Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 28.
Jantung Evelyn berdetak keras, matanya terpaku pada layar bercahaya di hadapannya.
Mustahil.
Benar-benar mustahil.
Namun wajah itu terlalu jelas untuk disangkal, Vanessa Hale. Wanita licik yang di kehidupan modern pernah menjadi rival terbesarnya.
Mereka sama-sama berada di puncak dunia bisnis, sama-sama ambisius dan haus akan kemenangan. Bedanya, Vanessa tidak pernah mengenal batas. Wanita itu pernah mencoba menjatuhkan Evelyn dengan fitnah, sabotase, bahkan bekerja sama diam-diam dengan Julian.
Dan sekarang, Vanessa berdiri di belakang Julian di layar Ruang Ajaib. Mengenakan gaun sutra kerajaan, mahkota kecil menghiasi rambut hitamnya. Tatapannya dingin penuh kemenangan, sebuah senyum perlahan terukir di bibir wanita itu. Seolah tahu Evelyn sedang melihatnya.
Lalu layar mendadak padam.
Ruangan kembali sunyi.
Evelyn berdiri membeku beberapa detik.
Pikirannya berputar cepat. “Jadi kau juga ada di sini…”
Jika Vanessa berada di pihak Julian, maka ancaman mereka berlipat ganda. Vanessa jauh lebih cerdas dan lebih manipulatif.
Tanpa membuang waktu, Evelyn keluar dari Ruang Ajaib. Cahaya putih memudar, Ia kembali ke kamarnya.
Alexander masih berada di sana, duduk di sofa sambil membaca laporan perang. Saat melihat wajah ratu-nya yang tegang, alisnya langsung berkerut.
“Ada apa?”
“Kita punya masalah baru.” Jawab Evelyn.
Alexander menutup dokumen itu. “Seberapa buruk?”
Evelyn melangkah mendekat, tatapannya serius. “Vanessa ada di dunia ini.”
“Vanessa?” Alexander mengernyit.
“Musuhku di dunia modern, dia sekarang berada di pihak Julian. Dan aku rasa... dia sudah masuk ke istana ini.”
Wajah Alexander langsung berubah dingin, Ia bisa membaca betapa besar ancaman dari ekspresi istrinya.
“Dia.... se-berbahaya itu?”
Evelyn menatap lurus mata Alexander. “Kalau Julian adalah otak licik, Vanessa adalah racunnya.”
Alexander terdiam, perlahan ia berdiri. Tangannya meraih pinggang Evelyn, menarik wanita itu mendekat. “Kalau begitu, kita hancurkan mereka bersama. Musuhmu adalah musuhku, dan musuhku... juga musuhmu.”
Tatapan Evelyn melunak.
Tok Tok Tok.
Ketukan keras terdengar dari luar.
Kasim Bernard masuk tergesa dengan wajah pucat. “Yang Mulia… ada masalah besar.”
“Katakan.”
Bernard menelan ludah. “Dewan Bangsawan membawa keputusan darurat.”
Ia menyerahkan gulungan surat kerajaan, Alexander membukanya. Wajahnya seketika mengeras, Evelyn merebut surat itu. Matanya menyapu cepat isi tulisan. Sebagai bentuk penguatan aliansi politik antara keluarga bangsawan utara dan kerajaan, Raja Alexander diwajibkan menerima seorang wanita bangsawan sebagai selir baru secara resmi.
Nama wanita itu tercantum jelas — Lady Vanessa Arden.
Jari Evelyn meremas gulungan surat hingga kusut, amarah menyala di matanya.
Alexander langsung melangkah mendekat. “Ini jebakan.”
“Aku tahu.” Jawab Evelyn datar.
Kasim Bernard menunduk. “Penolakan berarti para bangsawan utara akan menarik dukungan militer mereka. Dalam kondisi ancaman pemberontakan William…”
Ia tak melanjutkan, mereka paham risikonya.
Evelyn tertawa dingin. “Licik sekali.”
Julian pasti sudah menghitung semuanya. Memanfaatkan hukum kerajaan untuk menempatkan Vanessa tepat di dalam sarang mereka.
...*****...
Tiga hari setelah Vanessa resmi memasuki istana sebagai selir politik, suasana kerajaan berubah. Bisik-bisik mulai terdengar di setiap lorong, para pelayan menunduk terlalu cepat ketika Evelyn lewat.
Bangsawan saling bertukar tatapan curiga.
Rumor menyebar seperti racun.
Ratu Evelyn cemburu pada selir baru Raja.
Ratu mulai kehilangan kendali.
Ratu berniat menyingkirkan Lady Vanessa.
Semua itu jelas ulah Vanessa.
Namun seperti biasa, wanita itu terlalu licin. Ia menebar fitnah tanpa meninggalkan jejak.
