Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANAH BERACUN
Adipati Sengko dan Punggawa Buksa bersimpuh di hadapan Prabu Laksa. Mereka menyampaikan apa yang mereka alami, termasuk penemuan Srikandi.
"Bagaimana kalian bisa melewati panah itu? Abda sudah gugur seminggu lalu dan kalian baru tau jika ada panah beracun yang menancap di salah satu pohon waru?" Prabu Laksa menatap dua anak panahnya tak percaya.
"Ampun Sri Baginda Raja! Kami telah menyisir seluruh wilayah bukit. Tapi memang waktu itu, panah tersebut tidak kami temukan!" jawab Adipati Sengko menunduk.
Terdengar suara helaan nafas berat dari Prabu Laksa. Ia duduk lemas di singgasananya. Ketakutannya telah jadi nyata.
"Panah yang menancap di punggung Ki Abda hangus akibat ilmu Ki Abda sendiri. Kita tak bisa tau siapa yang menyerang kita dari belakang ...," gumamnya lirih.
"Lalu apa kalian memeriksa pohon itu?" tanyanya kemudian.
"Ampun sekali lagi Sri Baginda Raja. Pohon itu sudah ditebang oleh Srikandi hanya dengan lima belas pukulan kapak ...."
"Tunggu, kau bilang apa tadi? Lima belas pukulan kapak?" tanya Prabu Laksa memotong.
"Benar Sri Baginda! Bahkan kami yakin jika Srikandi memakai Ki Abot untuk menumbangkan pohon itu!" jawab Adipati Sengko.
Rahang Prabu Laksa mengeras, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi santer memang bisik-bisik para ajudan Ki Abda, jika ia melatih putrinya di atas bara setelah Srikandi pandai berjalan.
"Dia benar-benar melatihnya," gumamnya pelan dan sangat menyayangkan.
"Berapa usia Srikandi?" tanyanya kemudian.
"Tujuh belas tahun, Sri Baginda!" jawab Punggawa Buksa.
"Mestinya ia merias diri, untuk menarik lawan jenis ...," Prabu Laksa menghentikan ucapannya.
"Tapi masalah kematian ayahnya. Srikandi pasti tak menginginkan pernikahan!" lanjutnya.
"Maaf lancang Sri Baginda!' sahut Buksa menunduk dalam kepalanya.
'Katakan Buksa!' suruh Prabu Laksa.
"Saya memiliki Putra bernama Danar Pati Buksa, saya hendak menjodohkan ...."
"Aku tidak setuju!" sebuah suara dari arah keputran ratu.
Buksa menundukkan kepalanya ke lantai begitu juga Adipati Sengko. Sri Baginda Ratu Sandika, melewati mereka dengan berjongkok begitu juga para abdi dalem dan para dayang ke arah Prabu Laksa.
"Ampun Kangmas Gusti! Hamba menghadap dan menolak permintaan Punggawa Buksa!" ujar Sandika sambil mengatup tangan dan mengangkatnya ke atas kepala.
"Ampunanmu diterima Nyimas Ratu!" sahut Prabu Laksa.
Di Kerajaan Kali Ireng, istananya memiliki dua singgasana. Salah satunya adalah singgasana utama yang ditempati Prabu Laksa. Sementara satunya lagi adalah singgasana milik Sri Baginda Ratu Sandika. Hanya saja singgasana milik Sandika lebih kecil dibandingkan milik sang raja.
"Duduklah di sini, Nyimas!' suruh Prabu menepuk singgasana di sisinya.
Sandika berdiri dibantu para dayang dan duduk di sisi suaminya.
"Katakan kenapa kau keberatan dengan perjodohan Srikandi dengan putranya Buksa?" tanya Prabu Laksa.
"Hamba sering mendengar jika Danar suka bermain di tempat Nyimas Padan Laran!' jawab Sandika.
"Itu fitnah Sri Baginda Ratu!" bantah Buksa tentu saja.
"Aku sendiri yang melihat putramu membopong seorang wanita ke rumah pelacuran itu!" seru Sandika keras.
Punggawa Buksa terdiam. Bukan sekali dua kali ia mendengar kebengalan putranya. Bahkan istrinya sendiri sampai pusing bagaimana menasihati putra satu-satunya itu.
"Buksa!" punggawa itu makin dalam menempelkan mukanya di lantai istana yang dingin.
"Cari tau panah yang diambil Srikandi dan kalau bisa, cegah anak itu berlaku seperti jagoan!" perintah Prabu Laksa tegas.
