Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mayat Bandit dan Hati yang gelisah
Mereka berdua berjalan memutar melewati jembatan batu kecil dan bergegas menghampiri objek tersebut. Langkah kaki mereka melambat saat aroma busuk yang teramat menyengat mulai menusuk hidung mereka.
"Itu manusia!" seru Kirana, matanya membelalak.
"Manusia? Kita harus tetap berhati-hati, Kirana," sahut Alexa.
"Dia tampaknya hanya tertidur, Alexa. Aku akan coba mendekatinya perlahan-lahan," ucap Kirana walau tangannya mulai gemetar.
Namun, baru beberapa langkah maju, bau busuk yang menyerupai bangkai kian pekat di udara, membuat mereka mendadak mual.
"Huekkk! Emm... baunya sangat menyengat, kayaknya benar berasal dari manusia itu," keluh Alexa sambil menutup hidungnya.
"Huekk... Iya nih, dia belum mandi berhari-hari kayaknya," sahut Kirana, mencoba menolak kenyataan buruk di depannya.
Sambil menahan mual dan terus menutup hidung, Kirana memberanikan diri berlutut. Ia mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk pundak orang yang tertelungkup itu.
"Hmmmpp... Maaf Pak, permisi..." Namun, tubuh itu tetap kaku, tidak merespons sama sekali.
Di sampingnya, Alexa menatap pakaian dan postur tubuh itu. Seringai tipis nyaris dari bibirnya.
(Tunggu... ini kan? Rekan bandit yang waktu itu? Sialan, jadi mayatnya malah hanyut sampai ke dalam area taman istana?) batin sang Pengintai tak percaya.
"Gak bangun-bangun nih, Alexa. Coba aku geser badannya ya," ujar Kirana.
Dengan sekuat tenaga, Kirana menarik bahu pria itu hingga posisinya berubah menjadi terlentang. Begitu tubuh itu berbalik, Kirana spontan menjerit histeris. Wajah mayat pria itu sudah hancur mengerikan akibat benturan batu sungai, membengkak, dan dipenuhi belatung yang menggeliat menjijikkan. Tak hanya itu, di sekujur pakaian hitamnya robek, memperlihatkan belasan bekas tikaman fatal.
"Huaaaahhhh! Hueeekk... Dia... dia sudah meninggal! Aku gak kuat melihatnya, huekkk!" jerit Kirana, mundur beberapa langkah.
Alexa ikut mundur, berakting ketakutan setengah mati. "Huekk, ehh... ada belatung di wajahnya! Ayo kita laporkan kejadian ini ke prajurit sekarang, Kirana!"
"K-kita menjauh dulu, Alexa. Kau pantau saja dari seberang sungai ini. Nanti aku yang akan langsung melapor ke prajurit jaga dan Menteri Ethan!" perintah Kirana.
Mereka berdua segera menyeberangi jembatan kembali. Sementara Alexa berdiri memantau di seberang, Kirana berlari kencang menuju pos penjagaan terdekat. Napasnya tidak teratur, keringat dingin membasahi dahinya saat menghampiri salah seorang prajurit.
"Hosh... hosh... Pak Prajurit! Hosh..."
Prajurit jaga itu terkejut dan langsung memberi hormat. "Atur napas dulu, Tuan Putri. Maaf, ada keperluan mendesak apa?"
"T-tolong... ada mayat pria di seberang sungai taman kerajaan, Pak Prajurit!" seru Kirana terbata-bata.
"Mayat?!"
"Ya, segera cek ke sana sekarang! Aku harus pergi melapor dulu ke Menteri Ethan!" ucap Kirana, lalu kembali berlari menuju koridor dalam istana.
Prajurit itu langsung memberi aba-aba kepada rekannya dan bergegas menuju lokasi. Sementara itu, Kirana tiba di depan ruang kerja Menteri Ethan. Di dalam ruangan, Menteri Ethan sebenarnya sedang duduk memandangi tumpukan berkas, menggerutu sendirian mengenai kasus yang sedang memusingkan kepalanya.
"Hmmpp... laporan tentang dua bandit ini masuk sejak sore kemarin. Tetapi hingga pagi ini, prajurit kami belum bisa menemukan mereka sama sekali, padahal mereka hanya bergerak berdua," gumam Ethan frustrasi.
"Aku sudah memberikan arahan ketat kepada prajurit untuk memeriksa setiap pos gerbang, tetapi tidak ada satu pun ciri-ciri orang tersebut keluar dari daerah Central. Kami juga sudah menyisir pelosok, tapi belum menemukan apa pun. Apa mereka sudah kabur duluan sebelum laporan itu sampai ke istana?"
BRAKK!
Pintu ruangan terbuka kencang. Kirana masuk dengan napas tersengal-sengal. Melihat kedatangan sang putri yang tampak syok, Menteri Ethan langsung berdiri dari kursi kerjanya.
"Maaf Tuan Ethan, hosshh... aku ingin melaporkan sebuah temuan..."
"Tarik napas dulu saja, Tuan Putri. Tenang," potong Ethan menenangkan. "Ada apa? Laporan apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"Aku... aku melihat sesosok mayat di seberang sungai taman kerajaan!"
"Mayat?!" terkejut Ethan.
"Ya, aku dan Alexa baru saja menemukannya barusan. Mayat itu mempunyai muka yang hancur, berambut lebat, memakai jaket hitam, bercelana hitam, dan sepatu bot warna cokelat. Tubuhnya agak berisi," rinci Kirana.
