NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam semakin larut di kawasan perumahan elite Bandung Utara itu. Di balik jendela kaca besar kediaman Ravindra, denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal menjadi satu-satunya musik latar yang menemani obrolan dua pria paruh baya.

Kevin Ravindra dan Ridwan Arthea tampak sangat menikmati pembicaraan tentang geopolitik, sementara Bunda Dila tak henti-hentinya menyunggingkan senyum, merasa lengkap karena meja makannya kini tak hanya diisi oleh laki-laki kaku.

Zivara duduk tegak, memotong daging panggangnya dengan presisi yang hampir membuat bulu kuduk meremang. Di seberangnya, Kaizar hanya memainkan garpu. Lampu gantung kristal di atas mereka memantulkan kilatan dingin di mata Kaizar—tatapan yang sejak satu jam lalu tak sedetik pun bergeser dari wajah Zivara.

"Jadi, Zivara ambil DKV ya? Kenapa tidak ikut jejak Ayah jadi diplomat?" tanya Kevin ramah, mencoba mencairkan suasana yang entah kenapa terasa sedikit tegang di sisi meja para anak muda.

Zivara meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang. "Saya lebih suka bicara lewat visual, Om. Kata-kata terkadang bisa berbohong, tapi seni... seni selalu jujur," jawabnya, suaranya halus namun memiliki bobot yang tidak biasa bagi gadis seusianya.

Kaizar menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya yang tampan.

"Tapi bukankah seni juga bisa menjadi topeng yang paling sempurna, Zivara?"

Zivara mengangkat dagunya. Ia membalas tatapan Kaizar tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada lagi binar memuja atau rasa canggung yang dulu selalu ia bawa.

"Tergantung siapa yang memakainya, Kak. Beberapa orang memakai topeng untuk melindungi diri, beberapa lagi memakainya karena mereka memang tidak punya wajah asli untuk ditunjukkan."

Hening sejenak. Kevin dan Ridwan tertawa kecil, meski dahi mereka sedikit mengernyit. "Anak muda zaman sekarang kalau bicara memang dalam ya," canda Kevin, berusaha menambal keheningan itu.

Tiba-tiba, ponsel Kaizar di atas meja bergetar panjang. Cahaya layarnya menerangi ruangan, menampilkan satu nama: Luna.

Zivara melirik sekilas. Di kehidupan sebelumnya, melihat nama itu saja sudah cukup untuk membuat ia kehilangan selera makan selama seminggu. Namun sekarang? Ia kembali fokus pada saus di piringnya sama sekali tidak merasa terusik.

Kaizar sengaja membiarkan ponsel itu bergetar lebih lama. Ia ingin melihat Zivara goyah, ingin melihat gadis itu bertanya-tanya. Namun, saat ia melihat Zivara justru asyik menanggapi Bunda Dila soal resep hidangan pencuci mulut, sesuatu di dalam ego Kaizar bergerak.

Ia meraih ponselnya dengan gerakan kasar. "Maaf, aku harus angkat telepon sebentar. Dari Luna," ujarnya, sengaja menekankan nama itu saat berdiri.

Kaizar melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkan ruang makan dengan taman belakang. Ia berdiri di sana, di tempat yang sangat terlihat oleh Zivara, lalu bicara dengan volume yang sedikit dinaikkan.

"Iya, Luna... aku tahu. Nanti aku ke sana... tidak, aku sedang makan malam dengan tetangga baru."

Di dalam ruangan, Zivara menyesap air putihnya dengan gerakan anggun. Ia tahu persis apa yang dilakukan Kaizar. Pria itu sedang memancing kecemburuannya—sebuah taktik kuno yang dulu selalu berhasil menghancurkan mentalnya. Tetapi bagi Zivara yang sekarang, perilaku itu terasa sangat kekanak-kanakan.

Saat Kaizar kembali ke meja dengan aura penuh kemenangan, ia justru menemukan kursi Zivara kosong.

"Yah, Zivara ke toilet sebentar ya," suara lembut gadis itu terdengar dari arah koridor.

Zivara berdiri di depan wastafel, membasuh tangannya dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah delapan belas tahun dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak pahitnya dunia.

Begitu ia keluar dari toilet, sebuah lengan besar tiba-tiba melintang, mengunci jalannya di koridor remang yang sepi. Tubuh tegap Kaizar berdiri tepat di depannya, mengurungnya di antara dinding dan dada pria itu. Aroma mint dan kopi yang pekat langsung memenuhi indra penciuman Zivara.

"Kamu tidak terganggu sama sekali?" tanya Kaizar parau, suaranya sedikit tertahan.

Zivara mendongak, jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. "Terganggu karena apa, Kak?"

"Luna. Panggilan tadi."

