Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Lantai marmer gedung mewah itu seolah ikut bergetar seiring dengan detak jantung Arunika yang kian tak beraturan. Di dalam ruang tunggu pengantin yang bernuansa serba putih dan emas, Arunika berdiri di depan cermin raksasa. Ia menatap pantulan dirinya yang hampir tak ia kenali. Gaun pengantin berwarna broken white dengan potongan A-line itu melekat sempurna di tubuhnya, dihiasi ribuan payet kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.
Rambutnya disanggul modern dengan headpiece mutiara yang elegan. Riasan wajahnya yang soft glam membuat matanya terlihat lebih besar dan berbinar, namun di balik itu, ada kegelisahan yang nyata.
"Fokus, Arunika. Fokus," bisiknya pada bayangan di cermin. Ia meremas buket bunga mawar putih di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Ingat kesepakatannya. Ini cuma nikah kontrak dua tahun. Cuma buat nyelametin harga diri kamu depan Marsel, dan buat bantuin Mas Thomas dapet restu maminya. Oke? Cuma itu."
Namun, entah kenapa, logika itu tidak sinkron dengan dadanya yang terasa sesak oleh debaran aneh. Kenapa ia merasa seperti benar-benar akan menyerahkan seluruh hidupnya?
Tok! Tok!
Pintu terbuka, dan Mama masuk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Nika... anak Mama cantik banget. Thomas sudah siap di depan penghulu. Kamu sudah siap, sayang?"
Arunika menelan ludah, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Siap, Ma. Doain Nika ya."
"Pasti, sayang. Thomas itu pria baik. Mama tenang melepas kamu sama dia," Mama memeluknya singkat, tak tahu bahwa di balik gaun indah itu, ada selembar kertas kontrak yang mengikat mereka.
Prosesi akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat. Arunika duduk di samping Thomas, menunduk dalam-dalam saat pria itu mengucapkan ijab kabul dengan satu napas, lantang, dan tanpa ragu sedikit pun.
"Sah!"
Suara saksi dan tamu undangan menggema di seluruh ruangan. Saat itulah, Arunika merasa dunianya berputar. Ia mencium punggung tangan Thomas—tangan yang kini resmi menjadi pelindungnya—dan Thomas membalas dengan mengecup keningnya lama sekali. Embusan napas Thomas di keningnya terasa begitu tulus, membuat pertahanan Arunika nyaris runtuh.
Setelah rangkaian acara inti selesai, tibalah saatnya sesi foto bersama di pelaminan yang didekorasi dengan ribuan bunga segar. Suasana di sana sangat ramai. Ardi, yang bertindak sebagai best man, berdiri di bawah panggung sambil memberikan jempol pada Thomas.
"Ayo, pengantin baru! Pose yang mesra dong! Jangan kaku kayak patung selamat datang!" teriak Ardi, memancing tawa para tamu.
Fotografer mulai memberikan instruksi. "Ibu Arunika, mohon bersandar ke bahu Bapak Thomas. Pak Thomas, tangannya di pinggang Ibu ya."
Thomas melakukan instruksi itu dengan sangat natural. Tangannya yang besar melingkar posesif di pinggang Arunika, menarik gadis itu hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Mas, jangan deket-deket banget, aku susah napas," bisik Arunika lewat sudut bibirnya yang tetap dipaksa tersenyum ke kamera.
"Diamlah. Ini demi dokumentasi yang bagus," sahut Thomas rendah.
"Satu... dua... tiga! Oke, sekarang gaya bebas!" seru fotografer.
Tepat saat kilatan lampu kamera menyala, Thomas tiba-tiba memutar wajahnya sedikit dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Arunika. Bukan sekadar kecupan singkat, tapi sebuah ciuman lembut yang terasa hangat dan lama.
Arunika terlonjak kaget. Matanya membulat sempurna, jantungnya serasa mau melompat keluar dari tenggorokan. Ia hampir saja menoleh untuk memprotes, namun insting "akting"-nya bertahan. Ia tetap menatap kamera dengan senyum yang dipaksakan, meski wajahnya kini sudah merah padam melebihi warna mawar merah di dekorasi.
