Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Pilihan yang Menyayat Hati
Kegelapan yang pekat langsung mengurung seluruh isi laboratorium bawah tanah begitu generator itu hancur. Bunyi desis ngeri dari sisa arus listrik yang terputus bersahut-sahutan dengan kepulan asap hitam yang tebal dan mencekik tenggorokan. Bau hangus dari oli dan plastik terbakar mulai memenuhi rongga dadaku, membuatku terbatuk-batuk kecil di dalam kabin kontrol derek kargo.
Aku tidak punya waktu untuk mengatur napas. Pikiranku hanya tertuju pada satu nama.
"Kala..." bisikku lirik, meraba-raba pintu kabin dalam remang yang sangat minim.
Aku keluar dari kabin dengan terburu-buru, merangkak turun melewati anak tangga besi vertikal secepat yang aku bisa. Dalam kegelapan yang membingungkan itu, gesekan kasar tiang besi mengelupas kulit telapak tanganku. Rasa perihnya luar biasa, meninggalkan jejak hangat cairan anyir di jemariku, namun aku terus melompat turun tanpa memedulikan rasa sakit itu. Begitu kakiku menginjak lantai semen yang retak-retak di bawah, aku langsung berlari kencang membelah kepulan asap hitam yang mulai membuat mataku perih dan berair.
Di sekitarku, keadaan berubah menjadi kekacauan yang mengerikan.
"Roy! Di mana kamu?! Cari saklar darurat!" Suara Tuan Baron melengking panik dari arah kegelapan sayap kanan ruangan. Kursi roda elektroniknya yang mati total terdengar berderit kasar saat dia mencoba menggerakkannya secara manual dengan tangannya yang ringkih.
"Sialan! Pintunya terkunci otomatis karena dayanya mati, Tuan! Kita terjebak!" sahut Roy di kejauhan, disusul bunyi hantaman popor senapan yang mencoba mendobrak gerbang besi dengan sia-sia.
Aku mengabaikan teriakan penjahat-penjahat itu. Fokusku terkunci pada area tengah, tempat meriam pneumatik tadi berdiri. Aku tersandung beberapa kali oleh puing-puing beton yang hancur akibat jatuhnya kontainer dua puluh ton, hingga akhirnya lututku menghantam lantai semen dingin tepat di samping sebuah bayangan besar yang terbujur kaku.
"Kala! Hei, bangun... Ini aku, Lara," suaraku bergetar hebat saat tanganku menyentuh pundaknya.
Kulitnya terasa sangat dingin, seperti bongkahan es balok yang biasa aku tata di dalam boks truk ikan. Dua tombak perak yang tadi menguncinya memang sudah terlepas karena daya penembaknya mati, namun cairan racun Silver Tox berbau belerang itu sudah telanjur meresap masuk dan menyebar di dalam pembuluh darahnya. Sisa-sisa sisik perak di lengannya melarut, berubah menjadi bercak keabu-abuan yang redup.
Aku segera duduk di lantai semen yang kotor, menarik tubuh besarnya dengan sisa tenagaku yang goyah agar bersandar di pelukanku. Aku memangku kepalanya, mendekap dada bidangnya yang kini naik turun dengan ritme yang sangat lambat dan patah-patah.
"Lara..." Suara Kala terdengar sangat tipis, hampir tenggelam oleh suara gemuruh reruntuhan atap gudang di atas kami.
"Iya, ini aku. Bertahanlah, tolong jangan pejamkan matamu," tangisku pecah. Air mata deras mulai mengalir membasahi pipiku, jatuh satu demi satu di atas dahi dan pipi Kala yang sedingin salju. Aku memeluk erat tubuhnya, mencoba menyalurkan seluruh kehangatan tubuhku yang tersisa demi melawan hawa sedingin es yang terus menguar dari kulitnya.
Di dalam dekapanku, tubuh Kala mendadak menegang singkat. Sepasang mata emasnya terbuka sedikit, namun kilat cahaya yang biasanya menyala tajam dan angkuh kini tampak sangat redup, seperti lilin kecil yang hampir mati ditiup angin malam pelabuhan. Jari-jarinya yang besar dan kaku bergerak lambat, meraba pergelangan tangan kiriku, lalu mencengkeram tato segel darah yang sejak tadi berdenyut ngilu di kulitku.
"Tempat ini... akan runtuh, Lara. Konstruksi beton di atas kita sudah tidak kuat menahan beban," bisik Kala, terjeda oleh napasnya yang tersengal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti usaha terakhir yang menghabiskan sisa nyawanya.
"Kita bisa keluar bersama. Aku akan memapahmu, jalur tikus di rawa masih aman," ujarku keras kepala, meskipun aku tahu di dalam hati kalau itu adalah kebohongan yang mustahil. Dengan kondisi Kala yang lumpuh akibat racun, kami bahkan tidak akan bisa melewati pintu lift yang terkunci.
Kala menggelengkan kepalanya perlahan di atas pangkuanku. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat asing sekaligus menyakitkan untuk dilihat.
