Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kembalinya Sang Bayang-Bayang
"Lo lihat grafik ini, Ed? Meledak total. Pecah rekor penayangan variety show di Asia Tenggara dalam waktu dua puluh empat jam!"
Edrick Jasper menyandarkan punggungnya di kursi kerja kulit yang mewah. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber digoyang-goyang perlahan. Matanya tidak berkedip menatap layar tablet yang disodorkan oleh asisten pribadinya. Di layar itu, terpampang foto cuplikan video live stream malam kemarin—adegan di mana Declan Bryer sedang meniupkan sup hangat ke mulut Sienna Rose.
Sudut bibir Edrick terangkat, membentuk senyuman miring yang penuh dengan kilat kelicikan. "Declan, Declan... Akting lo boleh juga. Pura-pura jadi pangeran pelindung buat cewek bodoh itu."
"Tapi, Pak Edrick, netizen bener-bener percaya. Saham agensi Declan yang sempat turun lima persen sekarang malah melonjak naik sepuluh persen. Skandal foto Milan itu hilang dalam semalam," lapor sang asisten cemas.
PRANG!
Edrick mendadak menghempaskan gelas kristal di tangannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, wajah tampannya yang biasa terlihat ramah di depan publik kini mengeras dipenuhi urat kemarahan.
"Gue nggak peduli sama saham sialan itu!" desis Edrick tajam. "Gue cuma nggak sudi melihat bajingan itu tersenyum di atas penderitaan keluarga gue! Gara-gara ibunya yang kegatelan melarikan diri sama bokap gue ke Italia, ibu gue jadi gila! Ibu gue mati mengenaskan di rumah sakit jiwa!"
Asistennya menunduk dalam, tidak berani menyela amarah bosnya. Semua orang di lingkaran dalam keluarga Jasper tahu betapa dalamnya dendam Edrick pada Declan. Bagi Edrick, setiap napas yang dihirup Declan adalah sebuah kesalahan.
Edrick mengambil selembar tisu, mengelap tangannya yang terkena cipratan air dengan santai, lalu kembali memakai topeng tenangnya. "Sienna... dia masih secantik dulu, kan? Malah makin seksi sekarang sejak jadi supermodel."
"Benar, Pak. Hubungan mereka di acara itu digilai banyak orang."
"Hubungan palsu," ralat Edrick tertawa hambar. "Sienna itu gampang dibego-begoin. Dulu aja dia mau gue jadiin bahan taruhan pas SMA tanpa curiga sedikit pun. Dan Declan... cowok kaku itu langsung kabur ke Italia kayak pecundang begitu tahu cewek incarannya gue sentuh."
Edrick mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, otaknya yang manipulatif mulai merancang sebuah skenario busuk yang baru. "WGM ini acara besar. Berarti, ini panggung yang paling pas buat ngejatuhin Declan dari tempat tertingginya. Biar dia ngerasain gimana rasanya hancur total di depan jutaan pasang mata publik."
"Maksud Bapak?"
"Hubungi produser utama We Got Married sekarang," perintah Edrick dengan kilat mata yang berbahaya. "Bilang sama mereka, Jasper Group siap masuk sebagai investor utama dengan dana segar dua kali lipat dari anggaran mereka sekarang. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa, Pak?"
"Masukkan gue dan pasangan gue sebagai peserta baru di episode minggu depan. Konsepnya double date antar pasangan WGM." Edrick tersenyum licik.
"Tapi... siapa yang bakal jadi pasangan Bapak di acara itu?" tanya asistennya bingung.
Edrick meraih ponselnya, mencari sebuah kontak di daftar panggilan teratas. Sebuah nama artis papan atas terpampang di sana. "Maura. Hubungi Maura Gilbert."
Di tempat lain, di sebuah kafe privat di area Menteng, Edrick duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut pirang kecokelatan. Wanita itu adalah Maura Gilbert, aktris yang setahun lalu sempat gempar dirumorkan terlibat cinta lokasi dengan Declan saat mereka membintangi film layar lebar romantis yang menjadi box office. Hingga saat ini, basis penggemar mereka yang dinamai 'DecMau Shipper' masih sangat militan dan berharap mereka benar-benar berpacaran.
Maura menyesap kopinya, lalu menatap Edrick dengan sebelah alis terangkat. "Jadi, lo mau gue akting jadi pacar atau istri kontrak lo di WGM demi mancing Declan?"
"Bukan cuma mancing, Maura. Ini kesempatan lo buat ngerebut Declan balik dari tangan cewek kegatelan kayak Sienna Rose," rayu Edrick, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Gue tahu lo beneran naksir Declan pas syuting film kemarin, kan? Tapi Declan selalu nolak lo dengan alasan profesional kerja."
Maura terdiam, jemarinya mengetuk cangkir kopi. Tebakan Edrick tepat sasaran. Harga diri Maura sebagai aktris nomor satu terluka karena diabaikan oleh Declan, dan melihat Declan memperlakukan Sienna selembut itu di WGM kemarin membuatnya terbakar cemburu.
"Fans lo dan Declan itu jumlahnya jutaan, Maura. Begitu kita berdua masuk ke acara itu, publik bakal terpecah. Mereka bakal mulai banding-bandingin Sienna yang ceroboh dan galak dengan lo yang anggun, elegan, dan punya sejarah manis sama Declan di film," lanjut Edrick, memanaskan suasana. "Sienna bakal kelihatan kayak perusak hubungan orang. Dan Declan? Sifat kaku dia bakal goyah begitu lihat lo ada di sana."
Maura tersenyum tipis, matanya memancarkan ambisi yang sama besarnya dengan Edrick. "Oke. Gue ikut permainan gila lo. Lagian, gue juga mau lihat seberapa kuat pertahanan si Declan Bryer itu kalau dihadapkan sama masa lalunya."
Edrick mengulurkan tangannya di atas meja, yang langsung disambut oleh jabat tangan erat dari Maura. "Kesepakatan tercapai. Mari kita buat pernikahan palsu mereka berubah jadi neraka yang sesungguhnya."
Sementara itu, di rumah WGM, Sienna baru saja selesai mengeringkan rambutnya di kamar mandi atas. Kondisi tubuhnya sudah jauh lebih mendingan setelah dipaksa makan sup hangat dan minum obat oleh Declan semalam.
Saat berjalan keluar kamar, dia melihat Declan sedang berdiri di balkon, menempelkan ponselnya ke telinga dengan wajah yang luar biasa tegang.
"Gue nggak peduli seberapa besar dana yang dia tawarin, Rian! Tolak bajingan itu!" bentak Declan setengah berbisik ke arah ponselnya. Rahangnya mengeras, dan tangan kirinya yang bebas mencengkeram besi pembatas balkon sampai buku-buku jarinya memutih.
Sienna menghentikan langkahnya di ambang pintu balkon. "Dec? Ada apa? Siapa yang menelepon?"
Declan langsung mematikan sambungan ponselnya begitu mendengar suara Sienna. Dia berbalik, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya menjadi sedingin biasanya, namun kilat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan.
"Bukan urusan lo," jawab Declan pendek dan ketus.
Sienna berjalan mendekat, jiwa cegilnya yang penasaran langsung terusik. "Gue denger lo tadi nyebut kata 'bajingan'. Siapa? Apa ini ada hubungannya sama acara kita?"
Declan menatap Sienna lekat-lekat, ada rasa takut dan protektif yang campur aduk di dalam dadanya. Dia baru saja mendapat kabar dari manajernya bahwa Edrick Jasper resmi masuk sebagai investor WGM dan membawa Maura Gilbert sebagai pasangan baru.
Declan tahu persis apa tujuan Edrick. Bajingan itu ingin menghancurkannya, dan yang paling membuat Declan ketakutan adalah... Edrick pasti akan menggunakan Sienna lagi sebagai alat untuk memancing amarahnya, sama seperti saat SMA dulu.
"Gue bilang bukan urusan lo, Sienna Rose!" gertak Declan dengan nada yang agak meninggi karena frustrasi, membuat Sienna tersentak mundur satu langkah.
Sienna menggigit bibir bawahnya, merasa terkejut sekaligus tersinggung karena dibentak tanpa alasan yang jelas. "Lo kenapa sih? Sejak semalam ketus lagi, marah-marah lagi! Kalau lo emang tertekan banget akting jadi suami gue, bilang! Nggak usah ngelampiasin emosi lo ke gue!"
Declan membuang muka, tidak sanggup melihat mata berkaca-kaca Sienna. Gue marah bukan karena benci sama lo, Sienna. Gue marah karena bayang-bayang masa lalu yang udah ngerusak kita dulu, sekarang datang lagi buat ngehancurin lo di depan mata gue, batin Declan miris, tetap memilih bungkam di balik topeng tsundere-nya.