"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: GEMA DARI LUBANG KUBUR
POV: DAMIAN XAVIER
Jet pribadi klan Vipera membelah awan kelabu yang menyelimuti langit Jakarta. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana seharusnya tenang. Namun, bagiku, hening ini terasa seperti keheningan tepat sebelum badai besar menghancurkan seluruh garis pantai.
Aku melirik Qinanti yang tertidur di kursi lounge mewah, kepalanya bersandar pada bantal sutra. Wajahnya tampak damai, sisa-sisa sinar matahari Pulau Azura masih meninggalkan rona sehat di pipinya. Sembilan tahun aku merindukan pemandangan ini, dan aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun merenggutnya lagi. Termasuk ayahku sendiri.
"Papa, berhentilah memutar-mutar cincin di jarimu. Secara psikologis, itu menunjukkan kecemasan pada level 7,4. Kau merusak aura kepemimpinanmu," suara Lea terdengar, tajam namun lembut.
Aku menoleh. Lea sedang memangku boneka kelincinya, namun matanya yang jernih menatapku dengan ketajaman yang melampaui usianya. Di sampingnya, Leo masih berkutat dengan tabletnya, jari-jarinya menari dengan kecepatan yang membuatku ragu apakah dia benar-benar anak berusia delapan tahun.
"Aku hanya memikirkan Victor," jawabku berbohong.
"Victor sudah menjadi sejarah, Papa. Dia sedang sibuk menjelaskan kegagalannya pada dewan di London sambil mengobati luka di harga dirinya," Leo menyela tanpa mengangkat wajah. "Masalah kita saat ini bukan di London. Masalah kita ada di bawah sana."
Leo menggeser tabletnya ke arahku. Layar itu menampilkan peta panas (heat map) dari pinggiran pelabuhan Jakarta yang baru saja kita tinggalkan beberapa hari lalu. Ada satu titik merah yang berdenyut samar.
"Baron?" desisku.
"Baron secara resmi sudah 'dihapus' dari sistem perbankan. Tapi, seseorang baru saja melakukan ping ke server lama miliknya menggunakan satelit ilegal milik klan pusat," Leo menyesuaikan kacamata anti-radiasinya. "Kakek Alexander tidak membiarkan Baron mati. Dia menjadikannya peliharaan di dalam bayangan. Seekor anjing gila yang siap dilepaskan kapan saja untuk merobek tenggorokan kita."
Jantungku berdegup kencang. Jika Baron masih hidup dan mendapat dukungan dari London, maka mansion ini bukan lagi sekadar rumah. Mansion ini adalah target.
"Papa," Lea berdiri, berjalan mendekat dan menyentuh punggung tanganku. "Jangan takut menjadi monster untuk melindungi malaikat. Karena di duniaku dulu, aku belajar bahwa satu-satunya cara menghentikan iblis adalah dengan menjadi pemilik neraka itu sendiri."
Aku tertegun. Kata-kata Lea... dia bicara tentang 'dunianya dulu'. Aku tahu kebenaran tentang reinkarnasi mereka, tapi mendengarnya langsung dalam konteks perang seperti ini tetap membuat bulu kudukku berdiri.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Pendaratan di bandara pribadi berjalan mulus, tapi logistik keamananku mendeteksi anomali. Ada satu mobil pengawal di barisan belakang yang frekuensi radionya terlambat 0,2 detik dalam merespons perintah handshake otomatis sistemku.
“Lea, unit lima. Ada penyusup biometrik. Jangan biarkan Mama turun dari mobil utama sampai aku memberi kode 'Checkmate',” perintahku melalui Shadow Talk.
“Dimengerti, Kak. Aku akan membuat Mama sibuk mencari antingnya yang 'hilang' di bawah kursi,” balas Lea cepat.
Kami masuk ke dalam iring-iringan SUV hitam. Aku duduk di kursi depan, di samping Marco yang tampak tegang. Aku tidak memegang mainan. Aku memegang kendali atas sistem persenjataan unit Ghost yang tersembunyi di dalam atap mobil ini.
Saat iring-iringan memasuki jalan tol yang sepi, mobil unit lima tiba-tiba memotong jalur. Dua pria berpakaian taktis keluar dari jendela, mengarahkan senapan mesin ringan.
"Tuan Muda! Mereka menyerang!" teriak Marco, tangannya refleks meraih Glock di pinggangnya.
"Tetap di kemudi, Marco! Jangan goyang satu milimeter pun!" peritahku dengan nada komando yang membuat Marco membeku patuh.
Aku menekan tombol 'Tactical Override' di tabletku. Atap SUV kami terbuka sedikit, dan sebuah turret mikro kaliber .22 keluar dengan presisi robotik. Melalui layar, aku mengunci titik panas pada mesin mobil penyerang.
Dut-dut-dut!
