Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Sore ini sepulang dari kantor, Maira langsung menyusun baju - baju milik nya di dalam koper. Dia sudah tidak mau menunda lagi, dia ingin secepat nya mendapatkan bukti pengkhianatan antara suami nya dan Nia.
Maira yakin, jika dia tidak ada di rumah, Azam pasti akan menikahi Nia. Maira ingin mengumpulkan bukti sebanyak mungkin, setelah itu dia akan menjatuhkan Azam ke tempat yang paling rendah dan dia pastikan Azam tidak akan bisa bangkit lagi.
"Mau kemana kamu, Mai?" Tanya Azam saat dia melihat sang istri yang sedang menata pakaian nya ke dalam koper nya.
"Aku di tugaskan keluar kota mas, selama satu minggu. Besok pagi aku harus berangkat!" Maira menjelaskan pada Azam.
"Kok mendadak gitu?" Tanya Azam sedikit keheranan.
"Iya mas, seharusnya ini bukan tugas ku, tapi orang lain. Nah, kebetulan orang yang di tugas kan tiba - tiba istri nya sakit keras, jadi mau tidak mau aku yang harus menggantikan nya!" Maira menjelaskan alasan nya agar terlihat semeyakin kan mungkin.
"Oh, gitu ya!" Azam tampak mengangguk - angguk kan kepala nya.
Maira tersenyum puas melihat suami nya percaya pada semua ucapan nya, Azam pun tampak sangat senang melihat Maira yang akan pergi dinas dalam waktu seminggu ke depan.
'Bagus lah Maira pergi dari rumah, dengan begitu aku punya lebih banyak waktu untuk bersama Nia. Mungkin ini lah saat nya aku menikahi Nia!' Batin Azam di dalam hati nya.
"Mas, kamu kenapa sih senyum - senyum sendiri? Seperti orang gila!" Panggil Maira.
Azam tersentak dari lamunan nya, ketika mendengar suara Maira. Saking bahagia nya, dia lupa bahwa saat ini Maira sedang berada di depan mata nya.
"Eh, gak papa kok Mai. Ya udah deh, aku mau lihat keadaan mbak Nia dulu ya. Tadi ibu bilang, mbak Nia sakit karena memikir kan uang nya yang sudah di tipu!" Azam pun beranjak meninggal kan kamar nya dan Maira.
'Mas, mas, kau fikir aku bodoh apa? Rupa nya kau sudah tidak sabar lagi untuk segera bertemu dengan mbak Nia, kau tidak bisa menunggu aku pergi dulu!' Batin Maira sambil menggelengkan kepala nya.
Azam segera menemui Nia di dalam kamar nya, kebetulan saat ini Mama Wina pun sedang berada di dalam kamar nya Nia.
"Ma, Nia aku ada kabar bagus untuk kalian semua!" Azam berkata sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Kabar apa Zam?" Tanya Mama Nia penasaran.
"Besok Maira akan pergi dinas selama satu minggu ke depan, jadi kita punya kesempatan saat Maira tidak ada di rumah!" Azam berkata pada Mama Wina dan Nia.
"Benarkah itu Zam?" Tanya Mama Wina lagi.
"Bener Ma, saat ini Maira sedang berkemas di dalam kamar!" Jawab Azam lagi.
"Zam, ini kesempatan baik untuk mu dan juga Nia. Mama harap kau segera menikahi Nia, saat Maira tidak ada di rumah!" Mama Wina berkata pada putra nya.
"Iya Ma, rencana nya memang seperti itu. Aku berencana anak menikah dengan Nia saat Maira pergi, aku tidak ingin menunda lagi!" Ucap Azam kemudian.
"Benarkah itu mas?" Tanya Nia yang saat ini sudah sangat bahagia mendengar nya.
"Benar sayang, aku akan segera menikahi mu!" Jawab Azam sambil mengelus kepala Nia.
Azam terlihat memperlakukan Nia dengan sangat romantis, padahal saat ini mereka berdua sedang berada di hadapan Mama Wina. Mereka berdua tidak perduli, interaksi antara kedua nya terlihat berlebihan.