"Baik Sri Baginda!" seru Adipati Sengko dan Punggawa Buksa.
Mereka pun beringsut mundur sambil jongkok sampai keluar dari pilar besar yang memisahkan aula singgasana dan aula among-among tamu.
Adipati menatap punggawanya. Wajah Buksa masih memerah akibat sentakan dari ratu mereka.
"Buksa ... Bukan aku mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, kau harus keras terhadap putramu. Jika saja kau memaksa menyandingkan Danar dengan Srikandi ...," Sengko menghentikan ucapannya.
"Aku yakin, sebelum malam pertama. Putramu sudah tewas di tangan Srikandi ...," lanjutnya hati-hati.
"Hamba juga melatih putra hamba Adipati!" seru Buksa.
"Aku tau ... Kau pasti melatih putramu!' sahut Sengko mahfum.
"Tapi kau telah menyaksikan bagaimana ilmu Srikandi. Bilik raga, serep sirep dan pukulan natas tilas pada pohon tanpa merusak sari pohon ...," Sengko menggeleng pelan.
"Bahkan jika aku beradu ilmu dengan gadis itu. Aku pastikan kakiku patah terlebih dahulu Buksa," lanjutnya yakin.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan warna jingga kemerahan yang seolah membakar langit di atas wilayah Kali Ireng.
Di luar aula singgasana, Adipati Sengko melangkah dengan tenang, sementara Punggawa Buksa berjalan di sampingnya dengan rahang terkatup rapat dan tangan yang mengepal emosi.
Adipati Sengko melirik sahabat lamanya itu sekilas.
“Aku tidak bermaksud merendahkan putramu,” ujarnya pelan.
Buksa menghela napas berat.
“Hamba paham, Adipati.”
“Tapi kau juga tahu bagaimana Ki Abda dulu,” sambung Sengko, Buksa terdiam.
Sementara di lereng bukit, rumah sederhana milik Srikandi sedikit ricuh. Rukmi dan putranya sudah tidur di bilik kamar, Srikandi harus tidur bersama bibinya, karena kamarnya dipakai oleh Doko.
"Apa Paman Sakta tidak kehilangan Bibi?" gumamnya bertanya sambil menatap dua kamar yang tertutup.
Dengkuran Doko terdengar sangat keras, sampai-sampai Srikandi harus mengerahkan sedikit tenaga inti untuk menyumbat pendengarannya.
Ia menghela nafas panjang, tentu saja suami dari Rukmi tak akan mencari istri dan putra mereka. Pria itu kini ada di warung paling ramai di lokasi paling ujung desa Tiro.
Desa paling luar dari kerajaan Kali Ireng, sebuah desa yang berpapasan dengan perbatasan seluruh wilayah. Semua niaga bermuara di sana, perputaran pajak kerajaan paling tinggi ada di sana.
Warung Nyimas Padan Laran, sebuah warung kopi dengan pelayan yang bertubuh indah, mereka masih muda-muda bahkan ada yang masih berusia sepuluh tahun. Kemiskinan dan kurangnya pendidikan pada anak perempuan. Membuat para orang tua menjajakan putri mereka di sana.
Perjudian dan minuman keras, sabung ayam jadi tontonan dan hiburan para laki-laki yang mestinya pulang.
"Paman Sakta pasti di sana menghabiskan hasil upah tanam padi," keluh Srikandi sambil menghela nafas panjang.
Ia duduk di alas nipah kering, ia mengeluarkan panah yang baru saja ia cabut dari pohon waru.
"Jika dilihat dari bentuknya, panah ini bukan dari kerajaan Jalapati?' Srikandi membolak-balikkan anak panah yang sudah menghitam itu.
"Anak panah terbuat dari kayu besi ... Pantas ... Seluruh ilmu pasti rontok. Terlebih ayah kelelahan setelah menebas seratus musuh ...," gumamnya.
Srikandi mengelus panah itu perlahan dengan ujung jarinya. Lalu tersadar jika ada aksara Jawa kuno tertulis di sana.
"Ini ... Tulisan ini?" Srikandi kembali meraba ukiran yang ia raba.
"Apa artinya?" Srikandi bangkit, ia pergi ke dapur dan mengambil belati.
Gadis itu lalu kembali ke tempatnya, ia meraba panah dan mengukir tulisan itu ke pilar kayu. Hingga ....
"Ini.... Tulisan Jawa kuno, honocoroko?" bisiknya penuh tanda tanya.
Bersambung.
wah....
Next?
nyi padan serem akh
lanjut