Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. One Night Stand
"Bagas, aku boleh minta tolong buat jemput aku? Sekarang aku lagi ada di rumah temen. Kamu nggak sibuk kan?"
Hari mulai gelap, Nina berharap kekasihnya tak keberatan saat dimintai pertolongan untuk menjemputnya. Biasanya Bagas selalu siaga saat dimintai pertolongan.
"Sorry ya Nina, hari ini aku nggak bisa jemput kamu. Kamu bisa pulang naik taksi kan? Aku lagi lembur."
Nina mengernyitkan keningnya. "Lembur? Bukannya ini malam Minggu? Kok lembur sih? Hampir tiap hari alasannya tetap sama, selalu saja lembur," gerutunya dengan muka tertekuk.
Cukup kecewa dengan sikap Bagas yang tidak lagi peduli padanya. Bahkan di hari libur pun pria itu masih mengutamakan pekerjaannya.
"Tapi masa iya kamu nggak ada waktu sedikitpun buat aku? Ini kan hari Minggu Bagas! Masa iya hari libur kamu juga lembur!"
"Oh ayolah Nina! Jangan manja kayak anak kecil! Kamu nggak harus terus-menerus memintaku untuk selalu ada buat kamu! Mendingan kamu cari taxi sebelum larut."
Nina mengigit bibirnya gelisah. Agak kecewa merasa diabaikan. Masih dengan kondisi handphone menempel di telinga, samar-samar dia mendengar ada suara seorang wanita yang tengah merayu Bagas.
"Bagas! Kamu itu apaan sih! Cepat matiin handphonenya! Kamu itu sebenarnya lebih sayang ke aku atau dia sih! Aku selalu ada untukmu, bahkan aku merelakan kehormatanku hanya untuk menyenangkanmu! Apa pengorbananku ini masih kurang?"
Di situ Nina tercengang mendengarnya. Tiba-tiba Bagas mematikan handphone. Menjadi sebuah pertanyaan besar, siapa kira-kira perempuan itu?
"Siapa perempuan yang bersama Bagas itu? Apakah dia teman kerjanya, atau dia selingkuh di belakangku?"
Di saat pikirannya mulai kacau Nina tidak bisa berdiam diri. Ia harus bisa memastikan, apa benar Bagas sedang berada di kantor dan sedang lembur?
"Aku harus memastikan kalau dia ada di kantornya."
Kebetulan Nina pernah diajak ke kantornya dan dikenalkan sebagai kekasihnya. Tak banyak mengulur waktu akhirnya Nina memutuskan untuk pergi ke kantornya Bagas, tapi sebelumnya ia meminta bantuan pada temannya.
"Sania, aku boleh minta tolong nggak?"
"Ya bolehlah, selagi aku bisa membantu, apa sih yang enggak buat kamu? Emangnya kamu butuh bantuan apa, Nin?"
Ragu-ragu Nina menjelaskan maksud hatinya. "Em, kalau aku minta tolong buat anterin ke kantornya Bagas bagaimana? Apakah kamu mau?"
Sania melebarkan matanya. "What! Ngapain kamu malam-malam gini mau pergi ke kantornya Bagas? Ini malam minggu Nina, Bagas nggak ada di kantornya!"
Bukannya Sania tidak ingin membantu, tapi dia yakin bahwa Bagas tidak sedang ada di kantornya.
"Tapi barusan bilang kalau hari ini dia lembur. Aku hanya ingin memastikan saja kalau dia ada di kantor. Kalau kamu nggak mau bantuin aku ya nggak apa-apa, biar aku pergi sendiri saja!"
Nina beranjak namun tangannya ditahan oleh Sania. "Eh jangan, bahaya! Ya udah, ayo aku anterin mumpung masih sore!"
Akhirnya mereka berdua pergi ke kantornya Bagas dengan menggunakan mobil Sania. Sepanjang perjalanan Nina tidak bisa berpikir dengan tenang, ia masih terngiang-ngiang oleh suara wanita yang tengah bersama kekasihnya.
Sepuluh menit kemudian, tibalah mereka di kantornya Bagas. Kantor nampak begitu sepi, hanya ada security yang berjaga di sana.
"Ada yang bisa kami bantu non?" tanya security saat mendapati mereka turun dari mobil.
"Saya ingin bertemu dengan pak Bagas! Apakah beliau ada di dalam sana Pak?" tanya Nina.
