Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9. Ditalak
“Ibu…” Aku memeluk beliau, aku menumpahkan tangisanku pada beliau.
Bukan karena sakitnya, tapi bagaimana kehidupan keluargaku setelah ini? Jika gagal sampai tiga kali begini, berarti akulah yang problematiknya kan? Berarti akulah masalah untuk laki-laki yang mempersuntingku.
Aku adalah badai yang tak pantas dicintai.
“Kenapa, Dea? Sakit kah?” Aku merasakan usapan di punggungku.
“Kenapa pula kau, De? Udah kek temu kangen perantauan luar negeri. Malu loh kami dilihat orang,” tukas om-om nyentrik itu.
“Ayo ke mobil aja, kasian kau jadi tontonan orang,” ungkap ibu Nala dengan merangkulku.
Aku berjalan dengan tangisanku dan kepalaku yang aku sandarkan pada bahunya. Ya Tuhan, di bagian mananya yang harus aku perbaiki?
Kenapa ujianku di pernikahan, setelah ekonomi begitu mapan begini? Apa aku salah jika hanya menjaminnya tanpa memberinya usaha?
Apakah aku benar seperti apa yang mas Galih katakan?
“Nenek… Tante itu kenapa, Nek?” tanya perempuan kecil yang ternyata ditinggal di dalam mobil.
Ia cantik sekali, mirip dengan mas Nadim sekali rupanya.
“Tante-tante ini ketakutan, takut tak dijemput, Dek,” ucap om-om nyentrik itu dengan terdengar suara bantingan pintu mobil.
“Ihh, makanya Tante jangan jauh-jauh dari rumah. Kesasar kan jadinya?” Ia pindah di bangku tengah denganku dan ibu Nala.
“Nenek aja kesasar di sini, Dek. Nenek tak bisa balik lagi ke kampungnya sampai saat ini,” celetuk om-om tersebut, dengan mobil yang beranjak meninggalkan bandara ini.
“Ya Abang kawini dihamili terus sih,” sahut ibu Nala sedikit nyolot.
Ohh, ini suaminya ibu Nala. Ibu Nala neneknya mas Barraq, berarti ini toh kakeknya mas Barraq.
Sekarang aku mengerti, dari mana tampang bajingan mas Barraq itu berasal. Ternyata, bibitnya sudah begini.
“Memang begitu kalau perempuan tuh, harus dikendalikan,” sahutan suaminya ibu Nala ini membuatku menipak diriku sendiri.
Dikendalikan? Dikendalikan suami?
Aku tak terkendali, aku bebas dan lepas. Suamiku tak bisa mengendalikanku, suamiku tak bisa membuatku bertahan di rumah karena kondisi perutku lapar.
Awal mula aku tak terkendali, sejak ia beralasan lelah untuk bekerja. Ia membiarkanku kelaparan, ia tak mengusahakan isi perutku. Ia membiarkanku mencari inisiatif sendiri, sehingga aku lalai bahwa tugasnya seharusnya menafkahiku.
Lalu, ia memutar kondisi seolah aku bersalah. Seolah aku yang tidak bisa menghargainya. Masalah kecil ia besar-besaran, masalah besar ia ledakan seperti ini.
“Ibu…” Aku memandang wajah ibu Nala dari samping.
“Kenapa, Dek? Kau lapar?” Wajah dan senyumnya teduh sekali.
Cucunya sudah sebesar mas Barraq, ia masih begitu awet muda begini. Suaminya mampu mengenyangkan perutnya, suaminya mampu memenuhi kebutuhannya. Yang paling utama, suaminya bisa mengendalikannya.
“Ibu, aku baru nyalain HP,” ucapku terbata-bata.
Aku merasa mobil ini semakin pelan dan menepi. Aku menyeka air mataku untuk melihat sekelilingku. Ada tisu yang disodorkan, ada air mineral kemasan botol dan ada jelly cup.
“HPnya kehabisan kuota ya, Tan? Jangan nangis, Tante. Di rumah ada Wifi kok,” celetuk gadis kecil berisik yang menyodorkan jelly cup itu.
“Kau nih.” Suara om-om itu dengan kekehannya.
“Aku ditalak suami saat lagi kerja, Bu,” lanjutku kemudian dengan air mata yang membanjiri pangkuanku sendiri.
Tidak ada sahutan, tidak ada komentar apapun. Kecuali…
“Berapa dipalaknya, Tan? Anggap aja itu shodaqoh Tante, mungkin itu peringatan dari Allah karena Tante kurang shodaqoh. Atau, nanti minta sama Kakek aja uang yang dipalak suami Tante itu,” celetukan gadis kecil ini membuatku menangis tertawa.
“Iya, Dea. Tenang aja,” timpal ibu Nala yang membuatku melongo bodoh.
Suaminya pun sama ekspresinya sepertiku, beliau tersenyum simpul dan mengusap kepala cucu perempuannya itu.
“Rapatnya tiga harian lagi kok, kau bisa istirahat dulu. Kami menyediakan penginapan juga, udah dibooking, kau bisa langsung istirahat di kamar itu nanti,” ujar suaminya ibu Nala dengan memberiku cardlock.
