NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 : Mereka menemukan

Mansion Moretti...

Suasana damai yang sejak pagi menyelimuti mansion sama sekali tidak diketahui oleh orang-orang yang sedang mengintai dari balik bayang-bayang.

Di ruang kerja Adrian...

Beberapa layar monitor memperlihatkan seluruh sudut mansion. Puluhan kamera pengawas aktif selama dua puluh empat jam. Johan berdiri di samping meja sambil membawa sebuah tablet berisi laporan terbaru.

"Don."

Adrian tidak mengalihkan pandangannya dari layar.

"Laporan."

Johan mengangguk. "Empat puluh menit yang lalu, tim pengawas kita menemukan sebuah sedan hitam berhenti sekitar tiga ratus meter dari gerbang utama."

"Bagaimana dengan plat nomornya?"

"Palsu."

"Pengemudinya?"

"Belum teridentifikasi. Mereka memakai jammer sinyal berdaya rendah agar sulit dilacak."

Adrian menyipitkan mata. "Itu bukan pekerjaan orang biasa."

Johan mengangguk setuju. "Yang aneh... mereka tidak mencoba masuk. Mereka hanya mengawasi."

Adrian berdiri perlahan. "Itulah yang justru membuat mereka berbahaya." Ia berjalan menuju jendela besar. "Musuh yang sabar selalu lebih sulit ditebak."

Tak lama kemudian...

Salah seorang anggota keamanan masuk dengan tergesa. "Don!"

"Ada apa?"

"Kami menemukan drone kecil terbang di atas area hutan belakang mansion."

Johan langsung menoleh. "Drone?"

"Ya. Begitu terdeteksi sistem pertahanan, drone itu langsung menghancurkan dirinya sendiri."

Adrian langsung mengambil jas hitamnya. "Johan."

"Siap."

"Naikkan status keamanan menjadi Level Merah."

"Baik."

"Periksa seluruh perimeter. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat."

"Dimengerti."

Dalam hitungan detik, seluruh Mansion Moretti berubah sibuk. Sirene tidak dibunyikan agar Aurora tidak panik, tetapi semua anggota keamanan bergerak cepat menuju posisi masing-masing.

Pintu-pintu otomatis terkunci.

Penembak jitu mulai menempati titik pengawasan. Anjing pelacak dilepas mengelilingi taman belakang.

***

Aurora yang sedang membaca buku di perpustakaan sedikit mengernyit. Ia melihat beberapa petugas keamanan berlari melewati jendela.

"Ada apa?"

Pelayan yang berada di dekatnya tersenyum tenang. "Hanya pemeriksaan rutin, Nona."

Aurora mengangguk, meski firasatnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan.

Di sisi lain mansion...

Johan memimpin puluhan anggota keamanan menyisir area hutan. "Tidak ada jejak?"

"Sementara masih bersih."

Salah seorang penjaga tiba-tiba berteriak. "Johan!"

"Kenapa?"

"Ada sesuatu!"

Semua segera menghampiri. Di balik semak-semak... tergeletak sebuah kotak logam kecil.

Johan mengangkat tangan. "Jangan disentuh."

Tim penjinak bahan peledak segera datang.

Beberapa menit kemudian, kotak itu berhasil dibuka. Namun... isinya bukan bom. Hanya sebuah kartu hitam. Di bagian depannya terdapat gambar seekor elang berwarna merah.

Sedangkan di belakangnya hanya ada satu kalimat. "Bellini akan segera punah."

Rahang Johan mengeras. "Black Eagle..."

Ia segera memotret kartu itu lalu mengirimkannya kepada Adrian.

***

Beberapa kilometer dari sana, di sebuah rumah tua yang tersembunyi di pinggiran Zurich. Wanita bermantel krem menutup buku hariannya saat mendengar langkah kaki mendekat.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk sambil membawa koper kulit. "Nyonya Elena."

"Apa ada kabar?"

Pria itu mengangguk. "Saya berhasil mengambil salinan arsip dari rumah sakit tua."

Elena langsung berdiri. "Ditemukan?"

Pria itu membuka koper. Di dalamnya terdapat beberapa map tua yang sudah menguning. Elena membolak-balik halaman demi halaman. Matanya berhenti pada sebuah dokumen kelahiran.

Nama bayi pertama... Aurora Bellini, beberapa lembar berikutnya... Aurelia Bellini.

Air mata Elena langsung jatuh. "Mereka benar-benar lahir..." Tangannya gemetar.

Namun beberapa detik kemudian...

Wajahnya berubah pucat. "Astaga..."

"Ada apa, Nyonya?"

Elena menunjukkan sebuah halaman terakhir. Di sana terdapat tanda tangan seorang dokter. Nama itu membuat napasnya tercekat.

"Dokter Victor Reinhart..."

Pria tua itu mengernyit. "Apakah ia penting?"

Elena mengangguk pelan. "Dia bukan dokter biasa..."