"Pak Bagas tidak ada di sini nona! Ini kan hari libur, tidak ada orang di dalam sana. Nona bisa lihat sendiri kan, di sini sangat sepi."
"Tapi barusan dia telepon katanya lembur di kantor. Bapak yakin kalau dia tidak ada di dalam sana?"
Di situ Nina agak kecewa karena merasa dibohongi oleh laki-laki yang dicintainya. Tapi rasa penasaran itu tidak membuatnya ingin memutuskan pulang. Ditatapnya gedung menjulang tinggi itu, namun terlihat begitu sepi. Lalu ke mana sebenarnya pria itu?
"Ya ampun nona! Kalau nona tidak percaya mari saya antarkan ke dalam. Tapi untuk ruangan Pak Bagas kuncinya di bawa sama pak Bagas dan saya yakin enggak ada orang di sini, bahkan mobilnya pak Bagas nggak ada di sini."
"Aku rasa apa yang dikatakan oleh pak satpam itu benar, Nina! Cowok kamu itu nggak ada di sini. Dia sudah membohongi kamu!"
Sania cukup yakin kalau Bagas hanya membodohi sahabatnya dengan beralibi lembur di kantor. Padahal dia sedang bermain-main dengan selingkuhannya di luar.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang!"
Mereka berdua kembali ke mobil dan berniat untuk mengantarkan Nina pulang. Saat di perjalanan menuju rumahnya, Nina tak sengaja melihat mobil Bagas berbelok ke arah hotel. Nina langsung heboh dan meminta Sania untuk mengikuti mobil itu.
"Sania! Itu kan mobilnya Bagas! Dia menuju hotel. Sania, ayo balik arah, kita cari tahu apa yang dilakukan Bagas di hotel."
Tatapan Sania memicing ke arah mobil yang ditunjukkan oleh sahabatnya, dan memang benar kalau mobil itu milik Bagas, pacar sahabatnya.
"Oh, iya benar, itu mobilnya cowok kamu. Sedang apa dia di hotel? Dia bilang sama kamu katanya lagi lembur, tapi pada kenyataannya lagi menuju ke hotel. Berarti kamu tengah dibohongi sama dia."
Nina menggeleng dengan perasaannya begitu cemas. Dia tak sabar ingin segera menemuinya.
"Ayo balik arah Sania, kita susul dia ke hotel!"
Sudah tidak sabar lagi Nina ingin segera mengikuti jejak kekasihnya yang sudah memasuki kawasan hotel. Dia ingin tahu, seberapa besar nyalinya setelah kepergok tengah selingkuh.
"Iya sabar atuh! Ini bukan jalan setapak yang sepi Nina! Lengah dikit nyawa kita jadi taruhannya."
***
Setibanya di dalam hotel mereka langsung menuju resepsionis dan mencaritahu di mana Bagas menyewa sebuah kamar. Awalnya resepsionis tidak ingin memberitahunya karena itu privasi, namun setelah didesak akhirnya dia terpaksa memberitahunya.
Dengan gerak cepat kedua wanita itu menuju kamar 053 yang ditunjukkan oleh resepsionis.
Untuk bisa masuk ke kamar itu tentunya sangat sulit tanpa mendapatkan izin dari penyewanya, akhirnya mereka mengatur siasat untuk mengelabuhi Bagas dengan menyamar sebagai home skipping.
"Tunggu apa lagi! Ayo ketuk pintunya Nin!"
Sudah cukup lama berada di luar karena mereka juga harus membujuk home skipping untuk meminjamkan pakaian seragamnya. Dengan sogokan uang akhirnya mereka berhasil mendapatkan seragam dari pegawai hotel.
"Home skipping! Cepat buka pintunya!"
Tidak ada jawaban sama sekali. Nina yang sudah geram, dia meminta bantuan Sania untuk mendobrak pintu kamar itu.
"Dobrak saja Sania! Aku nggak sabar ingin tahu apa yang tengah mereka lakukan!"
"Jangan ceroboh! Kamu tunggu di sini biar aku minta kunci cadangan."
Sania berlari untuk meminta kunci cadangan. Setelah cukup lama membujuk petugas hotel, akhirnya ia mendapatkannya.
"Ayo kita buka!"
Pintu terbuka dan mereka mendapati sepasang anak manusia yang tengah bercinta.
Sangat jelas Nina melihat permainan kekasihnya yang tengah memuaskan wanita lain.
