Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Rencana Pernikahan
Pintu ruang operasi tertutup rapat. Bunyi “brak” itu terasa seperti memutus sesuatu di dalam diri Naomi. Sejak detik itu, dia tidak lagi bisa melihat Davin. Tidak bisa menyentuhnya. Tidak bisa memastikan sendiri bahwa anaknya baik-baik saja.
Yang tersisa hanya menunggu. Naomi berdiri beberapa detik di depan pintu itu. Tangannya menggantung di samping tubuhnya. Seolah dia belum benar-benar sadar bahwa Davin sudah dibawa masuk.
Perawat yang tadi membantu menuntunnya perlahan. “Ibu bisa menunggu di ruang tunggu, ya,” katanya lembut.
Naomi hanya mengangguk pelan. Langkahnya terasa berat saat berjalan menuju kursi tunggu. Ia duduk. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Nafasnya pendek-pendek.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih.
Waktu mulai berjalan. Setiap detik terasa seperti satu jam. Naomi tidak bisa diam. Kadang dia duduk, lalu berdiri. Jalan beberapa langkah. Lalu duduk lagi.
Matanya terus tertuju ke arah pintu ruang operasi. Seolah dengan menatapnya, dia bisa mempercepat waktu.
Seorang perawat lewat.
Naomi langsung berdiri. “Maaf… Apa operasi anak saya sudah selesai ya?” tanyanya dengan suara kecil.
Perawat itu tersenyum menenangkan. “Masih berlangsung, Bu. Mohon ditunggu ya.”
Naomi mengangguk. Namun hatinya tidak benar-benar tenang. Satu jam berlalu. Perutnya mulai terasa perih. Tapi bukan karena lapar. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir makan. Air minum yang dibawanya pun masih utuh. Tangannya dingin. Keringat muncul di telapak. Pikirannya mulai dipenuhi hal-hal buruk.
“Apa dia baik-baik saja…?”
“Kalau terjadi sesuatu…?”
“Kalau aku kehilangan dia…?”
“Tidak!” Naomi langsung menggeleng pelan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan berpikir begitu…” bisiknya pada diri sendiri. Namun semakin dia mencoba mengusir pikiran itu, semakin kuat bayangan-bayangan itu datang. Air matanya jatuh lagi diam-diam.
“Naomi!”
Suara itu membuat Naomi menoleh cepat. Jihan datang dengan langkah terburu-buru. Nafasnya sedikit terengah. Wajahnya penuh khawatir.
“Ji…” suara Naomi langsung pecah.
Tanpa banyak kata, Jihan langsung memeluknya.
“Hey… hey…” bisiknya lembut. “Aku di sini.”
Naomi tidak bisa menahan lagi. Tangisnya pecah di bahu sahabatnya.
“Aku takut…” katanya di sela isak.
Jihan mengusap punggungnya pelan. “Aku tahu…”
“Mereka bawa dia… terus aku nggak bisa apa-apa…” lanjut Naomi. “Aku nggak bisa jagain dia…”
Jihan sedikit menjauh, menatap wajah Naomi. “Dengar ya,” katanya tegas tapi lembut. “Sekarang justru kamu harus percaya.”
Naomi mengerjap, air mata masih mengalir.
“Percaya sama dokter yang lagi di dalam sana,” lanjut Jihan. “Junie itu bukan dokter biasa.”
Naomi diam.
“Dia salah satu dokter bedah terbaik,” kata Jihan lagi. “Dan kamu sendiri sudah lihat kan, dia sepeduli apa sama Davin?”
Naomi menggigit bibirnya.
“Dia nggak akan biarin apa-apa terjadi,” tambah Jihan.
Naomi menatap pintu operasi lagi. Kata-kata itu sedikit menenangkan dan cukup untuk membuatnya tidak runtuh sepenuhnya.
“Tarik napas…” kata Jihan pelan.
Naomi mengikuti. Menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.
“Sekali lagi…”
Mereka melakukannya bersama. Pelan-pelan. Waktu terus berjalan.
Tiga jam berlalu Naomi tidak lagi menangis keras. Tapi wajahnya tetap tegang. Tangannya masih menggenggam milik Jihan.
Sampai akhirnya lampu di atas ruang operasi padam. Pintu terbuka. Naomi langsung berdiri.
Seorang dokter keluar. Di belakangnya, Junie.
Masih memakai pakaian operasi. Masker sudah diturunkan. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada sesuatu di matanya.
Naomi tidak berani bicara dulu.
“Dok…” suaranya gemetar.
Junie menatapnya. Beberapa detik yang terasa sangat panjang.
“Sukses!"
Satu kata itu. Langsung membuat dunia Naomi berhenti sejenak. “Hah…?” suaranya nyaris tidak keluar.
“Semuanya berjalan dengan baik,” lanjut Junie pelan.
Air mata langsung mengalir deras. Naomi menutup mulutnya. Lututnya hampir lemas.
“Terima kasih… terima kasih…” ucapnya berulang kali.
Jihan tersenyum lega di sampingnya.
Junie sendiri hanya mengangguk kecil. “Dia sedang dipindahkan ke ruang pemulihan. Kamu bisa lihat sebentar lagi.”
Naomi langsung mengangguk cepat. Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan ruang pengamatan.
Pintu dibuka perlahan. Di sanalah Davin. Bayi kecil itu terbaring. Tubuhnya kecil di atas tempat tidur medis. Tangannya dipasangi infus.
Naomi langsung menahan napas. Bibirnya sudah tidak sumbing. Namun masih ada darah kering di sekitar luka. Jahitan kecil terlihat jelas. Sedikit bengkak dan merah. Davin menangis keras.
“Anakku…” suara Naomi langsung pecah. Ia bergegas mendekat.
Perawat mengangguk, memberi izin. Naomi langsung memeluk Davin dengan hati-hati.
“Maaf… maaf ya…” bisik Naomi sambil menangis. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi kecil itu. “Tapi kamu hebat… kamu hebat banget…” lanjutnya.
Tangis Davin perlahan mereda dalam pelukannya. Naomi mencium keningnya berkali-kali.
“Terima kasih…” katanya lirih. Entah kepada Tuhan, kepada Junie, atau kepada semua yang sudah membantu.
Di luar ruangan, Junie berdiri diam. Melihat dari kejauhan. Wajahnya lelah. Tapi ada rasa lega yang dalam.
“Bagus…” gumamnya.
...***...
Di tempat lain, suasana berbeda. Rumah keluarga Hartanto. Ratna duduk di ruang kerjanya. Wajahnya serius. Di depannya, Zayn berdiri dengan ekspresi gelisah.
“Duduk!" kata Ratna tegas.
Zayn menurut. Beberapa detik hening.
“Ini tidak bisa ditunda lagi,” ujar Ratna akhirnya.
Zayn menunduk. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini.
“Kamu harus menikahi Anggun secepatnya.”
Kalimat itu terdengar seperti keputusan final.
“Mah…” Zayn mencoba bicara.
“Tidak ada tapi,” potong Ratna. “Dia hamil. Dan dia bukan perempuan sembarangan.”
Zayn mengusap wajahnya.
“Semakin lama ditunda, semakin besar risiko,” lanjut Ratna. “Perutnya akan terlihat. Orang-orang akan mulai bicara.”
Zayn terdiam. Sekali lagi hidupnya seperti diarahkan. Kali ini, dia terlalu lelah untuk melawan. “…baik,” jawabnya akhirnya pelan.
Ratna langsung tersenyum puas. “Bagus!"
Zayn mengangkat wajah. “Kita bikin acara yang sederhana.”
Ratna langsung menggeleng. “Tidak!"
Zayn mengerutkan kening.
“Ini pernikahan keluarga Hartanto,” kata Ratna tegas. “Harus tetap berkelas.”
“Mah, aku nggak—”
“Tapi privat,” lanjut Ratna, memotongnya.
Zayn terdiam.
Ratna tersenyum tipis. “Kita buat di Bali.”
Zayn menghela napas panjang.
“Resort mewah. Undangan terbatas. Tapi tetap elegan,” lanjut Ratna. “Keluarga dekat dan relasi penting saja.”
Zayn hanya bisa diam.
“Ini akan jadi pernikahan yang sempurna,” ujar Ratna yakin.
Sementara itu, di dalam diri Zayn, tidak ada yang terasa sempurna. Yang ada hanya bayangan masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang terasa seperti jebakan. Namun seperti biasa, dia memilih diam dan membiarkan semuanya berjalan.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