Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayangan di Lembah Sunyi
Dua tahun adalah waktu yang cukup bagi pohon untuk menumbuhkan cabang baru. Bagi pedang, cukup untuk mengembangkan retakan atau menjadi lebih tajam. Dan bagi seseorang yang bangun tanpa ingatan di puncak gunung mati, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikan bahwa meski jiwa bisa dilucuti, sesuatu yang jauh lebih dalam dari jiwa tidak bisa diambil begitu saja.
Akademi Langit Biru, di bawah langit yang selalu terlihat lebih biru dari langit di tempat mana pun di dunia ini—efek dari formasi kuno yang melapisi seluruh kompleks akademi dan memurnikan udara di dalamnya—menyaksikan dua tahun transformasi yang tidak pernah terjadi dalam catatan sejarahnya.
Ranah Master Tingkat 3 Menengah. Dicapai dalam dua tahun oleh seorang murid yang memulai dari nol.
Bukan tidak ada preseden untuk kecepatan kultivasi luar biasa di akademi ini—Lin Xueru sendiri adalah satu dari tiga atau empat kasus per generasi yang mencapai Tingkat 3 dalam kurang dari tiga tahun. Namun perbedaannya adalah Lin Xueru memulai dengan warisan penuh Sekte Teratai Putih di punggungnya—teknik-teknik yang sudah dioptimalkan selama puluhan ribu tahun, guru-guru terbaik, dan pil-pil kultivasi yang tidak tersedia untuk siapa pun di luar sekte. Yu Fan memulai dengan sebuah jubah hitam yang koyak dan nama yang diberikan orang lain.
Lapangan tengah akademi pada jam latihan pagi hari selalu ramai dengan aktivitas, namun pagi ini sebagian murid yang seharusnya berlatih di sudut-sudut lapangan lain bergerak perlahan ke tepi yang menghadap ke area tempat Yu Fan berlatih—bukan secara dramatis, bukan terang-terangan, melainkan dengan cara orang-orang yang ingin menonton sesuatu tanpa terlihat menonton.
Yu Fan berdiri di tengah lingkaran latihan dengan pedangnya di tangan—pedang baru yang ia dapatkan tiga bulan lalu dari gudang hadiah akademi sebagai penghargaan atas kemenangan dalam kompetisi internal semester lalu. Bilahnya berwarna hitam dengan urat-urat perak yang mengalir dari gagang ke ujung seperti sungai di dalam batu obsidian, dan panjangnya sedikit lebih pendek dari pedang standar—bukan karena ia tidak bisa menggunakan yang panjang, melainkan karena dalam dua tahun ini ia menemukan bahwa jarak yang sedikit lebih pendek memberinya kecepatan pergantian arah yang tidak bisa didapatkan dari pedang yang lebih panjang.
Ia bergerak.
Langkah Bayangan Ilahi — warisan Sekte Pedang Ilahi yang diajarkan Jin Taixu kepadanya dalam bulan-bulan pertama di Kerajaan Tianwu. Dasarnya adalah teknik pergerakan yang memanfaatkan beda persepsi antara posisi bayangan dan posisi tubuh nyata—di level dasar, membuat lawan sulit membaca ke mana tubuh akan bergerak selanjutnya karena bayangan bergerak setengah detik lebih lambat dari tubuh. Namun di tangan Yu Fan setelah dua tahun, teknik itu sudah berevolusi jauh dari bentuk aslinya.
Ia tidak hanya menggerakkan bayangan. Ia menggerakkan persepsi.
Dari telapak kakinya, energi Yin yang sangat tipis meresap ke lantai batu lapangan setiap kali ia melangkah—tidak terlihat, tidak terdeteksi kecuali oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari. Energi itu menyebar di bawah permukaan seperti akar pohon yang tak terlihat, dan efeknya halus: siapa pun yang berdiri di atas batu yang sudah diresapi energi itu akan merasakan indra spasialnya sedikit terganggu—bukan cukup untuk membuat mereka tersandung atau kehilangan keseimbangan, namun cukup untuk membuat estimasi jarak dan arah gerakan Yu Fan meleset satu atau dua inci dari kenyataan. Satu atau dua inci yang, dalam pertarungan di tingkat ini, adalah seluruh perbedaan antara serangan yang mengenai dan serangan yang melewati udara kosong.
Pedangnya mengalir dari satu gerakan ke gerakan berikutnya tanpa jeda yang bisa diidentifikasi sebagai jeda—Teknik Pedang Yin Mengalir, sesuatu yang ia kembangkan sendiri dari kombinasi dasar-dasar Sekte Pedang Ilahi dan pemahaman intuitifnya tentang energi Yin yang semakin dalam. Setiap tebasan tidak hanya menargetkan titik yang terlihat, melainkan titik yang akan ada di sana setengah detik kemudian berdasarkan momentum serangan sebelumnya—menyerang bukan posisi saat ini melainkan posisi yang akan datang.
"Gerakan kakinya," bisik seorang senior Tingkat 4 dari tepi lapangan kepada kawannya. "Itu Langkah Bayangan Ilahi, tapi ada sesuatu yang lain di bawahnya. Aku tidak bisa mengidentifikasi alirannya."
"Energinya," kawannya menjawab lebih pelan. "Aku sudah perhatikan selama sebulan terakhir. Bukan Yin biasa. Lebih dingin. Lebih tua."
Yu Fan menghentikan gerakannya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan kirinya—gerakan yang sangat manusiawi dan biasa yang selalu terasa sedikit kontras dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Bagaimana? Sudah kukatakan bukan?"
