Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Rajekwesi Yang Sesugguhnya
"A... a... apa maksudmu bu? Aji bukan anak kita?"
"Maafkan aku mas, kamu taukan dahulu kita menikah namun sampai 5 tahun belum dikaruniai anak, saat itu tepat kedatangan Tuan Dipa Mandala sebagai tabib baru istana.... dia memberitahuku bahwa sebenarnya kamu mandul, aku begitu sedih mendengar itu aku tidak bisa memiliki anak darimu. Hingga Tuan Dipa mengajakku bermain di belakangmu sampai aku mengandung Aji, itu berlangsung dahulu hingga sekarang..." ujar Sekar Arum dengan isak tangis.
"Sebenarnya aku juga tidak mencintaimu, saat ini yang aku cintai adalah Tuan Dipa."
Datuk Ringgih menangis di sela sela kesakitannya, "jadi... ini semua salahku, justru aku yang seharusnya minta maaf... karenaku kamu hidup dalam kesedihan Bu." Ucap Datuk Ringgih sambil tersenyum walaupun hatinya terasa sangat sakit.
Begitu besarnya cinta Datuk Ringgih kepada Nyai Sekar Arum, sampai sampai ia disakiti seperti ini namun ia masih bisa tersenyum.
"Ini semua salahku Bu, karena aku tidak bisa punya anak kamu berhianat ini bukan kesalahanmu, sampai kapanpun kamu harus tau bahwa aku sangat mencintaimu aku harap kau tidak akan pernah melupakanku." Ucap Datuk Ringgih.
"Dipa Mandala, aku titipkan istriku padamu jaga dia baik baik..."
Dipa Mandala tersenyum tipis dan menjawab, "ya.. aku akan menjaganya, menjaga dengan membunuhnya..."
Crok!!
"Aaaakkkhhhh..."
Mata Datuk Ringgih terbelalak lebar, ya Dipa Mandala menusuk Nyai Sekar Arum dari belakang menggunakan pedang yang diberikan salah satu pasukan Hierarki.
Tusukan itu sangat dalam hingga bilah pedang itu mencuat keluar dari perut Nyai Sekar Arum.
"Hahahaha.. sungguh ironis sekali.." tawa salah satu pasukan Hierarki.
Brug!
Tubuh Nyai Sekar Arum ambruk dengan suara 'bruk' yang datar.
"Bu...!!!! Bajingan! Apa yang kau lakukan?!!!" Teriak Murka Datuk Ringgih. Tusukan diperut Datuk Ringgih memang tidak terlalu dalam dan tidak mengenai organ vital oleh karena itu Datuk Ringgih masih bisa bertahan.
Datuk Ringgih mengesot di tanah dan memeluk tubuh istrinya yang berlumuran darah.
"Ma... ma... maafkan aku mas.." ucap Nyai Sekar Arum dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ken... kenapa kau melakukan ini Dipa, bukankah aku sudah berkorban agar kau tetap hidup..." lirih Datuk Ringgih yang mulai kehilangan kesadarannya.
"Hahaha.... semua ini sudah di rencanakan dari awal bodoh. Sekar Arum lebih mencintaiku dari pada dirimu, dia tidak akan memilihku untuk di korbankan. Justru keberadaan Sekar Arum yang tetap hidup akan menggagalkan rencana kami yang selanjutnya untuk mengadu domba Istana Nirlata dan Istana Megah Sangkara.. hahaha..." ujar Dipa Mandala dan diikuti tawa seluruh pasukan Hierarki bertopeng harimau yang ada disana.
"Ka.. kau bajingan!! Aku tidak akan melupakan ini Dipa, aku pasti akan membunuhmu dan seluruh keluargamu!" Teriak Datuk Ringgih sekuat tenaga.
"Tidak perlu memperdulikannya, dia pasti akan mati karena luka tusukan itu. ayo kita segera pergi sebelum ada orang lain yang melihat pertarungan ini dan melaporkan pada pihak Istana.." Ucap Salah satu pasukan Hierarki.
Dipa Mandala mengangguk... mereka semua pun pergi meninggalkan tempat itu yang kini berserakan mayat para pasukan Hierarki Negara Harimàu dan Garuda serta mayat dua tabib istana Nirlata.
"A.. ak... aku... aku pasti akan membalas dendam..."
Kesalahan mereka adalah tidak langsung membunuh Datuk Ringgih, Datuk Ringgih masih mampu menyembuhkan tusukan yang tidak terlalu dalam itu menggunakan sihir penyembuhannya.
Setelah memastikan dirinya sembuh, Datuk Ringgih mencoba menyembuhkan istrinya namun istrinya benar benar sudah tewas karena luka tusukan itu begitu fatal.
Datuk Ringgih menatap sendu wajah istrinya, "maafkan aku Bu, benar katamu seharusnya kita tolak tawaran Raja Karna. Kalau saja kita tidak melakukan perjalanan ini, kejadian ini tidak akan terjadi... aku benar benar bodoh."
"Dendam.... dendam.... dendam.... balaslah dendammu!" Suara serak tiba tiba terdengar di benak Datuk Ringgih.
Tubuh Datuk Ringgih tersentak kaget, ia ketakutan sekaligus terkejut.
