Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Nadine Atmaja
Seorang pemuda dengan tubuh yang penuh kotoran nampak tersungkur ke samping menghantam dinding, di wajahnya nampak darah yang mulai mengalir karena hantaman benda tumpul.
Pemuda itu adalah Alvaro, rasa sakit dan pening ia rasakan ketika Rudi menghantamkan senjata rakitannya sendiri itu tanpa belas kasihan ke arah kepala Alvaro.
"Ting.. Mendeteksi resiko gegar otak, sistem akan mengaktifkan perlindungan organ untuk sementara dan menaikkan adrenalin tuan sementara." Sebuah dering sistem terdengar di telinga Alvaro yang telah tersungkur jatuh, rasa pening yang membuatnya hampir pingsan itu pun mereda berubah rasa marah yang teramat.
Melihat Rudi yang terdiam ia pun memanfaatkan hal itu untuk langsung melayangkan tendangannya menuju pergelangan tangan Rudi hingga membuat genggaman Rudi terlepas dari senjatanya.
Alvaro pun langsung berdiri dan melompat ke arah Rudi sembari memukul ke arah wajah Rudi.
"Duakhh... Akhh..." pukulan Alvaro telak mengenai wajah Rudi yang membuat Rudi langsung terjengkang ke belakang.
Siswi yang sebelumnya bersama dengan Rudi pun langsung menangkap tubuh Rudi yang roboh ke arahnya, wajahnya cukup kaget karena perubahan mendadak sifat Alvaro.
"Misi selesai. Anda mendapatkan 5 poin sistem, peningkatan poin strength dan agility sebanyak satu poin, serta satu kotak misteri tingkat rendah." Dering sistem terdengar di telinga Alvaro yang memberitahukan misinya selesai.
Sedangkan gadis berambut sedikit kelabu yang barusaja datang langsung menghampiri Alvaro, ia langsung menahan Alvaro yang ingin menerjang kembali ke arah Rudi.
"Sudah Alvaro sudah, ayo kita hentikan dulu pendarahan mu itu." Ucap gadis itu yang ternyata adalah Nadine, siswi yang beberapa waktu lalu di minta tolong memanggil Alvaro.
"Aku akan menyelesaikan nya dulu." Ucap Alvaro menolak ucapan Nadine.
Namun tiba tiba rasa pening di kepalanya mulai terasa lagi yang membuatnya hampir jatuh, untung saja Nadine segera menahan bahu Alvaro yang hampir jatuh.
"Ting.. Peringatan, mendeteksi guncangan tiba tiba. Tuan bisa menggunakan 3 poin sistem untuk mengobati luka anda Ya/Tidak" Alvaro mendengar samar samar suara sistem di telinga nya, namun rasa sakit di pelipisnya terasa sangat sakit hingga membuatnya hampir pingsan.
"Y-ya." Ucap Alvaro lirih, yang saat ini tubuhnya sedang di bopong Nadine perlahan menuju lorong.
"Memproses penyembuhan dasar...." Suara sistem terdengar lagi bersamaan rasa sakit di pelipis nya mulai sedikit berkurang.
"Biarkan aku duduk sebentar tolong.." Ucap Alvaro pelan yang hanya di tanggapi anggukan kecil oleh Nadine, dia pun melihat ke sekeliling sejenak dan menemukan tempat duduk disana.
Keduanya pun berjalan perlahan lalu Nadine pun membantu Alvaro duduk.
"Terimakasih banyak sudah membantu ku." Ucap Alvaro berterima kasih kepada Nadine, sebenarnya bukan cuman sekali dia di bantu Nadine seperti ini.
Dan bukan hanya dirinya saja yang pernah di bantu, beberapa kali ia memang memergoki Rudi ataupun para bawahannya yang mengganggu para siswa siswi.
Dan karena latar belakang Nadine yang lebih bagus dan kuat, Rudi mau tak mau harus mengalah darinya.
"Aku sama sekali tak ada niatan membantumu, aku hanya disuruh memanggilmu ke ruang administrasi." Ucap Nadine sedikit ketus.
"Begitu ya?, tapi tetap saja terima... Aduh.." Belum selesai ia berbicara Alvaro merasakan lukanya sedikit perih.
"kau baik baik saja?" Tanya Nadine sedikit khawatir melihat keadaan Alvaro, sebenarnya ia muak dengan perilaku Rudi dan antek-anteknya itu.
