Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 SELAMAT TINGGAL
Berlin mempersiapkan hatinya supaya tidak terlihat sedih. Apapun yang akan di sampaikan oleh Black Rose ia akan terima dan membebaskannya mengejar cintanya. Ia tak mau memaksa, disamping itu ia belum bisa memberi materi, karena saat ini belum punya perusahan.
Kebersamaannya dalam seminggu memang terasa singkat, lebih banyak pertengkaran dari pada bermesraan. Awalnya ia benci, kesal, dendam kepada Black Rose, tapi saat ia mendengar gadis itu akan meninggalkannya, hatinya jadi sakit.
Ia tahu Black Rose tidak senang padanya, setiap habis mereka habis berhubungan gadis itu terkesan menyesal. Ia pernah melihat gadis itu menangis dan menepuk dadanya berkali-kali.
Dulu ia berpikir gadis itu menangis karena kesuciannya ia renggut, sekarang ia baru mengerti gadis itu ternyata punya pacar. Mungkin dia akan bingung menjelaskan kepada pacarnya.
Kasihan juga, seorang pria bagaimanapun modernnya pasti ingin istrinya masih suci di malam pertama.
Berlin pura-pura membersihkan meja makan saat tahu gadis itu sudah kembali.
Dengan wajah pucat dan mata sembab Qai masuk ke apartemen. Dia duduk begitu saja tanpa menoleh dan tanpa basa basi lagi.
"Kamu kemana sayank.. duduklah mari kita sarapan."
Suara Berlin sedikit bergetar, ia tidak pernah memanggil dengan sebutan sayank, khusus hari ini beda.
"Aku sudah sarapan." sahut Qai pendek.
Qai menatap Orion dengan sendu. Pria ini harus ia tinggalkan demi misi. Menjadi agen rahasia harus menempa perasaan supaya tidak jatuh cinta. Dulu ia menolak pacaran karena takut jatuh cinta dan meninggalkan separuh jiwa di rumah. Tapi sekarang ia tahu artinya patah hati.
"Aku suapi ya, walaupun tidak enak tapi kau harus rasakan sedikit. Siapa tahu dengan mencicipi masakan ku ini, kau akan mengingat ku." ucap Orion mengambil bubur semangkok.
"Oke...aku makan tidak usah di suapi. Aku juga mau bicara penting, duduklah."
"Baik.." sahut Berlin tersendat.
Berlin berusaha tenang dan menahan perasaannya. Walaupun ia sudah tahu apa yang akan di ucapkan oleh gadis itu, dadanya tetap berdenyut nyeri.
Ia harus mampu melepaskan teman ranj*ngnya karena selama ini hubungan mereka didasari aktivitas s*ksual tanpa adanya ikatan cinta, komitmen, atau status pacaran.
"Orion, aku bukan wanita lebay yang bisa merangkai kata-kata puitis. Aku di didik tegas dan cenderung keras. Jadi aku akan bicara to the point saja..." ucap Qai berjeda. Ia menunggu tanggapan lelaki yang duduk tenang di depannya.
"Walaupun pertemuan kita seumur jagung tapi bagi ku sangat berkesan. Mungkin kau merasa di pihak yang untung karena bisa tidur denganku, sejujurnya aku benci padamu dan ingin menghancurkan masa depan mu, seperti kau menghancurkan hidup ku."
Hening!
"Ma..maafkan aku..." akhirnya suara Berlin keluar terbata-bata. Ia tidak menyangka kalau gadis ini berkata menusuk jantung.
"Kata maaf adalah ungkapan klise untuk menutupi kesalahan mu. Aku memaafkan mu dengan syarat kita putus hubungan. Aku tidak tertarik dengan hubungan ini." ucap Qai berusaha tenang, ia tidak ingin ada air mata yang tumpah.
"Aku tidak bisa menahan mu, mengemis belas kasihan mu, aku sadar kau dendam dan membenci ku... " ucap Berlin lirih, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aku doakan supaya kau mendapat gadis sesuai kreteria mu dan hidup bahagia."
Berlin mengangguk dan bersumpah dalam hati, tidak akan menikah dengan wanita lain.
"Trimakasih, aku mendoakan supaya cinta yang kau kejar berbuah manis. Maafkan aku tidak bisa memberi sesuatu yang berarti kepada mu."
"Trimakasih juga telah memberi nyawa baru dalam hidup ku. Oke, aku tidak mau berlama-lama, aku mau pergi." sahut Qai mengusap perutnya. Ia sudah telat lima hari, setiap berhubungan Berlin tidak mau memakai pengaman.
Qai berdiri dengan perasaan galau, ia masuk kamar dan mengambil ranselnya. Ia keluar dengan wajah menunduk, tapi tiba-tiba...
"Sayank...maafkan aku..."
Berlin memeluk tubuh Qai dari belakang, ia tidak bisa menahan kesedihannya lagi.
"Orion, jangan kekanak-kanakan, kau pria tampan yang tidak mungkin kekurangan wanita. Pilihlah salah satu dari mereka untuk memuaskan n*fsu g*la mu. Selama ini, bukankah kau mahir di r*anjang? Sangat berpengalaman!!"
ia harus berbicara menyakitkan supaya hatinya tidak luluh atas perlakuan Orion.
"Aku bukan lelaki murahan yang sering kau tuduhkan!!" teriak Berlin tidak terima.
Qai melepaskan pelukan Berlin, ia berbalik dan m*ncium laki-laki itu untuk terakhir kali. Setelah itu Qai cepat melangkah keluar, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Orion.
Berlin jatuh terduduk, air mata lelakinya berhamburan keluar, ia berteriak karena tidak mampu menghalangi gadis itu.
*****