"Tidak bisa. Racun ini... sudah merusak wadah ini. Satu-satunya cara agar kita bisa hidup dan keluar dari timbunan batu ini... aku harus melepaskan wujud ini. Aku harus kembali menjadi naga purba," tutur Kala dengan suara yang semakin berat, bergaung ganjil di dalam dadanya.
Mendengar itu, ada sebersit harapan yang muncul di benakku. "Kalau begitu lakukan, Kala! Berubah sekarang! Hancurkan tempat ini dan bawa kita pergi!"
Namun, cengkeraman tangan dingin Kala di pergelangan tanganku mendadak mengencang. Kilat emas di matanya bergetar, memancarkan sebuah kepedihan mendalam yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari sosok pelindung sungai yang angkuh ini.
"Ada harga yang harus dibayar untuk membangkitkan kekuatan itu, Lara," bisik Kala, suaranya mendadak berubah menjadi serak dan parau. "Wujud purba itu menuntut bayaran yang mutlak. Penghapusan seluruh memori saat menjadi makhluk biasa. Jiwaku akan kembali bersih, kembali menjadi bagian dari alam hulu sungai."
Dada seakan dihantam gada besi yang sangat besar. Napasku tercekat di tenggorokan.
"Maksudmu... ingatanmu?" tanyaku dengan bibir yang gemetar hebat.
"Aku akan hidup, tapi aku akan melupakan semuanya," lanjut Kala, setetes cairan bening yang berkilau keperakan mengalir dari sudut mata emasnya. "Aku akan melupakan bagaimana rasanya tidur di atas kasur lantai kamarmu yang sempit. Aku akan melupakan aroma kain sarung kotak-kotak peninggalan ayahmu. Dan... aku akan kehilangan seluruh ingatan tentangmu, Lara. Tentang semua perjalanan kita dari Gudang Sembilan sampai tempat ini."
Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk dan mengoyak jantungku berkali-kali. Air mataku jatuh semakin deras, membasahi wajah Kala yang kian memucat.
Sebuah pilihan yang teramat menyayat hati kini diletakkan di atas pundakku. Jika aku egois dan menolaknya berubah, kami berdua akan mati bersama di sini, tertimbun beton laboratorium bawah tanah sebagai sepasang kekasih yang saling mengingat. Namun, jika aku membiarkannya berubah menjadi naga, dia akan tetap hidup dan selamat, tetapi dia akan memandangku sebagai orang asing yang sama sekali tidak pernah ada dalam hidupnya. Semua kedekatan, ejekan canggung, dan pelukan hangat di gubuk rumbia semalam akan terhapus tanpa sisa dari kepalanya.
"Lara... beri aku izinmu," pinta Kala lirik. Jari-jarinya yang dingin mengusap tumpukan air mata di pipiku dengan sangat lembut untuk terakhir kalinya. "Biarkan aku menyelamatkanmu, meskipun aku tidak akan mengingat lagi siapa gadis kurir yang sudah memelukku di tengah badai purnama."
Di kejauhan, suara reruntuhan beton terdengar semakin dekat dan bergemuruh hebat. Langit-langit laboratorium mulai menjatuhkan kerikil dan debu tebal, menandakan bangunan ini benar-benar berada di ambang kehancuran total. Roy dan Tuan Baron berteriak ketakutan saat sebuah tiang pancang besar tumbang tidak jauh dari posisi mereka.
Aku menatap wajah Kala yang berada di pangkuanku. Mengingat bagaimana dia selalu melindungiku di atas jembatan layang dan hutan bakau, aku tahu aku tidak boleh membiarkan makhluk suci ini mati secara mengenaskan di tempat kotor ini demi keegoisanku. Aku ingin dia tetap hidup. Aku ingin dia kembali terbang bebas di langit muara, meskipun matanya tidak akan lagi menatapku dengan binar yang sama.
Sambil menahan rasa sesak yang luar biasa di dalam dada hingga rasanya sulit untuk sekadar menghirup udara, aku memejamkan mata dan mengangguk pelan.
"Iya... aku rela," bisikku di telinganya, merapatkan pelukanku pada tubuhnya yang kian membeku. "Hiduplah, Kala. Meskipun kamu harus melupakanku, hiduplah."
Tepat setelah kata-kata itu terucap dari bibirku, tato di pergelangan tangan kiriku mendadak menyala biru terang, memancarkan gelombang panas yang langsung merambat masuk ke dalam dada Kala melalui genggaman tangan kami.
Detik itu juga, suhu di sekitar kami merosot tajam hingga ke titik beku. Lantai semen di bawah kaki kami mulai dilapisi oleh lapisan kristal es tipis yang merambat cepat. Di dalam dekapanku, jantung Kala berhenti berdetak sebagai manusia, digantikan oleh sebuah getaran frekuensi rendah yang sangat kuat dari dalam tulang rusuknya. Lapisan sisik perak yang tebal dan tajam mulai bermunculan kembali di sepanjang leher dan pelipis matanya, tumbuh dengan kecepatan yang mengerikan seiring dengan suara geraman purba yang mulai bergetar di tenggorokannya.