Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DIAMBANG PERBATASAN
Malam di pangkalan militer itu terasa begitu menekan, seolah-olah udara sendiri telah membeku oleh berita kepindahan yang mendadak. Gerimis tipis kembali membasuh kaca jendela paviliun, menciptakan garis-garis air yang menyerupai air mata di permukaan kaca. Keyra duduk di tepi tempat tidur di kamar tamu, menatap tas medisnya yang tergeletak di lantai tas yang sama yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka di bawah reruntuhan tanah kemarin.
Ghazali bersikeras pulang ke paviliun meski bahunya masih dibalut perban tebal dan wajahnya masih sepucat kertas. Ia menolak dirawat di klinik lebih lama, beralasan bahwa ia harus menyiapkan perlengkapan tugasnya sebelum fajar menyingsing lusa.
---
Suara langkah kaki yang lambat dan sedikit berat terdengar dari ruang tengah. Keyra segera keluar, mendapati Ghazali sedang berdiri di depan lemari besinya, mencoba menarik keluar tas ransel taktisnya dengan satu tangan yang sehat. Ringisan kecil lolos dari bibirnya saat luka di belikatnya kembali berdenyut.
"Berhenti, Ghazali! Kamu bisa membuat jahitannya lepas!" Keyra berlari mendekat, merebut tas berat itu dari tangan Ghazali dan meletakkannya di lantai dengan dentuman pelan.
Ghazali menatap Keyra, napasnya sedikit memburu. "Aku tidak punya banyak waktu, Keyra. Perbatasan utara bukan tempat untuk bersantai. Aku harus memastikan semua perlengkapanku siap."
"Tapi kamu bahkan belum bisa mengangkat tangan kirimu!" suara Keyra meninggi, campuran antara marah dan rasa takut yang amat sangat. "Ayahmu benar-benar kejam. Dia mengirimmu ke zona konflik saat kamu sedang terluka. Ini bukan lagi soal disiplin militer, ini soal kebencian pribadi."
Ghazali terdiam sejenak, lalu perlahan duduk di pinggiran sofa. Ia menatap tangannya yang besar, tangan yang selama lima tahun ini hanya ia gunakan untuk memegang senjata dan memberi instruksi kaku. "Ayah ingin aku menyerah. Dia ingin aku merasa menderita di sana sampai aku memohon untuk kembali ke perusahaan. Dia pikir dia bisa mematahkan semangatku dengan cara ini."
Keyra berlutut di depan Ghazali, menempelkan kedua tangannya di lutut pria itu. "Lalu kenapa kamu tidak melawannya? Gunakan koneksi Bastian atau Komandan Distrik untuk menunda keberangkatanmu."
"Aku tidak akan lari, Keyra," sahut Ghazali tegas, namun matanya menatap Keyra dengan kelembutan yang menyayat hati. "Jika aku lari sekarang, aku akan membuktikan bahwa perkataan Ayah benar—bahwa aku hanya seorang pengecut yang berlindung di balik seragam. Aku akan pergi ke utara, menjalankan tugasku, dan kembali dengan kepala tegak. Itu satu-satunya cara untuk benar-benar lepas dari bayang-bayang Atharrazka."
Keyra menundukkan kepalanya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi celah kargo Ghazali. "Utara itu berbahaya. Kabarnya konflik di sana sedang memanas. Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku tidak bisa melihatmu lagi?"
Ghazali mengulurkan tangan kanannya yang sehat, mengangkat dagu Keyra agar mata mereka bertemu. Ia mengusap air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang kasar. "Dengar saya, Keyra Azzahra. Kamu adalah alasan pertama saya ingin benar-benar pulang setelah lima tahun ini merasa tidak punya rumah. Kamu adalah 'gangguan' yang membuat saya ingin tetap hidup."
Ghazali menarik napas panjang, menahan nyeri di dadanya. "Selesaikan magangmu di sini. Jadilah dokter yang hebat, seperti caramu menyelamatkan pasien di bawah longsor kemarin. Dan berjanjilah satu hal padaku."
"Apa?" bisik Keyra sesenggukan.
"Tunggu saya. Jangan biarkan siapa pun mengambil tempat 'Kulkas' ini di hatimu sampai saya kembali," Ghazali tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan janji dan harapan.
Keyra meraih tangan Ghazali, mencium telapak tangannya dengan erat. "Aku akan menunggu. Meski harus seribu tahun, aku akan menunggumu kembali ke paviliun ini. Tapi kamu harus berjanji... jangan pernah menjadi pahlawan yang nekat lagi. Pulanglah dalam keadaan utuh."
Malam itu, di bawah temaram lampu paviliun yang mulai meredup, mereka menghabiskan waktu dalam keheningan yang sarat akan makna. Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan, hanya kehadiran satu sama lain yang terasa begitu berharga sebelum jarak ribuan kilometer memisahkan mereka.
Ghazali menarik Keyra ke dalam pelukannya yang hangat, meski ia harus menahan perih di bahunya. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Keyra, menghirup aroma sampo stroberi gadis itu yang kini menjadi aroma favoritnya.
"Satu tahun, Keyra. Beri saya waktu satu tahun di perbatasan," bisik Ghazali.
"Satu tahun," ulang Keyra, memejamkan matanya erat, mencoba merekam detak jantung Ghazali di dalam ingatannya.
Keesokan paginya, suasana pangkalan berubah menjadi sibuk. Truk pengangkut personel sudah bersiap di lapangan apel. Keyra berdiri di antara kerumunan tim medis, matanya mencari sosok pria yang telah mencuri hatinya dalam waktu sesingkat badai.
Ghazali muncul dengan seragam lengkap, ransel besar di punggungnya, dan baret hijau yang terpasang gagah. Ia berjalan melewati Keyra, tidak berhenti, tidak juga menoleh sesuai protokol militer di depan umum. Namun, saat ia melangkah melewatinya, jemarinya sempat menyentuh punggung tangan Keyra dengan sekilas sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Aku akan kembali.
Mobil taktis itu perlahan bergerak meninggalkan gerbang markas, membawa pergi sosok Kapten Ghazali menuju garis depan yang tak menentu, meninggalkan Keyra yang berdiri terpaku dengan air mata yang kini mengalir dalam diam namun penuh dengan keyakinan.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....