi hal ini. Hari ini, aku dan Dekan sengaja datang untuk mencoba opsi terakhir kita."

Wakil Dekan dan Dekan mengambil posisi di ujung kepala dan ujung kaki ranjang Yu Fan. Kedua tetua agung itu menjalin jemari mereka dengan sangat cepat, melepaskan sisa-sisa energi spiritual murni Ranah Grandmaster mereka ke atas lantai kamar.

HUMMM!

Sebuah formasi lingkaran spiritual berwarna hijau giok yang sangat besar, dipenuhi dengan simbol-simbol pemulihan hidup kuno, langsung bermanifestasi di bawah ranjang tempat Yu Fan terbaring. Sembilan aliran cahaya hijau yang sarat dengan esensi tumbuhan spiritual berumur ratusan tahun melesat naik, mengunci posisi tubuh Yu Fan, mencoba memaksa masuk menembus pusat Dantian pemuda itu untuk mengalirkan energi kehidupan baru.

Dua menit... lima menit... hingga dahi Dekan dan Wakil Dekan dipenuhi peluh, formasi hijau giok itu terus berputar dengan kekuatan maksimal. Namun, pemandangan di atas ranjang tetap tidak berubah. Tubuh Yu Fan tetap kaku, wajah kagonya tidak menunjukkan respons sedikit pun, dan sembilan aliran cahaya hijau itu hanya berputar-putar di permukaan kulitnya tanpa bisa memberikan efek kesadaran apa pun.

Dengan helaan napas penuh kekecewaan, Dekan menarik kembali energinya, membuat formasi penyembuh tingkat tinggi itu lenyap perlahan dari lantai kamar.

"Tetap tidak berhasil..." ucap Wakil Dekan sambil menggelengkan kepala, menyeka peluh di keningnya dengan lengan jubah. "Ini benar-benar di luar jangkauan logika medis biasa."

"Kakek Dekan, kenapa bisa seperti ini?!" tanya Yan Er dengan nada menuntut, matanya mulai berkaca-kaca karena keputusasaan yang mulai memuncak. "Dia sudah memenangkan pertempuran! Kenapa tubuhnya menolak untuk disembuhkan?!"

Dekan Akademi berjalan mendekat ke arah jendela, menatap pemandangan kota di luar yang sedang dibangun kembali sebelum berbalik menatap Yan Er dan Yuexin bergantian.

"Kesadaran dan jiwanya tidak rusak secara fisik, Nona Muda," jelas Dekan dengan nada batin yang dalam. "Masalahnya adalah... energinya saat ini sedang tertahan di dalam dimensi batinnya sendiri. Dia sedang mengalami konflik atau proses meditasi pemulihan tingkat ekstrem yang mengunci seluruh akses indra eksternalnya dari luar. Tubuhnya mengunci diri agar tidak ada gangguan luar yang bisa menghancurkan fondasi batinnya saat dia sedang menyusun kembali meridian spiritualnya yang sempat hancur malam itu. Kita hanya bisa menunggu sampai kesadarannya sendiri yang memutuskan untuk membuka pintu benteng tersebut."

Mendengar penjelasan Dekan, Jin Yuexin terduduk kembali di kursinya dengan lemas. Namun, sebuah ingatan mengerikan dari malam pertempuran itu mendadak melintas kembali di kepalanya, memicu rasa penasaran dan ketakutan yang teramat sangat yang selama seminggu ini dia simpan di dalam hati.

Yuexin mendongak, menatap lurus ke arah Dekan dan Wakil Dekan. "Kakek Dekan... jika kita memang harus menunggu, ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku sejak malam jahanam itu. Sesuatu yang membuat seisi akademi merinding sebelum pertempuran pecah."

Yan Er dan Chen Yang ikut menajamkan pendengaran mereka, menatap Yuexin dengan serius.

"Malam itu," lanjut Yuexin, suaranya sedikit bergetar saat mengucapkan kata-kata berikutnya, "tiga mayat hidup kuno master tingkat 7 itu... sebelum mereka hancur, dan bahkan saat pertama kali mereka melihat perubahan wujud Yu Fan yang berambut putih... mereka terus berteriak ketakutan dan menyebut sebuah nama dengan penuh kesakralan. Mereka menyebut nama... Asura atau Dewa Asura."

Yuexin mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Aku sudah mencari di seluruh paviliun buku sejarah kerajaan dan perpustakaan akademi selama tiga hari terakhir, namun tidak ada satu pun informasi, catatan kuno, atau manuskrip lama yang membahas tentang hal itu. Kakek Dekan... sebenarnya, Asura itu apa? Dan siapa sosok yang mereka sebut dengan nama itu? Kenapa nama itu bisa membuat tiga monster tingkat 7 dari 10.000 tahun lalu ketakutan setengah mati hingga menyebutnya sebagai Penguasa Alam Tingkat 9?"

Mendengar pertanyaan mendalam dari Putri Kekaisaran tersebut, suasana di dalam kamar medis mendadak berubah menjadi sangat berat.

Dekan Akademi dan Wakil Dekan saling bertukar tatapan mata yang dipenuhi oleh keheningan yang panjang dan ekspresi kaku. Dekan mengembuskan napas panjang, berjalan mendekati meja kecil dan menatap mangkuk ramuan obat yang mulai mendingin.