Zivara tertawa kecil. Suara tawa yang terdengar sangat merdu, namun bagi Kaizar, tawa itu terdengar seperti sebuah hinaan.

"Kenapa aku harus terganggu dengan urusan pribadi orang lain? Kak Kaizar, kita baru kenal dua hari. Kamu bukan siapa-siapaku, dan aku bukan siapa-siapamu."

Kaizar mendekatkan wajahnya, matanya berkilat penuh obsesi yang mulai tumbuh subur.

"Tapi kenapa setiap kali aku melihatmu, rasanya aku ingin menarikmu keluar dari ketenanganmu itu? Kenapa kamu menatapku seolah aku adalah musuhmu?"

Zivara meletakkan telapak tangannya di dada Kaizar. Bukan untuk memeluk, melainkan untuk memberikan jarak.

"Mungkin karena di suatu tempat, di suatu waktu... kamu memang pernah menjadi musuh terbesarku, Kak."

Ia berjalan melewati Kaizar begitu saja, namun di ujung koridor, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Saran saya, Kak. Jangan terlalu sering mengejar sesuatu yang sudah pergi. Karena saat kamu mendapatkannya kembali, mungkin rasanya tidak akan pernah sama lagi."

Kaizar berdiri membeku. Kata-kata itu menusuk tepat ke dadanya. Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa semakin Zivara menjauh, Kaizar justru merasa ingin meruntuhkan seluruh dunia hanya agar gadis itu kembali menoleh padanya?

Kembali ke meja makan, suasana berubah lebih formal. Ridwan Arthea meletakkan serbetnya dan menatap keluarga Ravindra dengan raut serius namun hangat.

"Pak Kevin, Bu Dila... sebenarnya ada satu hal lagi. Besok saya harus berangkat ke luar negeri untuk tugas diplomatik selama tiga bulan."

Zivara yang baru kembali duduk terdiam sesaat. Tiga bulan. Ini adalah momen yang dulu ia tangisi, karena ia merasa kesepian. Tetapi sekarang, ia menerimanya dengan tenang.

"Tiga bulan? Cukup lama ya, Pak Ridwan," sahut Kevin.

"Karena itulah, saya titip Zivara," lanjut Ridwan. "Saya sudah bicara dengan pengurus rumah, tapi hati saya akan jauh lebih tenang kalau tahu ada tetangga baik seperti kalian yang memperhatikannya."

Bunda Dila langsung menyambar tangan Zivara, menggenggamnya dengan semangat. "Ya ampun, Pak Ridwan! Kamu tidak perlu minta dua kali! Dari dulu aku ingin sekali punya anak perempuan untuk diajak mengobrol. Zivara akan aman bersamaku."

Bunda Dila kemudian melirik tajam ke arah putra tunggalnya. "Kaizar, dengar ya. Kamu harus jaga Zivara baik-baik. Dia satu kampus denganmu, kan? Pastikan dia berangkat dan pulang dengan aman. Kalau sampai ada apa-apa dengan Zivara selama Ayahnya tidak ada, Bunda yang akan pertama kali menghukummu."

Kaizar tidak langsung menjawab. Ia menatap Zivara yang hanya menunduk tenang—seolah titipan itu hanyalah angin lalu.

"Tentu saja, Bun," ujar Kaizar dengan nada rendah yang sulit diartikan. "Aku akan memastikannya tetap berada dalam jangkauan mataku. Setiap saat."

Zivara hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Kaizar ingin tahu apa yang ada di dalam kepalanya.

Jaga aku? batin Zivara. Kamu tidak tahu, Kaizar, bahwa akulah yang sedang berusaha menjaga agar aku tidak menghancurkanmu kali ini.

Makan malam itu berakhir, namun benang takdir di antara keduanya baru saja terikat lebih kencang, lebih menyesakkan, dan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

* *

Zivara berdiri di balkon kamarnya malam itu, menatap rumah sebelah. Di sana, Kaizar sedang berdiri di balkonnya sendiri, membakar sebatang rokok, matanya tertuju langsung pada jendela kamar Zivara. Ponsel Kaizar berbunyi—Luna menelepon lagi—namun kali ini, Kaizar justru mematikan ponselnya tanpa ragu, matanya tetap tak lepas dari siluet Zivara.

Pesan singkat masuk ke ponsel Zivara dari nomor yang tidak ia kenal:

"Besok jam 7 pagi di depan gerbang. Jangan coba-coba naik taksi atau ojek online. Ingat, kamu sekarang ada di bawah pengawasanku."

Zivara mematikan ponselnya dan menarik tirai. Ia tidak tahu, bahwa di kamar sebelah, Kaizar sedang menggenggam gantungan kunci kanvas yang ia temukan di taman kampus.

* * *

1
Soraya
alurnya bikin bingung🤔
Soraya
mampir thor
Sri Murtini
takdir mempertemukan zivara dg kaisar
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!