NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Setelah tawa riuh di kamar hotel itu mereda, Nial segera menarik Queen keluar. Ia benar - benar tidak tahan lagi berada di sana setelah Rayden menelanjangi harga dirinya habis - habisan.

Di dalam mobil, suasana mendadak canggung—setidaknya bagi Nial. Pria yang biasanya mengintimidasi itu kini tampak sibuk menatap jalanan dengan rahang yang mengeras, berusaha menyembunyikan rona tipis di telinganya yang masih tersisa akibat ledakan rahasia yang dibeberkan Rayden.

"Jadi..." Queen memulai, memecah keheningan dengan nada yang sengaja diseret nakal. "Kau memeluk masker? Sambil meracau namaku? Aku tidak tahu kau bisa semanis itu, Tuan Percy."

Nial mengeram rendah, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Jangan mulai, Queen. Rayden itu pembohong besar. Dia hanya ingin melihatku terlihat bodoh di depanmu."

"Tapi kau bilang kau tidak peduli dia bercerita," goda Queen lagi, kini ia mencondongkan tubuhnya ke arah Nial, menatap profil samping wajah pria itu. "Benarkah kau menangis? Aku ingin tahu bagaimana rupa seorang Nial Percy saat menangis karena rindu."

"Queen! Cukup." kata Nial ketus, namun kilat matanya menunjukkan bahwa ia lebih merasa malu daripada marah.

Queen tertawa kecil, kepuasan tersendiri melihat Nial yang kehilangan kata - kata. Namun perlahan, tawa itu memudar. Kesunyian kembali merayap masuk ke dalam kabin mobil, kali ini lebih tenang dan penuh dengan beban pikiran.

Saat mobil melewati perempatan dan lampu lalu lintas berubah hijau, Queen tiba - tiba bersuara.

"Belok ke kiri di depan, Nial."

Nial mengernyitkan kening, namun tetap mengikuti instruksi itu. Setelah beberapa saat, ia menyadari arah jalan ini. "Ini bukan jalan menuju apartemenmu, Queen. Kau ingin melarikan diri lagi?"

Queen menggeleng pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Kau sudah membawaku bertemu dengan Britania. Kau mengenalkanku pada sahabatmu, sekarang giliranku. Aku akan memperkenalkanmu pada seseorang."

Tatapan Nial langsung menajam, tangannya refleks mengencangkan pegangan pada setir. "Kalau kau berniat mengenalkanku pada 'suamimu' lagi, simpan saja tenagamu. Aku sudah tahu pria di poster itu adalah Kayden, sepupumu yang berisik. Aku tidak akan tertipu dua kali."

Queen sedikit terkejut mendengar Nial menyebut nama Kayden, namun ia memilih untuk tidak bertanya bagaimana pria itu tahu. Ia hanya tersenyum samar, sebuah senyum yang sarat akan kesedihan yang mendalam.

"Bukan Kayden," bisik Queen. "Dia adalah seseorang yang aku cintai ... dan aku yakin, kau akan mencintainya juga."

Nial terdiam, kecurigaan dan rasa penasaran bergejolak di dadanya. Namun ia tetap memacu mobilnya mengikuti petunjuk Queen hingga mereka sampai di sebuah area yang sunyi, jauh dari hiruk - pikuk pusat kota Paris.

Mobil sport hitam itu berhenti di tepian jalan yang sunyi, jauh dari kerlap - kerlip Menara Eiffel yang biasanya menjadi simbol romansa.

Di sini, hanya ada pepohonan tinggi dan pagar besi yang membatasi area pemakaman asri di pinggiran Paris.

Nial mematikan mesin, namun tangannya masih mencengkeram kemudi. Ia menoleh ke arah Queen dengan kening berkerut dalam, matanya menatap tajam seolah ingin menembus isi kepala wanita itu.

"Untuk apa kita ke sini, Queen?" tanya Nial, suaranya rendah dan penuh selidik. "Kau bilang ingin mengenalkanku pada seseorang. Kenapa tempatnya di pemakaman? Jangan bermain-main denganku!"

Queen tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil dan melangkah keluar, membiarkan angin malam menyapu gaunnya.

Nial menggeram rendah, namun ia tetap turun dan mengikuti langkah Queen yang masuk semakin dalam ke area nisan yang tertata rapi.

"Queen! Jawab aku!" Nial menyambar pergelangan tangan Queen, menghentikan langkah wanita itu di bawah sebuah pohon besar. "Siapa yang ingin kau perkenalkan? Jika ini hanya trik untuk membuatku takut atau merasa bersalah, hentikan sekarang juga."

Queen menatap Nial dengan mata yang mulai berkaca - kaca. Ia melepaskan tangan Nial perlahan, lalu menunjuk ke sebuah nisan marmer putih mungil yang tampak sangat terawat di bawah cahaya rembulan.

"Dia ada di sana, Nial. Ayo kita temui dia." bisik Queen.

Nial melepaskan napas kasar, ia melangkah mendekati nisan itu dengan niat untuk memaki siapa pun pria yang sudah berani membuat Queen secinta itu. Namun, saat matanya menangkap deretan huruf emas yang terukir di atas marmer, langkahnya terkunci. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah tersambar petir.

ARIAN PERCY

Dunia Nial seolah runtuh seketika. Rahangnya mengeras, namun bibirnya bergetar hebat. Nama belakang itu ... Percy. Nama agung keluarganya yang selama ini ia jaga dengan penuh otoritas, kini terukir di atas makam kecil yang sunyi.

