Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 01
"Kakakku pergi ke Shanghai dan pulang sebagai jenazah. Tapi aku menolak hidup dalam bayang-bayang ketakutan itu. Aku datang untuk menulis takdirku sendiri.”
"Dan,ketika semua berkata bahwa Shanghai adalah luka bagi keluargaku tapi bagiku Shanghai adalah awal dari perjalananku,kisah cintaku dan juga penyatuan antara dua negara,dua budaya dan dua bahasa."
****
"Ibu dan Bapak tidak setuju kamu bekerja di Shanghai. Apa kamu lupa apa yang terjadi pada Mbakmu di sana? Dia pergi membawa mimpi... tapi pulang hanya tinggal jenazah."
Ucapan Ibu Wati membuat Aisyah Azahra terdiam.
Di tangannya masih tergenggam email penerimaan kerja dari sebuah perusahaan besar di Shanghai.
Tujuh tahun lalu, Mbak Alesya pergi ke kota yang sama dan dia pulang dalam peti mati.
Sejak hari itu, nama Shanghai menjadi luka bagi keluarganya.
"Bu, Pak..." suara Aisyah bergetar, namun matanya mantap.
"Aku pergi ke Shanghai bukan untuk mengulang takdir Mbak Alesya. Aku pergi untuk menulis kisahku sendiri.
Aku ingin mewujudkan mimpi Mbak Alesya yang terlewatkan untuk mengubah takdir keluarga kita. Ini kesempatan Bu,Pak.. Aku hanya membutuhkan doa serta restu dari Ibu dan Bapak." ucapnya lirih..
Mata Ibu Wati dan Pak Kasim hanya bisa berkaca-kaca,mereka masih ingat dulu Alesya juga memiliki niat dan mimpi yang sama seperti Aisyah namun kenyataannya dua tahun dia di Shanghai dia pulang dalam peti mati..
"Bu,,Pak.. Aisyah tahu apa yang Bapak dan Ibu takutkan. Tapi Aisyah yakin aku dan mendiang Mbak Alesya memang pergi ke negara yang sama tapi kami akan menemukan takdir yang berbeda.." ucapan lembut Aisyah meluluhkan hati kedua orang tuanya..
"Baiklah,tapi jika kamu tak merasa aman disana dan kamu mengalami masalah maka pulanglah rumah ini akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang.."
Aisyah mengangguk dia juga merasakan hal yang sama dengan orang tuanya. Tapi Aisyah yakin dia akan menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang tak pernah dia ucapkan..
Tepat di bandara Ibu Wati memegang erat tangan Aisyah. Airmata mengalir dengan sangat deras,dia sungguh takut jika tragedi itu terulang lagi. Shanghai telah merenggut satu anaknya dan dia tak ingin jika Aisyah mengalami hal yang sama.
"Pergilah Nak Ibu dan Bapak akan selalu mendoakan kamu. Semoga kamu akan selalu baik-baik saja. Dan pesan Ibu satu jika terjadi apa-apa jangan lupa untuk meminta bantuan pada orang yang tepat. Jangan pernah gegabah dalam mengambil keputusan,kamu disana sendiri. Dan pulanglah jika disana membuatmu tak nyaman."
Pelukan hangat Aisyah dan kedua orang tuanya pun terasa sangat hangat. Aisyah akan memulai perjalanan barunya datang ke negara yang dikenal dengan julukan tirai bambu itu.
Aisyah pun telah duduk didalam pesawat yang akan segera membawanya ke Shanghai, Aisyah berharap perjalannya lancar dan sampai dengan selamat.
Dari Indonesia memerlukan 8 jam untuk menuju Bandara internasional Pudong Shanghai. Sesampainya disana Aisyah pun mulai bingung. Dia tak kenal dengan siapapun bahkan kini agen yang menghubunginya pun tak nampak membuatnya bingung bukan kepalang.
Aisyah memegang kalung liontin peninggalan terakhir sang Kakak. Dia berharap Kakaknya yang sudah tiada akan selalu menjaganya dari atas sana.
"Mbak Alesya,aku sudah sampai ke negara dimana kamu meninggalkan nama,semoga saja aku akan tahu sebuah kebenaran."