Suara Jin Yuexin memecah percakapan bisik-bisik di tepi lapangan dengan cara yang sama seperti selalu dilakukannya—tanpa malu, tanpa meminta izin dari keheningan yang ada. Gadis itu berdiri dengan kedua tangan di pinggang, jubah kuning-merahnya yang sudah menjadi semacam tanda pengenal di akademi ini berkibar sedikit ditiup angin pagi. Dua tahun di akademi tidak mengubah Yuexin dalam hal yang paling mendasar—ia masih gadis yang berbicara sebelum berpikir dan tersenyum sebelum memutuskan apakah ada alasan untuk tersenyum. Namun wajahnya sedikit lebih matang dari yang pertama kali naik kuda keluar dari gerbang Kerajaan Tianwu dua tahun lalu, dan cara ia berdiri—meski masih dengan tangan di pinggang yang khasnya—mengandung kepercayaan diri seorang praktisi yang sudah membuktikan sesuatu, bukan hanya mewarisi nama.
"Perwakilan kerajaanku adalah jenius nomor satu," lanjutnya kepada sekelompok teman sekelas yang berdiri di sampingnya, nada suaranya mengandung kualitas seseorang yang tidak bisa membedakan antara berbagi fakta dan memamerkan. "Bahkan senior tingkat atas sudah berkeringat dingin kalau harus berduel dengannya!"
"Berhentilah memamerkan aku seperti barang dagangan, Yuexin," ucap Yu Fan, melangkah ke tepi lapangan dan mengambil handuk latihan dari atas pagar batu.
Yuexin bergerak ke sampingnya dengan langkah yang sudah sangat familiar—jarak yang tidak terlalu dekat untuk dianggap menempel, tidak terlalu jauh untuk dianggap tidak peduli. "Habisnya kau terlalu pendiam! Kalau aku tidak bicara, orang-orang akan mengira kau sombong." Ia menurunkan suaranya setengah nada, namun sama sekali tidak menurunkan antusiasmenya. "Oh, kudengar Lin Xueru masih sering mengirim salam lewat murid luar? Katanya untuk mengucapkan terima kasih atas kejadian tangga, tapi sudah dua tahun, Yu Fan. Ucapan terima kasih yang sangat... konsisten."
"Dia berterima kasih. Tidak lebih."
"Berterima kasih atau mencari alasan?" Yuexin mengejek, namun di sudut matanya ada binar yang tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai humor belaka. "Sudahlah. Ayo pergi makan."
Malam itu, jiwa Yu Fan gelisah.
Bukan dengan cara yang bisa dijelaskan atau diatasi dengan latihan tambahan. Bukan dengan cara yang bisa ditenangkan oleh meditasi—ia sudah mencoba selama dua jam dan setiap kali ia menyelam ke dalam dirinya mencari ketenangan, yang ia temukan adalah kekosongan yang semakin terasa seperti bentuk, bukan ketiadaan bentuk. Seperti cetakan dari sesuatu yang seharusnya ada di sana namun tidak ada.
Ia keluar dari asrama pada jam yang tidak ada murid lain yang seharusnya berada di luar—langit gelap dengan bintang-bintang yang lebih banyak dari yang seharusnya terlihat di atas kota besar, efek dari formasi pemurnian udara akademi. Ia melompati atap-atap bangunan pinggiran akademi dengan tujuan yang tidak jelas—kue osmanthus di kedai kecil yang buka sampai larut di sudut kota, atau mungkin hanya udara yang berbeda dari udara di dalam kamar.
Matanya menangkap sesuatu sebelum otaknya sempat memutuskan untuk memperhatikan.
Jubah putih. Di atas media teratai merah muda yang melayang beberapa kaki di atas jalur atap normal, bergerak dengan kecepatan yang sedikit terlalu tinggi untuk sekadar berjalan-jalan malam. Lin Xueru.
Ke mana ia pergi selarut ini?
Rasa penasaran bukan sesuatu yang Yu Fan biasanya izinkan untuk menentukan gerakannya. Namun malam ini, ia mengikutinya.
Dengan Langkah Bayangan Ilahi yang ditahan pada setengah kapasitas—cukup untuk menyembunyikan hawa keberadaannya namun tidak meninggalkan jejak energi Yin yang bisa terdeteksi oleh seseorang dengan kepekaan tinggi seperti Lin Xueru—ia mengikuti dari jarak yang cukup. Dari dahan ke dahan, dari atap ke atap, kemudian keluar dari tembok akademi ke perbukitan yang mengelilinginya.
Lembah yang tersembunyi di balik tiga lapis perbukitan. Kabut tebal yang tidak alami melayang setinggi pinggang, berwarna sedikit lebih abu dari kabut biasa—ada campuran energi negatif di dalamnya. Di tengah lembah, di atas batu datar yang permukaannya terlalu halus untuk batu alami, seorang pria berdiri menunggu dengan cara seseorang yang sudah lama tidak perlu menunggu siapa pun dan tidak menyukai bahwa ia harus melakukannya sekarang.
Pria itu berusia sekitar lima puluh tahun dengan tubuh yang menunjukkan tidak sehari pun ia berhenti berlatih dalam lima puluh tahun itu. Jubahnya hitam dengan lambang tengkorak yang diukir di bahu kanan—bukan dilukis atau disulam, melainkan diukir ke dalam kain dengan teknik yang entah bagaimana membuat kain itu terlihat seperti kulit. Rambutnya putih bukan karena usia melainkan karena kultivasi jenis tertentu yang memutihkan rambut sebagai efek samping, dan di tangannya ia memegang kipas tertutup dari tulang yang tidak jelas asalnya. Mata abu-abunya yang tidak berbinar—datar seperti permukaan batu, tidak mengandung kedalaman apa pun yang biasanya ada di mata makhluk hidup.