"A-Arian ... Percy?" Nial berucap dengan suara yang nyaris hilang. Ia menoleh ke arah Queen dengan tatapan kosong yang menghancurkan. "Siapa ... siapa dia?"

"Anak kita, Nial," sahut Queen dengan isakan yang akhirnya pecah.

Deg.

Nial menahan napas.

"Selama setahun ini, aku selalu datang ke sini setiap kali aku merindukanmu," lanjut Queen, air mata kini mengalir bebas di pipinya. "Aku memberitahunya bahwa ayahnya adalah pria paling menyebalkan di dunia, tapi juga pria yang paling kucintai."

Nial tertunduk dalam. Bahunya berguncang pelan. Pria yang baru saja diejek karena menangis di depan botol whisky itu, kini benar - benar menangis di depan nisan putranya.

"Maafkan aku..." suara Nial pecah, sangat memilukan. "Maaf."

Queen ikut berlutut di samping Nial, menyentuh pundak pria itu. Nial langsung menarik Queen ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah takut jika ia melepasnya, Queen dan kenangan tentang Arian akan menghilang tertiup angin.

"Aku menamainya Arian karena itu artinya 'berani'," bisik Queen di pelukan Nial. "Karena dia telah berani hadir di tengah kekacauan kita, meski hanya sebentar."

Nial mengecup kening Queen lama, air matanya membasahi wajah mereka berdua. "Maafkan aku, Queen, aku bersalah. Dan terima kasih sudah membawaku menemuinya."

Queen menangkup wajah Nial yang basah, tatapannya penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Tidak, Nial ... kau tidak sepenuhnya salah. Aku juga gagal. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku membiarkannya pergi sebelum dia sempat melihat dunia."

Nial menggeleng keras, tangannya mencengkeram bahu Queen, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menepis rasa bersalah wanita itu.

"Sst..!"

Nial menghapus sisa air mata di pipi Queen dengan ibu jarinya, meski matanya sendiri masih berkaca - kaca.

"Jangan pernah katakan itu lagi. Kau tidak salah apa - apa. Aku yang salah. Aku bodoh, aku arogan, dan aku membiarkan egoku menutup mataku. Seharusnya aku tidak mengusirmu pergi saat kau paling membutuhkanku."

Queen tidak tahan lagi. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Nial, meremas kemeja pria itu seolah itu adalah satu - satunya pegangan di dunia yang terasa runtuh ini.

Nial membalas pelukan itu, mendekapnya dengan sangat erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati mereka yang terserak di atas tanah makam Arian.

Hening menyelimuti mereka, hanya suara angin malam dan napas mereka yang tidak beraturan yang terdengar.

Setelah cukup lama terdiam dalam dekapan, Nial melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap mata Queen.

Ia menyisir rambut wanita itu ke belakang telinga dengan lembut, tatapannya yang tajam dan dingin kini berubah menjadi sesuatu yang sangat rapuh, namun tetap intens.

"Queen," panggilnya rendah. Suaranya serak, bukan karena marah, tapi karena kejujuran yang begitu berat untuk diucapkan.

Queen mendongak, matanya yang sembab menatap Nial penuh tanya.

Nial menghela napas panjang, menatap nisan kecil itu sekilas sebelum kembali menatap Queen dengan pandangan yang tak bisa berpaling.

"Aku tidak pernah pandai merangkai kata - kata manis. Kau tahu itu. Aku lebih suka bertindak daripada bicara."

Ia menjeda sejenak, tangannya masih membelai pipi Queen dengan ibu jari yang gemetar.

"Aku sudah menghabiskan satu tahun terakhir dengan mencoba membencimu, mencoba mematikan apa pun yang kurasakan agar aku tidak gila," Nial berucap datar, namun matanya berkata lain. "Tapi hari ini, melihat ini... melihat dia... aku sadar bahwa satu - satunya alasan aku masih bertahan adalah karena kau. Aku mencintaimu, Queen. Itu satu - satunya hal yang tidak akan pernah berubah."

Queen memejamkan mata, membiarkan air mata terakhirnya jatuh dan diserap oleh kulit Nial. Di tengah kesunyian makam yang sakral itu, ia akhirnya melepaskan seluruh beban yang menghimpit dadanya selama setahun terakhir.

"Aku juga mencintaimu," bisik Queen pelan.

Nial membeku sesaat, seolah kata - kata Queen adalah mantra yang baru saja menghidupkan kembali sel-sel di tubuhnya yang sempat mati. Ia tidak memberikan jawaban lewat kata - kata.

Sebaliknya, pria itu merangkup wajah Queen dengan kedua telapak tangannya yang besar, memperlakukannya seolah Queen adalah porselen paling berharga yang pernah ia temukan.

Tanpa peringatan, Nial mendekat. Ia mengecup dahi Queen lama, seolah sedang menyalurkan seluruh rasa hormat dan permohonan maafnya di sana.

"Terima kasih," gumamnya rendah.

Lalu, bibirnya berpindah. Ia mencium kelopak mata Queen yang masih basah, kemudian beralih ke pipi kanan, lalu pipi kiri, menciumi setiap jejak air mata dengan intensitas yang begitu dalam. Gerakannya terasa sangat posesif namun sekaligus sangat rapuh—sebuah kontradiksi yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Nial Percy.

"Milikku," bisik Nial di antara ciumannya. "Kau tetap milikku, Queen."

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!