"Oh, jadi ini yang kau maksud lembur?"
Nina menahan air matanya yang mulai keluar. Di situ Bagas terkejut mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Dia pun menjeda aktifitasnya dan menoleh ke arah pintu. Begitu terkejutnya ia mendapati wanita yang sudah dipacarinya tengah memergoki perselingkuhannya.
"Nina! Kok kamu ada di sini? Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" Bisa-bisanya pria itu masih menyangkal perselingkuhan yang dilakukannya.
"Apa kamu bilang? Tidak seperti yang kamu bayangkan? Keberadaanku di sini karenamu bren-gsek! Kau bilang sedang lembur. Apa ini yang kau maksud lembur? Kau tidak ingin diganggu karena sedang bersenang-senang dengannya! Kau benar-benar pria tidak punya hati! Mulai sekarang kita putus! Jangan pernah mencariku lagi!"
Nina langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu diikuti oleh sahabatnya.
Sedangkan Bagas berusaha untuk mengejarnya, namun wanita yang tengah bersamanya menahan keras agar pria itu tetap bersamanya.
****
"Tak kusangka, dia ternyata penipu! Sungguh aku menyesal sudah percaya padanya!"
Nina menangis sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Hatinya benar-benar kacau. Rasanya ia tidak ingin pulang dengan kondisinya yang tidak tenang.
"Sania, turunkan aku di bar. Aku mau menenangkan diri sebentar. Kamu langsung pulang saja, biar aku minta dijemput sama papa."
Bola mata Sani membelalak. "Hah! Kamu yakin Nin? Ini sudah malam loh, lebih baik aku anterin pulang aja ya?"
Sania khawatir sahabatnya yang dalam kondisi stres, tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak tega meninggalkannya sendirian.
"Tidak perlu! Aku sudah mengirimkan pesan kepada papa buat menjemputku di bar. Kamu nggak usah khawatirkan aku. Aku baik-baik saja!"
Nina beralibi, padahal ia tidak mengirimkan pesan pada Ayahnya. Ia hanya tidak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Kamu yakin nggak papa sendirian aja? Apa aku temani sampai Papa kamu datang?"
"Enggak perlu!"
Tiba di depan bar, Nina meminta Sania untuk meninggalkannya. Dia masuk ke dalam dan memb-elah lautan anak manusia yang tengah berdansa dan berpesta pora.
Ini pertama kalinya dia datang ke tempat itu. Agak canggung mendapatkan tatapan banyak orang di dalam sana. Ia terpaksa datang ke tempat itu hanya untuk sekedar menenangkan diri.
"Aku butuh Vodka," pintanya pada bartender.
"Baik nona!"
Seorang bartender memberikan sebotol Vodka beserta cangkirnya. Nina langsung menuangkan isi Vodka ke dalam cangkir dan menenggaknya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada seorang pria yang mengawasinya. Diam-diam pria itu beralih tempat duduk di sebelahnya.
"Halo nona, kau datang ke sini bersama siapa?"
Nina memicingkan matanya. Pandangannya mulai mengabur tak jelas.
"Aku seorang diri."
"Boleh tahu namanya?"
"Pentingkah?" jawabnya terdengar parau.
Pria itu tersenyum tak melepas pandangnya pada gadis itu. Ia cukup tertarik padanya.
"Cewek ini sangat menantang. Apa salahnya kalau aku belajar darinya?" Terbesit pemikiran kotor di benaknya.
Nina beranjak setengah menghabisi sebotol Vodka pesanannya. Dia langsung membayar pada bartender.
"Mau ke mana nona? Apa perlu kuantar? Sepertinya nona sudah kelelahan?"
Dengan cepat Nina menolak. "Tidak, terimakasih. Aku masih kuat jalan sendiri jawabnya meracau, matanya mulai berkunang-kunang. Belum genap dua langkah, gadis itupun terjatuh.
"Auwh!"
Pria itu langsung membantunya dan membawanya pergi. Nina yang tidak berdaya, dia hanya bisa pasrah saat pria itu membawanya ke luar dari bar.
***
Di sebuah kamar hotel Nina direbahkan di atas tempat tidur. Melihat kemolekannya membuatnya tak bisa menahan diri, perlahan tangannya terulur membelai setiap inci di bagian sensitifnya.
"Kamu benar-benar cantik nona. Malam ini kau harus jadi milikku!"