Dari tubuhnya memancar aura Master Tingkat 4 Awal—satu tingkat penuh di atas Lin Xueru.
"Jadi kau datang sendiri, Gadis Teratai?" suaranya parau dengan cara yang menunjukkan seseorang yang jarang berbicara dengan tujuan selain mengancam. "Kupikir kau lebih pintar dari ini."
Lin Xueru mendarat di hadapannya. Dari jarak yang Yu Fan mengamati dari balik perbukitan, ia bisa melihat bahwa postur Xueru tegak namun ada ketegangan di bahu yang sedikit terangkat—bukan ketakutan yang ia perlihatkan, melainkan ketakutan yang ia kelola dengan sangat terlatih. "Sekte Tengkorak Hitam tidak akan mendapatkan satu lembar pun dokumen dari Akademi Langit Biru," ucapnya. "Aku di sini untuk memastikan kalian tidak melangkah lebih jauh."
Pria itu menghembuskan napas yang terdengar seperti tawa yang tidak sepenuhnya jadi. "Tingkat 3 Menengah." Ia membuka kipasnya dengan gerakan yang sangat santai. "Ingin melawan Tingkat 4? Gadis suci yang naif."
Xueru bergerak pertama.
Dari kedua telapak tangannya, kelopak-kelopak energi putih melesat keluar dalam pola spiral—bukan menyerang dalam garis lurus yang mudah diprediksi, melainkan dalam kurva yang menyesuaikan diri dengan pergerakan target. Teknik Teratai Suci : Hujan Kelopak Tak Bertepi — puluhan proyektil energi putih yang masing-masing berukuran seujung jari namun mengandung pemurnian Qi Yang yang cukup untuk membakar meridian seseorang yang terkena jika tidak punya pertahanan yang cukup.
Pria itu melambai dengan kipasnya.
Kabut hitam menyembur dari kipas itu—bukan kabut biasa, melainkan energi negatif yang terkonsentrasi dengan kepadatan yang sangat tinggi, melayang seperti cairan namun bergerak seperti gas, mengambil alih ruang di depannya. Kelopak-kelopak energi putih Xueru menyentuh kabut itu dan padam satu per satu seperti api lilin yang disiram air.
Xueru tidak berhenti. Dengan langkah yang sangat cepat dan ringan—teknik pergerakan Sekte Teratai Putih yang mengutamakan kecepatan vertikal daripada horizontal, melompat dan mendarat dalam sudut-sudut yang membuat lawan sulit memperkirakan posisi kaki berikutnya—ia menutup jarak dan melancarkan Teknik Teratai Suci : Sembilan Kelopak Menghancurkan Malam. Sembilan serangan dalam pola yang menyerang sembilan titik meridian berbeda pada tubuh lawan secara berurutan dengan kecepatan yang membuat sembilan itu terlihat seperti satu gerakan berkelanjutan.
Pria itu menghentikannya dengan satu telapak tangan.
Bukan menangkis—ia hanya mengangkat telapak tangannya dan membiarkan serangan kesembilan itu menghantam telapaknya. Energi putih Xueru menyebar dan lenyap saat menyentuh kulitnya seperti air yang menyentuh batu panas. Dari telapak tangannya yang menghadap ke atas itu, ia melepaskan satu gelombang energi hitam ke depan—tidak terarah, melainkan menyebar dalam setengah lingkaran.
Xueru melompat ke atas untuk menghindari, namun bagian bawah jubahnya menyentuh tepi gelombang itu dan kain putihnya langsung menghitam dan hancur di ujung.
Pertarungan berlanjut selama belasan jurus lagi, dan setiap jutus semakin memperjelas apa yang sudah jelas dari awal: perbedaan satu tingkat penuh di dunia kultivasi bukanlah sekadar perbedaan kuantitatif. Ini adalah perbedaan kualitatif—cara energi dipahami dan digunakan secara fundamental berbeda. Xueru lebih cepat, lebih teknis, lebih presisi. Namun pria itu tidak perlu presisi karena volume dan kepadatan energinya saja sudah cukup untuk mengalahkan presisi.
Serangan pamungkasnya datang dari atas—kedua tangannya terangkat, kabut hitam berkumpul di antara jemari-jemarinya membentuk bola padat sebesar kepala manusia yang memancarkan tekanan yang terasa hingga ke batu di bawahnya. Teknik Tengkorak Hitam : Bola Penghancur Jiwa. Ia melemparkannya bukan ke tubuh Xueru melainkan ke tanah di bawah kakinya—efek ledakan yang menyebar ke segala arah lebih sulit dihindari dari serangan langsung.
Xueru melompat ke samping namun tidak cukup jauh. Gelombang ledakan menghantam sisi kanannya, mengirim tubuhnya terbang tiga meter ke samping sebelum menabrak dinding batu lembah. Ia meluncur ke bawah dan jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi, dan darah mengalir dari sudut bibirnya meninggalkan noda merah di atas dagu yang putih.
Jubah putihnya bernoda.