******
"Ayu, ini uang jajan buat kamu sayang!" Maira menyerahkan 5 lembar uang merah pada Ayu saat mereka sedang sarapan.
"Makasih tante!" Jawab Gadis kecil itu dengan polos nya.
"Sama - sama sayang!" Jawab Maira sambil tersenyum.
Melihat Ayu, Maira merasa kasihan pada gadis kecil itu. Dia sudah di tinggal kan ayah nya sejak usia nya baru menginjak 5 tahun, tapi sikap Nia yang kadang keterlaluan membuat Maira tidak suka.
"Berangkat nya sama siapa, Mai?" Tanya Azam di sela - sela sarapan mereka.
"Aku di jemput oleh Arini, mas. Nanti Arini yang akan mengantarkan aku ke bandara!" Jawab Maira sambil menyuap kan sarapan ke dalam mulut nya.
"Oh begitu ya, selama kamu pergi mas boleh ya pakai motor mu. Biar motor mas di pake oleh Lara yang akan pergi ke kampus!" Azam meminta izin pada Maira.
"Ya udah pake aja mas!" Jawab Maira sambil menganggukan kan kepala nya.
"Mai, memang kamu gak kasihan sama Nia? Dia habis di tipu loh, dan saat ini tidak punya uang sama sekali!" Mama Wina berkata pada Maira.
"Mau gimana lagi Ma, kan semua itu bisa terjadi karena mbak Nia dan Mama sendiri kan. Kalian ingin mencari uang dengan cara tidak perlu kerja keras lagi, begini kan jadi nya!" Ucap Maira dengan sinis.
"Maira, Mama gak suka ya kamu menyalahkan Mama dan Nia. Kami cuma mau berusaha, gak tahu nya malah jadi begini!" Mama Wina tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Maira.
Tin, tin, tin.
Terdengar bunyi klakson di depan rumah, Maira yakin itu pasti Arini yang datang untuk menjemput nya.
"Ya udah deh mas, Mama, mbak Nia, aku pergi dulu ya. Kalian jaga diri baik - baik di rumah!" Maira lalu bergantian mencium tangan Azam dan Mama Wina.
"Mai, kasih uang dong buat Nia. Kasihan dia gak punya uang sama sekali!" Mama Wina berkata saat Maira mencium tangan nya.
"Ya udah deh, biar aku kasih!" Maira lalu membuka tas nya.
Maira mengeluarkan 10 lembar uang pecahan seratus ribu, dan memberikan nya pada Nia.
"Mbak, ini buat mbak. Maaf ya mbak, gak banyak!" Ujar Maira.
"Makasih banyak Maira!" Jawab Nia sambil mengambil uang itu.
Maira hanya tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya, dia sengaja menuruti apa yang di katakan oleh Mama Wina. Maira ingin menegaskan, bahwa ini lah saat - saat terakhir mereka menikmati yang nya Maira.
"Mau langsung berangkat sekarang, Mai?" Tanya Arini sambil memasuk kan koper Maira ke dalam bagasi.
"Iya Rin, pesawat nya berangkat jam 9 pagi!" Jawab Maira.
"Ya udah deh, aku anter kamu sekarang juga!" Arini berkata sambil tersenyum.
Maira segera masuk ke dalam mobil, dia duduk di sebelah Arini yang mengemudikan mobil nya. Mobil perlahan bergerak menjauhi rumah nya Maira.
"Mereka gak curiga kan, Mai?" Tanya Arini.
"Gak kok Rin, mereka malah seneng banget loh saat tahu aku akan pergi selama seminggu!" Jawab Maira.
"Dasar pengkhianat, benar - benar tidak tahu diri!" Umpat Arini.
Maira sengaja pergi, dan kepergian nya kali ini akan membawa kehancuran pada mereka semua. Ibarat pepatah, mundur satu langkah untuk kemudian melesat maju tanpa bisa mereka cegah.
menurutku dia sudah berusaha agar tetap dapat uang agar dia bisa lanjut kuliah.
kalau tuk yg lain ya terserah mu thor beri peljarannya yg mantep 🤣