"Pertanyaanmu adalah sebuah misteri yang tabu, Yuexin," ucap Dekan Akademi dengan suara yang terdengar sangat pelan, seolah-olah nama itu memiliki bobot yang terlalu berat jika diucapkan dengan keras di dunia fana ini. "Dan kenyataannya... kau tidak akan pernah menemukan nama itu di dalam buku sejarah mana pun di dataran ini, karena nama itu adalah sesuatu yang sengaja dihapus dari memori dunia fana semenjak puluhan milenia yang lalu."

Wakil Dekan melangkah maju, menjalin kedua tangannya di belakang punggung dengan tatapan mata yang menerawang jauh menembus dinding kamar. "Berdasarkan sisa-sisa tradisi lisan purba yang hanya diturunkan secara rahasia di antara para pemimpin sekte tertinggi dari generasi ke generasi... kami sendiri tidak memiliki informasi pasti atau detail mengenai siapa atau apa sebenarnya Asura itu. Tidak ada teks tertulis yang tersisa."

"Namun," lanjut Wakil Dekan, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan batin yang sarat dengan legenda, "rumor kuno mengatakan bahwa Asura bukanlah nama dari sebuah sekte, faksi, ataupun gelar kultivasi biasa di dunia kita. Nama itu diasosiasikan dengan sebuah eksistensi mitologis kuno dari alam atas, sebuah entitas Dewa Kematian sekaligus Dewa Perang absolut yang konon memiliki kekuatan penghancur yang mampu menggetarkan fondasi sembilan ranah langit jika dia murka."

Dekan kembali menyahut, tatapannya beralih menatap wajah tidur Yu Fan dengan ekspresi yang sulit diartikan sebuah campuran antara rasa hormat, ketakutan, dan perlindungan seorang guru. "Kenapa tiga leluhur mayat hidup dari 10.000 tahun lalu itu menyebut nama tersebut saat melihat Yu Fan? Kami menduga... itu karena pancaran aura merah pekat dan haus darah mutlak yang dilepaskan Yu Fan malam itu secara tidak sengaja menyerupai deskripsi energi dalam legenda kuno tentang entitas dewa perang tersebut. Bagi makhluk dari era kuno seperti mereka, jenis tekanan batin seperti itu adalah tanda dari kematian mutlak yang tidak bisa dilawan oleh hukum alam fana kita."

Dekan melangkah mendekati ranjang, mengusap pundak mungil Chen Yang yang sedang mendengarkan dengan mata bulatnya. "Tapi bagi kita sekarang, di dalam kamar ini... terlepas dari apa pun jenis energi aneh yang dia simpan di dalam tubuhnya, terlepas dari mitos atau sebutan apa pun yang diteriakkan oleh musuh malam itu... pemuda ini tetaplah Yu Fan. Dia adalah murid dari Akademi Langit Biru, kakak dari Chen Yang, dan sosok rekan yang telah mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk memastikan kita semua yang ada di sini bisa melihat matahari pagi hari ini. Jati dirinya di dunia ini tidak ditentukan oleh ketakutan musuh-musuhnya, melainkan oleh ketulusan tindakannya untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya."

Mendengar penegasan yang sangat bijaksana dari Dekan Akademi, Jin Yuexin dan Yan Er tertegun sejenak. Kata-kata tetua agung itu seolah menyiramkan air dingin ke atas kobaran rasa penasaran dan ketakutan mereka.

Yan Er menatap wajah kaku Yu Fan, lalu perlahan kembali menggenggam jemari kiri pemuda itu dengan kedua tangannya, mendekapkannya ke pipinya yang halus. “dekan kalian benar... aku tidak peduli apakah kau menyimpan kekuatan dewa, iblis, atau apa pun di dalam garis darahmu, Suamiku,” batin Yan Er, air matanya menetes pelan mengenai punggung tangan Yu Fan. “Yang aku tahu, kau adalah pria kaku yang mengampuni nyawaku di pasar malam itu, pria yang membuatku jatuh cinta di pertandingan hari itu. Bangunlah... mohon bangunlah...”

Yuexin pun kembali duduk, tangannya menggenggam erat telapak tangan kanan Yu Fan dengan jari-jari yang bertautan rapat. Dia menundukkan kepalanya, membiarkan poni rambutnya menutupi sepasang matanya yang mulai basah. “Aku tidak peduli tentang legenda Asura atau tingkat 9... aku hanya ingin kau kembali berdiri di koridor akademi ini, mendengar omelanku seperti biasa, Yu Fan... bangunlah, kumohon...” rintih Yuexin di dalam hatinya.

Di tengah-tengah keheningan doa dan tetesan air mata dari dua gadis yang berasal dari dua benua yang berbeda itu, Chen Yang kecil merangkak maju, meletakkan boneka jerami sutra perak tepat di atas dada Yu Fan yang bergerak naik-turun sangat lambat. Mereka semua terdiam dalam kemurungan yang mendalam, bersatu dalam kesunyian kamar medis, menunggu dalam ketidakpastian yang membentang luas di bawah langit pagi Akademi Langit Biru yang perlahan mulai cerah kembali.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!