Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYATUAN DUA JIWA DI BAWAH LANGIT HALAL
Malam itu, Pesantren Al-Hidayah seolah diselimuti oleh keheningan yang berbeda. Setelah guncangan yang dibawa oleh kedatangan Nadia dari Jakarta, suasana di dalam rumah kecil Gus Zikri dan Mentari terasa jauh lebih intim. Ada sebuah rasa lega yang luar biasa setelah Mentari dengan tegas memilih jalannya, namun di sisi lain, ada debaran yang jauh lebih hebat yang kini memenuhi dada mereka berdua.
Mentari baru saja selesai membersihkan diri. Ia berdiri di depan cermin, menyisir rambut pirangnya yang basah. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian yang provokatif seperti misi konyolnya beberapa waktu lalu. Ia hanya mengenakan daster satin berwarna biru lembut yang sopan namun pas di tubuhnya. Tidak ada aroma alkohol, tidak ada riasan tebal. Hanya aroma sabun bayi dan minyak zaitun yang kini menjadi ciri khasnya.
Di ruang tengah, Gus Zikri sedang melipat sajadahnya. Ia baru saja menyelesaikan salat hajat, memohon agar rumah tangganya selalu diberkahi. Saat ia masuk ke dalam kamar, langkahnya terhenti. Ia menatap istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.
Zikri mendekat, duduk di samping Mentari. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang sarat akan makna. Zikri meraih tangan Mentari, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara perlahan.
"Mentari," suara Zikri terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya.
Mentari menatap suaminya, matanya yang besar kini memancarkan ketulusan. "Iya, Gus?"
"Malam ini... saya merasa sangat bersyukur memiliki kamu," ucap Zikri tulus. "Melihat kamu berdiri tegak menghadapi masa lalumu tadi sore, menyadarkan saya bahwa kamu bukan lagi seseorang yang saya 'tampung', tapi seseorang yang saya cintai dengan seluruh jiwa saya."
Zikri berhenti sejenak, menatap mata Mentari dengan intensitas yang membuat napas Mentari tertahan. "Selama ini, saya menahan diri karena saya ingin kamu merasa nyaman. Saya tidak ingin menyentuhmu hanya karena status kita di atas kertas. Saya ingin kita melakukannya saat hati kita benar-benar menyatu."
Mentari merasakan wajahnya memanas. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia menunduk kecil, lalu menggenggam balik tangan Zikri. "Gus... aku sudah lama siap. Aku milik kamu, lahir dan batin."
Zikri meletakkan tangannya di pipi Mentari, mengangkat wajah istrinya agar kembali menatapnya. "Boleh saya meminta hak saya sebagai suamimu malam ini?" bisiknya dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti tiupan angin malam.
Mentari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, air mata haru sedikit menggenang di sudut matanya. Baginya, momen ini bukan sekadar urusan biologis, melainkan pengakuan bahwa ia telah diterima sepenuhnya sebagai wanita terhormat di mata pria yang paling ia cintai.
Zikri membimbing Mentari untuk berbaring. Ia tidak terburu-buru. Setiap gerakannya penuh dengan kelembutan dan penghormatan. Sebelum semuanya dimulai, Zikri mengecup kening Mentari dengan sangat lama, lalu membisikkan doa di telinganya sebuah doa yang memohon perlindungan dari setan dan memohon keberkahan atas keturunan mereka kelak.
Cahaya lampu kamar diredupkan, menyisakan keremangan yang hangat. Di dalam kamar yang beraroma kayu gaharu itu, segala dinding pertahanan runtuh. Tidak ada lagi "Gus Kulkas" yang kaku, yang ada hanyalah seorang suami yang sedang memuja istrinya dengan cara yang paling halal dan suci.
Sentuhan Zikri terasa membara namun penuh kehati-hatian, seolah ia sedang menjaga sebuah permata yang paling berharga. Bagi Mentari, sensasi ini sangat berbeda dengan semua yang pernah ia bayangkan di dunianya yang dulu. Ini bukan tentang nafsu liar tanpa arah, melainkan tentang penyatuan dua jiwa yang telah disahkan oleh langit.
Malam itu, di sela-sela desah napas dan debaran jantung yang berpacu, Mentari menyadari satu hal: Kebahagiaan sejati tidak ditemukan di botol minuman atau gemerlap kelab malam, melainkan di dalam pelukan seorang pria yang membawanya pulang kepada Tuhannya.
Beberapa jam kemudian, saat azan subuh mulai berkumandang sayup-sayup dari menara masjid, Mentari terbangun di dalam dekapan hangat Zikri. Kepalanya bersandar di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang kini terasa seperti irama paling indah baginya.
Zikri, yang ternyata sudah bangun lebih dulu, mencium puncak kepala Mentari. "Selamat pagi, Istriku."
Mentari tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zikri. "Pagi, Gus... eh, Mas Zikri."
Zikri terkekeh pelan. "Mas? Saya suka panggilan itu."
"Gus," panggil Mentari lagi.
"Hmm?"
"Makasih ya, sudah sabar sama aku. Makasih sudah menjadikan aku wanita yang utuh semalam."
Zikri mengeratkan pelukannya sejenak sebelum mereka harus bangkit untuk mandi wajib dan melaksanakan salat subuh berjamaah. "Sama-sama, Mentari. Mulai hari ini, tidak ada lagi masa lalu. Yang ada hanya kita, dan perjalanan panjang menuju Jannah."
Di luar sana, para santri mulai berbondong-bondong menuju masjid, tidak tahu bahwa di dalam rumah kecil itu, sebuah kisah cinta baru saja mencapai puncaknya yang paling suci. Mentari melangkah menuju kamar mandi dengan hati yang ringan, siap menghadapi hari baru sebagai istri yang sesungguhnya.