Mendengar ciri-ciri mendetail itu, Perdana Menteri Ethan berdegup kencang.
(Tunggu... kenapa ciri-ciri fisik itu sangat mirip dengan salah satu bandit yang sedang kami buru sejak sore kemarin?!) batin Ethan curiga.
"Aku sudah melaporkannya ke prajurit terdekat, Pak Ethan," tambah Kirana.
"Ok, bagus. Ayo kita langsung ke sana!" tanggap Ethan tegas.
Menteri Ethan dan Kirana bergegas menuju taman. Sesampainya di tepi sungai, beberapa prajurit sudah memasang garis pengamanan dan berjaga di sekitar lokasi. Di seberang sungai, Alexa masih berdiri mengamati.
Melihat kedua gadis remaja itu berada di dekat lokasi penemuan yang mengerikan, Menteri Ethan langsung berbalik dan menghimbau mereka demi keselamatan psikologis sang putri.
"Tuan Putri Kirana dan Alexa, sebaiknya kalian berdua pergi dari sini dulu. Biarkan saya dan para prajurit yang akan menangani kasus ini sepenuhnya," ujar Ethan.
"Baik, Pak Ethan. Ayo, Alexa," ajak Kirana menarik lengan temannya.
Namun, Alexa sempat menahan langkahnya sebentar, matanya menatap tajam ke arah jasad. "Tunggu sebentar, Kirana. Aku... aku ingin melihat bagaimana para prajurit ini meneliti kasusnya. Aku sedikit penasaran."
Menteri Ethan tidak mengacuhkan bantahan Alexa. Ia segera menyeberangi jembatan batu dan menghampiri jasad yang terlentang itu. Ia langsung memberikan instruksi kepada beberapa anak buahnya.
"Kalian, cepat susuri sepanjang aliran sungai ini! Periksa apakah ada mayat lain atau barang bukti yang hanyut di sepanjang aliran sungai taman!"
"Siap, Pak Menteri!" patuh para prajurit.
Ethan berlutut di samping jasad, menatap perwira medis yang sedang memeriksa luka.
"Bagaimana kondisinya?"
"Kondisinya sangat memprihatinkan, Menteri," lapor prajurit medis itu. "Mukanya hancur, dengan beberapa belatung yang sudah mulai hidup di dalamnya. Ditambah lagi, ada banyak bekas luka tusukan di sekujur tubuhnya. Pola tusukan ini... bentuknya aneh, seperti ditusuk berulang kali menggunakan mata tombak."
"Tombak?!" kaget Ethan. "Apakah prajurit kita ada yang menggunakan tombak di sekitar sini?"
"Tusukannya juga tidak terlalu dalam, Menteri.
Tapi karena jumlahnya sangat banyak, korban mengalami pendarahan hebat hingga tewas. Kami juga menduga kuat dia tidak bermula atau meninggal di tempat ini, melainkan sempat terbawa oleh arus sungai taman yang mengalir dari pemukiman luar," urai prajurit itu.
Menteri Ethan mengusap dagunya, menyusun kepingan teka-teki di otaknya. "Kemungkinan besar ini memang salah satu bandit yang kita cari. Dan jika dia terbawa arus sungai, berarti tempat kejadian perkaranya berasal dari pemukiman warga. Karena terakhir kali kelompok ini beraksi adalah pada waktu sore hari kemarin, tepat di saat laporan baru kita terima. Dan saat itu kita langsung memblokade gerbang tapi tidak menemukan ciri-ciri mereka... Kemungkinan besar, sesaat setelah dia berhasil menjarah, dia langsung dibunuh oleh seseorang di pemukiman.
Coba kalian cari dan sisir sepanjang aliran sungai di pemukiman warga, cari tahu apakah ada tanda-tanda pertarungan atau bercak darah!"
"Siap, laksanakan!"
Saat hendak berdiri, pandangan mata Menteri Ethan tidak sengaja menangkap sosok Alexa dan Kirana yang ternyata masih berdiri di seberang sungai, belum beranjak pergi. Detik itu juga, Ethan terpaku saat menatap wajah Alexa. Gadis remaja itu tidak terlihat ketakutan layaknya Kirana; melainkan menatap jasad itu dengan sorot mata yang teramat dingin, penuh rasa ingin tahu.
(Mereka masih di situ?) batin Ethan,
kecurigaan yang mendalam mulai menggerogoti pikirannya. (Tunggu... ada apa dengan sorot mata dan wajah itu? Alexa... Aku selalu memeriksa dengan ketat latar belakang setiap teman dari kedua Tuan Putri Raja. Dan aku tahu betul Alexa adalah anak warga biasa di pemukiman Central. Dan rumahnya... tunggu. Arah jalan dari rumahnya menuju kerajaan melewati jalur sungai pemukiman. Dia datang ke istana sore hari kemarin...)
Pikiran Perdana Menteri itu kian liar. (Tetapi... dia hanyalah seorang remaja perempuan biasa. Dan dengan gaun biasa yang dipakainya, tidak mungkin dia bertarung melawan bandit kejam, apalagi sampai memberikan tikaman fatal yang menyerupai tombak. Tapi... kenapa firasatku bersikeras mengatakan bahwa Alexa yang berdiri di sana saat ini adalah sosok 'Alexa' yang lain? Semoga... semoga saja firasat burukku ini salah...)