Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Sinarnya jatuh tepat di atas kelopak mataku, memaksaku untuk perlahan membuka mata. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku adalah garis wajah Charles yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Lengan kekarnya masih melingkar protektif di pinggangku, menarik tubuhku begitu dekat hingga tidak ada jarak di antara kami.
Aku tersenyum kecil, merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhku saat mengingat kembali peristiwa semalam. Penyatuan kami bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban atas kertas kontrak, melainkan sebuah ikatan sakral yang lahir dari ketulusan rasa. Perlahan, agar tidak membangunkan pria yang tampak sangat lelah setelah berhari-hari bertempur dengan badai itu, aku menggeser lengannya dan turun dari ranjang.
Aku mengenakan kembali piyama katunku dan berjalan menuju dapur. Pagi ini, aku ingin membuat sesuatu yang istimewa untuk sarapan kami berdua. Sambil memotong sayuran dan menyiapkan pemanggang roti, aku mendengarkan gemercik air dari arah kamar mandi—tanda bahwa Charles sudah terbangun.
Tidak lama kemudian, sepasang lengan yang kokoh tiba-tiba melingkari pinggangku dari belakang. Aroma sabun maskulin dan minyak rambut yang khas langsung memenuhi indra penciumanku. Charles mengecup tengkukku lembut, membuatku sedikit kegelian.
"Kau bangun terlalu cepat, Penulis," bisiknya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat seksi di telingaku.
"Aku ingin menyiapkan sarapan untuk suamiku," jawabku sambil membalikkan badan, menatap matanya yang kini dipenuhi oleh binar kebahagiaan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Charles tersenyum, sebuah senyuman yang begitu menawan hingga sanggup membuat jantungku kembali berdegup kencang. Ia mengambil alih pisau dari tanganku, meletakkannya di atas meja konter, lalu menangkup wajahku untuk memberikan sebuah kecupan pagi yang lembut di bibirku.
"Terima kasih untuk semalam, Andini," ucapnya dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan rasa hormat dan cinta yang murni. "Kau membuatku menyadari bahwa rumah bukanlah sebuah tempat, melainkan seseorang. Dan rumahku adalah kau."
Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang kini menjadi irama favoritku. "Aku juga berterima kasih, Charles. Bersamamu, aku tidak lagi takut menghadapi hari esok."
Kami menikmati sarapan pagi itu dengan penuh canda dan tawa kecil. Kehadiran rasa yang kini telah mencairkan seluruh dinding es Charles membuat atmosfer apartemen ini terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Namun, kedamaian di dalam menara kaca kami kontras dengan apa yang sedang bergolak di luar sana.
Di sebuah hotel butik di pinggiran Jakarta, Vivian Rahardja sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar *suite*-nya yang mewah. Di atas meja kaca, sebuah laptop menampilkan halaman media sosial yang dipenuhi oleh komentar para netizen. Senyum licik yang biasanya menghiasi wajah wanita itu kini telah digantikan oleh gurat kemarahan dan frustrasi yang mendalam.
Rencana besarnya untuk menggunakan Reyhan Dewangga sebagai tombak penghancur Charles Utama telah gagal total.
Satu jam yang lalu, tim hukumnya memberikan kabar bahwa Reyhan secara resmi telah menarik kembali seluruh draf kesaksian tertulisnya dari pengadilan. Tidak hanya itu, pemuda idealis itu juga mengirimkan surat pernyataan resmi ke media daring yang memuat artikel kemarin siang, menyatakan bahwa seluruh kutipan yang menyudutkan Charles Utama adalah kesalahpahaman dan manipulasi informasi dari pihak ketiga.
"Pemuda bodoh tidak berguna!" teriak Vivian sambil menghempaskan cangkir teh porselennya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Bagaimana bisa dia menjadi begitu pengecut dalam waktu satu malam?! Charles pasti telah mengancamnya!"
Pintu kamar *suite* diketuk dengan tergesa-gesa. Pengacara pribadi Vivian masuk dengan wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Ibu Vivian... kita berada dalam situasi yang sangat kritis," ujar pengacara itu dengan suara yang bergetar.
"Ada apa lagi?! Jangan katakan padaku bahwa Charles memblokir rekeningku lagi!" bentak Vivian, matanya melotot penuh amarah.
"Lebih buruk dari itu, Bu," pengacara itu menyodorkan sebuah tablet yang menampilkan sebuah dokumen legal berlogo Kepolisian Republik Indonesia. "Tim hukum Charles Utama baru saja memasukkan bukti tambahan ke penyidik. Mereka tidak hanya menggugat Anda atas pencemaran nama baik, tetapi juga atas dugaan tindak pidana korupsi dan penggelapan dana anak perusahaan Utama Group yang Anda pimpin dua tahun lalu. Bukti-bukti transfernya sangat valid, Ibu Vivian. Surat perintah penangkapan Anda sudah ditandatangani oleh hakim sejam yang lalu."
Wajah Vivian seketika berubah pias, kehilangan seluruh rona merahnya. Tubuhnya lemas hingga ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa agar tidak jatuh tersungkur. "Penggelapan dana? Bagaimana bisa... dokumen-dokumen itu seharusnya sudah kuhancurkan!"
"Charles telah menyimpan salinannya sejak lama, Bu. Dia sengaja menahan kartu as ini dan menanti saat yang tepat ketika Anda benar-benar terdesak agar Anda tidak memiliki ruang untuk bermanuver lagi," jelas pengacara itu dengan nada putus asa. "Saran saya, kita harus segera menuju bandara sekarang juga sebelum petugas kepolisian mencegat kita di lobi hotel ini."
Vivian menatap keluar jendela, menatap deretan gedung tinggi di kawasan bisnis Jakarta yang selama ini menjadi medan pertempurannya. Ia menyadari satu kenyataan yang sangat pahit: Charles Utama tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Pria itu telah membiarkannya merasa menang sejenak hanya untuk menjatuhkannya dari ketinggian yang paling mematikan.
"Charles..." desis Vivian, giginya gemertak menahan perpaduan antara dendam dan rasa takut yang teramat sangat. "Kau menghancurkanku demi gadis ingusan itu. Aku bersumpah... jika aku harus membusuk di penjara, aku tidak akan membiarkan hidupmu berjalan dengan tenang!"