Dalam kepanikannya sepasang mata menatapnya tanpa sengaja. Mereka adalah kelompok mafia paling kejam nomor dua di Shanghai. Ternyata Aisyah adalah korban dari sindikat perdagangan manusia. Aisyah dijanjikan pekerjaan yang layak disana namun nyatanya Aisyah justru menjadi target kejahatan antar negara.
"Qǐngwèn, nǐ zhēn de shì ài shā ma? (Maaf apakah benar kamu Aisyah?) tanya seseorang yang tiba tiba saja mendekatinya.
"Méicuò, wǒ jiào ài shā. (Benar, saya Aisyah.") jawab Aisyah dengan tenang.
Orang itupun langsung tersenyum menatap wajah cantik Aisyah.
Orang itupun mengajak Aisyah pergi ke suatu tempat disana Aisyah di berikan sebuah kamar untuk beristirahat.
Namun,semua tanda pengenal Aisyah diambil oleh mereka termasuk paspor dan juga ijazah dan semuanya. Membuat Aisyah pun panik dia sudah memiliki firasat tak baik namun Aisyah mencoba untuk tenang.
Setelah beristirahat Aisyah pun di bawa untuk menemui Mr.Wang dia adalah ketua mafia yang ingin memanfaatkan Aisyah untuk kepentingannya..
Aisyah mencoba untuk tenang. Aisyah diminta untuk membawa obat terlarang ke Indonesia namun Aisyah menolak.
Satu tamparan pun mendarat sempurna di pipi Aisyah,namun tak ada penyesalan dimata Aisyah dia tak mau tunduk pada siapapun. Aisyah hanya memohon perlindungan dari penciptanya,dia yakin Allah akan selalu melindunginya.
"Menurut atau tamat." adalah pilihan yang harus Aisyah ambil namun dia tak menjawab dia tak mau tamat namun dia juga tak mau menurut. Jika dia melakukan itu sama saja di mengkhianati bangsanya sendiri,Aisyah tahu konsekuensi yang harus dia terima.
"Menurut saja jika kamu ingin selamat. Tapi jika kamu menolak maka kamu tahukan apa konsekuensinya!!" ucapan itu adalah ancaman tapi Aisyah tak takut.
"Baiklah aku setuju.." jawab Aisyah tanpa ekspresi...
Satu bulan sudah Aisyah bertahan dengan kekejaman Mr.Wang. Aisyah pun memutuskan untuk kabur,walaupun kemungkinan untuk selamat dan bisa pulang ke Indonesia itu sangatlah kecil.
Dan,,jika dia kabur maka dia tak lain adalah seorang imigran gelap yang akan sangat sulit untuk menemukan tempat untuk tinggal..
"Bismillah saja Allah pasti akan memberikan aku jalan." ucapnya dalam hati.
Aisyah menuruti permintaan Mr. Wang untuk menemui seseorang dia adalah Mr. Lin Chou,salah satu ketua mafia terbesar di Shanghai..
Namun,, diperjalanan Aisyah memutuskan untuk kabur hingga dia pun terlibat kejar kejaran oleh anak buah Mr. Wang.
Aisyah yang pandai pun berhasil lolos,namun kedepannya Aisyah sendiri bingung karena di negara sebesar Shanghai dia tak memiliki kerabat atau sahabat.
Tiba tiba Aisyah melihat seorang laki-laki tampan yang terluka dipinggir jalan, dia adalah Lin Zhao..
"Hello,,are you okey?(hallo apa kamu baik-baik saja?"tanya Aisyah dengan lembut...
Mata indah yang terlihat sangat terang membuat laki-laki itu langsung mengagumi sosok Aisyah.
"Nǐ hǎo. WǑ méi shì .(hallo,aku tidak apa apa. )jawab laki-laki itu dengan menahan sakit di bagian perutnya.
Rupanya laki laki itu terluka. Aisyah pun langsung menolongnya dengan mengobati luka Lin dengan alat seadanya..
"Xièxiè nǐ bāngzhù wǒ.(terima kasih karena kamu sudah menolong saya.) ucapnya sembari pergi meninggalkan Aisyah begitu saja.
Disudut gang ada sepasang mata yang menatap keduanya,wajahnya terlihat penuh amarah dan ketika dia melihat bayangan wajah Aisyah laki-laki itupun langsung lemas..
"Tā shì shéi a?.(siapa wanita itu?)
"Yìnní fùnǚ.(Wanita Indonesia.) jawab sang asisten yang langsung membuat laki laki itu membeku.