(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEGACY 1 - KUTUKAN JANTUNG
...Dunia hampir berakhir sekali......
......dan malam ini, kesalahan itu akan diulang....
...⚙⚙⚙...
Salju turun di atas ibu kota Astrevan. Dan di luar menara istananya yang mencakar langit, angin musim dingin berhembus kencang. Namun, di dalam Aula Dewan Agung, suasananya berbeda. Di sana tidak ada dingin, tapi hawanya terasa pengap dan panas. Bukan karena api dari perapian, melainkan karena ambisi yang meluap dari orang-orang di dalamnya.
“Ini bukan sekadar kemajuan, ini adalah kegilaan,” suara itu keras menghantam dinding aula.
Seorang peneliti berdiri di titik pusat ruangan. Jubahnya yang biasanya rapi kini kusam, dipenuhi debu kristal biru yang masih berkilau samar. Di hadapannya, sebuah meja bundar dari batu obsidian membentang, dipenuhi dengan diagram energi yang berkelip dan model mekanis yang tampak hidup.
Di tengah meja itu, sebuah peta proyeksi menyala, memperlihatkan keseluruhan Benua Valtheria dengan garis-garis acak yang seperti urat, menjalar sampai ke ujung. Garis itu disebut sebagai Jaringan Titan.
“Kalian memandangnya sebagai senjata,” lanjut peneliti itu, suaranya parau namun tajam. “Tapi dengarkan aku! Ini adalah organisme. Sebuah sistem saraf raksasa yang tertidur di bawah kulit Valtheria. Jika kalian memicu satu simpul, seluruh dunia akan bereaksi!”
Seorang jenderal veteran di sisi kanan meja, Jenderal Krovax, menyandarkan tubuhnya yang kekar. Ia mencibir, membiarkan medali di dadanya berdenting.
“Dan sejak kapan Astrevan takut pada reaksi dunia?” Krovax tertawa kecil, suara beratnya bergema. “Jika raksasa itu bangun, maka mereka akan bangun di bawah bendera kita. Bukankah itu yang kau temukan, Peneliti?”
Beberapa bangsawan di sekitarnya ikut tertawa.
Ia tidak bergeming. Rahangnya menegang hingga urat lehernya menonjol. Dengan gerakan kasar, ia membentangkan peta tambahan yang lebih detail. Titik-titik cahaya biru tersebar di seluruh benua Valtheria, dihubungkan oleh garis-garis energi.
“Ini bukan tentang bendera!” ia menunjuk pusat peta. “Ini adalah jaringan energi kuno Astreya. Titan-titan itu tidak berdiri sendiri. Mereka terikat satu sama lain.”
Seorang penasihat kerajaan bertubuh ramping dengan jubah emas condong ke depan, matanya berkilat serakah. “Lalu, bagaimana dengan kunci itu? Artefak yang kau bawa dari reruntuhan?”
Peneliti itu terdiam sesaat. Ia merasakan berat di dadanya saat menyebut nama itu.
“Proto *Heart***s**.”
^^^*gambar buatan AI^^^
Keheningan seketika menyergap ruangan. Tawa para bangsawan mati. Napas mereka tertahan.
“Jika Proto Heart diaktifkan dalam kapasitas penuh,” suaranya merendah, memberi penekanan pada setiap kata, “ia akan mengirimkan sinyal pemicu ke seluruh jaringan. Semua Titan yang telah tertidur selama ini, semua mesin pembantai itu akan bangkit serentak.”
Lalu seorang jenderal muda berdiri dengan mata yang menyala-nyala oleh gairah perang.
“Luar biasa!” serunya, tangannya terkepal. “Bayangkan, Jenderal! Barisan Titan setinggi gunung berjalan di garis depan kita. Tidak ada benteng yang bisa berdiri tegak. Tidak ada pasukan manusia yang punya cukup nyali untuk sekadar menatap mereka!”
“Perang ini akan selesai bahkan sebelum pedang musuh sempat dicabut,” sahut bangsawan lain dengan senyum licik.
“Bukan hanya perang,” bisik yang lain, matanya terpaku pada peta. “Seluruh benua ini akan berlutut. Valtheria akan menjadi milik Astrevan selamanya.”
Suasana aula berubah menjadi hiruk-pikuk rencana dan kalkulasi penaklukan. Mereka sudah mulai membagi wilayah yang bahkan belum mereka injak.
“KAU TIDAK MENGERTI!”