Sementara di mata seluruh kerajaan,
Raja Alexander masih terbaring koma di paviliun utama. Tabib kerajaan terus keluar masuk dengan wajah muram, Kasim Bernard bahkan sengaja menyebarkan kabar bahwa kondisi sang Raja semakin memburuk.
Semua bagian dari sandiwara besar.
Malam hari, saat seluruh istana terlelap. Alexander diam-diam keluar dari kamar persembunyiannya melalui lorong rahasia. Selama ini ia mengawasi pergerakan musuh dari balik bayangan, menunggu William dan para pengkhianat membuka seluruh kartu mereka.
Namun Vanessa bergerak lebih cepat.
Pagi itu, teriakan histeris menggema dari taman belakang istana. Para pelayan berlarian, Bangsawan yang sedang menikmati jamuan pagi ikut berhamburan keluar.
Dan di tengah taman mawar, Vanessa tergeletak di atas rumput. Gaunnya berlumuran darah, pisau kerajaan tertancap di dekat tubuhnya.
Di gagangnya terukir lambang khusus milik Ratu Evelyn.
“Ratu mencoba membunuh Lady Vanessa!” teriak salah seorang bangsawan.
Keributan langsung pecah, para pelayan panik. Bisik-bisik berubah menjadi tuduhan terang-terangan.
Evelyn datang beberapa saat kemudian, tatapannya langsung menajam saat melihat pemandangan itu. Terlalu sempurna, jelas-jelas jebakan untuknya.
Vanessa membuka matanya perlahan. Dengan wajah pucat penuh kepura-puraan, ia menatap Evelyn. “Yang Mulia… aku… tak pernah berniat merebut hati Raja…”
Setelah itu ia pura-pura pingsan.
Bisik-bisik semakin liar.
Tanpa kehadiran Raja yang sedang “koma,” Dewan Bangsawan segera mengambil alih sidang darurat. Mereka berkumpul di aula utama siang itu juga.
Ibu Suri duduk di kursi tertinggi, di sisi kanannya berdiri William. Wajah pria itu tampak prihatin, tapi matanya menyimpan kemenangan.
“Karena Raja belum sadar,” ucap Ibu Suri lantang, “Maka keputusan sementara berada di tangan Dewan Kerajaan.”
Tatapannya menukik tajam ke arah Evelyn. “Dan karena bukti mengarah pada Ratu, maka untuk sementara waktu... wewenang Ratu menggantikan Raja, dicabut sampai penyelidikan selesai.”
Seluruh aula gempar.
Beberapa bangsawan pendukung Evelyn langsung memprotes. Keluarga Clara berdiri paling depan membela sang Ratu. Namun jumlah pihak netral terlalu banyak, mereka memilih diam.
Evelyn berdiri tegak di tengah aula, tak sedikit pun terlihat panik.
William menyeringai tipis, Ia mengira wanita itu sudah terpojok.
Malam harinya di kamar pribadi Ratu, Evelyn berdiri di balkon menatap langit gelap. Wajahnya dingin seperti es, pintu rahasia di balik rak buku terbuka perlahan. Seseorang masuk diam-diam—Alexander. Pria itu mengenakan jubah gelap penyamarannya, Ia mendekat tanpa suara dan berdiri di belakang istrinya.
“Kau baik-baik saja?” bisiknya.
Evelyn tak menoleh. “Kalau aku bilang tidak?”
Alexander melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, memeluknya erat dari belakang. “Maka aku akan menghancurkan siapa pun yang membuatmu terluka.”
Ketegangan Evelyn sedikit mereda, ia bersandar tipis pada dada suaminya.
“Aku ingin membunuh Vanessa dengan tanganku sendiri,” gumamnya.
Alexander tersenyum tipis.
“Besok malam kita buka topeng mereka.”
Saat itu, pintu diketuk tiga kali. Itu adalah syarat rahasia, lalu Damien masuk cepat membawa gulungan laporan.
“Ada perkembangan.” Ia membentangkan denah paviliun timur. “Vanessa akan bertemu Julian besok malam di ruang kaca.”
Damien menunjuk titik merah pada peta. “Mereka akan menyerahkan daftar bangsawan yang berhasil mereka hasut.”
Mata Evelyn menyipit tajam, senyum dingin perlahan terukir di bibirnya. Ia berbalik menatap Alexander, tatapannya membara. “Besok malam… seluruh kerajaan akan tahu siapa pengkhianat sebenarnya.
Beberapa waktu kemudian....
Di paviliun selir, Vanessa berdiri di depan cermin sambil tersenyum puas. Ia yakin rencananya berhasil, dan posisi Evelyn sudah goyah. Ia tak tahu, bahwa di balik dinding kamarnya... sepasang mata sedang mengawasinya—Alexander.
baru bisa baca 🙏