Pria itu melangkah mendekat dengan langkah yang lambat dan sangat tidak terburu-buru—langkah seseorang yang tidak perlu bergegas karena hasil sudah ditentukan. "Energi spiritual murni dari Sekte Teratai Putih," gumamnya, tangannya mulai bercahaya hitam dengan cara yang berbeda dari serangan-serangannya sebelumnya—lebih dalam, lebih lambat, lebih meresap. Teknik penyerapan jiwa. "Ini akan sangat berguna untuk kultivasiku."
Tangannya mulai bergerak ke arah dahi Xueru.
Yu Fan jatuh dari perbukitan.
Bukan dengan dramatis—ia tidak berteriak, tidak memanggil nama siapa pun. Ia hanya melompat, memotong jarak antara posisinya dan pria itu dalam satu lintasan lurus yang sangat cepat, dan pedang hitam-peraknya beradu langsung dengan tangan yang sudah bercahaya hitam itu.
KLANG.
Benturan antara bilah pedang dan energi penyerapan jiwa yang terkonsentrasi menghasilkan ledakan suara yang jauh lebih keras dari yang seharusnya secara fisik—seperti dua prinsip yang berlawanan bertemu dan keduanya menolak untuk mengalah. Pria itu terdorong empat langkah ke belakang, tangannya tersentak ke samping.
"Siapa kau?!"
Yu Fan tidak menjawab. Ia berdiri di antara pria itu dan Xueru dengan cara yang sangat sederhana—satu kaki di depan, satu di belakang, pedang di tangan kanan dengan posisi diagonal yang menutupi sudut serangan terluas. Cara berdiri yang tidak pernah ada dalam buku teknik sekte mana pun, melainkan cara berdiri seseorang yang sudah sangat lama tidak perlu buku untuk memberitahu tubuhnya bagaimana harus berdiri.
"Yu... Fan?" Suara Xueru dari belakangnya, parau dan sangat kaget.
"Istirahatlah," ucap Yu Fan. "Biar aku yang mengurus ini."
Pria bertengkorak itu menatap Yu Fan dengan cara yang berbeda dari cara ia menatap Xueru tadi—dengan penilaian bukan dengan meremehkan. Ia bisa merasakan aura Tingkat 3 Menengah dari pemuda ini, sama dengan Xueru. Namun ada sesuatu yang lain di dalamnya, sesuatu yang tidak tertangkap oleh pembacaan tingkat kultivasi biasa. Sesuatu yang lebih tua.
"Dua bocah Tingkat 3," ucapnya akhirnya, senyum yang tidak menyenangkan kembali ke wajahnya. "Apakah akademi itu sudah kehabisan orang yang mau mati lebih cepat?"
Ia menyerang.
Kali ini tidak santai—ia melesat maju dengan kecepatan penuh, kipasnya terbuka dan energi hitam menyembur dari lipatan-lipatannya seperti tinta yang dilempar ke udara, membentuk tujuh ekor naga hitam transparan yang masing-masing bergerak dengan cara yang berbeda namun semua mengarah ke satu titik—tubuh Yu Fan.
Teknik Tengkorak Hitam : Tujuh Naga Jiwa Terbelenggu.
Yu Fan membaca ketujuh jalur serangan itu dalam sepersekian detik—tidak dengan analisis sadar, melainkan dengan cara yang sudah menjadi refleks setelah dua tahun pertarungan intensif dan sesuatu yang lebih dalam dari itu yang sudah ada jauh sebelum dua tahun ini. Ia bergerak.
Langkah Bayangan Ilahi versi penuh—tubuhnya berpindah posisi dengan cara yang membuat tiga dari tujuh naga itu mengejar bayangan yang sudah tidak ada lagi. Satu lagi ia potong dengan pedangnya—bilah hitam-perak membelah naga energi itu dari kepala ke ekor, dan energi yang terpencar dari potongan itu ia defleksi dengan sudut pedang yang sangat presisi ke arah yang tidak mengenai siapa pun. Dua naga lagi ia hindari dengan berputar ke kiri—putaran yang juga menghasilkan serangan balik, pedangnya meninggalkan dua torehan di udara yang memancarkan hawa dingin.
Naga ketujuh menghantam bahunya.
Yu Fan berdiri tetap. Ia menyerap benturan itu dengan cara yang tidak seharusnya mungkin dilakukan oleh tubuh Tingkat 3—energi Yin di dalam tubuhnya membentuk lapisan di titik benturan itu secara otomatis, mendinginkan dan mematikan sebagian besar energi hitam naga itu sebelum bisa menembus lebih dalam. Jubahnya sobek di bahu kiri. Kulitnya tergores. Namun ia tidak terdorong satu langkah pun.
Pria itu mengerutkan alisnya untuk pertama kali malam ini.
"Teknik penyerapan," gumamnya. "Menarik."
Ia mengubah strateginya. Dari jarak menengah, ia melepaskan serangan beruntun yang lebih kecil namun lebih cepat—puluhan proyektil hitam kecil yang datang dari berbagai sudut sekaligus, tidak mematikan secara individual namun dirancang untuk memaksa gerakan defensif terus-menerus yang akan menguras energi lawan lebih cepat dari serangan besar.
Yu Fan merespons bukan dengan bertahan.
Ia maju.
Setiap langkah ke depan mempersempit jarak, dan di jarak yang lebih sempit, proyektil-proyektil kecil kehilangan sudut serangnya karena sumbernya—pria itu—berada terlalu dekat. Yu Fan melewati hujan proyektil itu dengan perpaduan Langkah Bayangan Ilahi dan sesuatu yang lebih intuitif—gerakan yang tidak ada namanya karena tidak berasal dari teknik mana pun yang diajarkan di dunia ini, gerakan tubuh yang menemukan jalur paling efisien melalui barisan serangan seperti air yang menemukan jalur melalui batu.