Namun mau bagaimana lagi, ia tak bisa menuduhnya tanpa bukti. Apalagi dengan pengaruh ayahnya itu bisa dengan mudah menutup nutupi kelakuan anaknya itu.
"Aku tak apa apa, kalau begitu terima kasih sekali lagi. Aku akan ke ruang administrasi untuk membayar SPP ku yang menunggak dahulu." Ucap Alvaro yang mencoba berdiri dan berjalan pergi.
"Apa maksudmu?, kau ingin pergi dengan kondisi mu yang seperti ini gitu hah?" tanya Nadine bingung sekaligus kesal secara bersamaan.
"Aku tahu tapi tenggat nya itu hari ini, dan sekarang sudah hampir jam pulang sekolah." Ucap Alvaro memberikan alasan, ia pun berbalik.
"buk... Akhh.. Itu sakit.." Ucap Alvaro sedikit meringis ketika Nadine secara tiba tiba memukul pelan pinggulnya.
"masih ingin ngotot pergi gitu?" Tanya Nadine ketus yang membuat Alvaro hanya terdiam sembari menahan rasa sakit di pinggulnya.
"itu.." sebelum Alvaro berbicara lebih lengan nya langsung di tarik oleh Nadine secara paksa.
"Diam..!" bentak Nadine ketus yang membuat Alvaro langsung diam dan mengikuti Nadine.
...----------------...
"Tok.. Tok.. Tok.." suara pintu di ketuk dari luar.
Di dalam nampak seorang lelaki sebaya dengan mata yang sipit, ia menggunakan pakaian serba putih dan nampak nametag di dadanya bertuliskan "dr. Tirta"
"Silahkan masuk." Ucap dokter itu perlahan, lalu pintu itu di dorong perlahan dari luar dan memperlihatkan dua orang murid yang membuat dokter itu langsung berdiri menghampiri.
"Eh ada apa ini kok sampai berdarah darah begini?" Tanya dokter Tirta melihat siswa di hadapannya memiliki luka di pelipisnya dan kondisi seragamnya yang kotor.
"I-itu pak, cuman jatuh dari tang.."
"Ulah Rudi dan geng nya pak." potong Nadine.
"Bocah itu lagi?" Tanya dokter Tirta yang sepertinya juga nampak kesal dengan ulah Rudi itu.
"tak habis habis kelakuan bocah itu, aku juga tak habis fikir dengan para guru yang cuman diam saja melihat kelakuan bocah itu." Omel dokter Tirta, ia pun segera membantu Alvaro untuk berbaring di kasur.
Setelah itu pun dokter Tirta mulai mengobati Alvaro, setelah ia selesai membersihkan dan mengobati pelipis Alvaro ia beralih ke arah seragamnya yang nampak jelas tapak sepatu memenuhinya.
Ia pun langsung membuka seragam atas Alvaro yang kotor itu dan matanya membulat kaget.
Bukan hanya dia, bahkan Nadine yang cukup jauh pun nampak kaget dan berjalan mendekat.
Keduanya melihat bekas lebam lebam yang memenuhi tubuh Alvaro, disana juga nampak satu bekas luka yang nampak memanjang seperti bekas terkena luka tajam.
"Nak apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya dokter Tirta, sedangkan Alvaro yang sadar luka yang ia sembunyikan terlihat langsung secara reflek menutupinya.
"Anu itu, emm bukan apa apa pak." Ucap Alvaro sedikit gugup.
"Apa maksudmu bukan apa apa?, itu..." Ucapan Nadine yang secara tiba tiba langsung di tahan oleh dokter Tirta. Sepertinya ia sadar bahwa itu bukan hal yang ingin di tunjukkan oleh Alvaro.
"Nadine, apakah kamu bisa tunggu di ruang sebelah sebentar?" Tanya dokter Tirta pelan.
Nadine yang mendengar itu sebenarnya enggan bahkan ingin membantah, namun ia pada akhirnya berbalik kasar lalu meninggalkan ruang perawatan.
Alvaro bisa melihat sekilas wajah Nadine yang cukup rumit untuk dijelaskan, ia juga melihat Nadine menggenggam tangannya sendiri cukup kuat sebelum berlalu menghilang di balik pintu.
kritik dan saran boleh kokk