Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Melody baru saja akan menikmati momen "pengasingannya" di koridor sambil bersandar di tembok, ketika sebuah suara yang lengkingannya setara dengan gesekan biola rusak menyapa telinganya.
"Melody... boleh kita bicara sebentar?"
Melody memutar bola matanya malas. Tanpa menoleh pun, dia sudah tahu itu siapa. Siapa lagi kalau bukan Zoya, yang datang dengan gaya berjalan lunglai seolah-olah tulang belakangnya baru saja dipindahkan ke tempat lain.
"Duh, ada bau-bau kemenyan ya? Kok mendadak hawanya jadi mistis begini," sindir Melody sambil tetap menatap kukunya.
Zoya mendekat dengan wajah yang dipasang mode "tersakiti". "Aku cuma mau tanya... sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Kaisar? Kemarin dia jemput kamu, terus katanya dia juga jagain kamu di rumah? Kamu nggak tahu ya kalau Kaisar itu..."
"Kaisar itu apa? Kulkas dua pintu? Penjaga gawang? Atau pawang buaya?" potong Melody santai. Ia akhirnya menoleh dan menatap Zoya dari atas ke bawah. "Tanya langsung dong sama orangnya. Kok nanyanya ke gue? Takut ya kalau ditatap dikit langsung kena mental?"
Zoya menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca (akting andalannya). "Tapi Kaisar itu sudah lama jagain aku, Mel. Dia peduli sama aku. Kamu jangan... jangan jadi penghalang di antara kami. Kamu kan cuma orang baru yang tiba-tiba masuk ke hidupnya."
Melody tertawa renyah, tawa yang bikin telinga Zoya makin panas. "Waduh, 'penghalang' katanya? Hellooo... Zoya yang cantik tapi kurang asupan logika. Di dunia ini, yang namanya barang lama itu biasanya ditaruh di gudang atau dikiloin, bukan dijadiin pajangan terus. Kalau dia beneran peduli sama lo, kenapa kemarin dia malah sibuk nyuapin gue bubur hambar daripada dengerin lo nangis?"
"Kamu... kamu jahat banget ngomongnya!" isak Zoya, air matanya mulai luruh satu per satu.
"Lho, gue kan ngomong fakta, bukan lagi baca dongeng," sahut Melody sambil melipat tangan di dada. "Saran gue sih ya, mending air mata lo itu ditampung di botol, terus dijual. Lumayan kan hasilnya bisa buat beli obat tetes mata biar akting lo makin lancar. Jangan nangis di depan gue, gue nggak bakal berubah jadi tisu buat lo. Gue ini bidadari, bukan relawan bencana alam."
Zoya berhenti melangkah, ia menghapus air matanya dengan kasar lalu berbalik menatap Melody dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi dingin dan penuh penekanan.
"Kamu mungkin bisa sombong sekarang, Mel. Tapi kamu harus tahu satu hal," ucap Zoya dengan suara rendah yang bergetar. "Keluarga Kaisar... keluarga Aeros, mereka sudah berjanji untuk melindungi aku seumur hidupku. Apapun yang terjadi pada aku, mereka nggak akan tinggal diam. Kamu tahu kan siapa keluarga Aeros? Mereka bisa melakukan apapun pada orang yang mengusik ketenangan mereka."
Mendengar nama 'Aeros' disebut dengan nada mengancam, Melody mendadak tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat cerita-cerita ngeri tentang kekuasaan keluarga Kaisar yang konon bisa membuat seseorang 'menghilang' dalam semalam. Ada rasa takut yang menjalar di tengkuknya, membayangkan ia harus berurusan dengan mafia kelas kakap seperti mereka.
Namun, bukan Melody namanya kalau menunjukkan ketakutan di depan musuh. Ia segera menetralkan ekspresi wajahnya, lalu tertawa hambar yang dipaksakan.
"Waduh, waduh! Takut banget gue! Sampe gemeteran nih ujung kuku gue!" sindir Melody sambil menggoyangkan jari kelingkingnya dengan gaya meremehkan. "Duh Zoy, lo tuh kebanyakan baca novel dark romance ya? Pake bawa-bawa perlindungan keluarga segala. Emangnya lo sakral banget apa sampe harus dijagain satu batalyon?"
Melody melangkah maju, mendekat ke telinga Zoya. "Denger ya, Mbak Zoya yang katanya 'anak emas' keluarga Aeros. Gue nggak peduli mau lo dilindungi sama Kaisar, Papanya, Kakeknya, atau bahkan hantu penunggu rumahnya sekalipun. Selama lo masih hobi akting murahan begini, gue bakal tetep jadi penonton paling depan yang bakal ngasih lo jempol ke bawah."
Ia menjauhkan wajahnya dan nyengir lebar. "Lagian, kalau keluarga mereka se-protektif itu, kenapa mereka nggak sekalian aja bungkus lo pake bubble wrap biar nggak lecet kena omongan gue? Udah ah, bidadari mau cari oksigen yang lebih bersih dulu. Di sini hawanya bau-bau ancaman basi!"
Melody pun melenggang pergi dengan gaya centilnya, padahal dalam hati ia merapalkan doa. 'Aduh Mak, tolongin Melody! Semoga gue nggak beneran dijadiin perkedel sama bapaknya Kaisar gara-gara mulut gue ini!'