NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Happy Time

Sesuai yang telah direncanakan sebelumnya, menjelang magrib mereka pun telah berada di area jam gadang , salah satu wisata sejarah dan ikon nya kota Bukittinggi. Bunda, Devan dan Hanum melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu di Masjid Raya dan pergi ke Stasiun Lambuang, kumpulan warung makan yang berjejeran di satu gedung.

"Bunda pengen nasi padang aja deh, sekalian rendang," kata Bunda meminta Devan untuk memesan.

"Kamu mau apa, Hanum?" tanya Devan pada Hanum yang sedari tadi celingak-celinguk menatap sekelilingnya.

"Aku samain aja kayak Bunda tadi, Mas."

Sebetulnya, Hanum merasa takjub karena di tempat ini banyak orang yang memakai bahasa daerah yang bermacam-macam. Ada logat Batak, Minang, Jawa, tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Belum lagi suhu udara yang sejuk mulai menyelimuti gelapnya malam.

Sehabis makan, mereka mulai menjelajahi Ramayana. Di sana Bunda mengajak Hanum untuk berbelanja baju dan beberapa snack untuk dibawa ke rumah.

"Besok siang kita pulang, Nak. Jadi, kamu senang-senangin aja dulu. Soalnya kasian Bi Inah sendirian di rumah," kata Bunda memberitahu.

"Iya tak apa, Bun."

Hingga pukul setengah sepuluh, mereka pun pulang ke rumah gadang. Di sana Tek Nun menyambut mereka dan menyuruhnya untuk istirahat. Tampak Tek Nun dan Bunda sedang berbincang-bincang di ruang tengah, membicarakan masa lalu mereka.

"Hanum, kamu gapapa kan? Dari tadi kamu cuma diam saja," Devan menatap Hanum yang hening.

"Aku rindu keluarga aku, Mas."

Devan menatapnya penuh kasih. "Sekarang kamu sudah punya aku dan Bunda, Hanum."

Hanum balas tersenyum. "Terimakasih ya, Mas. Aku gak menyangka aku bakalan ada di situasi ini.."

"Ya sudah, kamu tidur dulu sana. Biar besok ada energi lagi," ucap Devan pada Hanum.

Perempuan itu mengangguk. Dia segera pergi menuju kamarnya kembali. Ada banyak hal yang telah terjadi di hidupnya belakangan ini. Akan tetapi, dia memilih untuk tidak memikirkannya saat ini.

Keesokan paginya, mereka bertiga bersiap untuk pergi ke bandara. Menyalami Tek Nun dan Paman Zul yang meminta mereka untuk datang kembali suatu hari nanti.

"Sayang sekali ya, kalian pada sibuk melulu. Kapan-kapan main lah lagi kemari.., sekalian liburan," kata Tek Nun pada Bunda.

"Iya, Dek. Kapan-kapan kami kesini lagi ya.".

Setelah berpamitan, mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil diantar oleh pak supir menuju bandara.

"Untung Bunda bawa sanjai," celetuk Bunda.

"Apa itu, Bun?"

"Oleh-oleh untuk Bi Inah," Bunda menunjuk bungkusan kerupuk singkong merah cerah dan menyodorkannya pada Hanum. "Cobalah."

Hanum mengambilnya satu dan mulai mencicipinya. "Enak ya, Bun."

Bunda tersenyum menatap Hanum yang antusias.

"Makasih banyak ya, Pak," Devan memberikan lima lembar uang merah pada pak supir.

"Tarimo Kasih yo, Nak!" Pak supir tampak senang menerimanya. "Kapan-kapan kembali lah lagi kesini ya," kata Pak supir lagi.

Devan mengangguk mengiyakannya.

Tiga jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Menuju ke rumah dengan mobil Devan yang sudah ada di Bandara. Tampak seorang pria sebayanya yang telah menunggui nya.

"Makasih ya, Bre," ucap Devan pada Fahri.

"Aman aja, nih kunci lu. Gue balik dulu ya." Sebelum Fahri menuju mobilnya, dia menatap Hanum.

"Itu siapa, Van? Cantik bener kayak bidadari turun dari surga," kata Fahri lagi. "Bagi nomor nya dong, gue mau punya cewek muslimah,"sambungnya.

Devan menginjak sepatu Fahri. "Itu calon gue, Bro," kata Devan berbisik.

"Eh? Sorry Bree! Gue kira.., ah sayang kali lah bah. Beruntung bener lu padahal banyak cewek yang pengen jadi pasangan lo," kata Fahri lagi.

Devan tertawa kecil saja.

"Itu siapa, Mas?" tanya Hanum.

"Teman kantor, Mas. Bunda di mana?"

"Lagi ke toilet bentar, Mas."

Hingga Bunda tiba, mereka pun masuk ke dalam mobil dan menuju rumah. Bi Inah sangat senang menyambut mereka. Berkali-kali dia mengatakan rumah ini sepi sekali tanpa mereka. Apalagi saat Bunda memberikan oleh-oleh untuknya.

"Mas, aku mau ke butik dulu ya," kata Hanum.

"Sekarang banget nih? Kamu gak capek?"

Hanum menggeleng. "Gak kok, Mas. Aku pengen ketemu sama Kak Dela juga," kata Hanum.

"Ya sudah, Mas juga mau ke kantor dulu. Ada yang mau diurus," Devan menimpali.

Hanum mengangguk. Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah setelah pamit pada Bunda.

1
Anonim
IBLIS HARUS DIBANGKITKAN DAN MENJALIN KONTRAK DENGAN NYA HANUM...BUNUH SEMUA MUSUH MU
silainge01
First nulis di sini
partini
good
partini
sehat selalu Thor, semoga dapat yg terbaik 👍👍
silainge01: Aamiim terimakasih kakak 🤲
sehat selalu 🤓
total 1 replies
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!