"Siapa dia?"

Elena menatap kosong. "Dia adalah orang pertama yang bekerja sama dengan Black Eagle dua puluh dua tahun lalu."

Ruangan langsung sunyi.

Jika Victor masih hidup, berarti ada seseorang yang mengetahui seluruh rahasia malam ketika keluarga Bellini dihancurkan.

***

Sementara itu...

Di markas Black Eagle, pria bertopeng elang hitam sedang menikmati segelas anggur merah. Salah satu bawahannya datang membawa laporan.

"Tuan. Orang kita berhasil mengirim kartu peringatan ke Mansion Moretti."

Pria bertopeng tertawa pelan. "Bagus."

"Tapi mereka meningkatkan keamanan."

"Itu memang tujuan kita."

Bawahannya tampak bingung. "Maksud Tuan?"

Pria bertopeng berdiri. "Aku ingin Adrian Moretti sibuk menjaga Aurora."

"Lalu?"

"Semakin sibuk dia..." Ia tersenyum dingin. "Semakin sedikit perhatian yang diberikan kepada gadis satunya."

Mata bawahannya membelalak. "Maksud Tuan... Aurelia?"

Pria bertopeng mengangguk perlahan. "Selama semua mata tertuju kepada Aurora..." Ia menunjuk layar monitor yang menampilkan foto Aurelia. "Target utama kita justru yang ini."

"Siapkan tim pemburu, dua belas orang dengan senjata lengkap."

"Kapan mulai bergerak, Tuan?"

Pria bertopeng melihat jam di tangannya. "Malam ini."

Kembali ke Mansion Moretti...

Adrian sedang memperhatikan kartu ancaman yang ditemukan Johan.

Leonardo memasuki ruang kerja. "Apa itu dari black Eagle?"

"Iya."

Leonardo menghela napas panjang. "Mereka mulai kehilangan kesabaran."

Adrian mengangguk. "Mereka sengaja memperlihatkan keberadaan mereka."

"Itu berarti..."

"Mereka ingin mengalihkan perhatian kita."

Leonardo langsung menatap putranya. "Kau juga berpikir begitu?"

Adrian tidak menjawab, ia berjalan menuju papan investigasi yang dipenuhi foto. Aurora, Aurelia, Elena, Pastor Markus, Maria Laurent.

Seluruh benang merah mulai tersusun. Perlahan... tatapannya berhenti pada foto Aurelia.

Mata Adrian tiba-tiba menyipit. "Tunggu..."

Leonardo ikut mendekat. "Ada apa?"

Adrian mengambil sebuah spidol. Ia menggambar garis merah yang menghubungkan foto Aurora dan Aurelia. Lalu... ia menghubungkannya lagi dengan simbol Black Eagle.

Beberapa detik kemudian...

Wajah Adrian berubah serius. "Mereka tidak sedang memburu Aurora."

Leonardo terdiam. "Mereka sedang memburu keduanya."

"Kalau begitu..."

Adrian langsung mengambil ponselnya. "Johan."

"Ya, Don."

"Temukan keberadaan Aurelia sekarang juga."

"Baik."

"Gunakan semua jaringan kita."

"Dimengerti."

Sambungan ditutup.

Namun, belum sampai lima detik. Ponsel Adrian kembali berdering. Nomor yang muncul tidak dikenal.

Adrian mengangkatnya. "Halo."

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas seseorang. Kemudian... suara pria yang diubah dengan alat pengacak terdengar pelan.

"Don Moretti..."

Tatapan Adrian berubah tajam. "Siapa kau?"

Pria itu tertawa kecil. "Kau terlambat."

"Apa maksudmu?"

"Kalau ingin menyelamatkan kedua pewaris Bellini..." Suara itu berhenti beberapa detik. "Berdoalah agar tim kami belum menemukan Aurelia."

Tut...

Sambungan langsung terputus.

Ruangan mendadak sunyi.

Johan yang baru masuk membawa laptop langsung melihat wajah Adrian yang mengeras. "Ada apa?"

Adrian perlahan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka sudah bergerak."

Tatapan dinginnya berubah menjadi penuh tekad. "Mulai hari ini... tidak ada lagi permainan bertahan." Ia menatap seluruh anggota kepercayaannya satu per satu. "Kita yang akan memburu Black Eagle."

Di tempat yang berbeda...

Seorang gadis berambut panjang dengan wajah yang sangat mirip Aurora sedang menutup toko bunga tempatnya bekerja.

Tanpa ia sadari, sebuah van hitam berhenti di seberang jalan. Empat pria bertubuh besar turun perlahan. Salah seorang membuka foto target.

"Wajahnya sama persis. Pastikan tidak salah orang."

Pria itu mengangguk. "Target A-02 telah ditemukan."

Mereka mulai menyeberang jalan, sementara Aurelia sama sekali tidak menyadarinya.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!