Satu hantaman tangan kosong ke solar plexus pria itu dari jarak kurang dari satu lengan.
Bukan pukulan yang dramatis—tidak ada cahaya, tidak ada ledakan. Hanya energi Yin yang sangat terkonsentrasi di ujung buku-buku jari, dilepaskan tepat saat kontak, masuk langsung ke dalam meridian utama pria itu dan untuk sepersekian detik mendinginkan aliran energinya dari dalam.
Pria itu terdorong tiga langkah ke belakang, untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini tidak memilih posisi berdirinya sendiri.
Matanya berubah.
Bukan lagi penilaian. Sesuatu yang lebih dekat dengan waspada yang sesungguhnya.
"Bocah ini—" ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia merentangkan kedua lengannya, dan dari punggungnya—di titik antara dua tulang belikat—sesuatu menembus keluar dari jubahnya. Dua tulang panjang berwarna putih kekuningan, masing-masing sepanjang dua kaki, runcing di ujungnya, yang perlahan-lahan mengembang menjadi sepasang sayap yang terbuat bukan dari bulu melainkan dari tulang-tulang yang tersusun seperti kipas, dilapisi membran hitam yang tipis. Teknik tubuh—modifikasi fisik permanen yang dilakukan dengan harga yang tidak ingin diketahui Yu Fan—yang memberikan pria ini kecepatan vertikal yang berbeda kategori.
Ia meluncur ke atas dalam satu gerakan, lalu menukik ke bawah dengan kecepatan yang jauh melampaui gerakan horizontalnya sebelumnya, kedua tangan terangkat dan energi hitam berkumpul di antara jemari-jemarinya membentuk bola yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Teknik Tengkorak Hitam : Kehancuran Total.
Bola energi itu sebesar lemari batu, dan tekanan yang ia keluarkan bahkan sebelum dilepaskan sudah cukup untuk membuat batu-batu kecil di lembah itu terangkat setengah inci dari tanah.
Yu Fan tidak bergerak.
Di belakangnya, Xueru yang masih berlutut dengan tangan menopang tubuhnya menatap punggung Yu Fan—dan di dalam matanya yang kelelahan ada sesuatu yang bukan hanya kelegaan karena ada yang datang menolongnya, melainkan sesuatu yang lebih berbentuk pertanyaan: mengapa ia tidak bergerak?
Jawabannya datang dalam bentuk yang tidak ada dalam buku kultivasi mana pun.
Dari tulang punggung Yu Fan, dari titik paling dalam di dalam tubuhnya yang sudah dua tahun ia pelajari namun belum pernah sepenuhnya ia mengerti—sesuatu bergerak ke atas, keluar melalui pori-pori kulitnya bukan sebagai cahaya melainkan sebagai perubahan suasana. Udara di sekitar Yu Fan tidak bercahaya. Ia menjadi lebih berat. Lebih dalam. Seperti udara di tempat yang sangat jauh dari sini, udara yang mengandung tekanan langit dari ketinggian yang tidak ada dalam peta dunia fana.
Matanya menjadi merah.
Bukan merah emosi—merah yang lebih tua dari emosi. Pupilnya menyempit menjadi celah vertikal, dan dari matanya yang berubah itu memancar sesuatu yang membuat pria dengan sayap tulang di udara itu—yang sudah tidak pernah berhenti sejak lahir untuk pertama kalinya merasakan naluri memperingatkannya—memperlambat turunannya tanpa memutuskan untuk melakukannya.
"ENYAH!"
Satu kata. Satu gerakan tangan kosong yang mengayun ke atas dengan telapak tangan menghadap ke bola energi yang menukik ke bawah.
Energi merah darah keluar bukan sebagai ledakan melainkan sebagai tekanan—seperti seseorang membuka pintu yang sudah sangat lama tertutup dan udara yang terperangkap di dalamnya mendorong ke luar sekaligus. Tekanan itu berbentuk telapak tangan yang jauh lebih besar dari tangan Yu Fan, transparan dan merah tua dengan garis-garis meridian yang samar terlihat di permukaannya seperti petir yang membeku.
Teknik Tangan Asura : Telapak Penghancur Langit.
Telapak merah itu bertemu dengan bola kehancuran hitam di titik tengah antara tanah dan pria terbang itu.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya sebuah suara yang sangat rendah dan sangat singkat—seperti langit mendehem—dan bola hitam itu hancur dari dalam, energinya terpencar ke segala arah dalam partikel-partikel yang terlalu kecil untuk berbahaya. Pria itu terdorong ke atas oleh gaya balik dan selama dua detik ia tergantung di udara—sayap tulangnya bergetar keras, wajahnya menunjukkan sesuatu yang sudah sangat lama tidak ada di sana.
Ketakutan.
Yu Fan melesat ke atas.
Bukan dengan teknik meringankan tubuh biasa—energi Yin dari telapak kakinya mendorong ke bawah, menciptakan tumpuan sesaat di udara yang membawa tubuhnya ke ketinggian yang sama dengan pria bersayap itu. Satu tinju kanan—bukan dengan pedang, dengan tangan kosong yang dibungkus energi merah tua yang berputar seperti bor—menghantam dada pria itu tepat di titik yang sama dengan hantaman telapak tangan sebelumnya.
Tulang dada pria itu tidak hancur. Namun di dalam meridian utamanya, sesuatu retak.