Suaranya teredam sempurna. Hanya kilatan api kecil yang terlihat. Mobil penyerang itu mendadak meledak di bagian mesin, terpelintir, dan terguling ke pinggir jalan tanpa sempat melepaskan satu peluru pun ke arah mobil Mama.
"Efisiensi penggunaan amunisi: 98%. Variabel waktu: 4 detik. Masih bisa ditingkatkan," gumamku sambil menutup kembali sistem keamanan.
Aku melirik ke arah kaca spion tengah. Damian menatapku dari kursi belakang dengan mulut sedikit terbuka. Dia adalah Raja Mafia, tapi dia baru saja melihat seorang anak SD melakukan eliminasi target militer tanpa berkeringat.
"Leo..." suara Damian bergetar. "Kau... kau baru saja menembak mereka?"
"Aku hanya melakukan sanitasi jalur, Papa," jawabku datar. "Jangan katakan pada Mama. Dia akan berpikir aku terlalu banyak bermain game kekerasan."
POV: QINANTI (Mama)
"Lea, sayang, anting Mama tidak ketemu. Sudahlah, nanti saja cari di rumah," ucapku sambil menyerah. Aku merasa sedikit heran karena Lea bersikeras mencari anting yang sebenarnya aku tidak yakin aku bawa tadi.
"Tunggu, Ma! Lea rasa ada di bawah karpet ini!" Lea tetap merangkak di bawah, wajahnya tampak sangat serius.
Tiba-tiba, aku merasakan mobil bergetar hebat. Ada suara benturan tumpul di kejauhan, tapi karena mobil ini sangat kedap suara, suaranya hanya terdengar seperti guntur yang jauh.
"Damian, suara apa itu?" tanyaku cemas.
Damian, yang sejak tadi menatap ke depan dengan wajah pucat, langsung merangkul bahuku. "Hanya... ban pecah di mobil belakang, Qin. Marco bilang semuanya terkendali."
Aku menatap Damian. Ada sesuatu yang salah. Napasnya tidak teratur, dan matanya terus melirik ke arah Leo yang duduk di kursi depan. Leo tampak sangat tenang—terlalu tenang. Dia sedang mengetik sesuatu di tabletnya seolah-olah dunia baik-baik saja.
Sesampainya di mansion, aku langsung turun dengan perasaan tidak enak. Aku melihat mobil unit lima tidak ikut masuk ke gerbang. Marco tampak sedang berbicara dengan nada rendah lewat radionya.
Malam itu, di meja makan, suasana terasa sangat kaku. Leo makan dengan presisi yang mengerikan, memotong dagingnya menjadi kotak-kotak yang identik ukurannya. Lea sedang menceritakan dongeng pada bonekanya, tapi kata-kata yang dia gunakan... 'dan kemudian sang putri membedah kebohongan naga itu'.
"Leo," panggilku pelan.
Leo mendongak. Matanya yang abu-abu, persis seperti mata Damian, menatapku tanpa ekspresi. "Ya, Ma?"
"Apa yang kau lakukan di sekolah hari ini? Maksud Mama... sebelum kita pergi liburan?" tanyaku, mencoba mencari sisa-sisa 'anak kecil' di dalam dirinya.
"Aku menyelesaikan algoritma pengoptimalan jalur logistik untuk perpustakaan sekolah, Ma. Mereka sangat tidak efisien dalam menyusun buku berdasarkan frekuensi peminjaman," jawabnya datar.
"Dan kau, Lea?"
"Lea belajar tentang mikro-ekspresi pada guru sejarah, Ma. Dia sering berbohong saat mengatakan ujian itu akan mudah. Dia memiliki kontraksi otot di sekitar mata yang menunjukkan rasa bersalah yang akut," Lea tersenyum manis, lalu menyuapkan sayuran ke mulutnya.
Aku meletakkan garpuku. Tanganku gemetar. Aku menoleh pada Damian yang hanya bisa menatap piringnya seolah itu adalah dokumen paling penting di dunia.
"Damian, kita perlu bicara. Sekarang. Di ruang kerja," ucapku dengan nada yang tidak menerima bantahan.
POV: DAMIAN XAVIER
Pintu ruang kerja tertutup dengan bantingan pelan yang terasa seperti dentuman hakim bagiku. Qinanti berdiri di depan meja mahoniku, tangannya bersedekap. Di bawah lampu temaram ruangan ini, dia tidak tampak seperti kurator yang lembut. Dia tampak seperti seorang ibu yang siap mencabik siapa pun yang berbohong padanya.
"Jelaskan padaku, Damian," suaranya rendah, bergetar oleh emosi. "Apa yang kau lakukan pada anak-anakku?"
"Qin, aku tidak melakukan apa-apa—"
"Jangan bohong!" teriaknya. "Aku melihat mobil meledak lewat kaca spion tadi sore. Aku melihat Leo menekan sesuatu di tabletnya tepat sebelum ledakan itu terjadi. Dan Lea... dia bicara tentang bedah jiwa! Anak usia delapan tahun tidak bicara seperti itu!"
