NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : SUSAH

BAB 2

Tiga hari kemudian.

Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar kos yang sempit tanpa ampun. Debu beterbangan di udara, tertangkap cahaya keemasan dan menari pelan.

Ruangan itu hanya berisi kasur tipis tanpa seprai, meja kayu tua dengan kaki pincang, kompor portable, dan lemari usang yang pintunya menganga seperti mulut orang kelaparan.

Eiri terbangun dengan mata sembab dan kepala berat seperti ditimpa batu. Semalaman mata tidak bisa terpejam. Setiap kali memejam, yang muncul cuma sepasang mata biru sedingin es.

`Duk. Duk. Duk.`

Jantungnya berdetak mengingat suara tawa rendah itu. Bisikan. `Ada dua pilihan.` Senyuman tipis yang mengerikan.

"Apa sebenarnya tantangan itu...?"

Suara Eiri serak. Parau. Seperti sudah berteriak sepanjang malam.

Napas panjang keluar. Bahunya naik turun. Tubuhnya duduk di tepi kasur yang berderit memprotes. Dingin lantai semen langsung merambat ke telapak kakinya.

Tangan kurusnya meraih dompet lusuh di atas meja. Kulitnya sudah mengelupas. Resleting dibuka pelan dengan hati-hati, seolah takut uangnya akan terbang.

Isinya dihitung satu persatu dengan jari yang gemetar.

Lima puluh ribu. Ujungnya sobek.

Dua puluh ribu. Kusut.

Sepuluh ribuan. Dua lembar.

Lima ribuan. Tiga lembar.

Koin receh.

Total: Sembilan puluh lima ribu.

Senyum pahit terukir di bibir yang pecah-pecah. Uang itu bahkan tidak cukup untuk bertahan seminggu. Beras 1 karung 300rb. Minyak. Listrik. Belum lagi tagihan rumah sakit Mama yang masih menumpuk. Dan hutang ratusan miliar yang seperti gunung es siap menenggelamkannya.

Kepala Eiri tertunduk. Air mata menggenang di pelupuk. Panas. Perih. Tapi segera diusap kasar dengan punggung tangan.

Menangis tidak akan membayar hutang. Menangis tidak akan membuat orang tua kembali dari kecelakaan 2 tahun lalu. Menangis tidak akan membuat Mahendra Axlarta membatalkan tantangannya.

Harus bekerja. Itu satu-satunya pilihan. Satu-satunya cara.

Satu jam kemudian.

Eiri berjalan kaki menuju pasar tradisional. Matahari sudah naik. Keringat membasahi punggung kaosnya yang tipis. Gula satu kilo, pewarna makanan merah, dan sirup stroberi kecil masuk ke dalam tas belanja plastik yang sudah melar.

Langkahnya terhenti saat melewati toko permen pinggir jalan.

Di balik kaca etalase yang sedikit buram, lolipop warna-warni berjejer rapi. Merah, pink, kuning, biru. Mengkilap terkena cahaya. Ada yang bentuk hati. Ada yang bentuk bunga.

Dada Eiri mendadak sesak. Sakit. Seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.

Perasaan aneh menusuk. Seolah benda manis itu pernah sangat berarti. Pernah digenggam erat oleh tangan kecil. Pernah ditunggu setiap sore dengan penuh harap. Pernah... diberikan oleh seseorang?

"Anah..."

Kepala Eiri menggeleng pelan. Pipinya langsung memanas. Mungkin hanya halusinasi karena kurang tidur 3 hari. Mungkin juga karena lapar.

Langkahnya kembali dilanjutkan. Tapi rasa aneh itu masih tertinggal di dadanya.

Di kamar kos, di atas kompor kecil, gula mulai dipanaskan. Api biru menjilat wajan. Aromanya menguar. Lengket. Manis. Bercampur dengan keringat.

Percobaan pertama gagal. Gosong. Baunya pahit dan membuat Eiri batuk.

Percobaan kedua terlalu keras, sampai patah saat dilepas dari cetakan dan melukai jarinya.

Percobaan ketiga meleleh, tidak bisa dibentuk.

Tangan Eiri tidak berhenti mengaduk. Keringat menetes ke adonan. Lututnya pegal karena jongkok terlalu lama. Tapi dia terus mencoba.

`Kalau gagal, dari mana uangnya?`

`Kalau gagal, Mama bagaimana?`

Menjelang siang, akhirnya berhasil.

"Nah."

Suara Eiri pelan. Hampir seperti doa.

Puluhan permen kecil berbentuk bunga tersusun rapi di atas nampan seng. Merah muda seperti kelopak. Mengkilap. Wangi stroberi. Dimasukkan satu persatu ke plastik bening dan diikat dengan pita merah yang dia beli sisa uang terakhir.

"Hari ini harus laku."

Bisik itu seperti mantra. Seperti janji pada dirinya sendiri.

Pukul tujuh pagi.

Eiri duduk di bangku plastik di pinggir Jalan Melati. Keranjang rotan di depan berisi permen yang dia tata secantik mungkin. Suara menawarkan keluar dengan senyum yang dipaksa.

"Permen... Permen buatan sendiri... Manis... Hanya dua ribu..."

Satu jam. Sepi. Hanya suara motor yang lewat.

Dua jam. Masih sepi.