"Si... siapa kau?!!"
"Hehehe.... apakah secepat ini kau melupakanku Ringgih? Aku adalah Rajekwesi, monster purba yang disegel Raja Kala Dewangga di dalam tongkat medismu..."
Ringgih semakin terkejut, "ba.. bagaimana mungkin kau bisa berbicara dibenakku? Kau sudah disegel!"
"Benar, aku sudah disegel. tongkat medis milikmu sudah menyatu dengan jiwamu, kebencian yang kau rasakan juga dapat aku rasakan... segel itu hanya kuat selama hatimu masih lembut dan penuh kasih sayang.
Kebencian yang meledak-ledak dan rasa sakit yang kau rasakan saat ini... itulah kuncinya. Itu yang melemahkan segel Raja Kala Dewangga dan membuatku bisa bicara padamu.
Selama ini aku hanya bisa terdiam melihat segalanya, karena kau terlalu lembut... tapi setelah kau melihat kematian istrimu, tepat saat itu juga segel ini melemah.."
"Aku akan memberikanmu kekuatan, kekuatan sihir yang sangat kuat untuk balas dendam namun sebagai gantinya kau harus kehilangan segalanya, sihir medismu dan jiwamu menjadi milikku seutuhnya... bagaimana?"
"Aku setuju...!!!" Balas Datuk Ringgih cepat tanpa pikir panjang, "aku sekarang sudah tidak perduli apapun, aku tidak perduli dengan sihir medis milikku sihir ini tidak dapat menyelamatkan istriku, aku juga sudah tidak perduli dengan nyawaku, aku tidak perduli dengan siapa pengadu domba itu dan maksud tujuannya... tujuanku saat ini adalah membunuh Dipa Mandala dan keluarganya hingga ke akar akarnya! Nyawa harus dibayar nyawa! Darah harus dibayar darah!"
"Hahahaha.... bagus... bagus...."
Tongkat medis milik Datuk Ringgih muncul di tangan kanan Datuk Ringgih. Bola kristal diujung tongkat itu tampak mengeluarkan aura hijau kehitaman yang langsung merasuki tubuh Datuk Ringgih, tampilan Datuk Ringgih seketika berubah dari yang awalnya tabib istana penuh wibawa kini menjelma bak sesosok iblis yang haus darah.
"Dipa Mandala!!! Tunggulah pembalasanku! Aku akan membalas rasa sakit ini berkali-kali lipat!"
Duargh!
Petir menyambar seolah langit menjadi saksi sumpah Datuk Ringgih..
Semenjak saat itu Datuk Ringgih berteman dengan Rajekwesi melalui komunikasi batinnya. Rajekwesi membimbing Datuk Ringgih kedalam hutan untuk mendapatkan sisa daging yang disimpan Rajekwesi secara aman di sebuah tempat dihutan Kehampaan.
Datuk Ringgih mengolah daging itu sebagai serbuk dan memanfaatkannya untuk mendapatkan jiwa 16 orang untuk melepaskan segel sihir Rajekwesi melalui Warsito dan anaknya yang merupakan kenalan Datuk Ringgih dahulu.
Flashback off...
"Sekarang kau sudah mendengarnya bukan bocah? Jika kau diposisiku kau juga pasti akan melakukan hal yang sama! Sekarang serahkan jiwamu!!" Ucap Datuk Ringgih, tubuhnya seketika menghilang.
Samudra langsung membuka penutup matanya, "mata Dewa...." Samudra melihat dengan jelas Datuk Ringgih melesat cepat kearahnya..
"Mati kau... kau tidak mungkin bisa melihatku!!!"
Hap!
"Aaargghh...."
Ucapan Datuk Ringgih terhenti kala Samudra mencekik lehernya, "aku tidak akan melakukan hal yang sama sepertimu. kau hanyalah pria bodoh yang rela kehilangan segalanya demi wanita yang hatinya masih kemana-mana."
Jleb!
Ucapan itu menusuk Datuk Ringgih bagaikan belati. Ia menggertakan giginya mencoba melepaskan cengkraman tangan Samudra.
"Dia... bisa melihatku, mata apa itu? Mengapa aku tidak pernah melihatnya.." batin Datuk Ringgih yang terkejut melihat mata kiri Samudra yang sangat indah, bola mata biru cerah dengan pola bulan sabit.
"Ini kesempatan!!!" Batin Rajekwesi...
Swuusshhh....
Tiga tangan Rajekwesi terulur melesat cepat, namun bukan ke arah Samudra melainkan ke anak Warsito.
Warsito terkejut, tak menyangka akan tindakan monster itu, "lepaskan anakku! Apa yang kau lakukan!" Warsito berusaha membantu anaknya. Namun tangan Rajekwesi yang lainnya melempar Warsito begitu saja.
Tangan tangan Rajekwesi memaksa anak warsito memakan dagingnya.
"Gawat!" Ucap Samudra. Ia melepaskan cengkeraman tangannya namun terlambat daging Rajekwesi tertelan anak Warsito secara otomatis jiwa anak Warsito kini menjadi milik Rajekwesi dan Rajekwesi akan berubah dalam wujud sempurnanya.