Ia jatuh ke lembah dengan cara yang jauh tidak seanggun cara ia naik ke udara tadi, mendarat di satu lutut dan satu tangan, kepala tertunduk. Sayap tulangnya gemetar dan perlahan-lahan melipat kembali ke dalam jubahnya.
Aura merah di sekitar Yu Fan memudar, ditarik kembali ke dalam secara perlahan. Matanya kembali ke abu-abu gelap yang biasa. Ia mendarat di sebelah pria itu, satu kaki di tanah.
Keheningan lembah.
Pria itu mendongak. Di matanya yang datar dan tidak berbinar itu, untuk pertama dan satu-satunya kali malam ini, ada sesuatu yang hidup—sesuatu yang ia tidak beri nama karena memberinya nama berarti mengakuinya. "Siapa... sebenarnya kau?"
Yu Fan tidak menjawab.
Pria itu bangkit—perlahan, dengan cara seseorang yang memilih untuk berdiri bukan karena tidak terluka, melainkan karena masih ingin terlihat seperti seseorang yang memilih gerakannya sendiri. Dari saku jubahnya ia mengeluarkan sesuatu kecil yang ia lempar ke tanah—ledakan asap hitam tebal yang mengembang dalam setengah detik menjadi kabut setinggi manusia. Saat kabut itu mengendap tiga detik kemudian, pria itu sudah tidak ada.
Hanya bekas luka cukaran dari serangan Yu Fan yang tertinggal di udara dalam bentuk aroma terbakar yang samar.
Energi merah padam sepenuhnya. Yu Fan terhuyung—bukan jatuh, namun lututnya merasakan beban dua pertarungan dalam waktu kurang dari dua jam setelah dua jam meditasi yang tidak menghasilkan ketenangan. Ia berbalik ke arah Lin Xueru.
Wanita itu masih berlutut, namun tangannya sudah tidak lagi menopang—ia sudah cukup memulihkan kontrol untuk duduk tegak meski wajahnya masih sangat pucat. Jubah putihnya bernoda darah di bahu kanan dan hem bawahnya terbakar oleh gelombang ledakan sebelumnya. Rambutnya yang biasanya sempurna kini memiliki beberapa helai yang jatuh melewati dahinya, dan matanya yang biru pucat—yang di siang hari selalu terlihat sangat teratur—malam ini mengandung sesuatu yang jauh lebih tidak terkontrol dari itu.
Yu Fan tidak berbicara panjang. Ia berlutut di sampingnya, mengeluarkan sebuah pil dari dalam jubahnya—satu dari tiga pil kesembuhan Tingkat Menengah yang ia simpan sejak misi di perbatasan bulan lalu—dan menyerahkannya. "Minum."
Xueru menerima pil itu. Sebelum menelannya, ia menatap Yu Fan dari jarak sangat dekat—dua wajah yang diterangi cahaya bintang dan sisa-sisa kilauan energi yang belum sepenuhnya padam di udara lembah. Di jarak ini, ia bisa melihat detail yang tidak pernah ia perhatikan dari jauh: garis-garis di wajah Yu Fan yang terlalu presisi untuk hasil alami, dan di dalam matanya yang abu-abu yang sudah kembali normal itu, sesuatu yang terasa seperti kedalaman yang tidak seharusnya ada di sana.
"Kau sudah melihat aura itu sebelumnya," ucap Xueru—bukan pertanyaan. Suaranya sangat pelan.
Yu Fan tidak menjawab selama tiga detik. "Minum dulu."
Xueru menelan pil itu. Energi penyembuhan mengalir melalui meridiannya yang rusak, mulai menutup luka-luka internal. Warnanya kembali sedikit ke wajahnya.
Ia membiarkan Yu Fan membantunya berdiri—telapak tangannya menyentuh lengan Yu Fan, dan di titik kontak itu ia merasakan sesuatu yang sudah ia perhatikan sejak tujuh hari di anak tangga ujian namun tidak pernah ia putuskan untuk memikirkan lebih jauh: energi di dalam tubuh pemuda ini tidak terasa seperti energi manusia. Lebih dingin dari Yin biasa. Lebih berat dari Tingkat 3 mana pun yang pernah ia rasakan. Dan di dalamnya, sangat jauh di dalamnya seperti sesuatu yang terkubur sangat dalam, ada getaran yang—
Ia melepaskan tangannya.
Bukan karena tidak nyaman. Karena terlalu nyaman, dan itu membingungkannya lebih dari ketidaknyamanan.
Di pintu asrama wanita, di bawah cahaya obor yang bergoyang ditiup angin malam, Jin Yuexin berdiri dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya memutuskan antara cemas, marah, dan lega mana yang harus ia prioritaskan. Di sampingnya, seorang siswi Sekte Penggoda—Mei Er yang kebetulan kembali larut dari entah ke mana—menatap pemandangan di depannya dengan senyum yang mengandung terlalu banyak pengertian untuk seseorang yang baru saja datang.
Yu Fan melangkah ke dalam cahaya obor itu dengan Xueru yang masih sedikit tertatih di sampingnya.
"YU FAN!" Yuexin melangkah maju dua langkah sebelum berhenti—matanya memindai jubah yang sobek di bahu kiri Yu Fan, noda darah kering di dagu Xueru, dan kondisi umum dua orang yang jelas baru saja melalui sesuatu yang tidak menyenangkan. "Apa yang terjadi?!"
"Diserang sekte sesat," ucap Yu Fan singkat. Ia menurunkan Xueru dengan sangat hati-hati ke tangan Yuexin dan Mei Er. "Tolong urus dia."