Aku menelan ludah. "Mereka... mereka hanya sangat cerdas, Qin. Jenius di atas rata-rata."
"Ini bukan soal jenius!" Qinanti mendekat, matanya berkaca-kaca. "Sembilan tahun lalu aku lari karena aku tidak ingin mereka mengenal senjata. Aku ingin mereka memiliki masa kecil yang normal. Tapi sekarang? Aku merasa aku tinggal dengan dua orang asing yang sangat berbahaya. Damian, katakan padaku yang sebenarnya... apa yang terjadi di bawah sana, di ruang kendali itu?"
Aku terpojok. Aku bisa menghadapi seribu tentara Baron, tapi aku tidak bisa menghadapi air mata Qinanti. Aku baru saja akan membuka mulut untuk menceritakan rahasia reinkarnasi itu, ketika suara pintu terbuka secara perlahan.
Leo dan Lea masuk.
Leo mengenakan jas mininya kembali, sementara Lea masih memeluk bonekanya. Mereka berdiri berdampingan, menciptakan siluet yang begitu kuat dan mengintimidasi hingga atmosfer di ruang kerja itu mendadak mendingin.
"Mama," suara Leo jernih, memotong ketegangan. "Jangan marahi Papa. Papa hanyalah pion yang kami gunakan untuk melindungimu."
Qinanti terperangah. "Leo... apa yang kau katakan?"
Leo melangkah maju, gerakannya begitu anggun, begitu dewasa. Dia berhenti tepat di depan ibunya, mendongak menatap matanya. "Masa kecil yang normal adalah kemewahan yang tidak bisa kami miliki selama orang bernama Baron masih bernapas. Mama ingin kami bermain bola? Kami bisa melakukannya. Tapi saat bola itu adalah granat yang dilemparkan musuh ke arah Mama, apakah Mama masih ingin kami menjadi 'normal'?"
Lea menimpali, suaranya lembut namun mengandung otoritas seorang profiler kelas dunia. "Mama, kami mencintaimu. Itulah satu-satunya hal yang 'normal' dari kami. Sisanya? Kami adalah perisaimu. Kami menjadi monster agar Mama tidak perlu melihat kegelapan dunia ini."
Qinanti jatuh terduduk di kursi tamu, menutupi wajahnya dengan tangan. Dia menangis sesenggukan—bukan karena takut pada anaknya, tapi karena menyadari beban berat yang mereka pikul di pundak kecil mereka.
Tiba-tiba, sensor di meja kerjaku berbunyi merah. Sebuah transmisi video paksa masuk ke layar monitor besarku.
Di layar itu, terlihat sebuah ruangan gelap. Seorang pria dengan wajah yang hancur sebelah karena luka bakar—Baron—sedang duduk di atas tumpukan senjata. Di sampingnya berdiri seorang pria Eropa tua dengan tongkat emas. Alexander Xavier.
"Damian," suara Alexander bergema, dingin dan tanpa ampun. "Kau pikir kau bisa menyembunyikan 'monster' kecilmu di Jakarta? Baron ingin menyapamu. Dan dia tidak datang dengan kata-kata."
Baron mendekat ke kamera, menyeringai mengerikan. "Qinanti... ingat malam saat keluargamu terbakar? Aku masih menyimpan korek apinya. Sampai jumpa di pesta dansa berdarah kita."
Layar padam.
Suasana menjadi sunyi senyap, hanya suara isak tangis Qinanti yang terdengar. Aku merasakan amarah yang belum pernah kurasakan sebelumnya meledak di nadiku. Aku mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih.
Namun, di sampingku, Leo hanya merapikan kerah bajunya.
"Papa," ucap Leo.
"Ya?" suaraku parau.
"Aktifkan protokol 'Total War'. Siapkan unit Ghost. Jangan biarkan ada satu pun debu dari klan pusat yang tersisa di tanah ini besok pagi," Leo menatap monitor yang sudah gelap itu dengan mata abu-abunya yang kini berkilat seperti bilah baja.
Lea melirikku, memberikan senyum kecil yang sangat dingin. "Dan Papa... pastikan Mama tetap di dalam kamar. Lea akan membacakan dongeng tentang bagaimana seekor kobra menelan seluruh sarang serigala."
Malam itu, di bawah cahaya bulan Jakarta, klan Vipera tidak lagi bermain bisnis. Kami tidak lagi bermain catur. Kami sedang bersiap untuk membakar papan catur itu sendiri.
"Checkmate, Papa," bisik Leo sambil menatapku.
"Ya," jawabku, suaraku kini sepenuhnya menjadi suara seorang pembunuh yang kembali menemukan tujuannya. "Checkmate."