Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Perisai Absolut dan Tarian Pedang Sunya
Begitu kaki Askara menapak melintasi ambang pintu Gerbang Satu, aura tekanan magis yang berat seketika mengepung seluruh tubuhnya. Belum sempat Askara mengamati arsitektur area lapis kedua yang dipenuhi pilar-pilar batu hancur tersebut, udara di depannya terbelah oleh derap langkah yang menggetarkan bumi.
RUMBLE! BOOM!
Dari balik kabut hitam, sesosok raksasa setinggi lima meter melompat menerjang. Wujudnya mengerikan: tubuh berotot sekeras baja dengan dua kepala yang bertengger di atas bahunya yang masif. Kepala sebelah kiri berwajah ganas dengan taring mencuat, sementara kepala sebelah kanan tidak memiliki mata namun terus merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang berdengung.
Monster itu adalah Double-Headed Vanguard. Without a single moment of hesitation, monster itu langsung melancarkan serangan membabi buta. Lengan raksasanya mengayunkan gada batu bergigi, menghantam tanah tepat di tempat Askara berdiri!
BRRAAAK!
Askara melompat mundur secara refleks, jubah hitamnya terhempas oleh gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar batu di sekitarnya. Mencoba menjaga jarak untuk membaca pergerakannya, Askara langsung menarik Sunya dan meluncurkan serangan jarak jauh. Dengan memanfaatkan sisa cadangan sihir tanah yang ia serap dari penjaga Gerbang Nol, Askara mengeksekusi serangkaian tebasan kombo horizontal.
WUSSS! BOOM! BOOM!
Tiga gelombang sabit sihir gabungan—perpaduan elemen tanah dan kabut hitam murni—melesat cepat membelah udara, mengincar tubuh sang raksasa.
Namun, fenomena yang mengejutkan terjadi. Monster berkepala dua itu bahkan tidak berniat untuk menghindar atau menangkis. Kepala kanannya yang membeberkan mantra mendadak memancarkan pendaran cahaya keemasan yang padat. Sebuah Sihir Pembela Diri (Barrier Murni) berbentuk kubah bening seketika membungkus rapat seluruh tubuhnya.
CRASH!
Gelombang sihir gabungan milik Askara meledak hebat begitu menghantam dinding barrier tersebut, namun tidak meninggalkan goresan sedikit pun pada kulit sang monster. Bahkan, ketika Askara mencoba memfokuskan tebasan pada celah kecil di pelindung tersebut dan berhasil menggores paha sang raksasa, luka tebas itu seketika menutup kembali dalam sekejap mata berkat kemampuan Regenerasi Cepat yang luar biasa ganas.
"Sihir pelindung absolut dan regenerasi instan..." gumam Askara dingin di balik tudung hitamnya. "Serangan jarak jauh tidak akan pernah bisa menembus pertahanan lapis ganda seperti itu."
Melihat musuhnya tidak terpengaruh, Askara menyipitkan matanya. Tidak ada jalan lain. Ia harus melancarkan pertarungan jarak dekat yang sangat berisiko.
SRAAANG!
Dengan satu entakan kaki yang kuat, Askara justru melesat menyongsong bahaya, menerobos masuk ke dalam jangkauan ayunan gada sang raksasa. Pertarungan jarak dekat yang sengit pun pecah di tengah reruntuhan Gerbang Satu.
Monster itu mengayunkan gadanya secara brutal, namun Askara bergerak bagaikan bayangan. Setiap kali gada raksasa itu hampir meremukkan fisiknya, Askara memutar tubuhnya dengan sangat lincah, membiarkan serangan musuh hanya menghantam udara kosong. Di saat yang sama, Askara memicu seluruh cadangan sihir hitam yang ia miliki, mengalirkannya langsung ke bilah Sunya.
SLAAP! TRANG! SLAAP!
Setiap tebasan jarak dekat yang diluncurkan Askara kini memicu reaksi ajaib dari Sunya. Karena jaraknya yang sangat dekat dengan sumber energi musuh, bilah meteorit Sunya bekerja secara ganda: saat Askara mengeluarkannya untuk menebas pelindung murni sang monster, Sunya secara otomatis langsung menghisap dan menyerap kembali sihir pelindung serta energi regenerasi milik musuh dari sisa benturannya!
Siklus penyerapan ini menciptakan aliran energi tak terbatas.
Setiap kali Askara memuntahkan sihirnya, Sunya kembali mengisinya secara instan, menyimpannya sebagai cadangan energi yang kian melimpah di dalam wadah kosong jiwa Askara.
Semakin lama pertarungan berlangsung, Askara justru semakin lihai dan terbiasa dengan ritme tersebut. Pengalaman dari ujian Moses terbukti menjadi kunci utamanya. Kemampuan berpedangnya kini telah mencapai tingkat fokus yang baru; Askara memfokuskan seluruh energi serapan yang bergejolak itu, mengompresinya hingga menjadi lapisan tipis energi hitam bersinar setipis rambut di sepanjang mata pisau Sunya.
Krrrr...
Udara di sekitar bilah abu-abu gelap itu bergetar hebat. Kerapatan dan ketajaman Sunya kini telah berada di puncak tertinggi.
"Pelindungmu mungkin bisa menahan serangan besar," bisik Askara dengan nada suara yang teramat tenang di tengah deru pertempuran. "Tapi bisakah ia menahan garis tebasan yang membelah molekul?"
Dengan satu gerakan tarian pedang yang sangat presisi dan secepat kilat, Askara melompati ayunan gada musuh, lalu mengeksekusi satu tebasan vertikal murni ke arah dada sang Double-Headed Vanguard. Lapisan energi setipis rambut pada Sunya membelah barrier murni sang monster tanpa hambatan, siap mengakhiri dominasi sang penjaga lapis kedua.