“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pertemuan keluarga
Lampu-lampu minyak di aula bawah tanah kuil tua itu bergoyang hebat, memantulkan bayangan raksasa dari tiga sosok yang berdiri di atas tumpukan mayat penjaga.
Di tengah ruangan, sebuah kotak kayu cendana yang telah terbuka memperlihatkan Kunci Giok Naga Hitam yang memancarkan pendar hijau pekat.
Shan Luo menggenggam kunci itu. Dinginnya giok merambat ke telapak tangannya, namun suhu di ruangan itu mendadak melonjak drastis hingga air di lantai menguap seketika.
"Seperti yang di katakan kakak ke dua. Rambut dua warna, teknik es yang bercampur kegelapan, dan aroma pecundang yang kukenal ..."
Sebuah suara serak terdengar dari balik pilar besar. Shan Hei melangkah keluar. Jubahnya yang berwarna emas kini berkobar dengan api merah yang ganas. Matanya yang merah menatap tajam ke arah topeng porselen Shan Luo.
"Aku tahu itu kau, Kakak Sialan," desis Shan Hei. "Siapa sangka sampah yang dibuang ayah ke penjara bawah tanah bisa merangkak keluar dan mencuri barang milik klan?"
Shan Luo tidak menjawab. Ia hanya melepaskan topengnya, menjatuhkannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Wajahnya datar, namun matanya yang dua warna berkilat dengan haus darah yang murni.
"Mo Huang, Han Xiao ... habisi sisanya," perintah Shan Luo pelan.
"Dengan senang hati!" Han Xiao melesat seperti kilat kuning menuju barisan pengawal elit yang baru muncul, sementara Mo Huang berubah menjadi kabut ungu yang mencekik siapa pun yang mendekat.
Shan Hei menghentakkan kakinya. Lantai batu di bawahnya hancur, dan ia melesat maju dengan tinju yang dibalut api raksasa.
BOOM!
Shan Luo menahan pukulan itu dengan telapak tangan kirinya yang dilapisi es hitam setebal baja.
Ledakan energi panas dan dingin menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan langit-langit kuil. Tanpa menunggu, Shan Luo menarik pedang cendana hitamnya dan melakukan tebasan horizontal.
TRANG!
Shan Hei mengeluarkan sepasang belati emas dari balik jubahnya, menangkis pedang Shan Luo dengan kecepatan yang mengerikan.
Keduanya bergerak seperti bayangan yang bertabrakan di udara. Suara dentingan logam yang beradu terdengar seperti rentetan tembakan meriam.
Setiap kali pedang Shan Luo menyentuh api Shan Hei, uap hitam membumbung tinggi. Shan Luo berputar di udara, melakukan tendangan tumit yang menghantam dada Shan Hei.
DUAGH!
Shan Hei terlempar menabrak pilar batu hingga hancur, namun ia segera bangkit. Wajahnya kini dipenuhi kegilaan.
Ia menggigit jempolnya, mengoleskan darah ke belatinya. "Seni Terlarang Klan Shan: Tarian Iblis Api!"
Kobaran api di tubuh Shan Hei berubah menjadi ungu kemerahan. Ia menerjang kembali. Kecepatannya meningkat dua kali lipat. Belatinya mengiris udara, meninggalkan jejak api yang membakar oksigen di ruangan itu.
Shan Luo terdesak. Jubah hitamnya tersayat di beberapa bagian, kulitnya mulai merasakan panas yang menyengat. Namun, alih-alih takut, Shan Luo justru mulai tertawa dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk Shan Hei berdiri.
"Manifestasi Rohani: Kaisar Pemanen Jiwa!"
Sesosok roh raksasa dengan jubah hitam pekat muncul di belakang Shan Luo. Tangan roh itu memegang sabit transparan yang sangat besar. Shan Luo mengayunkan pedangnya bersamaan dengan ayunan sabit sang roh.
SLASH!
Serangan itu tidak hanya memotong fisik, tapi juga mengguncang jiwa Shan Hei. Api merah yang membungkus tubuh Shan Hei padam seketika, terhisap oleh hawa dingin dari sabit tersebut.