Ia berbalik.
"Tunggu—Yu Fan! Kau tidak bisa hanya—"
Namun Yu Fan sudah melompat ke atap bangunan pertama, menghilang dari jangkauan suara Yuexin dalam tiga detik. Di belakangnya, suara omelan Yuexin yang bercampur dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat dijawab mengisi malam.
Mei Er menatap arah Yu Fan menghilang, lalu menatap Xueru yang kini berdiri sendiri dengan Yuexin yang sibuk mengomel di sampingnya. "Gadis Teratai Putih," ucapnya pelan dengan nada yang tidak didengar Yuexin karena Yuexin sedang terlalu sibuk berbicara. "Kau melihat aura itu, kan?"
Xueru tidak menjawab.
Namun jari-jarinya—yang masih sedikit gemetar dari sisa efek serangan tadi—menggenggam tepi jubahnya yang bernoda.
Tiga hari kemudian, ruang kerja Dekan Akademi.
Dekan Shen Mingzhi—nama yang jarang disebut secara lengkap karena "Dekan" sudah cukup di lingkungan akademi—duduk di balik meja dari kayu hitam yang permukaannya penuh dengan tumpukan kertas, gulung-gulung peta, dan benda-benda kecil yang tidak jelas fungsinya bagi orang yang tidak tahu apa yang ia kerjakan. Usianya sulit ditebak—wajahnya terlihat seperti enam puluh tahun namun energinya terasa seperti seseorang yang sudah ada sebelum enam puluh tahun itu. Janggutnya panjang dan tidak rapi dengan cara yang menunjukkan bahwa ia tidak peduli dengan penampilannya, bukan bahwa ia lupa merawatnya. Matanya cokelat hangat dengan cara yang sedikit mengecoh—kehangatan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dalam satu kedipan.
Di sampingnya, Wakil Dekan Ruan Jing berdiri—satu-satunya orang di akademi yang selalu berdiri bahkan ketika tidak ada alasan untuk tidak duduk. Pria yang lebih muda dengan rahang yang sangat tegas dan mata yang tidak pernah terlihat sedang beristirahat, selalu menilai, selalu menganalisis. Ia mengelusjanggutnya yang pendek dan rapi saat menatap dua murid yang duduk di depan Dekan.
"Sekte Tengkorak Hitam sudah beroperasi di sekitar akademi selama lebih lama dari yang kita duga," ucap Dekan Shen, suaranya mengisi ruangan dengan cara yang tidak membutuhkan volume. "Xueru, kau sudah melakukan ini dengan baik. Sayangnya, mereka lebih cerdik dari perkiraan kita."
"Maafkan kegagalan saya, Dekan," ucap Xueru, kepalanya menunduk.
"Tidak ada kegagalan dalam informasi yang kau kumpulkan. Yang gagal adalah estimasi kita tentang level orang yang mereka kirim." Dekan Shen menatap Yu Fan. "Dan tindakanmu malam itu, Yu Fan, sangat tepat waktu." Jeda yang singkat namun terasa bermakna. "Oleh karena itu, aku memutuskan kalian berdua akan ditugaskan dalam misi pembasmian cabang Sekte Tengkorak Hitam di wilayah perbatasan timur."
"Hanya kami berdua?" tanya Yu Fan.
Wakil Dekan Ruan berbicara untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai—suaranya lebih dingin dari Dekan Shen, lebih terukur. "Tentu tidak." Ia tidak berpaling dari titik di udara yang sedang ia tatap. "Ada seseorang yang akan menemani kalian."
Dari sudut ruangan yang paling gelap—sudut yang Yu Fan dan Xueru sudah duduk di ruangan ini selama sepuluh menit tanpa menyadari bahwa sudut itu mengandung kehadiran manusia—seorang sosok melangkah ke depan.
Yu Fan tidak bereaksi secara terlihat. Namun di dalam tubuhnya, energi Yin bergerak satu denyutan pendek—sinyal bahwa indra yang lebih dalam dari indra fisika mendeteksi sesuatu yang tidak biasa. Orang ini sudah ada di ruangan ini sebelum mereka masuk. Di bawah hidung Yu Fan dan Xueru, keduanya dari sekte dengan pelatihan kepekaan yang sangat tinggi, tanpa terdeteksi. Itu bukan kemampuan biasa.
Pria itu tinggi dengan jubah biru gelap yang tidak memiliki ornamen apa pun—biru gelap yang hampir bisa disebut hitam jika bukan karena cahaya tertentu yang menangkapnya dari sudut yang tepat. Wajahnya tidak muda namun tidak tua—di suatu tempat di antara keduanya yang membuat usianya tidak bisa diperkirakan. Matanya berwarna hijau gelap yang sangat tidak biasa, dan cara ia berdiri mengkomunikasikan bahwa setiap inci darinya sudah digunakan selama bertahun-tahun dengan sangat efisien. Tidak ada satu otot pun yang tegang yang tidak perlu tegang, tidak ada satu pun gerakan yang keluar melebihi yang diperlukan.
"Senior Han," ucap Dekan memperkenalkan. "Master Tingkat 4 Menengah. Ahli dalam penyembunyian dan eliminasi diam-diam."
Senior Han mengangguk satu kali ke arah Yu Fan, satu kali ke arah Xueru. Bukan hormat—hanya pengakuan keberadaan. "Aku akan berada di bayang-bayang. Tugas kalian adalah menjadi umpan dan penyerang utama." Suaranya datar dan sangat ekonomis—tidak satu suku kata pun digunakan melebihi yang diperlukan. "Jangan mati sebelum misinya selesai."