"Mas! Kamu ngapain sih?!" bisik Arunika panik setelah kilatan kamera berhenti.
"Itu namanya fanservice untuk keluarga, Baby," jawab Thomas santai, menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa dosa.
Di bawah panggung, Ardi tertawa terpingkal-pingkal sampai bahunya terguncang. Ia menutup mulut dengan tangannya, berbisik pada asisten WO di sebelahnya. "Gila, bisa aja modusnya si Thomas. Dingin-dingin tapi kalau ada kesempatan, sikat terus! Kayaknya kontrak itu cuma formalitas buat dia."
Marsel, yang berdiri di barisan tamu bersama Aletta, mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat pemandangan itu. Hatinya panas melihat bagaimana Thomas memperlakukan Arunika dengan begitu berani di depan umum.
Sesi foto berlanjut dengan keluarga besar. Saat itulah Ardi naik ke pelaminan untuk berfoto bersama. Ia berdiri di sisi lain Arunika.
"Gila ya, Nika. Sabar-sapar ya punya suami kayak Thomas. Modusnya level dewa," goda Ardi sambil menyenggol lengan Arunika.
"Kak Ardi! Mas Thomas tuh, nggak ada di briefing tahu!" keluh Arunika manja.
Thomas langsung menarik Arunika lebih dekat padanya, memisahkan jarak antara istrinya dan Ardi. "Ardi, berhenti mengganggu istriku. Pergi sana, urusi tamu-tamu di bawah."
"Dih, posesif banget Bapak Tua ini," ledek Ardi. "Nika, kalau dia galak, lapor gue ya! Gue punya rahasia dia dari zaman SMA."
"Rahasia apa, Kak?" tanya Arunika antusias.
"Rahasia kalau dia sebenarnya—"
"Ardi! Pergi atau aku batalkan tiket liburanmu ke Jepang!" potong Thomas tajam.
Ardi langsung bungkam dan lari turun dari panggung sambil tertawa. Arunika menoleh ke arah Thomas, menatap suaminya itu dengan penuh selidik. "Mas, rahasia apa sih? Kok Mas panik banget?"
Thomas merapikan tatanan rambut Arunika yang sedikit berantakan. Ia menatap mata istrinya dengan dalam, sebuah tatapan yang membuat Arunika lupa bagaimana caranya bernapas.
"Bukan apa-apa. Hanya urusan laki-laki," jawab Thomas. Ia kemudian merendahkan suaranya agar hanya Arunika yang bisa mendengar. "Dengarkan aku, Arunika. Mulai detik ini, tidak ada lagi Marsel, tidak ada lagi masa lalu. Kamu adalah Nyonya Adiputra. Dan aku akan pastikan kamu tidak akan pernah menyesal memilihku, meskipun awalnya kita mulai dengan selembar kertas."
Arunika terpaku. Keikhlasan dalam suara Thomas membuat dadanya sesak. Ia ingin membantah bahwa ini hanya kontrak, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan Thomas menggandeng tangannya untuk menyapa tamu undangan.
Malam itu, di tengah kemegahan pesta pernikahan mereka, Arunika menyadari satu hal yang menakutkan. Kontrak itu mungkin berdurasi dua tahun, tapi debaran jantung yang diciptakan Thomas... sepertinya akan bertahan jauh lebih lama dari itu.
"Mas..." panggil Arunika pelan saat mereka berdiri di tengah lantai dansa.
"Ya?"
"Makasih ya. Hari ini... aku ngerasa jadi wanita paling cantik sedunia."
Thomas tersenyum, kali ini senyum tulus yang mencapai matanya. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Arunika saat musik mulai mengalun. "Kamu tidak perlu merasa begitu, Arunika. Karena bagiku, kamu memang selalu menjadi yang tercantik. Kontrak atau bukan."
Dan di bawah guyuran lampu sorot, mereka berdansa, mengabaikan tatapan iri Marsel dan tawa godaan Ardi, seolah dunia hanya milik mereka berdua malam itu.
gagal
coba lagi dong 🤭