NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam doff. Di sampingnya terdapat tulisan: CEO OFFICE Rendra menekan akses sidik jari yang hanya bisa dipakai olehnya ataupun Kanisha.

Klik.

Pintu terbuka perlahan dan saat itulah Kanisha kembali melihat ruangan yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya.

Ruangan itu sangat luas, jauh lebih luas dibandingkan ruang kerja eksekutif biasa.

Konsep modern monokrom yang menjadi ciri khas keluarga Winata masih terlihat jelas.

Dominasi warna hitam, putih, dan abu-abu menciptakan suasana elegan namun tetap hangat. Di sisi kanan terdapat jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Cahaya matahari masuk dengan sempurna dan membuat seluruh ruangan terlihat terang.

Di sisi kiri terdapat rak-rak besar yang dipenuhi berbagai penghargaan perusahaan sementara di bagian tengah ruangan terdapat dua meja kerja besar yang berdiri berdampingan.

Satu meja berada di posisi utama, meja milik CEO, meja milik Rendra. Dan tepat di sampingnya terdapat satu meja kerja lain yang ukurannya sedikit lebih kecil namun tetap terlihat mewah. Meja itu masih berada di tempat yang sama, tidak berubah sedikit pun seolah seseorang memang sengaja mempertahankannya selama lima tahun terakhir. Langkah Kanisha perlahan terhenti.

Matanya memandangi meja itu cukup lama.

Dadanya mendadak terasa hangat. Ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Rindu terhadap dirinya yang dulu, rindu terhadap impian yang pernah ia tinggalkan dan rindu terhadap dunia yang sempat menjadi bagian hidupnya.

Tanpa sadar, senyum tipis muncul di bibirnya.

Tangannya perlahan menyentuh permukaan meja tersebut. Masih sama, bahkan tata letaknya hampir tidak berubah. Laptop kerja, tempat alat tulis, rak dokumen dan di tengah meja itu berdiri sebuah papan kaca elegan.

Tulisan di atasnya masih jelas terlihat.

WAKIL PIMPINAN

Kanisha terdiam. Untuk sesaat ia benar-benar tidak mampu berkata apa-apa. Rasanya aneh karena selama ini ia berpikir semuanya sudah berubah namun ternyata tidak. Meja itu masih ada, posisi itu masih ada, seolah tempat itu selama lima tahun terakhir terus menunggunya untuk kembali.

"Kamu lihat?" Suara Rendra membuat Kanisha menoleh. Pria itu tersenyum tipis. "Papa nggak pernah suruh siapa pun menempati meja itu." Kanisha langsung terdiam sementara Rendra berjalan mendekat. "Karena dari awal papa yakin suatu hari nanti kamu bakal balik lagi ke sini."

Mata Kanisha langsung berkaca-kaca. Bukan karena sedih melainkan karena terharu. Selama ini ternyata ayahnya tidak pernah benar-benar menyerah menunggunya. Rendra kemudian menepuk bahu putrinya pelan.

"Ayo." Tatapannya hangat. "Itu tempat kamu."

Kanisha memandangi meja tersebut sekali lagi lalu perlahan berjalan mendekat. Tangannya menyentuh kursi kerja yang dulu sering ia gunakan. Kursi kulit hitam yang nyaman, kursi tempat ia menghabiskan berjam-jam setiap hari memikirkan strategi perusahaan. Dan perlahan Kanisha duduk di sana untuk pertama kalinya setelah lima tahun.

Perasaan aneh langsung memenuhi dadanya seolah sebuah bagian dari dirinya yang selama ini hilang akhirnya kembali ke tempat semestinya. Rendra memperhatikan putrinya lalu tersenyum puas.

"Nah, Itu baru Kanisha yang papa kenal."

Kanisha tertawa kecil mendengar candaan papanya.

"Papa bisa aja."

Rendra ikut tertawa kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya sendiri. Tak lama kemudian suasana kantor mulai berubah menjadi lebih serius. Beberapa sekretaris datang membawa dokumen. Asisten pribadi Rendra masuk menyerahkan jadwal. Email-email penting mulai berdatangan dan tanpa terasa, ritme kerja yang dulu begitu familiar perlahan kembali menghampiri Kanisha.

Ia membuka beberapa laporan perusahaan.

Membaca perkembangan bisnis, mempelajari data terbaru dan semakin lama ia membaca, semakin terlihat jelas bahwa kemampuan analisisnya belum hilang. Mungkin sempat tertidur namun tidak pernah benar-benar menghilang. Sekitar satu jam kemudian, Rendra menutup salah satu dokumen di tangannya.

"Kanisha."

Wanita itu langsung mengangkat kepalanya.

"Hm?"

"Ada satu hal yang ingin papa bahas."

Kanisha langsung fokus mendengarkan papanya sementara Rendra menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kemarin ada proposal kerja sama internasional yang masuk."

"Oh?"

"Dari perusahaan Korea Selatan."

Kanisha langsung tertarik.

"Kalau Kanisha boleh tahu, itu perusahaan apa, pa?"

Rendra mengambil satu berkas lalu menyerahkannya. Kanisha menerima dokumen tersebut. Tatapannya langsung membaca halaman pertama. Di sana tertulis nama perusahaan MIRAE GLOBAL HOLDINGS yang mana hal itu membuat Kanisha mengangkat alisnya. Nama itu terdengar familiar, melihat reaksi yang terlihat di wajah putrinya membuat Rendra tersenyum tipis.