Sore hari yang sama. Taman akademi di sudut timur, tempat pohon-pohon osman yang berbunga sepanjang tahun menciptakan koridor wangi yang panjang—tempat yang biasanya digunakan murid untuk bersantai, namun sore ini hanya ada tiga orang di koridor paling ujungnya.
Yuexin berdiri dengan tangan disilangkan di dada—postur yang dalam dua tahun sudah Yu Fan kenali sebagai postur seseorang yang punya terlalu banyak hal yang ingin dikatakan dan belum memutuskan mana yang harus keluar pertama. Lin Xueru berdiri di sampingnya—jubah putih yang baru karena yang kemarin sudah tidak bisa diselamatkan, rambutnya sudah kembali sempurna, dan wajahnya sudah kembali ke ekspresi yang biasanya ia pilih untuk diperlihatkan ke dunia. Namun matanya, saat bertemu dengan mata Yu Fan, mengandung sesuatu yang tidak ada di sana dua tahun lalu.
"Jadi kalian akan menjalankan misi berdua," ucap Yuexin—nadanya mencoba ringan dan gagal sepenuhnya menyembunyikan sesuatu di bawahnya. "Hati-hati ya, jangan sampai ada yang 'terjatuh' lagi ke pelukan orang lain di tengah hutan."
Xueru menatap Yu Fan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—tidak sepenuhnya terbuka, namun tidak sepenuhnya tertutup. "Terima kasih kembali untuk malam itu," ucapnya. Sangat pelan, sangat disengaja. "Tanpamu, jiwaku mungkin sudah menjadi santapan mereka."
Yu Fan membuka mulutnya untuk menjawab.
"SUDAHLAH!" Yuexin menyela sebelum satu pun kata keluar, menarik satu lengan Yu Fan dan satu lengan Xueru ke arah ruang makan dengan kecepatan yang tidak menerima penolakan. "Ayo makan! Aku yang traktir! Kalian butuh tenaga untuk misi besok!"
Meja makan di sudut ruang makan akademi yang ramai. Tiga mangkuk yang sudah diisi, satu piring lauk yang sudah terbagi.
Yuexin berbicara hampir tanpa jeda—tentang kompetisi antar divisi minggu depan, tentang teknik baru yang ia pelajari dari guru pedangnya, tentang kejadian di kelas alkimia yang hampir meledakkan seluruh ruangan tiga hari lalu. Semua itu disampaikan dengan nada yang sangat hidup, dan di bawah semua itu ada fungsi yang lebih sederhana: selama Yuexin berbicara, ruang di antara Yu Fan dan Xueru tidak punya kesempatan untuk menjadi hening dengan cara yang membuat Yuexin tidak nyaman.
Xueru makan dengan sangat teratur. Sesekali matanya bergerak ke arah Yu Fan—bukan dengan cara yang mencolok, melainkan dengan cara seseorang yang membiasakan diri membaca satu buku tertentu dan selalu menemukan kalimat baru yang belum ia perhatikan sebelumnya.
Yu Fan makan tanpa banyak berkata-kata, seperti biasanya.
Namun di dalam kepalanya, bukan misi besok yang ia pikirkan. Bukan Sekte Tengkorak Hitam, bukan Senior Han, bukan strategi.
Yang ia pikirkan adalah momen tiga hari lalu di lembah itu—bukan pertarungannya, melainkan satu detik setelahnya, saat energi merah padam dan ia kembali ke dirinya sendiri dan merasakan bahwa tubuhnya—tubuh Tingkat 3 Menengah yang sudah dua tahun ia bangun—masih belum cukup untuk menanggung apa yang baru saja ia lakukan tanpa dibayar dengan kelemahan setelahnya.
Dan di dalam kelemahan itu, saat pikirannya sedikit lebih longgar dari biasanya, bayangan itu datang lagi. Langiit yang kelabu. Batu giok putih. Telapak tangan yang menutup di sekitar keberadan seseorang dari arah yang ia percayai tidak akan pernah datang bahaya darinya.
Xueru menyimpan rahasia tentang aura merah Asura yang ia lihat. Yu Fan tahu itu—ia tidak tahu bagaimana ia tahu, namun ia tahu. Dan ia tidak memintanya untuk tidak menyimpannya, karena malam itu di lembah, sebelum pertarungan dimulai, ada satu detik saat mata biru pucat Lin Xueru melihat ke arahnya dari jarak yang sangat dekat dan sesuatu di dalam cara mata itu terlihat—sangat jauh di dalam, terlalu jauh untuk disengaja—sangat mirip dengan sesuatu yang tidak lagi ia ingat namun tubuhnya tidak lupa.
Sesuatu yang menyebabkan rasa sesak di dadanya bukan bertambah, melainkan justru sedikit lebih rumit dari sebelumnya.
Di atas meja makan itu, di antara ocehan Yuexin yang tidak berhenti dan suara mangkuk yang beradu pelan, tidak ada yang mengucapkan satu kata pun tentang apa yang sesungguhnya tergantung di udara di antara mereka bertiga.
Tapi benda-benda yang tidak diucapkan tidak berarti tidak ada.
Dan misi yang menunggu di pagi hari, dengan Senior Han di bayang-bayang dan Sekte Tengkorak Hitam di perbatasan, adalah tempat di mana benda-benda yang tidak diucapkan itu akan sangat mungkin dipaksa untuk menemukan bentuknya.