Pria peneliti itu menghantam meja batu dengan tinjunya. Getarannya membungkam ruangan. Topeng ketenangannya hancur, memperlihatkan ketakutan.
“Itu bukan alat yang bisa kita kendalikan!” teriaknya, matanya menatap mereka satu per satu. “Berabad-abad lalu, peradaban Astreya yang jauh lebih maju dari kita hancur karena kesombongan yang sama! Titan-titan itu tidak mengenal kawan! Mereka mengamuk! Kota-kota berubah menjadi debu dalam semalam! Dunia hampir musnah!”
“Cukup!”
Suara dingin dan berat memotong teriakannya. Seorang jenderal veteran dengan bekas luka di wajahnya menatapnya.
“Kau berbicara seolah kami adalah anak kecil yang bermain dengan api tanpa tahu cara memadamkannya, Eldric Valen. Jangan hina intelektualitas militer kami.”
Eldric menatap balik, matanya tajam. “Karena memang begitulah kenyataannya. Sejak Astrevan dipermalukan oleh Kerajaan kecil Selenia, kalian menghalalkan segala cara untuk memutarbalikkan kenyataan itu.”
Beberapa tangan jenderal bergerak serentak ke gagang pedang mereka. Kondisi di ruangan itu semakin memanas.
Seorang penasihat tua akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun berbisa. “Eldric, kau adalah pikiran terbaik di Arcanum Foundry. Tapi kau menderita penyakit yang sama dengan para pengecut, kau terlalu fokus pada kegagalan.”
“Karena itulah yang akan terjadi!” balas Eldric tanpa ragu.
“Bukan,” sahut sang penasihat sambil tersenyum tipis. “Yang akan terjadi adalah kebangkitan sebuah kekaisaran yang takkan pernah runtuh.”
Di ujung meja, di atas takhta yang terbuat dari logam kuno yang dingin, Raja Altherion tetap diam.
Sejak awal pertemuan, sang raja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia duduk dengan dagu bertumpu pada tangannya yang berbalut sarung tangan hitam, matanya mengamati setiap gejolak emosi di ruangan itu.
Eldric menarik napas dalam. Paru-parunya terasa sesak oleh udara yang panas. Ini adalah kartu terakhirnya.
“Yang Mulia,” Eldric menatap langsung ke mata raja. Suaranya tidak lagi berteriak, namun bergetar dengan beban kebenaran. “Jika kita melanjutkan proyek ini, kita tidak hanya mempertaruhkan mahkota Anda atau nyawa para prajurit. Kita mempertaruhkan eksistensi dunia ini sebagai taruhannya.”
Raja Altherion akhirnya berdiri. Gerakannya pelan, namun kehadirannya seperti gunung yang runtuh menimpa ruangan tersebut. Seluruh dewan membeku. Para jenderal menahan napas.
Raja berjalan mendekati meja, langkah kakinya bergema berat di atas lantai marmer. Ia menatap peta jaringan Titan, lalu beralih pada Eldric.
“Penemuanmu adalah puncak dari sejarah kita, Eldric Valen.” Suara raja tenang, namun ada getaran kekuasaan yang tak terbantahkan di dalamnya.
Ia menyentuh proyeksi cahaya biru jaringan Titan itu.
“Jaringan ini,” katanya pelan, “adalah kunci menuju keabadian Astrevan.”
Ia mengangkat pandangannya, matanya berkilat dengan ambisi yang dingin. “Dan justru karena risikonya begitu besar, kita tidak mungkin membiarkan kekuatan ini terabaikan. Kekuatan hanya berbahaya bagi mereka yang lemah.”
Eldric mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini, namun tetap saja, rasanya seperti belati yang menghujam jantungnya.
“Proyek Titan akan dilanjutkan segera.”
Keputusan raja adalah hukum alam. Tidak ada yang berani menentang. Tidak ada yang berani bertanya.
Para jenderal tersenyum puas. Para penasihat saling berbisik tentang kejayaan. Namun di tengah sorak-sorai dalam diam itu, sesuatu dalam diri Eldric Valen runtuh.
Bukan harapannya akan perdamaian. Bukan pula kesetiaannya pada kerajaan. Tapi ilusinya bahwa ia sedang melayani ilmu pengetahuan.
Di aula yang penuh dengan ambisi itu, Eldric menyadari satu hal, ia baru saja memberikan kunci neraka kepada iblis. Dan ia harus melakukan sesuatu, sebelum seluruh dunia ikut terbakar bersamanya.
...⚙⚙⚙...
Jika kalian suka cerita awal dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)