“Sengaja diatur semua penerbangan dari hari ini, biar mereka yang di luar negeri bisa sampai tepat waktu,” tambahnya kemudian.
Aku harus bisa menenangkan diri dan menjernihkan pikiranku tanpa party selama tiga harian itu. Aku tidak mau pekerjaanku terancam gara-gara masalah pribadiku.
“Sabar ya? Saya pun pernah kok di posisi kau, Dea,” ujar ibu Nala dengan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Mereka welcome sekali, aku merasa kebaikan mereka.
“Pernah kepala kau! Kau minta cerai, Abang hamili berkali-kali, Dek,” seru suaminya yang membuat anak perempuan itu terkekeh.
“Kakek tuh lucu kalau marah.” Terdengar kecupan manis, mungkin itu berasal dari gadis kecil itu untuk kakeknya.
“Dasar Nadim kecil, orang marah kau bilang lucu,” timpal suaminya ibu Nala, dengan mobil yang kembali melaju lagi.
Perjalanannya tidak memakan waktu lama, mungkin hanya satu jam saja. Pantas saja keluarga ini memilih daerah sini, karena tempatnya benar-benar pas menurutku. Mana aksesnya gampang lagi.
Mobil ini berhenti di sebuah penginapan, yang di depannya ada coffee shop yang sama seperti yang aku kelola.
“Ibu, Bapak… Maaf ya? Saya mohon agar Saya tetap bisa bekerja di sini. Maaf Saya tidak profesional mencampur masalah pekerjaan dengan masalah pribadi,” ucapku sebelum keluar dari mobil.
Mereka tersenyum bersamaan. “Kami ngerti, udah kau istirahat aja dulu. Tenangin diri kau, tenangin pikiran kau. Di sebelah kiri ada minimarket, barangkali butuh sesuatu. Mau makan tinggal ke coffee shop aja, ada jalan sedikit ke samping minimarket. Ada masjid di sana, yang biasanya banyak pedagang keliling mangkal di sana. Soalnya penginapan ini penginapan kampung, maaf ya? Jadi tak disediakan makanan dari sini,” jelas suaminya ibu Nala yang masih belum diketahui namanya.
“Baik, Pak. Makasih, Pak,” balasku dengan mencium kedua tangan mereka, terakhir tanganku dicium oleh gadis kecil dengan gaun berwarna putih itu.
Kemudian aku keluar dari mobil, dengan tas jinjing milikku yang berukuran sedang. Sepertinya bajuku kurang jika untuk beberapa hari di sini. Karena aku hanya membawa tiga set baju formal, dengan perlengkapan perangkat elektronik.
Aku diarahkan ke lantai dua, kemudian aku menemukan nomor kamarku. Ini sedikit mirip kost-kostan, tapi jauh lebih elit. Karena terdapat pendingin ruangan di dalamnya dan perabot yang komplit.
Aku masih tak habis pikir dengan mas Galih, bisa-bisanya tanpa ba-bi-bu lagi ia menurunkan talaknya. Seolah ia sudah mampu sendiri tanpa songkongan biaya dariku.
Apa aku besar kepala?
Menurutku tidak. Hanya saja, ia sepertinya memang ingin harga dirinya diinjak-injak. Jika memang ia pun memiliki keinginan agar hubungan kita baik-baik saja, harusnya ia bisa ikut bekerja denganku di perantauan. Bukan malah membiarkan istrinya lepas di perantauan tak terkendali.
Tanpa bermain api, tanpa bermain gila. Aku hanya fokus kerja, tapi balasannya ia menalakku tanpa memikirkan malunya aku.
Ya, malunya aku! Bukan perasaanku!
Perasaanku telah mati, sejak ia membiarkanku kelaparan dan mencari nafkah sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini hal kecil, tapi tidak denganku.
Dua kali menjanda, aku tidak pernah diizinkan bekerja oleh keluargaku. Aku kembali ke orang tua, dengan biaya hidupku yang kembali di tanggung orang tua. Suamiku terdahulu pun tidak ada yang menyuruhku bekerja.
Meski memang bekerja adalah inisiatifku, tapi harusnya ia tidak memberi izin. Tapi ia dan ibunya malah begitu semangat untuk menyuruhku bekerja.
Berkata-kata seolah kami adalah pasangan yang harus gotong royong, karena harta yang kami miliki nantinya akan dinikmati bersama. Jika memang otaknya memahami sistem gotong royong, harusnya pekerjaan rumah tangga ia kerjakan juga ketika aku belum pulang bekerja.
Itu sih sudah aku lelah pulang bekerja, ditambah dimarahi habis-habisan karena makanan belum siap dan baju kotor menumpuk. Maka dari itu aku lebih milih merantau, agar sekalian lelah bekerja tanpa memikirkan baju kotor dan makanan.
Istri cari duit dianggap wajar dan kewajiban membantu suami, sedangkan suami cuci piring dianggap tidak pantas.
Sudah menafkahi tidak benar, patriarki lagi.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