"Mereka salah satu perusahaan terbesar di bidang teknologi terintegrasi, logistik modern, dan pengembangan smart infrastructure."

Kanisha membuka halaman berikutnya. Matanya bergerak cepat membaca data-data perusahaan.

"Siapa pemimpinnya sekarang?" Tanya Kanisha.

Pertanyaan yang langsung membuat Rendra tersenyum kecil karena itulah Kanisha yang ia kenal. Selalu mencari akar informasi sebelum mengambil keputusan, selalu menganalisis sebelum menyetujui sesuatu. Rendra menjawab tenang.

"Kang Ji Hoon."

Kanisha berhenti membaca.

"Kang Ji Hoon?"

"Iya." Rendra mengangguk. "Usianya masih terbilang muda untuk ukuran CEO perusahaan sebesar itu." Kanisha kembali membuka beberapa halaman sementara Rendra melanjutkan perkataannya. "Dia mengambil alih perusahaan keluarganya sekitar tujuh tahun lalu."

"Dan?"

"Sejak dia memimpin, pertumbuhan perusahaan meningkat drastis." Kanisha mulai tertarik yang membuat Rendra lalu menjelaskan lebih jauh. "Kang Ji Hoon dikenal cukup agresif dalam ekspansi bisnis. Dia berani mengambil risiko. Tapi anehnya hampir semua keputusan besarnya berhasil." Kanisha mendengarkan penjelasan papanya dengan serius. "Mereka berhasil mengalahkan beberapa perusahaan besar Korea dalam sektor teknologi dan logistik." "Selain itu mereka punya reputasi bagus dalam kerja sama internasional."

Kanisha mengangguk pelan.

"Bagaimana sistem bisnis mereka?"

Rendra tampak puas mendengar pertanyaan itu.

"Sangat terstruktur. Mereka lebih fokus membangun hubungan jangka panjang daripada keuntungan cepat. Mereka juga terkenal ketat soal transparansi dan efisiensi operasional."

Kanisha kembali membaca data-data yang ada yang membuat suasana ruangan mendadak hening dan hanya suara lembaran dokumen yang dibalik. Rendra tidak mengganggunya karena ia tahu putrinya sedang berhitung. Menghitung peluang, menghitung risiko, menghitung keuntungan kerjasama kedua perusahaan sama seperti dulu. Beberapa menit berlalu, Kanisha akhirnya meletakkan dokumen tersebut. Tatapannya berubah serius.

"Kalau kerja sama ini berhasil..." Rendra memperhatikan. "Winata Group bisa memperluas pasar internasional jauh lebih cepat."

Rendra tersenyum.

"Tepat sekali."

Kanisha kembali berpikir.

"Risikonya ada, tapi masih dalam batas yang bisa dikendalikan."

Rendra mengangguk.

"Papa juga berpikir begitu."

Kanisha kembali melihat proposal itu lalu tanpa ragu ia menutup map tersebut.

"Saya setuju."

Rendra tersenyum puas.

"Saya?"

Kanisha langsung tertawa kecil.

"Maaf pa, Kanisha salah omong."

Rendra ikut tertawa namun matanya terlihat sangat karena putrinya itu akhirnya bisa tertawa setelah apa yang dialaminya. Kanisha kemudian mengangguk mantap.

1
Rain Aricia
Bagus banget sih ini, emosinya dapat. Mc nya gak menye2 dan langsung gerak🤩
Rain Aricia
Papanya aku suka, langsung gercep
Rain Aricia
Malu lah ya, masa jadi laki2 ga punya duit, mana dia selingkuh pake duit istrinya. Kocak kali dua sejoli ini🤣
Rain Aricia
Memang gilanya Arven itu, orang2 kayak gitu emang merasa ga ada dosa sih
Rain Aricia
Biasalah pa, ulahnya si lelaki tak tau diri itu
partini
si kamfreeet belum juga sadar
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: emang Gedeg itu si Arven kak, btw makasih ya udah mampir baca ke karya aku🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
The best 👍👍👍👍👍👍👍

dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih banyak kak 🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
mampus
Suhadi Mulyo
alasannya itu Mulu kamu ven
Suhadi Mulyo
teruskan pak, buat mereka sadar dan tahu diri kl perlu.
Suhadi Mulyo
menantu apanya? anaknya sendiri selingkuh masa bapaknya nggak tahu
Suhadi Mulyo
kata siapa keluarga? udah enggak ya, sorry nih 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
tanya saja sama anakmu, pak.
Suhadi Mulyo
dengerin, makanya jadi orang itu yang punya sedikit rasa syukur, udah dikasih bantuan plus istri cantik malah banyak tingkah 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
cowok selingkuh bermuka tebal🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
makanya jadi cowok tu jangan kebanyakan polah
Suhadi Mulyo
nggak malu ta pak sampe datang ke besan cuma mau nanya soal bantuan? waduh bapak anak nggak ada malunya
Suhadi Mulyo
kalau begini terus kerjaannya mereka, ya bangkrut lagi perusahaannya.
Suhadi Mulyo
kamu nggak denger ya ven apa kata asisten kamu tadi? udah red flag, tuli juga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!