Orang-orang hanya melirik sekilas lalu berlalu. Ada yang mencibir. "Permen apaan itu." Ada yang mengabaikan seolah dia tidak ada.

Senyum di wajah Eiri perlahan memudar. Jari kanannya menggenggam ujung baju sampai kusut. Rasanya sudah pas. Manisnya tidak kemanisan. Harga juga murah. Hanya 2 ribu. Seharga es teh.

Tapi kenapa tidak ada yang mau?

Apa karena wajahnya yang lusuh? Apa karena keranjangnya yang jelek?

Perutnya mulai keroncongan. Bunyinya memalukan. Tapi uang sembilan puluh lima ribu itu tidak boleh dipakai untuk makan. Harus untuk beli bahan besok. Harus.

Sementara itu, di lantai 78 Gedung M.A Corporation.

Mahendra berdiri di depan jendela kaca setinggi 3 meter. Pemandangan kota di bawah terlihat kecil seperti mainan. Kedua tangannya masuk ke saku celana bahan. Jasnya rapi. Wajahnya datar.

Pintu terbuka pelan tanpa suara.

"Tuan. Laporan."

Asisten 01 menyerahkan map hitam. "Nona Eiri sedang berjualan di Jalan Melati. Sejak jam tujuh pagi. Di bawah terik."

Mahendra tidak menoleh. Rahangnya mengeras. Garis di pelipisnya terlihat.

"Tidak ada yang membeli dagangannya. Hingga siang ini, Tuan. Hanya 3 bungkus."

Keheningan. Panjang. Menekan.

Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun, alis pria itu berkerut. Bukan marah. Tapi kesal. Kesal pada diri sendiri. Kesal karena tantangan bodoh yang dia buat.

"Terus awasi. Pastikan tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang berani mendekat."

"Baik, Tuan."

Setelah pintu tertutup, Mahendra membuka laci meja. Di dalamnya, tergeletak satu buah lolipop rasa stroberi. Bungkusnya sudah pudar, benangnya menguning.

Jari panjangnya mengambilnya. Diputar-putar.

Ingatan 10 tahun lalu menerobos. `Kak, ini buat kamu. Lolipop terakhir.` Suara kecil. Tawa.

Senyum tipis muncul di bibirnya. Sangat tipis, sampai hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk melunakkan garis keras di wajahnya.

"...Gadis bodoh."

Bisiknya. Entah untuk Eiri, atau untuk dirinya sendiri.

Menjelang sore. Jam 4.

Keranjang Eiri masih penuh. Hanya 3 bungkus yang laku. Uang 6 ribu di genggamannya terasa memalukan.

"Eiri?"

Suara hangat membuat kepala Eiri menoleh. Matanya yang lelah langsung berkedip.

Seorang pria berambut hitam berdiri di sana. Kemeja putihnya rapi. Mata ungu bersinar lembut. Di tangannya dua gelas es teh. Embunnya menetes.

"E-Ergan?"

"Syukurlah masih ingat sama aku."

Ergan tersenyum. Gigi putihnya terlihat. Dia duduk di bangku plastik sebelah Eiri tanpa sungkan. Menyerahkan satu gelas. "Dari tadi lihat dari seberang. Belum makan ya? Bibirmu pucat."

"Masih kuat," jawab Eiri bohong dengan senyum canggung. Tangannya menerima es teh. Dingin.

"Jangan bohong. Aku kenal kamu sejak SD."

Mereka duduk berdampingan. Angin sore berhembus, membawa aroma permen dan debu jalanan.

"Aku dengar kafe kecilmu disita bank," kata Ergan pelan. Hatinya sakit.

Anggukan kecil dari Eiri. "Hutangnya belum lunas. Semua aset atas nama Papa."

Ergan menatap lama. Sejak kecil gadis ini memang keras kepala. Tidak pernah mau merepotkan orang. Bahkan saat jatuh pun dia bangkit sendiri.

"Eiri. Bagaimana kalau bekerja di perusahaanku? Bagian admin. Gajinya lumayan. Bisa buat bayar..."

"Tidak."

Penolakan itu cepat. Tegas. Tanpa pikir.

"Aku mau menyelesaikan sendiri. Dengan caraku."

Ergan menghela napas panjang. "Sama seperti dulu. Selalu keras kepala."

Lalu matanya beralih ke keranjang yang masih penuh. "Kalau begitu... semua permennya kubeli."

"Hah? Semua?"

Mata Eiri langsung berbinar. Ada harapan di sana.

"Iya. Buat dibagi ke kantor. Anak-anak pasti suka. Anggap saja dukungan teman lama."

"Terima kasih, Ergan."

Tawa kecil keluar dari bibir Eiri. Lega. Untuk pertama kalinya hari ini, dadanya terasa ringan.

Namun di seberang jalan, di dalam mobil hitam dengan kaca gelap.

Sepasang mata biru menyipit. Jari Mahendra mengetuk setir dengan keras. `Tok. Tok. Tok.`

Pemandangan dua orang yang tertawa itu terasa seperti pisau yang menusuk langsung ke dadanya. 10 tahun dia tunggu. Dan sekarang ada pria lain yang membuat Eiri tertawa.

"Siapa pria itu..."

Gumamnya pelan. Berbahaya.

Genggaman di setir semakin erat hingga buku-buku jari memutih.

Mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan asap.

Hem..mau lanjut?

Jangan lupa like dan komen dong..hehe..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!