Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16--Misi Belanja
Malam itu berlalu dengan penuh kehangatan. Setelah selesai acara makan di restoran dan kembali ke rumah, dia memastikan Ibu dan Rara tidur dengan nyenyak, Naufal merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya.
Ia teringat bahwa besok adalah hari libur jadwal shift-nya.
"Biasanya libur cuma dipakai buat tidur atau bantu Ibu nyuci. Tapi sekarang..." Naufal melirik ke arah panel sistem yang masih berpendar di kegelapan kamar. “enaknya ngapain ya?”
[Ding!]
[Mengingat Inang telah mencapai Level 2, sistem menyarankan Inang untuk mulai membangun 'Personal Branding' dan memperluas jaringan aset.]
[Penampilan adalah hal terpenting agar tuan rumah tidak terlihat terlalu katrok pertahankan personal branding tuan]
[Sebagai sales yang berpengalaman merawat penampilan adalah ide yang baik!]
[Misi Hari Libur Terdeteksi: 'Berbelanja.]
[Hadiah : kemampuan cashback 2x lipat (50% aktif)
RP 25.000.000]
Naufal tersenyum. "Oke, besok waktunya ganti semua isi lemari gue."
Keesokan Harinya, Pukul 10.00 WIB
Naufal memanaskan mesin Ducati-nya di depan kontrakan. Ia mengenakan jaket hoodie lama dan celana jins yang sudah agak pudar warnanya. Kontras sekali dengan motor ratusan juta yang ia tunggangi.
Ia sebenarnya ingin mengajak rara atau ibu sarah untuk belanja bersama, ia juga ingin membelikan mereka beberapa baju, namun rara hari ini masih masuk sekolah, sementara sang ibu menolak untuk ikut karena kesehatan dia masih kurang dan perlu istirahat lebih banyak. Jadi dia pergi sendirian saja, nanti dia bisa memberikan mereka beberapa pakaian sendiri oleh pilihannya.
Tujuan pertama Naufal adalah salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di kota ini, PZ store, sebuah mall paling besar disini. Namun, sebelum masuk ke dalam, ia menyadari satu hal.
Naufal memarkirkan motornya tepat di depan lobi—area parkir khusus moge. Begitu ia turun, seorang petugas parkir dan beberapa orang yang sedang nongkrong di kafe lobi menatapnya aneh.
"Mas, maaf, ini parkiran khusus motor gede. Motornya mas bener Ducati, tapi... masnya yakin mau parkir di sini?" tanya petugas itu sambil memperhatikan jaket hoodie Naufal yang ada bekas cipratan oli.
Naufal tidak bicara banyak. Ia membuka kunci motornya, meletakkan helm diatas tangki, dan menatap petugas itu dengan tajam.
“Sory kak,memang gak boleh gitu? Ini kan kawasan parkir, saya mau belanja lo .”
Petugas itu mendadak terdiam. Ia merasa ada aura yang sangat berkelas dari pria di depannya ini, meski bajunya lusuh.
"Eh... iya Mas, silahkan. Maaf, saya cuma memastikan."
Naufal melangkah masuk ke dalam gerai Brand Terkenal. Di sana, ia langsung menuju rak kemeja dan setelan jas.
Semua pakaian level tinggi terpampang disana, baju untuk pria, dan wanita semua terlihat bagus serta berkelas. Masalahnya muncul sekarang.
Dia ingin membungkus untuk rara dan ibu sarah, tapi desain seperti apa yang cocok untuk seorang gadis? Bagi seorang perjaka yang bahkan tidak pernah punya seorang pacar sebelumnya Naufal merasakan dilema pribadi.
Dia merogoh ponselnya, akankah dia memotret semua dan langsung bertanya kepada Rara saja? Dia menggelengkan kepala kalau begitu ini gak bisa jadi kejutan.
Dalam kebingungan tersebut, sorot mata Naufal melebar. Dia menatap seseorang yang tidak asing. Gadis dengan rambut bergelombongan rapi yang disemir warna cream, kemeja putih dengan roknya. Siska.
'wah ada juga kebetulan kaya gini.'
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN