NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Langit

Jam kerja telah usai. Jam menunjukkan pukul lima tepat, seketika mengubah suasana kantor yang tadinya hening dan serius menjadi riuh rendah.

Satu per satu karyawan mulai berhamburan keluar dari ruangan mereka, wajah mereka tampak lega dan bersemangat. Langkah kaki terdengar berderap serentak menuju area parkir, di mana puluhan kendaraan sudah menunggu pemiliknya masing-masing untuk segera pulang ke rumah.

Tidak terkecuali Langit dan Gladys.

Mereka berdua berjalan berdampingan di tengah kerumunan, namun seakan dunia hanya milik berdua. Tangan kekar Langit menggenggam erat tangan mungil gadis itu, jari-jemari mereka saling bertaut dengan mesra.

Sesekali Langit menoleh ke samping, menatap wajah cantik kekasihnya dengan senyum teduh yang tak pernah lepas dari bibirnya. Begitu pula Gladys, ia sesekali mencuri pandang, membalas senyuman pria itu dengan pipi yang merona merah.

Mereka tampak begitu bahagia, bagaikan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Dunia seakan terasa indah dan sempurna bagi mereka berdua saat ini, seolah semua masalah dan bahaya yang mengintai lenyap begitu saja digantikan oleh kehangatan cinta di antara mereka.

Memang ya, kalau sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak.

Langit dan Gladys terus berjalan menyusuri lorong kantor, tenggelam dalam dunia kecil mereka sendiri. Tak peduli seberapa ramai orang yang lewat, mata mereka seolah hanya bisa menangkap satu sosok saja.

Langit tersenyum, menatap manik mata gadis itu dengan pandangan yang begitu dalam dan hangat.

Kedua orang itu benar-benar tidak sadar bahwa kebahagiaan mereka yang meluap-luap itu menjadi tontonan manis bagi rekan-rekan kerja lainnya. Banyak yang melirik sambil tersenyum simpul, ada juga yang berbisik-bisik iri melihat betapa harmonisnya pasangan bos muda dan kekasihnya.

Namun, kebahagiaan yang membuncah itu seketika terhenti saat langkah mereka sampai di area parkir yang luas.

Senyum di wajah Langit perlahan memudar. Alisnya yang tegas sedikit berkerut, aura hangat yang tadi memancar kini perlahan berganti menjadi dingin dan waspada.

Di sana, tidak jauh dari mobil mewah mereka, terparkir sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali. Dan berdiri tegap di samping mobil itu, adalah sosok pria paruh baya dengan tatapan tajam yang seolah menembus jiwa.

Itu Aldi, tangan kanan Tuan Wiguna.

Gladys yang merasakan perubahan pada genggaman tangan Langit, serta melihat wajah kekasihnya yang berubah serius, ikut menoleh ke arah yang sama. Jantung gadis itu seketika mencelos, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Langit.." panggil Gladys pelan, suaranya sedikit bergetar. "Itu siapa?"

Langit menarik napas panjang, berusaha menetralkan emosinya. Ia mengecup punggung tangan Gladys sekilas, berusaha menenangkan gadis itu sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

"Tidak apa-apa, Sayang. Tunggu di sini sebentar ya," bisiknya lembut namun tegas.

Dengan langkah tegap namun dingin, Langit melangkah maju menyambut kedatangan tamu tak diundang itu, sementara Gladys tetap berdiri di tempatnya, menatap cemas punggung lebar kekasihnya yang kini tengah menghadang bahaya yang perlahan mendekat.

Wajah Langit tampak datar namun dingin. Emosinya tertahan begitu kuat, terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras dan genggaman tangannya yang mengepal kuat hingga urat-urat biru terlihat menonjol. Ia menahan diri agar tidak meledak di hadapan utusan ayahnya itu.

Sambil tetap menatap tajam ke arah Aldi, tangan Langit yang lain merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan dengan cepat menekan satu nomor. Tidak butuh waktu lama, sambungan terhubung.

Tidak lama berselang, sebuah mobil sport hitam melaju kencang dan berhenti tidak jauh dari sana. Pintu terbuka dan keluarah Charlie.

Namun, pria itu tidak langsung mendekati Langit. Sebaliknya, ia berjalan cepat dan senyap menghampiri Gladys yang masih berdiri mematung di tempatnya.

Charlie membungkuk sedikit, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu dan berbisik pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.

"Ayo Nona, ikut saya pergi dari sini sekarang," ajak Charlie lembut namun mendesak.

Gladys menoleh bingung, matanya melirik ke arah Langit yang masih berdiri mematung menghadapi Aldi.

"Tapi... Langit?" tanya Gladys ragu, khawatir meninggalkan kekasihnya sendirian.

Merasakan getaran atau menyadari gadisnya sedang memanggilnya secara tak langsung, Langit pun menoleh ke belakang. Matanya bertemu dengan pandangan Gladys.

Dengan tatapan yang berbicara banyak hal, Langit menganggukkan kepalanya pelan namun tegas. Itu adalah kode, sebuah izin agar Gladys pergi dulu bersama Charlie demi keamanan.

Melihat isyarat itu, meski berat dan penuh keraguan, Gladys pun akhirnya menurut. Ia berbalik dan mulai berjalan mengikuti Charlie dari belakang.

Namun, Charlie justru melambatkan langkah kakinya. Ia sengaja mundur sedikit, membiarkan Gladys berjalan di depannya. Ia bertindak seperti pengawal yang waspada, memastikan tidak ada apa pun yang bisa mengganggu atau mendekati gadis itu sampai ia berhasil masuk dengan aman ke dalam mobil.

Hanya setelah melihat mobil yang ditumpangi Gladys melaju meninggalkan area parkir dan menghilang dari pandangan, bahu tegap Langit perlahan terlihat lebih rileks.

Napas panjang ia hembuskan perlahan dari dalam lubang paru-parunya. Rasa tegang dan waspada yang sedari tadi memuncak kini sedikit berkurang. Setidaknya, gadis kesayangannya sudah dalam keadaan aman dan berada jauh dari tempat yang berpotensi bahaya ini.

Wajahnya yang tadi terlihat tegang kini kembali menyiratkan ketenangan, meski tatapannya tetap dingin dan tajam saat ia kembali membalikkan badan menghadap Aldi yang masih berdiri mematung di sana.

Kini, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada lagi alasan untuk menahan diri secara berlebihan demi keselamatan orang lain.

Langit siap menghadapi utusan sang ayah sepenuhnya.

"Jadi bagaimana, Tuan Langit?" tanya Aldi dengan nada datar namun penuh tekanan.

Mendengar permintaan itu, sudut bibir Langit terangkat membentuk senyuman sinis yang sangat dingin.

Siapa yang mau menyerahkan wanita yang disayangi pada orang lain? Apalagi orang itu adalah orang yang sejak awal sudah berniat ingin melenyapkan kekasihnya dari muka bumi?

Tentu saja Langit tidak akan pernah mau. Itulah sebabnya ia lebih memilih menghubungi Charlie terlebih dahulu untuk mengamankan Gladys. Biar urusan dengan Aldi yang penuh ancaman ini, menjadi urusannya sendiri.

Langit melangkah maju selangkah, mendekatkan wajahnya pada Aldi. Tatapannya tajam mematikan, suaranya rendah namun terdengar jelas, padat, dan... sangat menusuk hati.

"Langkahi dulu mayatku..."

Jeda sejenak membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.

"...baru kau boleh berpikir untuk menyentuhnya."

Tanpa menunggu respon atau basa-basi lagi, Langit membalikkan tubuhnya. Ia tidak lagi mempedulikan ekspresi terkejut dan terpana yang terlihat jelas di wajah Aldi.

Kalimatnya sudah terucap, pesannya sudah sampai. Tidak ada lagi yang perlu dibahas.

Dengan langkah tegap dan penuh wibawa, Langit berjalan meninggalkan pria itu begitu saja. Punggungnya terlihat begitu kokoh dan tak tergoyahkan, seolah sebuah tembok kokoh yang tak bisa ditembus oleh siapapun, termasuk perintah sang ayah.

Aldi hanya bisa berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Langit yang semakin menjauh menuju mobilnya. Jantungnya berdegup kencang, teringat akan kalimat singkat namun mengerikan yang baru saja dilontarkan pria itu.

Langkahi dulu mayatku...

Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, membuktikan betapa besar cinta dan perlindungan Langit terhadap wanita itu.

1
Lilik Haryati
jgn seratus tor tp seribu 🤣🤣🤣🤣
Ceriwis07: 🤣🤣🤣 iya yaa..
total 1 replies
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!